
"Mar, Mel, Gis itu orang tua gue?!" Nayya menegakkan tubuh sembari terus menyeka sisa air mata di pelupuknya.
Buru-buru Camelia, Giska dan Amar pun melihat apa yang Nayya maksud, dan benar saja mereka menemukan sepasang suami istri yang ingin beranjak masuk ke sini.
"Wah! Kok bisa kebetulan begini?" seru Giska tidak percaya.
Namun, di tengah kesenangannya, Camelia justru baru menyadari akan Doni yang mendadak hilang di tengah-tengah mereka, melihat-lihat ke sekitar pun tidak dia temukan Doni. Merasa datang perasaan yang tidak enak dan dorongan ke gudang, Camelia beranjak pergi dari sana.
"Eh, gue mau ke bawah dulu, ya!" ucap Camelia tanpa memberitahu alasannya.
"Mau ke mana, Mel!" teriak Giska, ketika Camelia sudah berlari menjauh.
Tidak ada jawaban dari Camelia membuat Giska berdecak kesal. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba tubuh Nayya seperti tergerak mendekati tali yang menggantung, seseorang atau sesosok seperti menariknya untuk meletakkan kepala di sana.
"Giska, Amar! Tolong gue! Ini kenapa rasanya ada yang menarik gue, tolong!" seru Nayya panik.
Tidak lama dari itu orang tua Nayya menampakkan diri masuk ke kamar, mereka berlari-lari histeris mendekati Nayya yang dalam bahaya.
"Nayya!" teriak Ibu Nayya.
"Mah, Pah, tolong Nayya!" jawab Nayya sembari berusaha menengok wajah orang tuanya yang sudah lama tidak terlihat itu.
Sama halnya dengan Giska dan Amar, mereka pun panik melihat kondisi Nayya yang tiba-tiba seperti itu, bersamaan dengan tubuh yang gemetar juga degup jantung yang kencang, Giska dan Amar tergesa membantu tubuh Nayya untuk menjauh dari sana dan mengeluarkan kepalanya dari tali yang menggantung.
"Nay, lo bertahan, Nay. Lo tenang dulu, ya."
...***...
"Di mana boneka itu, gue harus bakar dia supaya enggak ganggu Nayya lagi, pasti Nayya begini karena hasutan dari dia! Emang gila tu makhluk!" Doni mengobrak-abrik barang-barang gudang dengan penuh emosi.
Sampai akhirnya, dia menemukan boneka kitty yang tertumpuk barang berat, dengan cengkeraman erat Doni meraihnya, menatap penuh amarah sembari tersenyum jahat.
"Kau akan lenyap sebentar lagi!" Doni menatapi korek kayu di tangannya bergantian dengan boneka kitty yang kini dipegangnya juga.
Dengan langkah cepat dan lebar, Doni berjalan ke luar dari gudang menuju halaman depan rumah Nayya, lagi-lagi dia melakukan hal yang sama seperti dulu, membuang boneka tersebut pada tong sampah tabung, lalu dengan kejam menyalakan korek kayu yang akan dibuang di sana bersama boneka kitty.
Di tempat lain, saat Camelia baru saja tiba di gudang, dia sudah melihat barang-barang berantakan, sudah cukup lama dia mencari-cari bonekanya tetapi tidak ketemu juga, lalu mendadak perasaan Camelia seperti terdorong kembali untuk ke halaman depan rumah Nayya, seseorang seperti terus membisikkannya dalam telinga untuk segera mengambil boneka pemberian almarhum Ayahnya yang belum sempat dia dapat dulu.
"Gila lo, Doni!" Camelia mendorong kasar tubuh Doni.
Rasanya sakit sekali mendekap sebuah boneka yang terjalar api, tetapi Camelia tetap memaksakannya, dia terus mendekap semakin erat dan dalam.
"Ayah!" tubuh Camelia ambruk, masih bertahan memegang boneka kitty.
Sementara itu Doni yang berada di hadapannya, tentu terkejut melihat tindakan Camelia, sudah beberapa kali dia coba menyeka tangan Camelia untuk tidak memegang erat bonekanya, tetapi Camelia selalu menolak dan tetap mempertahankan boneka tersebut.
"Ayah, aku berhasil mendapatkan bonekamu!" seru Camelia sesenggukan.
Saat dekapannya semakin erat, pikiran Camelia seperti dipaksa oleh seseorang mengingat kejadian 5 tahun lalu, seketika dalam hadapannya tergambar jelas saat sang Ayah dulu membawa boneka kitty di jalan sepi, hingga bertemu sosok Anak kecil yang bagi Camelia tidak asing, dia Annisa. Tidak berapa lama, disusul kehadiran Aldi, yang Camelia kenal itu Ayah Amar dan Annisa, dia meraih boneka yang Ayahnya pegang secara kasar, terlihat juga ketika Ayahnya dicabik menggunakan pisau kecil milik Aldi, juga penganiayaan lain yang membuat Camelia bergidik ngeri menyaksikannya, benar-benar diperlihatkan jelas bagaimana Ayahnya dianiaya hingga meninggal, sampai dibuang di sebuah sungai oleh Aldi, meninggalkan boneka kitty yang tergeletak malang.
Saat Camelia masih bertarung dalam pikirannya 5 tahun yang lalu, satu persatu teman-temannya juga orang tua Nayya yang berada di lantai dua mulai turun dan menyaksikan Camelia yang tersiksa sendiri, mereka menatap haru gadis yang menangis histeris sembari memeluk erat dirinya pun boneka kitty.
"Aaa!" teriak Camelia bersamaan dengan tubuhnya yang kian lemah menunduk.
Beberapa detik tidak ada suara dari Camelia, hingga akhirnya, bersama mata yang sudah sembab Giska, Nayya juga Amar berjalan mendekati tubuh Camelia, mereka menyentuh pundak Camelia dengan gemetar disertai lirihan.
Mendadak Camelia membangunkan kepalanya, sejenak menghadap ke arah depan dengan tatapan kosong, kemudian dengan cepat beralih menatap teman-temannya bergantian penuh emosi, terutama pada Amar.
"Lo jahat, Mar! Lo jahat!" Camelia membangunkan tubuhnya cepat, masih mempertahankan boneka yang sedari tadi dipegang.
"Maksud lo apa, Mel? Apa yang sudah gue perbuat?" Amar mencoba meraih jari-jari Camelia untuk menggenggamnya.
Emosi Camelia yang sudah memuncak membuat dia menyeka tangan Amar, bahkan kini hingga mendorong tubuhnya kuat-kuat.
Sejenak Camelia menatapi Amar, napasnya tersengal-sengal bersama tangisan yang tidak bisa padam, terlihat bibirnya gemetar ketika kembali berbicara.
"Lo kenapa enggak cerita dari awal, Mar?! Lo kenapa begini? Tega lo sama gue! Lo orang terjahat yang pernah gue temui, manusia enggak ada hati!" Camelia terus menunjuk-nunjuk wajah Amar bersama air mata yang terjatuh.
Sementara itu Amar yang kebingungan terus menatap teman-teman di sekitar bergantian dengan panik, lalu kembali fokus pada Camelia. "Mel, lo ngomong baik-baik dulu, jangan begini. Gue enggak paham maksud lo."
"Lo masih belum paham?! Ayah lo pembunuh! Dia sudah bunuh Ayah gue, Mar! Dan lo ... Lo seolah-olah nyembunyiin itu dari gue, kenapa lo lakuin itu? Gue benci sama lo, Mar, gue kecewa!" Camelia mendorong tubuh Amar lebih keras.
Tubuhnya yang gemetar juga dadanya yang kian sesak akan tangisan, tetap Camelia lawan untuk berlari, tujuannya sudah jelas untuk ke sungai yang ada di bayangannya tadi, sebuah sungai di mana jasad Ayahnya dibuang tidak layak.