Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 31 | PERSONA



"Mar, maksud lo apa? Foto ini kenapa lo bisa punya?" ucap Giska getir.


Tubuhnya gemetaran, ketika menunjuk sebuah foto di layar ponsel Amar, seperti menggigil ketakutan. Jantung yang tadi berdegup normal, perlahan menjadi tidak terkendali.


"Gue dulu punya boneka ini! Lo tahu? Ini boneka bukan sembarang boneka, dia licik, lebih tepatnya sosok di dalam boneka tersebut, dia jahat!" tegas Amar dengan volume suara kecil.


Amar masih mendekati wajah Giska yang sudah ketakutan, dia terus melempari pertanyaan-pertanyaan.


"Gue tanya sama lo, lo bisa dapat boneka yang sama untuk hadiah Nayya saat ulang tahun itu dari mana, Gis? Lo beli atau dapat di mana?"


Giska semakin tidak karuan ketika Amar menyatakan fakta-fakta tentang boneka tersebut, dia merasa sangat bersalah memberikannya kepada Nayya.


"Gu---gue, maaf, Mar. Gue enggak beli boneka itu, gue dapat dari tempat terpencil, saat petugas kebersihan ingin mengangkut boneka itu ke mobil mereka."


Netra Giska tidak berhentinya berkeliaran menatapi Amar juga ke bawah lantai, tidak berani jika harus menatap Amar lama-lama, tubuhnya semakin berkeringat, rasa cemas dan takut tengah bercampur.


Amar yang mendengar penuturan Giska seketika menarik napas dalam, lalu menghembuskannya, ternyata dugaannya benar dari awal jika Giska memberikan boneka yang sama dengan bonekanya dulu yang terus menganggu hidup keluarganya itu bahkan hingga Annisa meninggal, tetapi memang hal tersebut atas sebab Ayahnya yang memiliki masalah dengan arwah dalam boneka kitty.


"Giska, kenapa lo bisa-bisanya kasih boneka itu untuk hadiah ulang tahun Nayya, kenapa harus itu, Gis?" tanya Amar kembali, kini dengan kondisi emosinya yang mereda.


Giska kembali mengingat kondisi keluarganya karena pertanyaan Amar, pandangannya semakin tertunduk, hati Giska kian lemah, dan tidak terasa air mata terjatuh membasahi lantai yang mereka pijak. Awalnya Amar belum menyadari jika Giska menangis, hingga dia tersadar sendiri akan tetesan air mata yang mulai terlihat terjatuh cepat ke lantai.


"Eh, sorry. Giska, lo sebenarnya kenapa?" Amar memegangi pundak Giska yang masih tertunduk.


Saat merasakan sentuhan tersebut, Giska semakin terenyuh, dia tidak bisa menahan tangis kembali. Namun, dengan keberaniannya Giska memandang netra Amar, ada sedikit kesal dari raut wajahnya.


"Lo kenapa memojokkan gue begitu? Iya, gue tahu gue salah! Gue enggak pernah tahu kalau boneka itu dirasuki makhluk jahat, dan gue juga enggak ada niat untuk mencelakai Nayya, Mar," ucap Giska tersedu-sedu.


Amar menghembuskan napasnya yang kesekian kali, dia tidak ingin emosinya membuat hati Giska kembali sakit.


"Terus maksud lo apa tanya begini, lo tahu makhluk dalam boneka kitty itu siapa? Lo pasti tahu kan latar belakangnya?" tanya Giska seraya menyeka air matanya kasar.


"Nanti lo akan tahu sendiri, Gis, gue enggak mau asal menyebar berita buruk," jawab Amar, lalu memalingkan tubuh dari Giska.


Di saat yang bersamaan ponselnya berdering, memperlihatkan sebuah pesan dari Doni, dia meminta untuk Amar dan Giska segera ke ruangan Nayya kembali.


"Doni kirim pesan ke gue, kita disuruh ke ruangannya Nayya lagi, sepertinya ada yang ingin dibicarakan. Yuk!"


Amar yang masih melihat kondisi Giska kurang membaik juga rasa bersalahnya yang masih tertanam, mulai meraih lengan Giska untuk membersamainya berjalan. Netra Giska yang masih janggal oleh air mata, dengan cepat menyekanya kembali, dia menuruti Amar dan ikut berjalan tergesa.


Sesampainya di depan ruangan Nayya dirawat, terlihat Camelia yang terus menunduk, wajahnya terlihat sedih, sementara di sampingnya terlihat Doni yang memukuli diri ke tembok. Bersama rasa penasaran dan degup jantung yang mulai memompa cepat, Amar dan Giska saling pandang, lalu mempercepat langkah kembali ketika melihat hal tersebut.


"Mel, kenapa?" tanya Giska seraya memegang pundak Camelia dengan kedua tangan.


Sementara Amar langsung menghampiri Doni, lalu mencegahnya untuk menyakiti diri sendiri.


"Ada apa, Don?" tanya Amar menatap wajah Doni serius.


"Tanyakan sama teman lo satu itu! Dia licik, jahat dia, Mar!" berang Doni sambil menunjuk-nunjuk Camelia penuh emosi.


Camelia yang masih tertunduk dan terdiam hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa bilang, Giska masih berusaha menatap wajah Camelia, tetapi Camelia terus bersikeras untuk menutupinya. Bersama ketulusan, Giska mendekap tubuh Camelia erat, dia terus menepuk pundak, lalu mengusap rambut temannya itu hangat.


"Lo kalau ngomong jangan sembarangan gitu dong! Kasar banget jadi cowok!" balas Giska, masih mencoba menenangkan Camelia.


Doni yang sudah muak, memperbesar langkah mendekati Giska dan Camelia, tetapi dengan sigap Amar terus menahannya agar emosi Doni tidak meledak-ledak.


"Asal lo tahu, ya, teman lo satu itu berusaha membunuh Nayya! Dia ingin mencekiknya, gue lihat sendiri tadi saat kalian berdua pergi! Dia jahat woy!"


Deg! Jantung Amar dan Giska rasanya ingin terlepas, ketika mendengar penuturan Doni, tubuh mereka tampak sedikit gemetar, napas yang tidak terkendali itu terlihat jelas, tetapi mereka tidak langsung percaya begitu saja kalau Camelia sejahat itu, mereka tahu betul Camelia orangnya seperti apa, tidak mungkin dia melakukan hal bodoh tersebut, apalagi sampai ingin menyudahi nyawa seseorang.


"Cukup! Jangan katakan gue jahat! Gue enggak melakukan apa-apa!" Camelia mulai membawa wajahnya berdiri, dia menatap Doni penuh dendam.


Doni tertawa kecil, mukanya dia palingkan sebentar ke arah belakang, lalu kembali menatap Camelia penuh kekesalan.


"Lo bisa-bisanya ya berpura-pura seperti ini, permainan yang sangat bagus, cantik."


Doni dengan berani melangkah mendekati Camelia, dia meraih dagu Camelia dan mendongakkannya ke atas, membuat Camelia berkedip ketakutan.


"Cukup, Doni! Lo jangan kasar begitu sama Camelia!" Amar dengan sigap menyeka kasar lengan Doni dari dagu Camelia.


Giska yang juga tidak terima atas perlakuan Doni, segera melayangkan tamparan keras pada kedua pipi Doni tanpa ampun.


"Brengsek lo cowok!" berang Giska menatap wajah Doni penuh amarah.


Tidak lama dari itu, dokter yang memeriksa keadaan Nayya ke luar dari ruangan dan mengatakan jika Nayya baik-baik saja, bahkan sudah dibolehkan pulang besok. Bersamaan dengan itu, Camelia berjalan cepat meninggalkan teman-temannya, hanya Giska dan Amar yang tersadar, Giska ingin sekali menyusul Camelia yang pergi bersama air mata itu, tetapi Amar menyangkalnya.


"Gue mau nyusul Camelia!" Giska mencoba melepaskan genggaman Amar.


"Giska, biarkan Camelia mencari ketenangan sendiri." Amar masih berusaha mempertahankan genggamannya.


"Enggak ada cari ketenangan sendiri! Gue harus susul dia, bahaya kalau dia malah melakukan hal-hal buruk di luar kendali kita, lepaskan, Mar!"


Kali ini dengan tenaga yang besar Giska melepaskan genggaman Amar, menyekanya kasar, lalu berlari mengejar Camelia yang tampak semakin jauh dari pandangan.


Sementara itu Doni yang cemas dengan kondisi Nayya segera berlari memasuki ruangan, membiarkan Amar di luar sendiri.


"Nay, gimana kondisi lo, dia benar mencekik lo tadi?" tanya Doni, kedua tangannya menumpu pada ranjang Nayya.


Nayya hanya menjawab dengan anggukan pelan, pandangannya beralih ke arah jendela ruangan dengan tatapan sayu.


"Orang tua gue enggak tahu ya kalau Anaknya satu ini lagi di rumah sakit? Mereka sibuk kerja terus, padahal masih luar kota bukan luar negeri," tutur Nayya bersamaan dengan netra yang berkaca-kaca. "Seenggak peduli itukah mereka sama gue, Don?" lanjutnya.


Doni terdiam, sedikit terkejut mendengar pembicaraan Nayya tentang orang tuanya, jarang sekali sebelumnya Nayya membahas hal tersebut. Dengan kepedulian sebagai teman dekat, Doni membawa tubuhnya turun, lalu mengelus pundak Nayya bersama kata-kata semangat.