
Hujan yang semakin deras diiringi awan berkabut yang kian menggelap, Doni tetap melawannya, dia segera menuju halaman depan rumah Nayya untuk mengendarai mobil, karena dia pun harus menyiapkan barang-barang dan perlengkapan apa saja yang akan dia bawa untuk perjalanan bersama teman-teman kelas. Sementara Nayya hanya bisa menemani Doni hingga di pintu depan, perlahan memandang mobil hitam milik Doni yang melaju cepat, melawan hujan, dengan harapan hujan bisa sedikit lebih reda agar perjalanannya malam ini dan teman-teman yang lain bisa berjalan baik serta tepat waktu pada jadwal yang sudah direncanakan.
Nayya menutup pintu rumah, ketika mobil Doni hilang dari pandangan, dia lanjut merapikan sisa-sisa kertas kado yang terlihat masih bertebaran di mana-mana. Saat sedang fokus mengambil kertas-kertas itu, pandangannya tidak sengaja menangkap sesosok laki-laki dengan perawakan yang hancur, tatapannya sangat tajam dan dalam, terlihat dari bayang-bayang televisinya.
Langkah Nayya perlahan mundur, ketika semakin menyadari bahwa sosok tersebut menembus televisi, jantungnya kian memompa dengan cepat, napasnya pun mulai tidak karuan.
Bersama luka dalam di perutnya, menampilkan organ-organ yang bergelantungan dengan darah, rasanya Nayya ingin muntah, tetapi tidak bisa, karena perasaan takut dan gugup yang lebih menguasai jiwanya.
"Jangan ganggu gue! Pergi sana!"
Tubuh yang kian gemetaran masih terus memundurkan diri, kedua matanya terus ditutupi dengan jari-jari, hingga tidak sadar kaki Nayya terpentok sofa, tubuhnya ambruk, terjatuh bersamaan dengan suara sosok tersebut yang mengeram cukup keras, membuat pekik telinganya.
Semuanya terjeda sebentar, meninggalkan suara hujan di luar yang semakin mereda, Nayya yang masih dihantui ketakutan, mencoba melawan dirinya untuk membuka kedua mata, melihat situasi di sekeliling, takutnya sosok seram itu masih mengikuti dah menghantui Nayya.
Akhirnya Nayya bisa menghembuskan napasnya lega, tetapi hatinya masih waspada. Bersama nyeri di kedua kakinya, Nayya berusaha berdiri, dia memberanikan untuk melangkah ke gudang. Nayya benar-benar muak akan sosok tersebut, yang dia tebak saat itu boneka pemberian Giska ada kaitannya dengan sosok yang akhir-akhir ini sering muncul, wajahnya dipenuhi amarah seraya berjalan cepat menuju gudang, lalu ketika sudah sampai di sana, dengan tergesa Nayya membuka gembok pintu dan menyalakan sakelar lampu di sebelah pintu.
Netranya gusar memandang sekeliling ruangan, saat dia berhasil menemukan boneka kitty, seutas senyuman jahat mulai terbentuk dari bibirnya.
"Gue hancurkan juga, ya lo!" Nayya mempertegas ucapan.
Langkah Nayya sengaja dibesarkan, lalu secara kasar meraih boneka kitty, dia menyalurkan semua emosi dan amarahnya sore itu juga, kedua tangan Nayya yang terlihat putih dan langsing refleks menampakkan urat-urat, karena tenaga yang Nayya keluarkan cukup kuat, dia mencengkeram tubuh boneka itu bersamaan dengan tatapan tajam yang tidak luntur sedetik pun, lalu dirasa sudah puas, Nayya melempar boneka itu dengan kasar juga sembarang ke lantai, hingga menabrak barang-barang lain dan menciptakan suara nyaring.
Gelak tawa terdengar keras dari Nayya, mengalahkan suara hujan di luar, tanpa takut Nayya meninggalkan ruangan tersebut, mematikan lampu dan menggemboknya kembali. Tersadar hari semakin petang, mendekati waktu perjalanannya, Nayya buru-buru pergi ke kamar, berniat menyiapkan barang-barang yang belum sempat dimasukkan ke dalam tas.
Baru saja langkahnya memasuki kamar, Nayya sudah dibuat tercengang kembali, ketika di dalam kamarnya sudah tertata rapi barang-barang, rasa penasarannya semakin tinggi, Nayya memeriksa satu persatu dua tas yang sudah rapi itu, dan ternyata benar saja, barang-barang yang belum sempat Nayya masukkan, sudah tersedia di dalam tas semua. Pikirannya kembali melantur, Nayya menyapu pandangan ke arah langit-langit kamar hingga sudut ruangan, tidak ditemukan hal-hal aneh, justru hal aneh itu tepat berada di sampingnya. Nayya menemukan bercak darah di lantai, seperti jejak seseorang dengan kaki yang jenjang, karena penasaran Nayya menyentuh darah itu, mengamatinya dalam.
'Maksudnya apa, siapa yang sudah melakukan ini semua?' batin Nayya terus memperhatikan tas di depan. 'Jika sosok itu yang melakukannya, untung juga Giska memberikan boneka kitty, tetapi tidak! Ini sangat menyeramkan!' lanjutnya seraya menggigit bibir.
...***...
Kepuasan bercampur amarah membuat David melampiaskannya pada barang-barang di gudang, dia sangat menggebu ingin cepat-cepat balas dendam, karena Nayya sudah menyakiti Camelia, sekeras apa pun bunyi yang dihasilkan, tidak mungkin membuat Nayya terdengar apalagi balik kembali ke dalam gudang, dia masih sibuk menyiapkan diri untuk pergi malam itu.
...***...
"Mereka sekarang lagi apa, ya? Sudah berangkat belum?" tanya Giska seraya menatap Amar dan Camelia bergantian.
"Gue pikir sudah, sih," tebak Camelia seraya merapikan rambutnya.
"Ada-ada saja, ya teman-teman kita itu. Berani-beraninya mereka mengadakan acara di luar sekolah tanpa izin dulu, padahal kan Senin sudah mulai ulangan," sambung Amar seraya menatapi sang Ayah yang tiba-tiba beranjak pergi.
Sementara itu, Camelia dan Giska yang terlalu fokus tidak menyadari Ayah Amar yang beranjak pergi. Amar justru semakin tidak fokus, dia terus memperhatikan sang Ayah yang melangkah ke bagian belakang rumah Camelia, Amar takut Ayahnya memang masih belum pulih. Bisa saja tanpa sepengetahuan Amar, Ayahnya diam-diam melakukan hal aneh.
Baru saja Amar ingin beranjak dari duduk untuk mengikuti sang Ayah, mendadak lengannya ditarik Giska.
"Mar, kalau mereka ketahuan jalan-jalan tanpa izin dari pihak sekolah atau wali kelas, menurut lo bakal gimana nanti? Kita yang enggak ikut-ikutan takutnya malah dapat resiko juga lagi." Giska bersedekap seraya mendengus kesal.
Dengan raut wajah kurang nyaman, Amar terpaksa untuk kembali duduk. "Ya bilang saja kita enggak ikut-ikutan, tetapi semoga aman ya mereka."
"Enggak gitu dong, Mar. Kita itu kan teman sekelas, pasti sajalah mau berapa orang pun yang enggak terlibat, semuanya bakal terlibat juga menurut gue," sambar Camelia seraya menatap Amar. "Lo kenapa, sih dari tadi melirik ke belakang terus?" lanjutnya seraya ikut melihat arah belakang Amar.
"I--tu, tadi Ayah gue ke sana, gue mau susul, ya!"
"Oh, ngapain? Ya sudah susul cepat, kita ikut juga, ya!"
Camelia dan Giska ikut membangunkan tubuhnya, ketika Amar mulai beranjak. Namun, sebuah teriakan ketakutan terdengar melekik di telinga mereka, Amar yang mengenali suara itu adalah Ayahnya, dengan cemas juga detak jantung yang semakin kencang, dia berjalan cepat ke halaman belakang rumah Camelia, begitu pun dengan Camelia dan Giska yang saling pandang bersama wajah kebingungan, lalu ikut mempercepat langkah juga, ketika Amar mulai melesat.