Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 47 | BUNUH DIRI?



1 bulan berlalu


Hari pembagian raport untuk kelas X IPS 1 akhirnya tiba juga. Camelia yang sudah rapi bersama seragam, berjalan ceria ke luar dari kamar. Namun, sebuah bayangan yang tampak di depan cermin terlihat tidak asing bagi Camelia, dia menangkap Ayahnya di sana bersama boneka kitty sama persis yang dia temukan pada gudang rumah Nayya. Tidak hanya itu, dia juga melihat sebuah tulisan dalam cerminnya.


Bersama rasa penasaran dan sedikit takut, Camelia semakin mendekati, semakin jelas terbaca tulisannya seperti ini, "Camelia, Ayah masih terjebak dalam boneka ini, boneka untukmu yang Ayah tidak sempat berikan lima tahun yang lalu."


Begitu Camelia mengedipkan matanya cepat, tulisan juga bayangan boneka dengan sang Ayah mendadak hilang.


Dengan degup jantung yang sudah memompa dengan cepat, Camelia buru-buru pergi dari kamar, ke luar rumah untuk menghadiri pembagian raport siswa.


Hingga akhirnya tiba di sekolah, terlihat raut wajah Nayya yang kian murung, pasti karena melihat siswa-siswi yang lain membawa kedua orang tua mereka. Sama halnya dengan Camelia pun yang sedikit sedih melihat kepahitan dirinya.


"Nay, semangat! Gue di sini siap menemani lo, jangan merasa sendiri, ya," seru Camelia sembari memeluk pundak Nayya.


Nayya seketika menatap Camelia sendu, terdiam cukup lama dalam dekapan Camelia, ujung netranya terus memaksa Nayya untuk melihat suasana di depan, ketika teman-teman yang lain mulai maju ke depan bersama orang tua mereka untuk menghadap wali kelas.


"Iya, Camelia, gue enggak papa kok." Nayya menyeka kasar air mata yang hampir terjatuh, lalu menatap Camelia dengan senyuman sedikit terpaksa.


Hingga saatnya Nayya sudah mendapatkan giliran, melihat perhatian juga kasih sayang dari para orang tua murid, membuat Nayya tidak bisa berpura-pura untuk tidak sakit lagi. Tanpa sepengetahuan guru, Nayya pulang terlebih dahulu, dia memilih untuk berlari kembali ke rumah.


'Enggak, gue enggak bisa kalau di sini terus, gue hancur!' batin Nayya terus berlarian pada lorong sekolah.


Sementara itu, teman-teman lain yang masih berasikan di sekolah belum sadar dengan kepergian Nayya. Namun, ketika Camelia ingin mengajak Nayya untuk bersama-sama main nyatanya Nayya tidak terlihat di sana, sudah ke sana-kemari dan bertanya-tanya pun katanya ada yang melihat Nayya berlari pulang sambil menangis.


"Don, kita harus susul Nayya! Lo enggak lihat dia juga kan dari tadi? Ada yang bilang dia pulang sambil nangis!" seru Camelia sembari terus menatap Doni sangat panik.


Doni yang mendengar penuturan Camelia pun tidak kalah paniknya, dia buru-buru berpamitan dengan orang tuanya untuk ke rumah Nayya. Dengan banyak pikiran negatif yang berkeliaran, Doni, Amar, Giska dan Camelia bergegas meninggalkan sekolah, menuju parkiran untuk bersama-sama menaiki mobil Doni menuju rumah Nayya.


Tidak jarang mereka berdebat perihal kondisi Nayya saat itu di dalam mobil, sampai tidak terasa mereka telah sampai di halaman depan rumah Nayya.


Saat yang lain berlarian ingin masuk ke dalam rumah Nayya, pandangan Doni justru tertuju pada lantai dua rumah Nayya, terlihat dari sana seorang gadis yang menyiapkan tali menggelantung.


"Nayya! Lo ngapain di atas sana!" teriak Doni histeris membuat langkah teman-teman yang sudah dulu di depan terhenti.


Mereka buru-buru kembali menghampiri Doni, melihat apa yang Doni maksud. Tidak jauh beda ekspresinya, sangat terkejut, ketika menangkap Nayya di atas sana berdiri ingin memenggal kepalanya sendiri pada tali gantung.


"Nay, kita ke sana, lo diam dulu!" teriak Camelia diikuti dengan Giska juga Amar yang sama-sama histerisnya.


Mereka berebutan berlari masuk ke rumah Nayya, napasnya yang tersengal-sengal sangat terdengar jelas satu sama lainnya saat menaiki tangga.


Camelia, Giska dan Amar sibuk menghentikan tindakan yang ingin Nayya lakukan, sementara itu Doni diam-diam ke pojok ruangan kamar Nayya untuk segera menghubungi orang tua Nayya.


"Nay, lo mau apa?! Jangan lakuin itu!" Camelia membawa lengan Nayya untuk menjauh dari tali yang menggantung.


Tampak jelas wajah Nayya yang semakin pucat, lemas, pun kedua netra yang seperti dihajar habis-habisan, sangat sembab.


"Lepaskan tangan gue, Mel! Biarkan saja gue seperti ini, orang tua gue enggak peduli juga!" tegas Nayya bersama air mata yang terus terjatuh.


Giska yang sudah muak akan Nayya yang selalu menentang teman-temannya, buru-buru meraih pundak Nayya dengan kedua tangan, terlihat jari-jari yang gemetar itu saat menggenggam, pun kedua mata yang telah berkaca-kaca.


"Nay, lo lihat gue! Lo dengerin gue! Kita peduli sama lo, Nay, kita sedih lihat lo begini. Tolong, Nay jangan sia-siakan hidup lo cuma karena orang tua lo yang enggak peduli itu, biarkan saja mereka, lo ada kita, lo punya kita, Nay," jelas Giska disela-sela tangisnya.


Nayya yang tidak kalah emosinya langsung menyeka kedua tangan Giska secara kasar dari pundaknya, dia memajukan langkah perlahan membuat Giska ikut memundurkan diri.


"Lo mudah saja bilang begitu, Gis, lo mudah saja bilang gue enggak usah pedulikan mereka. Lo enggak tahu apa yang sebenarnya gue rasain, gue jelas tersiksa, gue butuh kasih sayang mereka, Giska. Saat teman-teman yang lain datang ceria dengan orang tua mereka, tetapi gue? Apa?! Gue datang sendirian di saat orang tua gue masih ada dan hidup! Kalau begitu, lebih baik gue sekalian mati biar benar-benar enggak diakuin dan dianggap enggak ada, dari pada gue ada tetapi mereka menganggapnya seperti gue enggak ada," tutur Nayya dengan penekanan di beberapa katanya.


"Nay," lirih Camelia.


Nayya perlahan berjalan kembali ke arah tali yang menggantung, membalikkan tubuhnya sebentar ketika Camelia memanggilnya lirih.


"Maaf, Mel."


"Enggak, Nay, jangan," seru Camelia serak sembari tubuhnya yang dengan cepat ambruk ke lantai.


Nayya terdiam menatapi halaman depan rumahnya dari atas, dia menundukkan diri membiarkan air mata terjun ke bawah, tidak jarang juga pandangannya beralih pada tali yang siap menjadi pengantarnya untuk mengakhiri hidup.


"Nay, teman mana sih yang mau ngeliat temannya sakit begini, sedih begini, teman mana yang enggak peduli ketika teman lainnya dalam kondisi lo begini? Lo pikirkan baik-baik, ya, hidup lo itu masih panjang, jangan lo sia-siain. Kita tahu betul perasaan lo gimana, satu hal yang kita mohon dari lo tetap bertahan, lo hebat, Nay. Jangan merasa sendiri, ya." Amar menepuk pundak Nayya berkali-kali, berusaha untuk menenangkan diikuti Camelia dan Giska dari belakang.


Selang beberapa menit dari itu, saat pandangan Nayya masih menunduk ke bawah, dia melihat sebuah mobil memasuki halaman depan rumahnya, merasa tidak asing Nayya buru-buru menyeka air mata untuk fokuskan pandangan, dan betul saja tebakannya itu orang tua yang selama ini tidak Nayya lihat lagi.