Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 20 | AYAH



Di malam yang telah larut, menenggelamkan suara kendaraan di luar, Camelia berjalan sempoyongan ke kamar, dia meletakkan tasnya sembarang, tubuhnya langsung dia istirahatkan pada kasur favoritnya tanpa mengganti dress coklat tua terlebih dahulu, tubuhnya benar-benar terasa sangat lelah malam itu, apalagi pikirannya yang terus dihantui oleh sang Ayah, matanya sudah sangat lelah untuk menangis kembali, pandangannya pun menjadi semakin buram.


Namun, entah kenapa semakin Camelia memaksa untuk tidak memikirkan sang Ayah, justru semakin kuat juga Ayahnya berada di pikiran Camelia, seperti tidak ingin berpaling.


Camelia mencoba memejamkan netra, merilekskan tubuhnya sebentar saja, mendadak sekelebat bayangan terasa melewati ranjang Camelia, dia yang merasakan angin berhembus hangat menyentuh telapak kaki, buru-buru terbangun, mendudukkan tubuhnya, kedua netra Camelia terus berkeliaran ke sekitar, dari ujung pintu kamar hingga jendela yang masih menyisakan sedikit celah pada gordennya.


Saat pandangan Camelia fokus ke depan, netranya menangkap jelas sosok yang mirip dengan sang Ayah, merasa tidak percaya, Camelia mengedipkan mata berkali-kali, dan ternyata memang benar itu Ayahnya sedang menghadap ke jendela Camelia.


Dengan netra yang kembali berkaca-kaca juga detak jantung yang berdegup tidak normal, Camelia membangunkan tubuhnya, menyingkirkan selimut yang hanya sampai mata kaki itu dengan sembarang. Dengan langkah pasti, detak jantung yang semakin cepat, juga senyuman yang mulai tercipta dari bibirnya, Camelia memfokuskan dirinya ke depan, tangan kanannya yang terasa gemetar mencoba diregangkan ke depan, berharap sosok Ayah yang dia lihat bisa digapai.


"Ayah, aku merindukanmu, sangat ingin bersama Ayah kembali. Kemarilah."


Air mata perlahan menetes ke lantai, Camelia masih mengarahkan tangan kanannya ke depan, saat sebentar lagi ingin menyentuh, sang Ayah berbalik badan menatap Camelia, tidak ada yang hancur atau tidak sempurna dari jiwa sang Ayah, justru sangat sempurna dan terlihat baik-baik saja, hanya wajah yang kian pucat masih berusaha menampakkan senyum untuk sang Anak, Camelia.


Camelia yang sudah tidak tahan dengan tubuh yang semakin gemetar, tanpa pikir panjang segera mendekap sang Ayah, ketika dia benar-benar merasa dekapan itu, air mata terjatuh cepat dengan sendirinya, terlalu senang Camelia hingga dadanya sesak. Dia benar-benar mendekap sosok Ayahnya malam itu, ingin rasanya seperti itu setiap saat, tidak mau berpaling dengan cepat.


"Ayah, terima kasih sudah datang. Camelia sayang Ayah." Camelia mengeratkan dekapannya, isak tangis pun semakin menjadi.


Beberapa saat setelah David membalas dekapan sang Anak, dia melepaskan dekapannya perlahan, menundukkan kepalanya agar setara dengan Camelia.


"Enggak usah sedih lagi, sayang. Ayah selalu ada di samping kamu, jangan merasa sendiri, ya."


Sosok itu memegang kepala Camelia dengan kedua tangan, tatapannya terlihat sedu, bibir yang kian pucat pun tampak gemetar, seperti menahan tangis.


"Ayah, jadi Ayah sudah benar-benar tiada? Mengapa Ayah mendadak hilang saat 5 tahun lalu? Camelia masih berharap Ayah hidup, Ayah jangan pergi lagi."


Dengan sesenggukan Camelia menggenggam erat kedua tangan Ayahnya, kemudian refleks terlalu nyaman Camelia menyenderkan diri pada dada kekar sang Ayah, dia benar-benar tidak ingin jauh.


Perlahan Camelia merasakan jari-jari sang Ayah yang menyentuh rambutnya, tidak jarang juga seperti tetesan air mata yang menembus ubun-ubun kepala Camelia, seakan membuat hatinya ikut sakit, ikut merasakan apa yang Ayahnya rasakan.


"Maafin Ayah, Camelia. Ayah masih belum bisa memberikan kamu boneka kityy, tetapi Ayah pastikan secepatnya kamu bisa memiliki boneka kitty itu dan setelahnya Ayah bisa pergi dengan tenang."


"Ayah enggak boleh pergi, Ayah Camelia mau sama Ayah. Sepi tanpa Ayah, sakit rasanya setiap hari selalu memikirkan Ayah." Camelia menundukkan pandangan.


Kali ini dia tidak ingin sang Ayah melihat air mata Camelia kembali jatuh, buru-buru Camelia menyeka air mata itu, masih dalam posisi menunduk.


David yang paham betul Camelia pasti sedang menangis, segera membawa kepala Camelia untuk tegap kembali, terlihat netra coklat yang manis itu tampak meninggalkan lebam.


"Sudah, ya, sayang. Ayah harus pergi, kamu jangan nangis dan sedih lagi, Ayah ikut sakit nanti di sini."


Camelia yang tidak kuat menahan tangisan, hanya terdiam menatap sang Ayah sedu, bibirnya tidak mampu untuk berbicara kembali. Perlahan meskipun sangat terpaksa, sosok David beranjak dari duduknya, lalu kembali berdiri, cukup lama menatap Camelia dengan senyum tulus, hingga akhirnya sosok itu perlahan melangkah ke arah jendela, menjauhi Camelia.


"Ayah!"


Camelia gelagapan, refleks membangunkan tubuhnya, melihat ke sekitar dan menyadari bahwa tadi hanyalah mimpi. Namun, dia masih berharap jika semua tadi bisa menjadi nyata, dengan netra yang masih berkeliaran mencari sosok Ayah, Camelia menurunkan tubuhnya mencoba jalan ke arah jendela yang tampak masih meninggalkan celah, seperti saat dia melihatnya sebelum tidur.


Ke sana kemari, netra coklat Camelia terus mencari sang Ayah, hingga akhirnya yang dia temukan adalah sebuah jejak seseorang. Merasa ada yang aneh, Camelia menundukkan tubuhnya, perlahan jari-jari kanan Camelia menyentuh keramik yang tampak terkena darah segar, darah yang baru saja menetes.


Dengan pikiran Camelia yang sudah terpenuhi sang Ayah, refleks dadanya merasa sangat sesak, lagi dan lagi Camelia harus menjatuhkan air mata hari itu, jika dihitung entah sudah berapa kali dia menangis, karena mengingat sang Ayah.


"Ayah!" Camelia menangis histeris sesenggukan seraya menatap ke arah jendela.


"Camelia mau ketemu Ayah, Ayah di mana? Hanya sebentar saja, Yah. Camelia mohon kali ini saja datang mendekap Camelia, Ayah!" Camelia memukuli keramik yang tidak bersalah itu masih disertai tangisan yang kian keras.


Bukannya kembali tidur, karena hari semakin tengah malam, pukul 01.00 Camelia malah terlanjur nyaman di keramik itu, tubuhnya yang sudah lemah, dia baringkan di atas keramik yang tidak lagi bersih, karena darah sudah mengotorinya. Matanya masih belum terpejam, pandangannya perlahan kosong, serta jari-jari Camelia yang masih memainkan darah tersisa di keramik, tidak ada rasa jijik atau apa pun itu, Camelia justru merasa senang dan sedikit lega, walaupun hanya darah sang Ayah yang dia temukan bukan jiwanya.


Dengan pandangan yang perlahan sayu, bibir Camelia bergetar seperti ingin mengungkapkan sesuatu tetapi terlalu sakit.


"Ayah, jangan seperti ini. Aku hanya ingin melihat Ayah sebentar saja, aku ingin Ayah menemaniku sebentar. Aku ingin bicara banyak hal, cerita hari ini, berkeluh kesah dengan Ayah. Maaf, Ayah putri kecilmu yang sudah dewasa ini ternyata tidak setegar itu jika tanpa hadirmu."


Camelia menikmati dinginnya angin malam, matanya perlahan terpejam, tetapi ingatannya seperti tidak ingin istirahat, selalu tentang Ayah dan Ayah yang berkeliaran.