
...C h a p t e r 8...
...Dijodohin Katanya...
Belinda dan keluarganya duduk di ruang keluarga.
"Jadi Belinda mau, kan, dijodohin?" tanya Volker setelah diam memerhatikan Belinda yang terlihat santai.
Gerakan Belinda yang hendak memasukkan potongan jeruk ke mulutnya terhenti. Mulutnya yang sempat terbuka ia katupkan kembali.
Deon yang melihat jeruk itu terhenti di depan kakaknya langsung memajukan tubuhnya untuk melahap jeruk.
"Deon?!" Belinda tersadar jeruk yang ia kupas tadi dimakan oleh adiknya.
Sedangkan Deon hanya menjulurkan lidahnya, meledek Belinda.
Belinda mendengus kesal.
"Udah jangan marah, nanti Papa beliin sama kebun-kebunnya, mau? Tapi jawab dulu yang tadi!" bujuk Volker.
"Ngapain sih, Pa, aku dijodohin segala? Aku tuh masih bisa laku, lagipula belum umur kawin," kata Belinda mencari alasan.
"Hust mulutnya! Darimana belajar kawin-kawin itu?" tegur Rosalind.
Belinda menunjuk Axella polos.
"Ha? Ahaha gak lah, Ma!" elak Axella menatap Belinda geram.
Rosalind menatap tajam Axella.
"Gak, Ma! Belinda tuh nuduh aku aja!" elak Axella.
Rosalind memijat pelipisnya pelan.
"Udah deh." kata Volker menengahi.
"Lagipula Belinda, meskipun belum umur kawin, ya gapapa lah ... kenalan dulu gitu? Gak langsung dikawinin juga kali," bujuk Volker.
"Gak ah! Jangan aku, Kak Axella aja!" tolak Belinda.
"Iya, ya ... kenapa bukan Kak Axella aja?" tanya Ervin polos.
"Nah! Itu! Kenapa bukan Kak Axella aja?" kata Belinda semangat mendapat dukungan.
"Lagipula, kan, Pa, Kak Axella tuh bentar lagi udah masuk umur kawin!" tambah Belinda.
"Hello??? I beda, ya dari you! I itu masih laku!" kata Axella dengan bahasa yang campur aduk.
"Ditolak gebetan aja bangga," sinis Belinda.
"Setidaknya I punya crush, gak kayak you!" bela Axella masih dengan bahasanya yang campur aduk.
"Apaan sih bahasanya dicampur-campur kayak gado-gado aja," kata Axel julid.
"Kenalan dulu deh, Belinda, ya?" kata Volker tak berhenti membujuk.
"Kan aku udah bilang kenapa bukan Kak Axella aja?" kata Belinda cemberut.
"Haish! Axella kan punya orang yang dia suka, seenggaknya dia mau merjuangin orangnya dulu, meskipun sering ditolak, sih," kata Volker.
Axella yang awalnya mengangguk-angguk setuju terhadap perkataan Papanya, langsung tertohok mendengar sindiran Papanya itu.
"Pa?!" rengek Axella.
"Iya-iya," Volker mengusap rambut Axella lembut.
"Tapi intinya, Belinda,"
Belinda yang baru saja ingin bernafas lega langsung mendengus sebal.
"Kenalan dulu, nah urusan kawin-kawin itu kan bisa seminggu lagi atau dua minggu?" kata Volker tetap membujuk.
"Berarti ujungnya dikawinin juga, kan?" tanya Belinda kesal.
Volker memainkan bibirnya sejenak.
"Pasti ada tapinya!" tuduh Belinda.
"Ya pastilah! Tapi Belinda harus punya pacar," kata Volker melanjutkan.
"Oh? Gampang itu mah!" kata Belinda senang.
"Dalam waktu seminggu, loh?" kata Volker.
Belinda ternganga.
Gapapa bisa pacar bohongan, kan?
"Harus pacar asli, ya, gak boleh pura-pura," kata Volker seolah tahu isi pikiran Belinda.
"Tapi, Pa ... seminggu? Aku itu nyari pacar bukan mau ngadopsi hewan peliharaan!" kata Belinda tak terima.
"Ya makanya kenalan dulu sama orang ini!" kata Volker gemas.
"Huh! Oke, tapi kalau aku gak mau jangan dilanjutin, ya, Pa!" kata Belinda akhirnya setuju.
"Aman, itu bisa diatur!" kata Volker mengibaskan tangannya.
***
Belinda menatap langit-langit kamarnya. Sudah 1 jam berlalu tapi, keputusan Papanya tidak juga berubah.
Belinda memejamkan matanya lelah.
Gimana ya caranya biar gak dilanjutin? Batinnya bingung.
Mata Belinda terbuka lebar. Ia duduk bersila sambil memangku bantal.
"Gua tau! Gua buat aja dia ilfeel, kan?" ucap Belinda pada dirinya sendiri.
Belinda mengangguk-anggukkan kepalanya, namun tak berselang lama kemudian ia terdiam.
"Tapi kalau orangnya cakep gimana? Sayang dong kalau dibuat ilfeel ..." monolognya.
Kalau cakep aja tapi kelakuannya gak bener, ya buat apa? batinnya.
Eh tapi pasti Papa milihnya yang baik sih ... lagipula kalau Papa pilih biasanya sih, gak salah ... Batinnya lagi.
Batinnya bertengkar seakan terbagi menjadi dua tim. Pro kontra dalam dirinya terus berlanjut hingga–
"Ah! Masa bodo, lah! Gua liat aja dulu orangnya gimana!" putus Belinda.
Belinda mendengus geli dan merebahkan diri ke kasurnya itu.
Dijodohin gak termasuk dalam to do list yang ia miliki.
Author Note:
Hai-hai semuaaa!!!
Aku update cerita ini lagi nih
Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya
Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik
Okeeyyy???
Makasiii semuaa
Love you, all🥰
Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?
Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x