
Sudah beberapa jam lamanya Amar menahan niat untuk cepat-cepat menemui kuburan Annisa, karena harus menjaga sang Ayah hingga tertidur lelap. Dia terpaksa harus pergi tanpa pamit dengan Ayahnya, Amar hanya ingin membuat arwah Annisa tenang dengan pemberian boneka beruangnya, mungkin itu salah satu alasan arwah Annisa menghantui bahkan ingin membawa Ayahnya ikut ke dunia Annisa.
'Ayah, maaf Amar tinggal sebentar ya, Amar ingin ke tempat Annisa, hanya memberikan boneka beruang ini saja,' batin Amar seraya menatap sang Ayah yang terbaring lelap.
Tanpa Amar sadari saat dia sedang bermonolog dalam hati, sosok Annisa tengah ada di belakang, wajahnya yang manis menyeringai seram, luka di perutnya yang masih terlihat jelas itu terkalahkan akan raut wajahnya sangat ceria, sosok tersebut terus menatap Amar dan Ayah bergantian, tidak bisa diartikan tatapannya.
Bersama bulu kuduk Amar yang tengah berdiri diikuti detak jantung berdegup kencang, Amar melanjutkan langkah kembali ke luar dari kamar sang Ayah tanpa sadar bahwa yang membuatnya mendadak seperti tadi, karena Annisa sedang di belakang, memperhatikannya.
Sepanjang jalan Amar merasa jantungnya semakin tidak karuan, angin terus berhembus tetapi keringat dingin terus muncul dari kening Amar, dia kian merasa diawasi oleh seseorang. Namun, beberapa kali Amar mengalihkan pandangan ke belakang atau sekitar, dia hanya menemukan pohon-pohon tinggi dengan daun rindang, tanpa ada seorang atau sesosok pun yang Amar tangkap. Saat langkahnya dipercepat, sosok Annisa ikut mengambil tindakan, dia mendadak muncul di depan jalan, di antara pohon-pohon tinggi tersebut. Sementara itu, padangan Amar yang berkali-kali fokus pada arah belakang, sempat tidak menyadari kehadiran Annisa, hanya ekor matanya yang menyadari bahwa di seberang jalan terdapat sosok Anak kecil manis, sedang berdiri memperhatikan Amar.
Tidak ingin melihat lebih jelas atau bahkan memalingkan wajah, Amar mulai berlari, dia tidak memedulikan sesosok yang baru saja dia tangkap, dia fokus terus ke arah depan hingga akhirnya telah sampai saja di tengah-tengah kuburan. Bersama napas yang tersengal, Amar mencari-cari batu nisan bertuliskan nama Adiknya seraya mengingat-ingat posisi makam, karena memang malam itu seperti tidak ada cahaya sedikit pun selain bulan dan bintang yang menemani, sangat sepi sekali. Beberapa kali Amar memperhatikan sekeliling pun dia tidak menemukan seseorang, malam itu Amar benar-benar sendiri di kuburan, suara-suara serangga membuatnya lebih tenang.
"Kak Amar," ucap seseorang yang tidak asing di telinga Amar, suaranya benar terdengar jelas.
Merasa khayalannya kembali kambuh, Amar menggelengkan kepala cepat seraya memukuli dirinya yang terus mendengar suara-suara tersebut.
'Amar, tenangkan diri lo, sebentar saja di sini, enggak usah mikirin Annisa lagi, biarkan dia tenang, Amar,' batin Amar masih memukuli dirinya, berharap segera sadar dari khayalan.
Namun, semakin Amar coba untuk menyakiti diri sendiri, suara-suara tersebut semakin terdengar jelas, ini berarti bukan sekadar khayalan saja, tetapi benar nyatanya, seseorang atau sesosok makhluk memanggil namanya. Sebisa mungkin Amar harus fokus, dia hanya ingin menaruh boneka beruang tersebut, kemudian pulang menemani sang Ayah. Dengan langkah pasti Amar menghembuskan napas lega, ketika netranya menemukan batu nisan milik Annisa.
Tanpa berlama-lama dia meraih batu nisan tersebut seraya meletakkan boneka beruang pemberian Ayah mereka untuk Annisa yang belum sempat dia mainkan.
"Nisa, Kakak harap kamu enggak menganggu Kakak atau Ayah lagi, jangan begitu ya, Adik manis, Kakak berusaha selalu mengirimkan doa untukmu. Tenang-tenang di sana ya, Nisa, Kakak hanya ingin menitipkan boneka beruang ini saja, kamu ingat bukan? Ini hadiah terakhir yang Ayah berikan untukmu sebelum akhirnya kamu meninggalkan kita untuk selamanya. Sudah, Kakak enggak mau ganggu kamu dan terus di sini lama-lama, takut kamu tidak nyaman juga. Yang jelas, meskipun jiwamu sudah hilang dari dunia ini, tetapi kamu tidak akan pernah hilang dari pikiran Kakak. Selamanya kamu akan tetap menjadi Adik manis tersayang milik Kakak," ucap Amar pelan meski harus diselangi tangis yang tidak bisa menahan untuk terjatuh.
'Kak Amar, Annisa juga sayang sama Kakak sama Ayah, Annisa masih belum tenang sebenarnya. Annisa hanya ingin kalian ikut ke dunia Annisa, tetapi itu sangat jahat. Ya sudah, biarkan Annisa tenang di sini dan menghilang perlahan ya, Kak, semoga baik-baik sama Ayah,' batin sosok tersebut masih berdiri menatap Amar.
Ikatan mereka yang cukup kuat, membuat Amar tersadar jika Annisa ikut membalas kata hati dia, Annisa seperti berada di dekat sana. Bersama cemas dan rasa penuh harap, Amar memperhatikan kembali ke sekeliling, dia terus menduga Annisa berada dekat dengannya.
"Nisa, Annisa, kamu ada di sini? Kamu di mana, Adik manis? Kemari jika ingin bertemu sebentar, Kakak pun berharap bisa berbicara denganmu sebentar saja." Amar menundukkan pandangan, air mata terjatuh cepat membasahi tanah kuburan Annisa.
Samar-samar tidak jauh jaraknya dari Amar, sebuah suara kembali terdengar, suara yang Amar harapkan sedari tadi.
"Kak Amar, aku ingin memelukmu."
Mendengar suara tersebut Amar bergerak membangunkan pandangan, raut wajahnya terbelalak, ketika menyadari orang tersebut ternyata Camelia, tetapi dengan suara almarhum Adiknya, Annisa. Terlihat sekali tubuh yang perlahan mendekati Amar tersebut terlihat lemas, wajah Camelia tampak pucat, pandangannya seperti kosong tidak ada makna. Saat Camelia mendekapnya erat, Amar masih kebingungan, dia bingung harus membalas atau menyingkirkan dekapan tersebut.
"Mel, lo apa-apaan sih. Lo kenapa, Mel? Lepasin gue."
Dengan gerakan pelan agar tidak menyakiti Camelia, Amar menyeka tubuh tersebut, tetapi energi Camelia mendadak semakin kuat, emosinya seperti terasa sekali dalam batin Amar.
"Kak, ini aku. Tadi Kakak bilang ingin bertemu denganku, bukan? Sekarang aku sudah ada di dekatmu, aku hanya ingin merasakan sebentar saja pelukan ini, aku rindu dipeluk sama Kakak sama Ayah. Ya, sebentar saja, Kak, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk benar-benar hilang, aku usahakan enggak menemui Kakak atau Ayah kembali setelah ini," ucap sosok Annisa, suara itu masih terdengar imut di telinga Amar.
Merasa semakin sadar bahwa di hadapannya ini memang sosok Annisa yang merasuki tubuh Camelia, Amar membalas dekapan tersebut, dia lebih erat mendekap seseorang di depannya. Beruntung sekali Amar, di waktu yang sama bisa mendekap dua orang hebat, Camelia dan Annisa. Dengan ketulusan, Amar mencurahkan tangisan dalam dekapan tersebut, dia memanfaatkan momen-momen yang bisa dibilang terakhir untuk bersama dengan Annisa. Benar saja, waktu yang cukup lama berlalu, terasa cepat menurut Amar, mendadak Camelia melepaskan dekapannya, dia terdiam menatap Amar kosong, lalu tubuhnya ambruk bersamaan dengan sosok Annisa yang sudah ke luar dari tubuh Camelia.