Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 21 | KEJANGGALAN



Dengan susah payah akhirnya Nayya bisa mengistirahatkan tubuh di ranjang yang selama ini dia terus harapkan selama acara ulang tahunnya berlangsung, dia masih meninggalkan kado-kado yang diberikan teman-temannya itu di ruangan depan, saat ini saja dia tidak mengganti dress dan bahkan aksesoris kepalanya masih menempel.


Mata yang sudah semakin sayu, Nayya menarik segera selimut yang berada di mata kakinya untuk menutupi tubuh, lalu saat Nayya ingin menyalakan alarm pada jam di sebelah kiri, tangannya tidak sengaja menyentuh sesuatu bahan yang lembut, seperti sebuah boneka. Dengan detak jantung yang sudah tidak normal, serta mata yang terbuka segar, Nayya membangunkan diri, melihat sesuatu yang tadi dipegangnya. Mendadak tubuh Nayya terlonjak, ketika menyadari ada boneka kitty yang tidak tahu datangnya dari mana, tertata rapi tepat di sebelah jam bundarnya.


"Hah?! Ini boneka siapa? Perasaan gue enggak pernah taruh di situ."


Bukannya menghindar, lalu lanjut kembali tidur, Nayya malah semakin penasaran dan mengambil boneka itu dengan satu tangan, matanya semakin fokus menatapi boneka kitty yang tampak aneh, semakin Nayya mengamatinya semakin merasa kalau boneka yang dipegangnya kini tersenyum jahat. Nayya yang sudah sangat lelah, tidak ingin terlalu dalam mengenal boneka tersebut, memutuskan untuk kembali melanjutkan tidur, boneka tadi dia letakkan pada tempatnya dengan perlahan dan terus mengamati, hingga pandangannya teralihkan saat menarik selimut kembali.


Susah payah, Nayya harus memenangkan jantungnya yang berdegup kencang juga pikiran yang sudah rumit agar dirinya bisa tertidur dengan cepat, pandangan Nayya kini dia alihkan berbalik pada boneka kitty, netranya yang masih berusaha terpejam, menikmati pemandangan langit malam dan gedung pencakar langit di balik jendela kamar. Dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, Nayya sudah berhasil tertidur lelap.


...***...


Matahari Sabtu tampak sudah mulai meninggi posisinya, Giska yang memang memutuskan untuk tidak ikut jalan-jalan bersama teman kelasnya memilih untuk belajar bersama dengan Camelia juga Amar, karena sebelumnya sudah dibicarakan, kini langkah Giska tidak sendirian untuk ke rumah Camelia, dia ditemani Amar yang juga bersemangat untuk belajar bersama.


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka tengah sampai di depan rumah Camelia, disambut dengan tanaman-tanaman yang memancar energi positif, Giska mengetukkan pintu dua kali, tidak ada jawaban, merasa semakin heran, Amar mengetukkan pintu juga dua kali, masih tidak ada jawaban dari dalam.


"Camelia, lo ada di dalam? Ini Giska sama Amar," ucap Giska sedikit teriak seraya memandangi Amar dengan kebingungan.


"Camelia, buka pintunya." Amar mencoba melirik di balik jendela rumah Camelia.


Merasa semakin aneh, terpaksa Amar membuka paksa pintu rumah Camelia. Namun, hal yang tidak disangka ternyata pintu itu tidak terkunci, setelah Giska dan Amar saling pandang, mereka berjalan cepat memasuki rumah Camelia.


Amar berjalan hingga ke belakang rumah, sementara Giska memutuskan untuk berjalan ke kamar Camelia, refleks netranya melebar, ketika melihat Camelia terbaring lemas di lantai yang masih menyisakan darah malam itu.


"Amar! Gue sudah sama Camelia." Giska tergesa menghadap ke belakangnya, berharap Amar segera datang membantu Giska untuk memapah tubuh Camelia.


Tidak jauh berbeda dengan reaksi Giska pertama kali, Amar pun merasa terkejut juga, tanpa diminta kembali, Amar sudah peka untuk memapah tubuh Camelia dibantu dengan Giska ke ranjangnya.


Camelia yang merasa tubuhnya diangkat, dengan susah payah dia menfokuskan netra, mengumpulkan nyawa yang mendadak harus terbangun.


"Eh, kenapa, nih?"


Camelia menatap dua temannya itu kebingungan, seraya bergerak untuk duduk.


"Loh, Mel, ya ampun! Lo ini bikin kita panik saja, gue kira lo pingsan tadi."


Giska menghembuskan napas lega seraya memandangi Camelia sedikit kesal. Sementara Amar dengan sigap menyentuh pundak Camelia masih dengan raut wajah panik.


"Ada-ada saja lo, Mel. Jadi, tadi lo cuma ketiduran di lantai?" tanya Amar pelan.


Camelia tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia terdiam sejenak, netranya terus berputar memandangi langit-langit kamar.


Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Camelia. Dengan perasaan kalut dan tatapan sendu, Giska meraih pundak Camelia, menatap temannya itu dalam.


"Eh sudah, ada kita di sini. Lo bersih-bersih dulu, ya, setelahnya baru kita belajar bareng!" seru Giska dengan seutas senyuman.


Camelia menghembuskan napas haru mendengar jawaban Giska, perkataanya benar-benar memenangkan. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Camelia menatap kedua temannya bergantian seraya berucap terima kasih.


Tidak ingin Giska dan Amar menunggu lama, Camelia segera bergegas untuk membersihkan tubuhnya. Sementara itu, Giska yang merasa tidak nyaman dengan bekas darah yang masih tersisa jelas di lantai, segera mengambil kain yang dibasahi serta pewangi agar aroma amisnya tidak tercium kembali.


"Kira-kira darah apa, ya?" Giska menaikkan alisnya menatap Amar.


Amar berdeham, keningnya berkerut seperti mengingat keras suatu hal.


"Oh, mungkin arwah Ayah Camelia, tadi dia tiba-tiba nyebut nama Ayahnya, kan? Kasian sekali dia," tebak Amar dengan keyakinan penuh.


Giska memperbaiki posisi berdirinya, kini lebih mendekati Amar. "Hm, kira-kira apa yang menyebabkan Camelia sampai terobsesi seperti itu dengan Ayahnya, ya?"


"Yakin lo mau tahu?"


"Iya! Cepat beri tahu!" jawab Giska semangat.


"Tidak akan, biar Camelia saja yang bercerita sendiri ke lo."


Dengan raut wajah yang mengejek Amar berjalan meninggalkan Giska, ke luar dari kamar Camelia untuk menikmati hembusan angin yang sejuk di depan rumah. Sementara itu, Giska yang sedikit kesal hanya mengikuti Amar untuk ke luar.


Selagi menunggu Camelia datang, Giska dan Amar sudah menyiapkan barang-barang yang mereka bawa, dari mulai buku catatan dan latihan tiap pelajaran, buku cetak pendukung, jadwal ulangan hingga alat tulis. Tidak berapa lama dari itu, Camelia sudah siap membawa tasnya, lalu dia keluarkan buku-buku yang penting.


"Hari Senin mulai ulangan mata pelajaran apa?" Giska melirik lembar jadwal ulangan yang sedang Amar baca.


"Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti sama Bahasa Indonesia," jawab Amar masih mengamati lembar jadwal tersebut.


"Sudah gue tebak!" Camelia mengeluarkan buku-buku PAI nya dari dalam tas.


Baru saja mereka ingin memulai untuk membaca-baca bab awal mata pelajaran PAI, tetapi mendadak fokus mereka terganggu akan seorang pria paruh baya yang kelihatannya sedang menangis dengan pakaian kumuh juga perawakan yang tidak terurus.


Amar yang merasa janggal dan aneh dengan pria itu, cukup lama mengamatinya, dari netra sedunya, Amar sudah bisa menebak-nebak kalau itu adalah Ayahnya yang sudah lama hilang.


"Ayah?!"


Dengan langkah sempoyongan, Amar meninggalkan buku-buku di pangkuannya tadi sembarang, netranya yang berkaca-kaca dan penuh harap terlihat jelas, dia sudah bersiap untuk segera mendekap sang Ayah yang sudah lama tidak terlihat. Sementara itu, Camelia dan Giska yang kebingungan hanya saling pandang tanpa sepatah kata pun.