
Suasana yang semakin larut malam tidak mengurangi rasa semangat sedikit pun dari Camelia, Giska juga, Nayya yang sedang belajar bersama, apalagi Nayya merasa semakin lebih baik bisa ditemani kedua temannya. Namun, mendadak Camelia menundukkan kepala cukup lama, pun ikut memegangi kepala, seperti merasa kesakitan.
"Mel, lo kenapa?" tanya Giska sembari menurunkan pandangan pada hadapan Camelia.
"Sudah larut malam, sepertinya Camelia sudah terlalu lelah. Lebih baik kita sudahi saja deh, istirahat, yuk! Besok kita harus bangun pagi-pagi untuk ulangan selanjutnya," seru Nayya memegangi paha Camelia dengan raut sedikit cemas.
Camelia merespons dengan gelengan kepala cepat, telinganya terasa sakit juga ketika mendengar suara seperti Ayahnya kembali.
"Camelia, kemari, Sayang. Boneka kitty yang kamu inginkan ada di sini, ayo bawa bonekanya supaya Ayah bisa tenang!" seru suara itu lagi.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi sosok David tengah berdiri di belakang Camelia, dia terus membisikkan suara-suara pada telinga Camelia, sembari mengusap berkali-kali rambut Camelia perlahan. Itulah alasan Camelia merasa tidak nyaman, dia merasa selalu dihantui perasaan sedih.
"Gue mau ke gudang. Gudang lo di mana, Nay?" ucap Camelia tiba-tiba bersamaan dengan kepala yang tidak lagi ditundukkan.
Terlihat wajah Camelia yang pucat pasi, pun pandangannya seakan kosong. Merasa ada yang aneh dengan Camelia, Nayya meletakkan punggung tangannya pada kening Camelia.
"Lo sakit, Mel? Pucat sekali muka lo," ucap Nayya sembari menatap ke arah Giska.
Giska yang tersadar akan wajah Camelia yang pucat juga pertanyaannya yang aneh, buru-buru ikut meraih kedua tangan Camelia, Giska sedikit menggenggamnya erat.
"Tangan lo dingin sekali, Mel. Sudah, kita tidur saja, lo kayaknya memang kecapekan deh." Giska berusaha merangkul pundak Camelia.
Pandangan Camelia perlahan mengarah pada Nayya, lalu menajamkan kedua netra membuat Nayya bergidik ngeri.
"Cepat, di mana gudangnya, Nay? Bawa gue ke sana!" gertak Camelia.
'Gue enggak mungkin bawa lo ke gudang, Mel, pasti nanti lo bakal lihat boneka kitty itu. Enggak akan gue biarin lo bisa ketemu Ayah lo lagi dalam wujud bonekanya, sebelum gue mati dulu di tangan almarhum Ayah lo. Gue bakal terus ganggu lo, Mel, gue suka kok Ayah lo menghantui gue,' batin Nayya.
Tanpa sadar di akhir lamunannya, Nayya tertawa kecil, membuat Giska semakin keheranan.
"Nay, sadar lo! Jangan ikut-ikutan Camelia juga ih, gue jadi takut di sini." Giska menepuk pundak Nayya pelan sembari memperhatikan kedua temannya yang sedang aneh tersebut bergantian.
Nayya tersenyum masam, kini tatapannya beralih ke arah Camelia. "Mau apa lo ke gudang?"
"Sudah-sudah kita tidur saja, Camelia lagi kecapekan saja, Nay." Giska meraih kedua lengan Camelia, membawanya untuk beranjak ke ranjang Nayya.
Merasa respons Camelia semakin baik tidak memberontak, Nayya ikut membantu Giska membawa Camelia ke ranjang, mereka akhirnya memutuskan untuk segera istirahat, karena takut besok malah bangun kesiangan.
Hanya membutuhkan jeda beberapa menit, mereka bisa memejamkan mata dan tidur di ranjang yang sama dengan posisi Camelia yang berada di tengah-tengah.
Beberapa jam ke depan, Nayya yang merasa terbangun karena tenggorokannya sangat kering, mulai tersadar melihat Camelia yang tidak lagi ada di sebelah. Buru-buru Nayya membangunkan tubuh, mencoba beranjak dari ranjang dibantu kedua tangannya, sangat hati-hati karena masih terasa sakit.
"Mel? Camelia?" seru Nayya pelan bersamaan dengan langkah menuruni tangga.
Setiap langkah turun, Nayya selalu menatap ke sekeliling dengan tergesa, rasa takutnya semakin tumbuh, pun refleks degup jantung yang kian kencang, membuat napasnya tidak beraturan itu terdengar cukup keras di tengah-tengah ruangan besar sepi.
Deg! Jantung Nayya semakin tidak karuan, tubuhnya yang tadi tegap berjalan mendadak ingin ambruk, terdengar jelas dalam telinganya suara tangisan seorang wanita, terdengar seperti Camelia, tetapi entah kenapa rasanya berbeda dan membuat Nayya takut.
"Mel, itu lo, kan?" Nayya menatap ke sekitar bersama kepala yang ikut ke sana kemari juga.
Semakin Nayya coba ikuti asal suara tersebut, semakin mereda juga tangisannya, hingga akhirnya Nayya sampai di lantai satu rumahnya, langkah juga tubuh yang sudah gemetar masih mencoba untuk berjalan ke arah gudang, karena tidak ada tempat lagi yang Camelia tuju selain gudang rumahnya.
Terlihat dari jarak yang cukup jauh, sosok wanita yang menunduk, rambutnya tergerai panjang persis seperti Camelia, hanya saja saat tadi main rambut Camelia diikat. Nayya coba memastikan sosok di depannya manusia atau bukan, ternyata benar manusia, kakinya tampak ke lantai, dari postur tubuh yang lunglai sembari menunduk saja sudah kelihatan kalau itu Camelia.
"Mel, lo mau apa di sini, di depan gudang?" Nayya membawa jari-jarinya yang gemetar hinggap pada pundak Camelia.
Tidak ada jawaban dari seseorang di depan, membuat jantung Nayya semakin berdebar tidak karuan.
"Mel, jangan membuat gue takut. Yuk, tidur lagi! Pagi kita harus ke sekolah," seru Nayya perlahan disela napas yang tersengal.
Tanpa aba-aba kembali, Camelia yang berdiri di depan dengan sekelebat membalikkan tubuhnya, kedua netra merahnya mulai ditampakkan seakan ingin menyerang Nayya.
"Aaa!" teriak Nayya histeris.
Meskipun keberaniannya hampir sudah tidak tersisa, Nayya sebisa mungkin membawa kedua kakinya untuk berlari dari sana, dia berlari ke lantai dua, menaiki tangga bersama napas yang tersengal-sengal, tidak sedikit pun pandangannya dia alihkan ke belakang, karena terlalu takutnya jika sosok seram Camelia masih mengejar Nayya hingga ke lantai dua.
Saat sampai di lantai dua dan pintu kamarnya sudah terlihat dalam kedua netra, Nayya merasa sedikit lega, dia lebih mempercepat dan memperlebar langkahnya untuk berlari. Pintu kamar, Nayya buka kencang bersama hembusan juga tarikan napas yang membuat Giska terbangun dari tidur, bahkan Nayya memaksa kedua tangan yang belum sembuh tersebut untuk mengeluarkan tenaga besar, meskipun sangat sakit.
Nayya menutup keras pintu kamarnya, lalu berjalan mendekati Giska dengan sempoyongan.
"Gis, Camelia! Dia seram banget! Gue lihat dia tadi di bawah, dia lagi berdiri sendiri di depan pintu gudang!" seru Nayya diselingi napas yang tidak beraturan.
Nayya mulai menduduki tubuhnya, sembari menunggu Giska yang tampak masih mencerna pembicaraan Nayya, karena baru saja terbangun mendadak dari tidur.
Saat ketakutan memberi Nayya jeda untuk menghembuskan napas bebas, akhirnya perlahan rasa cemas Nayya berkurang, dia sudah sedikit lebih tenang, meskipun memori tadi masih teringat betul dalam pikirannya. Namun saat Giska dan Nayya tengah berbincang akan kejadian yang menimpa Nayya barusan, pintu kamar terbuka dengan cepat menampilkan Camelia di sana.
"Aaa!" teriak Nayya histeris.
Giska dan Nayya refleks melompat ke ranjangnya lebih ujung, lalu menutupi diri mereka dengan selimut.