Engagement

Engagement
Chapter 30



...C h a p t e r 30...


...Kakak?...


Belinda menatap sekelilingnya sambil sesekali membuka ponselnya hanya untuk melihat jam.


Setelah tadi diminta adiknya untuk pergi ke Gexa Junior High School karena di sana adiknya tengah sparing bersama dengan tim basket sekolah, ia langsung pergi menuju sekolah yang bersebelahan dengan SMA yang ia ajar, Hensa High School.


Sekarang sudah pukul 14.58 berarti 2 menit lagi Ervin akan selesai sparing.


Oke, 2 menit gak lama kok!


Belinda menatap ke jalanan di depannya, lalu menunduk memperhatikan trotoar, melongok ke dalam gerbang, kemudian kembali menghadap jalanan. Itu saja yang ia lakukan berulang-ulang.


"Haish lama banget sih!"


Ia menghidupkan kembali ponselnya.


14.59


"Baru satu menit?!!?!?"


Belinda menggerutu pelan. Jika saja ada orang yang melihatnya mungkin ia sudah dibilang tidak waras karena daritadi ia hanya berdiri memandang jalanan, trotoar atau ke dalam gerbang.


Belinda menghembuskan nafas kesal.


"Oke, satu menit lagi, sebentar kok!"


Belinda mencoba untuk tenang. Ia memperhatikan sekitar, kemudian kembali melihat jam di ponselnya.


Hal itu ia lakukan hingga 5 kali.


"Oh ayolah! Satu menit masa lama banget sih?!"


"Yess!"


"Udah jam 3, mana nih si Ervin?" gumamnya melongok ke dalam gerbang tetapi belum ada tanda-tanda orang yang datang.


"Yah, kan, dah lewat semenit! Mana sih?!"


Baik. Masuk? Gak? Masuk? Gak? Masuk? Gak? Masuk? Gak? Masuk? Gak? Masuk ...


Belinda memejamkan matanya dan menghela nafas.


"Oke, gua masuk!"


***


Belinda berjalan menyusuri koridor sekolah. Dari sana ia dapat melihat lapangan basket yang berada di belakang sekolah dengan murid-murid yang berseragam basket.


Ia berhenti di salah satu tiang dan matanya memindai murid-murid yang ada di sana.


Oh, itu Ervin!


Matanya berhenti memindai saat menemukan adiknya tengah memantul-mantulkan bola basket.


Ditungguin daritadi malah masih di sini aja!


Belinda bersiap untuk memanggil adiknya, namun teringat bahwa di sana ada coach basket yang mengawasi tim basket putra dari sekolah itu.


"Miss Belinda?"


Belinda menoleh saat seseorang memanggilnya dari belakang.


Quirin dengan seragam basket dan tangannya yang membawa botol air mineral, belum lagi rambutnya yang basah. Mungkin karena berkeringat sehabis sparing tadi.


"Miss?"


"Hn? Oh hm." Belinda mencoba tersenyum.


Canggung rasanya.


Quirin tersenyum kecil.


"Miss ... lagi nungguin Noa?"


"Em ... Hm." Belinda menggangguk.


Rasanya masih sulit untuk berkata-kata.


"Eung ... Quirin?"


"Hm?"


Uhh ... Damage-nya!


"Kenapa, Miss?"


"Ha? Oh ya! Emm ... kamu ... gak mau ganti panggilannya gitu?"


"Panggilan ... apa, Miss?"


"Eung ... maksudnya ... kan ... kalau kita berdua doang ... atau lagi di luar sekolah ... gak perlu terlalu ... formal? Manggil Miss itu kayak ... apa ya? Kurang ... eh bukan ... terlalu formal?"


"Jadi ... saya harus manggil Miss gimana?"


"Eumm ... mungkin ... manggil ... kakak aja? Atau panggil nama aja langsung."


"Okee ... Kak? Soalnya kalau langsung manggil nama rasanya kurang ... sopan ... Kak."


"Eum ... kalau gitu ... saya ke lapangan dulu ya Miss– eh maksudnya, Kak."


"Emang ... kalian udah selesai sparing-nya?"


"Udah Miss–haish maksudnya, Kak."


Belinda tertawa kecil melihat Quirin yang belum terbiasa memanggilnya dengan sebutan 'kak'.


"Oke, tolong, ya, Quirin."


"Iya Mi–Kak."


Quirin menggelengkan kepalanya pelan. Hal itu membuat Belinda tertawa geli.


"Saya duluan ... Kak."


"Iya."


Quirin berjalan menuju lapangan.


"Eh hati-ha–"


Peringatan Belinda terhenti saat Quirin hampir menabrak tiang di depannya.


Quirin memukul pelan tiang itu karena merasa malu, perlahan ia menoleh ke belakang. Belinda tersenyum menahan tawa. Quirin kembali memukul pelan tiang itu dan berjalan menuju lapangan dengan cepat.


Ervin mendelik bingung karena Quirin berjalan dengan cepat ke arahnya.


"Napa lo?"


Quirin mencoba untuk menormalkan nafasnya.


"Huft ... itu ... kakak lo nungguin tuh di sana!" kata Quirin menunjuk tempat Belinda tadi.


"Hn?" Ervin melihat ke arah yang ditunjuk Quirin tadi.


Ternyata memang kakaknya sudah menunggu dengan wajah kesal menatapnya yang ada di lapangan.


"Hm. Thanks. Gua duluan," Ervin melempar bola basket di tangannya ke arah Quirin yang langsung menangkapnya.


***


"Lama banget sih?!" kata Belinda saat Ervin di depannya.


"Iyaaa ... maaf Kak Bel, tadi, kan sparing," kata Ervin.


"Tumbenan sparing, perasaan dari dulu gak ada tuh ikut sparing." kata Belinda sambil berjalan menjauh dari tiang tempat ia menunggu tadi.


"Ya ... emang aku bukan tim basket."


"Terus ngapain???"


"Eitt ... tenang dulu, Kak Bel. Iya aku bukan tim basket sekolah, tapi tadi diajak buat ngeramein aja sama coach Arsen. Ya ... aku kan gak enak kalau nolak, jadi aku ikut aja." jelas Ervin menahan Belinda yang ingin menyerangnya.


Belinda berhenti menyerang dan menggembungkan pipinya kesal.


"Makanya, lain kali harus bisa nolak."


"Emang kalau Kak Bel yang digituin, Kak Bel bakal nolak?"


"Ya ...." Belinda menggerakkan bola matanya menjauh. "Setidaknya ... jangan lama-lama! Buat nunggu aja!" elak Belinda.


Ervin yang mengerti kakaknya itu kalau di posisi yang sama akan melakukan hal yang sama juga, hanya menggeleng dan menghela nafas.


"Iya deh, Kak Bel ..." kata Ervin mengalah.


Ia merangkul Belinda dan meletakkan dagunya pada pundak Belinda.


Belinda yang tadinya menggembungkan pipi langsung berubah. Tangannya terulur mengacak pelan rambut Ervin dari samping.


Ervin menurunkan tangannya, berganti jadi memeluk pinggang kakaknya dan menggesekkan kepalanya dengan kepala Belinda pelan.


"Manja banget, sih," ucap Belinda tersenyum geli.


Author Note:


Hai-hai semuaaa!!!


Aku update cerita ini lagi nih


Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya


Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik


Okeeyyy???


Makasiii semuaa


Love you, all🥰


Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?


Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'


x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x