
"Aaa!" teriak seorang siswi dari arah belakang Nayya.
Mendadak fokus Nayya, Doni juga teman-teman yang lainnya langsung teralihkan, sebagian dari mereka bahkan ada yang sampai berdiri, karena penasaran dengan apa yang terjadi di bagian belakang.
"Kenapa, Nay?" tanya Doni mulai beranjak dari tempat duduk.
Melihat Nayya yang berjalan ke cepat ke arah belakang bersama detak jantung yang berdegup kencang, Doni dan sebagian teman yang lain mengikutinya dari belakang. Nayya menangkap wajah seorang temannya di sebelah kiri dekat jendela sangat ketakutan, kedua tangannya terus memegang erat ponsel searah dagu.
"Ada apa?" tanya Nayya seraya menatap seseorang tersebut dan teman duduk di sampingnya bergantian.
Mereka malah saling pandang, mulutnya bergetar seperti masih ragu serta takut untuk mengatakan sesuatu hal, lalu hitungan detik teman duduk di sampingnya mengeluarkan suara sangat pelan.
"I--tu, katanya Firda tadi me---li---hat hantu di bawah tempat duduk!" jawabnya gugup.
Nayya terbelalak, tetapi dia masih bisa mengaturnya, berbeda dengan teman-teman yang lain malah memberikan respons berlebih, mereka seperti ikut takut dan cemas, takut jika seandainya mereka juga menemukan hantu yang dimaksud tersebut, mendadak suasana bus berubah ricuh, tetapi dengan sigap Doni dan Nayya memberikan arahan untuk tetap tenang dan santai menikmati perjalanan.
"Yang benar saja. Bagaimana kejadiannya?" tanya Nayya kembali, kini menundukkan tubuh agar pandangan lawan bicaranya tidak terus-terusan mendongak.
Sebelum akhirnya membuka suara kembali, temannya di samping melirik Firda terlebih dahulu, seperti meminta izin untuk dia bisa menceritakannya. Sementara Firda masih terdiam, dia masih mengatur takut dan mengendalikan degup jantung yang semakin kencang itu.
"Jadi, tadi enggak sengaja ponsel Firda jatuh ke kolong kursi saat dia sedang memainkannya, lalu Firda berusaha merogoh tangan ke kolong tersebut, tetapi dia belum bisa juga meraih ponsel itu. Hingga Firda ... menurunkan tubuhnya dan menengok di bawah kursi, saat dia berhasil menemukan ponsel tersebut dan berniat mengambilnya mendadak muncul sosok hantu yang juga ikut menarik tangan Firda. Begitu kurang lebih kejadiannya, Nay."
'Siapa lagi sih dia? Apa sosok sama yang selalu menghantui gue juga,' batin Nayya seraya mencerna raut temannya itu yang masih ketakutan.
"Salah liat saja kali, mungkin pikiran teman lo lagi berantakan. Istirahat saja ya kalian, sudah larut malam, nanti pagi pasti kita akan menghabiskan banyak waktu untuk bersenang-senang," sambar Doni, lalu kembali melangkah ke tempat duduknya, meninggalkan Nayya yang masih termenung di sana.
Nayya perlahan membangunkan tubuhnya, lalu tangan kanannya menyentuh pundak Firda bersama tatapan tulus. "Tenangkan diri lo, ya, kalau perlu bantuan bisa bilang ke gue. Istirahat yang cukup, enggak perlu memikirkan yang aneh-aneh lagi."
Sesaat Nayya ikut pergi meninggalkan Firda yang tampaknya sudah cukup tenang.
"Lo percaya?" tanya Doni mendadak, ketika baru saja Nayya menduduki diri di kursinya.
Nayya berdeham, lalu menatap Doni dengan embusan napas. "Percaya, memang kenapa, lo enggak percaya?"
Doni memalingkan pandangannya ke depan, memutuskan untuk terdiam tanpa merespons jawaban Nayya.
Nayya yang merasa dicueki oleh Doni ikut memalingkan wajah, karena waktu pun sudah semakin larut malam, Nayya memutuskan untuk memejamkan mata walaupun sangat sulit. Beberapa temannya masih saja ada yang mengobrol juga saling melempar candaan membuat ketenangan susah Nayya dapatkan.
Baru beberapa detik alam bawah sadar Nayya pindah, dia sudah dikejutkan saja pada bus yang mengerem secara mendadak, membuat teman-teman yang lain pun menjadi ribut kembali.
"Kenapa, nih, ada apa?" ucap seseorang dari arah belakang.
Nayya yang masih mencoba untuk mengumpulkan jiwanya, samar-samar mendengar perkataan Doni.
"Kenapa, Don?" tanya Nayya seraya berusaha memfokuskan pandangan, menatap Doni.
"Tadi busnya berhenti mendadak, sepertinya ada sesuatu yang aneh," jawab Doni tanpa menatap ke arah Nayya.
Supir bus yang sedari tadi hanya terdiam, akhirnya mengeluarkan suara yang terdengar gemetar.
"Tadi ada sekelebat orang lewat, ada-ada saja, padahal sudah malam masih berani berkeliaran ya orang-orang," ucap sang sopir yang masih berusaha fokus mengendarai bus kembali.
Doni mengubah posisi duduknya, kini tubuhnya lebih condong ke arah Nayya. "Lo merasa ada yang aneh enggak? Kayaknya memang kita enggak ditakdirkan untuk jalan-jalan sekelas deh sebelum ujian sekolah."
Nayya yang merasa sangat lelah dan ingin kembali tertidur hanya membalas Doni dengan gelengan kepala, tubuhnya dia coba sandarkan lagi ke kursi untuk melanjutkan tidur.
Beberapa jam berlalu, Doni masih tidak bisa tertidur, entah apa yang ada di pikirannya hingga merasa sulit untuk istirahat, yang jelas dia merasa sangat tidak tenang, apalagi mereka jalan-jalan seperti ini tanpa izin pada pihak sekolah terlebih dahulu.
Baru saja Doni berusaha memejamkan mata, bus kembali bergoyang, kali ini benar-benar parah hingga membuat teman-teman yang lain terbangun, lalu berteriak histeris, supir bus benar-benar panik, kejadiannya berlangsung sangat cepat, bus yang mereka naiki terpaksa membanting stir ke arah kiri, tepat di sebuah pohon rindang, ketika sosok yang sama berusaha menghalangi jalan bus tersebut. Begitu keras suara tabrakan dengan pohon itu, juga kaca-kaca jendela yang bertebaran ke sana kemari, diikuti dengan percikan darah yang tidak sengaja melukai teman-teman Nayya, termasuk dirinya sendiri pun yang lebih parah, keningnya begitu kuat menabrak bagian ujung kursi depan yang lancip itu, hingga membuatnya tidak sadarkan diri. Sementara Doni di sampingnya yang juga terkena serpihan kaca pada bagian tangan saja, buru-buru meraih ponsel, menahan pedih dan segera menghubungi Amar.
...***...
"Eh, Doni nelfon nih!" seru Amar.
Kebetulan saat itu, Camelia dan Giska memang belum tertidur, mereka setia menunggu Ayah Amar yang terlihat sudah lemas.
"Mar, kita terkena musibah, bus yang kita tumpangi kecelakaan. Baru saja kejadiaannya berlangsung, gue sakit banget, teman-teman yang lain banyak yang enggak sadarkan diri," ucap Doni di seberang telepon, terdengar suaranya seperti menahan pedih.
Amar refleks terbelalak, ponselnya dia turunkan ke lantai, tentu hal itu membuat Camelia dan Giska semakin penasaran.
"Kenapa, Mar?" tanya Camelia bersama wajah panik diikuti dengan Giska.
"Benar omongan kita tadi. Mereka kecelakaan!" jawab Amar mempertegas tiap katanya, tetapi dengan volume yang dia kecilkan.
Mendengar Doni yang terus berbicara di telepon, Amar meraih ponselnya kembali dengan tangan yang sudah gemetaran.
"Terus sekarang kalian gimana? Gue harus apa, Don?" ucap Amar cepat.
Camelia dan Giska yang masih syok, hanya bisa mendengarkan perbicangan Amar dengan Doni di telepon seraya jantung yang terus berdegup kencang, dada Camelia sempat sesak juga tadi saat pertama mendengar kabar kecelakaan teman-teman kelasnya.
Beberapa detik tidak ada jawaban dari Doni, hingga akhirnya terdengar runtuhan keras dari seberang sana, setelahnya panggilan pun tertutup sendiri, Doni telah ambruk di sana, mereka hanya berharap seseorang yang lewat masih bisa membantu mereka untuk ditangani segera.