
Nayya melempar kasar tangan Giska, ketika mereka tengah sampai di halaman depan sekolah yang cukup sepi.
"Sekarang lo jelaskan ke kita, gimana caranya lo bisa kasih boneka kitty itu sebagai hadiah untuk gue?!" seru Nayya menatap tajam Giska.
Giska memutari padangan dengan gugup. "Gue sudah bilang kan kemarin, gue beli, Nay."
"Beli? Beli di mana?" sambung Doni di samping Nayya.
"Ya ... toko bonekalah! Sudah deh mengapa kalian mempertanyakan hal itu sih, enggak penting," jawab Giska cepat, berharap mereka tidak curiga kembali.
Nayya terus menggerakkan kedua tangan seolah-olah memojokkan Giska, dia terus berusaha agar Giska bisa berbicara terbuka dengannya.
"Giska, gue mohon sama lo, katakan sejujurnya. Gue cuma butuh penjelasan lo doang tentang boneka ini! Gue merasa banyak kejanggalan setelah mendapatkan boneka kitty dari lo. Lo pasti tahu sesuatu kan, Gis, lo enggak beli boneka ini, kan?"
Kali ini Giska tersentak, degup jantungnya semakin kencang, juga kedua mata yang terus berkedip. Hingga akhirnya, bersama hembusan napas berat, Giska menuturkan semuanya dengan sedikit emosi.
"Okey! Gue cerita semuanya. Jadi, malam itu gue bingung banget mau cari kado untuk lo, meskipun orang tua gue kasih gue uang, tetapi gue ngerasa enggak tega sama mereka di tengah kondisi keuangan Ayah gue yang tiba-tiba turun, sehingga mengharuskan gue untuk pindah rumah. Gue enggak sengaja lihat ada sebuah boneka kitty yang memang kelihatannya masih bagus, dirasa engga ada pemiliknya, gue ambil saja boneka itu terus gue bawa pulang. Sudah, puas kalian?! tutur Giska panjang lebar, hingga melempar tatapan tajam ke arah Nayya juga Doni di akhir kalimat.
"Belum! Hanya segitu, lo benar enggak tahu pemilik boneka itu sebelumnya. Lo pasti tahu kan, Gis?" Nayya mencengkeram tangan Giska cukup erat sembari melebarkan netra.
Merasa sakit atas perlakuan Nayya, Giska dengan kasar menyeka tangan Nayya. Dia terdiam cukup lama seraya menyapu pandangan ke sekitar, terlihat siswa-siswi yang mulai berlarian untuk masuk ke sekolah, karena memang ulangan akan segera dimulai.
"Cepat bicara, Giska! Sudah mau masuk nih!" tegas Nayya.
"Tanyakan saja pada Amar, malas gue meladeni lo lagi, waktu belajar gue terbuang!" Giska meluncurkan tatapan kesal pada Nayya juga Doni bergantian.
Giska berlalu lalang pergi sedikit berlari, meninggalkan Nayya dan Doni di sana yang merasa belum puas akan jawaban Giska.
"Eh! Giska! Gue belum puas sama jawaban lo! Maksud lo apa suruh gue tanya ke Amar?!" teriak Nayya sembari ikut berjalan diikuti Doni di belakang.
Sepanjang waktu yang cukup lama di kelas, menunggu guru pengawas yang belum datang juga, pikiran Nayya terus berisik tentang boneka kitty tersebut.
'Mengapa Giska malah mengalihkannya kepada Amar, apakah dia tahu sesuatu selain yang dia ungkap kemarin itu tentang sosok almarhum Ayah Camelia?' batin Nayya seraya menumpu dagunya pada satu tangan, pun menatap Amar dan Giska bergantian.
...***...
Aldi, Ayah Amar hanya bisa berdiam diri seharian di rumah, pintu rumah sengaja Amar gembok agar Ayahnya tidak berkeliaran, karena takut penyakit jiwanya kambuh kembali mengingat Annisa yang sudah meninggal. Namun, kenyataannya hari ini sudah jauh lebih baik, Aldi sudah bisa menerima kepergian Anaknya, tetapi rasa bersalah itu tentu masih ada, rasa bersalah akan sosok yang dia sakiti malah menyerang sang Anak yang tidak bersalah.
Dirasa sangat hampa berada di dalam, Aldi mencari cara agar dirinya bisa ke luar menikmati sepoian angin, dia dengan cerdik membuka jendela kamar, lalu menerobosnya.
Aldi menghembuskan napas lega, dirinya termenung menikmati kesejukan angin juga pemandangan luar dikelilingi pohon tinggi yang lebat.
"Saya jadi penasaran dengan teman Amar yang diganggu sosok David juga, memang dia punya masalah apa dengannya? Ternyata David masih berkeliaran saja, belum benar-benar pergi, bisa bahaya jika seperti ini terus," ucap Aldi pelan seraya menyapu pandangan ke depan. "Nanti malam saya harus bicara dengan Amar," lanjutnya.
...***...
Tidak terasa dua pelajaran ulangan hari pertama ini telah selesai dijalani kelas X IPS 1. Hampir semua dari mereka meninggalkan kelas segera untuk kembali belajar menyiapkan ulangan selanjutnya di rumah.
Camelia meresponsnya dengan sedikit terkejut, lalu termenung mencerna pembicaraan Giska barusan.
"I---iya enggak lama, lo jangan pulang duluan, tunggu gue juga!" balas Camelia.
Setelah memberikan jempolnya Giska beranjak pergi meninggalkan kelas, kebetulan sekali saat itu juga melihat Amar yang ingin ke luar dari kelas. Jadi, Giska ajak saja untuk bareng berjalan ke depan.
Terlihat raut Nayya yang masih di kelas penuh senyum jahat menatap Camelia, lalu dengan semangat bersama tas gendongnya, Nayya buru-buru menghampiri Doni yang kebetulan masih di kelas juga.
"Don, lo pulang dulu saja! Gue mau ada urusan sama si culun itu," seru Nayya.
Doni refleks melihat ke arah Camelia yang masih merapikan buku bacaannya di kolong meja.
"Lo mau ngapain, Nay? Gue enggak mau lo pakai cara curang untuk buat gue jadi ranking 1 di kelas ini," tegas Doni dengan mengecilkan volume suaranya.
Nayya masih tersenyum menatapi Camelia, dia tidak menghiraukan jawaban Doni tadi. Padahal kemarin Amar sudah memberitahukan tentang sosok yang selama ini mengganggunya adalah almarhum Ayah Camelia, tetapi tidak ada sama sekali rasa takut dalam diri Nayya, dia malah semakin tertantang untuk terus memberi perlakuan jahat pada Camelia yang berujung membuat amarah sosok tersebut.
"Buruan lo pulang saja, Don! Gue mau ada urusan sama Camelia." Nayya mendorong tubuh Doni dengan cukup besar tenaganya hingga ke ambang pintu kelas.
Beberapa kali Doni mengelak, tetapi pada akhirnya dia terkalahkan juga, memilih untuk menuruti Nayya saja dengan pulang terlebih dahulu. Masih bersama senyuman jahat, Nayya berjalan perlahan ke arah Camelia, sungguh lihai sekali langkahnya, seperti ingin menyerang musuh secara halus.
"Camelia, masih belum percaya kalau Ayah lo sudah meninggal?" Nayya mulai berjalan mendekati Camelia.
Nayya meraih halus rambut Camelia yang terurai sebahu, sementara Camelia yang merasa risih mencoba untuk bangun dari duduknya dan ingin cepat-cepat beranjak dari kelas.
"Maksud lo apa sih, Mel? Sudah, gue mau pulang! Enggak ada penting-pentingnya gue meladeni lo."
Bersama keberaniannya, Camelia menerobos tubuh Nayya. Merasa rencananya tidak sesuai, karena respons Camelia yang justru biasa saja, Nayya segera mempercepat rencananya, dia buru-buru berjalan ke arah Camelia kembali, lalu memundurkan tubuh teman di depannya itu secara perlahan ke pojok kelas.
"Jangan buru-buru begitu dong, gue mau bicara sama lo, Camelia."
Tidak nyaman dengan keadaan seperti itu, Camelia mendorong cepat tubuh Nayya sembari menatapnya mulai kesal.
"Kalau mau bicara, bicara saja, enggak usah bertindak aneh begini. Cepat, gue enggak punya banyak waktu."
Mendengar jawaban Camelia, Nayya tertawa kecil, lalu dengan santai mendongakan dagu Camelia kasar.
"Bawa Ayah lo ke sini! Dia mau balas dendam sama gue? Silakan, bawa dia ke sini! Apa gue perlu celakain lo dulu baru dia bisa ke sini dan bunuh gue?!" tutur Nayya tegas di hadapan wajah Camelia.
Emosi yang sudah penuh tertahan sedari tadi, akhirnya tersalurkan juga, Camelia menghembuskan napas berat, lalu menghempas jari-jari Nayya pada dagunya dengan kasar.
"Ayah gue masih hidup! Berhenti bicara kalau Ayah gue sudah meninggal, dia masih hidup, Nay!" jawab Camelia dengan teriak bersama kedua netra yang mulai berkaca-kaca.
"Gila lo, Mel!" sangkal Nayya cepat.
Camelia terdiam sejenak menahan air mata yang terus ingin terjatuh, pun dengan Nayya yang ikut terdiam bersama kedua tangan yang bersedekap. Untung saja perdebatan mereka tidak membawa perhatian siswa-siswi yang tersisa di sekolah.