
Sabtu ini, Nayya terbangun siang, kedua matanya sembab, sangat terlihat jelas, tidak hanya tubuhnya yang hancur, pun kamarnya berantakan, barang-barang berserakan di mana-mana, terutama yang paling menonjol adalah sebuah album keluarga yang sudah terkoyak tak terbentuk.
Bersama nyeri di kepala, Nayya beranjak dari kasur, lalu berjalan mendekati cermin kamar. Tubuhnya terlihat lesu, rambut yang terurai seperti tidak terawat, lalu entah apa yang membuat Nayya meluapkan emosi sebegitu dalamnya, dia mendadak meluncurkan tangan kanan pada cermin sembari teriakan histeris, membuat lagi-lagi tangannya yang belum sembuh harus terluka karena serpihan kaca.
Napas Nayya terlihat tidak beraturan, langkah yang tidak pasti itu masih terus berjalan ke luar kamar, diiringi tetesan darah jatuh dari tangan kanan Nayya, susah payah dia menurunkan tangga, lagi-lagi tertuju pada gudang.
"David, lo di mana?! Cepat bunuh gue, gue mau meninggal sekarang saja! Gue capek!" teriak Nayya bersama suara yang perlahan serak.
Nayya meraih gagang pintu gudang secara kasar, membiarkan sakit yang semakin menggerogoti tangan dan sekujur tubuhnya, lalu tergesa meraih sakelar lampu, ketika sorot matanya melihat boneka kitty tersebut, gairah Nayya semakin kuat, dia ingin cepat-cepat pulang dari dunia yang baginya menakutkan juga mematikan.
"Hei! Perlihatkanlah arwah di dalam tubuhmu! Katakan pada dia, kemarilah, silakan bunuh gue!" Nayya menggenggam cukup erat boneka tersebut.
Darah segar yang masih jelas terlihat menyentuh boneka kitty juga, membuatnya tampak semakin seram. Nayya beberapa kali mengguncangkan tubuh boneka itu, bahkan memukulinya secara kasar. Merasa lelah sendiri berteriak dan bertingkah seperti orang kurang waras, Nayya memundurkan tubuh disertai tangisan, kedua tangannya terus menyentuh rambut kepala, seakan sangat lelah dengan kondisi yang dia hadapi.
Namun, mendadak lampu yang tadi sudah Nayya nyalakan malah berkedip cepat, lalu akhirnya padam, bahkan tidak ada angin atau hujan pintu yang tadi meninggalkan celah kecil kini tertutup keras, suaranya nyaring. Nayya yang masih menangis, memeluk dirinya seketika terbelalak, kedua tangan Nayya direntangkan mencoba meraba jalan di depan. Netranya yang sembab pun pandangan kurang fokus, membuatnya bersusah payah menyapu tatapan ke sekitar.
Jeda beberapa detik dari itu, suara-suara aneh mulai terdengar, suara yang selalu Nayya harapkan, ya seperti suara dari sosok David.
Dengan ketenangan, Nayya berjalan memutari diri, tawanya seketika ikut terdengar, dia merasakan bulu kuduknya berdiri, pun degup jantung yang kencang, rasa takut Nayya yang besar tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keinginan Nayya untuk meninggal di tangan David.
"Bagus, akhirnya lo datang juga. Cepat bunuh gue, David!" seru Nayya masih mencari-cari keberadaan David yang sudah terasa semakin dekat pada sekitar Nayya.
Benar saja, tepat di hadapan Nayya, David memunculkan diri, bahkan wajah yang terlihat hancur tersebut bisa Nayya rasakan, wajah mereka hampir saling menyentuh. Hembusan napas yang tidak bisa diatur, membuat Nayya gelagapan, refleks dia memundurkan diri karena terkejut.
"Silakan lo mau ngapain gue sekarang, gue terima!" ucap Nayya gemetar.
Nayya mulai memajukan dirinya kembali bersama tubuh yang juga gemetaran.
Sosok tersebut menyeringai seram, dia mengeluarkan tawa kembali seraya memajukan diri, mendekati Nayya.
"Kamu pantas mendapatkan ini, jangan pernah ganggu Anakku lagi, Gadis manis," seru sosok David tegas.
Nayya yang tidak kuat melihat darah bercucuran dalam tubuh David, segera menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tidak lama, Nayya merasakan tangan sosok tersebut meraih lehernya, dia merasakan sakit yang luar biasa, dadanya kian sesak, air mata seakan dipaksa untuk terjatuh, bahkan darah yang mengalir di sekitar lehernya terasa berhenti, ingin teriak pun rasanya tidak bisa. Nayya benar-benar kesulitan untuk bernapas, ketika sosok David semakin kencang mencengkeram lehernya, pikirannya sudah terpenuhi akan keyakinan nyawanya pagi itu juga berakhir.
"Nayya!" teriak Doni histeris sembari berlari mendekati Nayya.
Kedua tangan Doni bersiap menumpu tubuh Nayya yang hampir terjatuh ke lantai, untung saja gerakannya cepat. Doni menurunkan tubuhnya, membawa kepala Nayya pada pahanya.
"Nay, lo bertahan, ya. Gue antar lo ke rumah sakit sekarang." Doni menggerakkan kedua tangannya yang mulai gemetar untuk membawa tubuh Nayya ke luar gudang.
Dengan kondisinya yang sudah lemah, Nayya masih bisa saja menyeka tangan Doni.
"Don, enggak papa kok gue di rumah saja, enggak usah bawa gue ke rumah sakit lagi, ya, Don." Nayya memegangi lengan Doni sangat lemas.
"Kali ini lo jangan keras kepala, Nay, gue cuma mau lo sembuh dan baik-baik saja." Doni kembali melangkahkan kakinya ke luar dari gudang.
Namun, dengan cepat kembali Nayya menyekanya, kali ini benar-benar memohon.
"Gue mohon juga kali ini saja, Don. Lo tahu kan apa yang gue mau, bawa gue ke kamar saja."
Di akhir kalimatnya, mata Nayya mendadak terpejam, tetapi napas itu masih Doni rasakan dan lihat pergerakan tubuh Nayya. Akhirnya Doni menuruti permintaan Nayya, dia membawa tubuh gadis tersebut ke lantai dua dengan sangat cemas.
Hati-hati Doni membawa tubuh Nayya di atas ranjang, dia terkejut juga akan kamar Nayya yang sangat berantakan, bahkan sisa darah Nayya tadi pagi yang sudah mengering di lantai pun Doni sadar.
"Nay, kenapa lo terus begini, sih, Nay. Gue capek juga lihat lo yang begini. Tolong berhenti sakiti diri lo, Nay. Lihat, tangan yang sudah gue obati kemarin kenapa lo lukain lagi?" Doni menumpu keningnya pada satu tangan, merasa bingung harus menghadapi sikap Nayya seperti apa lagi.
"Lo pergi saja dari sini, biarkan gue merasakan sakit sendiri, gue enggak minta lo untuk bantu gue, Don, lo enggak usah capek-capek ngurusin atau mikirin keadaan gue," ucap Nayya sembari matanya yang masih terpejam.
Mendengar hal tersebut, Doni mulai membangunkan tubuhnya, dia menepuk punggung tangan Nayya pelan.
"Gue pamit, percuma gue ngomong sama orang yang nggak mau dengerin apa kata orang lain." Doni mulai membelakangi Nayya, terlihat jelas dalam raut wajahnya masih meninggalkan cemas juga takut akan kondisi Nayya.
Sementara itu, air mata yang sudah terhenti malah terjatuh kembali ketika Nayya mendengar jawaban Doni, jawaban singkat yang sangat menyayat hatinya.
Doni pergi tanpa menutup pintu, tanpa pandangan ke arah belakang kembali. Sebenarnya niat Doni untuk pamit hanya ingin ke rumah Camelia saja, barangkali Camelia atau Giska bisa menemani juga semakin membuat Nayya tenang. Tidak mungkin kalau Doni benar-benar pamit dari Nayya. Sekeras kepala apapun Nayya, Doni sebagai teman dekatnya pasti tidak ingin melihat Nayya sakit.