Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 32 | PROGRAM BARU



"Giska, lo percaya kan gue enggak mencekik mereka!" tegas Camelia mengalihkan pandangan ke arah Giska yang mulai duduk di sampingnya.


Giska merangkul pundak Camelia, dia mengelusnya dengan tulus juga tatapan sendu. "Iya, Mel, gue percaya kok. Lo enggak usah dengerin kata Doni lagi, ya, emang deh dia bisa-bisanya bicara seperti itu."


Camelia masih sesenggukan, kedua tangannya terus dia tutupi wajah yang kian basah karena air mata. Namun, beberapa saat dengan cepat Camelia mendongakkan pandangan menatap Giska, netranya yang penuh air mata dia biarkan mengalir.


"Nanti malam mau ikut gue cari Ayah?" tawar Camelia menatap Giska serius.


Refleks Giska tersentak, dia memundurkan sedikit pandangan, lalu beralih ke arah depan, enggan melihat Camelia. Respons tubuhnya yang ketakutan itu membuat kedua mata pun terus berkedip cepat, pun napasnya yang menarik dan berhembus tidak karuan.


"Mel, lo jangan begini. Ayo sadar, bukannya Ayah lo itu sudah ...."


Giska menghentikan pernyataannya, dia tidak ingin membuat Camelia tersinggung dan menambah rasa sakitnya.


Sementara itu, Camelia masih berusaha menatap kedua mata Giska yang terus berkeliaran ke arah depan.


"Jangan katakan itu, Gis. Gue yakin, Ayah gue belum meninggal! Gue mau cari Ayah gue, 5 tahun yang lalu itu pencariannya belum jelas. Ayah gue masih hidup, Gis!" Camelia menggoyangkan tubuh Giska berkali-kali dengan tatapan penuh emosi.


Tidak ingin membuat temannya berpikir aneh dan semakin aneh, Giska sigap mendekap Camelia, dan benar saja, setelahnya Camelia menangis kembali, kali ini lebih histeris dalam dekapan Giska.


"Ayah gue masih hidup, Gis, dia belum meninggal," ucap Camelia tersedu-sedu.


"Iya, Mel, gue percaya, nanti ya kalau ada waktu kita bareng-bareng cari Ayah lo." Giska mengelus hangat kepala Camelia.


Dirasa sudah mulai tenang, Camelia melepaskan dekapannya, lalu mereka beranjak pada ponsel yang sedari tadi terus berdering, seperti banyak pesan masuk. Benar saja ada delapan pesan dari grup kelasnya, terbaca jelas jika ulangan kelas X IPS 1 yang awal ditunda hingga Minggu depan, kini lebih dimajukan menjadi hari Rabu, dan besoknya Ibu Ida memberitahu jika khusus kelas X IPS 1 wajib mengikuti pembelajaran tambahan hingga sore, sekitar pukul 17.30.


"Bagus deh ya, ulangan kita dimajukan, tapi kenapa besok harus pulang sore sih?" Giska menaruh sembarang ponselnya ke samping dengan hembusan napas berat.


Camelia yang merasa tidak nyaman dengan wajahnya yang basah, segera meraih tisu di tas sekolahnya, selalu dia bawa kapan pun, lalu setelah berhasil menyeka semua air mata, Camelia merilekskan tubuh, sesekali menatap ke arah Giska.


"Enggak papa, Gis, sudah bagus ulangan kita dimajukan. Mungkin pembelajaran tambahan itu karena Ibu Ida ingin kita bersungguh-sungguh menghadapai ulangan, cuma sehari saja kok pembelajaran tambahannya, malah menurutku kurang nih, mendadak sekali Rabu langsung ulangan," ucap Camelia yang akhirnya bisa berbicara dengan semakin tenang, tidak merasakan sesak di dada.


Giska menghembuskan napas panjang, lalu beralih memandang Camelia. "Iya, ada betulnya juga omongan lo, terlalu mendadak jika ulangan hari Rabu, tapi enggak papa deh, kita kan sudah belajar sebelumnya."


Giska tertawa kecil, diikuti senyum lepas Camelia yang menyenggol pundak Giska pelan.


"Bisa saja lo!" balas Camelia.


Di saat yang bersamaan, ketika mereka sedang asik bercanda, seorang laki-laki tengah berdiri saja di hadapan mereka, lalu tergesa menghampiri Camelia.


"Mel, lo baik-baik saja, bukan? Gue cari-cari kalian tadi, ternyata di sini." Amar menatapi kedua temannya bergantian.


"Sebelum tadi gue sama Giska datang, lo enggak diapa-apain kan sama Doni, lo enggak dikasari sama dia?" tanya Amar kembali benar-benar cemas.


Camelia yang sudah malas meladeni Amar hanya menggelengkan kepala dengan pandangan ke bawah. Sementara itu, Amar yang merasa lega mulai menghembuskan napasnya tenang.


"Di dalam gimana, Doni masih bertindak enggak jelas?" tanya Giska memulai kembali pembicaraan.


Amar refleks mengalihkan pandangan ke belakang sebentar, lalu kembali menatap ke arah Giska. "Enggak, sepertinya dia sedang menjaga Nayya di ruangan."


"Bisa-bisanya dia maki-maki Camelia begitu, menuduh orang enggak jelas, maksudnya apa coba?!" geram Giska seraya menyapu pandangan ke sekitar.


Amar menaikkan posisi pundaknya, merasa kurang tahu dengan pertanyaan Giska.


"Biarkan saja, Gis, Mar, gue enggak papa kok, gue baik-baik saja. Hal begitu sudah biasa gue rasakan dari kecil, udah kuat nih jiwa gue!" Camelia tertawa kecil di akhir kalimat.


Sementara Giska tersenyum masam, antara senang dan sedih mendengar jawaban Camelia. Amar yang masih merasa janggal, menatap Camelia serius, dia seperti sedang menebak-nebak sesuatu yang Camelia sembunyikan, dari garis wajah hingga rautnya Amar perhatikan detail, barangkali dia menemukan kebohongan licik yang Camelia sembunyikan. Namun, dengan cepat Amar menggelengkan kepala, merasa tidak mungkin juga jika Camelia berbohong atau menyembunyikan sesuatu yang licik, selama ini Amar mengenal Camelia orang baik.


Merasa diperhatikan terus oleh Amar, Camelia mengalihkan pembicaraan. "Malam jadi, ya, bantu gue cari Ayah."


Giska yang tidak ingin menemani Camelia sendirian segera meluncurkan tatapan memohon kepada Amar. "Mar, lo ikut juga ya, bantu kita cari Ayah Camelia."


Sama halnya dengan respons Giska di awal, Amar tersentak, jantungnya memompa lebih kencang, dia tidak mengerti maksud pembicaraan Camelia dan Giska, padahal sudah jelas-jelas sosok yang selalu menghantui Amar dulu jauh sebelum Annisa meninggal adalah almarhum Ayah Camelia, David. Tidak ingin kedua temannya curiga, Amar kembali menampakkan wajah ketidaktahuan.


"Loh, Mel, lo seyakin itu kalau Ayah lo belum meninggal?" tanya Amar hati-hati.


Camelia mengubah posisi duduknya lebih condong ke arah Amar. "Iya, gue yakin, Mar. Warga-warga memutuskan begitu saja kalau Ayah gue meninggal, padahal jasadnya saja belum ditemukan semenjak 5 tahun lalu, tepatnya saat umur gue 10 tahun."


'Enggak, gue yakin betul kalau Ayah Camelia sudah meninggal, tetapi mengapa jasadnya belum juga ditemukan? Itu artinya benar saja kejanggalan semua ini, pantas arwah Ayah Camelia selalu menghantui orang-orang, dia masih belum tenang,' batin Amar memandangi Camelia.


"Mar, lo jadi mau ikut bantu cari enggak?!" seru Giska membuyarkan lamunan Amar.


"Enggak bisa, Gis, Mel, gue mau bicara serius sama Ayah," jawab Amar cepat tanpa dipikir kembali.


Giska terbelalak, mengerutkan keningnya, pun dengan Camelia yang menaiki kedua alis.


"Bicara serius tentang apa? Lo sama Ayah lo tahu sesuatu?" tanya Camelia seraya mempertajam tatapannya.


"Eh, maksud gue, gue mau jaga Ayah gue. Iya! gue mau jaga Ayah, dia belum sembuh total soalnya, gue takut Ayah mendadak kabur dari rumah lagi," sangkal Amar seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Untung saja Camelia dan Giska hanya membalas dengan anggukan, yang berarti mereka percaya akan jawaban Amar.