Engagement

Engagement
Chapter 13



...C h a p t e r 13...


...Jadi Gimana?...


Belinda menonton TV di ruang keluarga sambil sesekali memainkan ponselnya.


"Jadi gimana?" kata Volker menghampiri putrinya yang sedang duduk di depan TV.


"Gimana apanya?" tanya Belinda meletakkan ponselnya ke atas meja yang tersedia di depannya.


"Kemarin, kan Papa gak sempet nanya orang yang dijodohin ke kamu itu loh, gimana? Cakep, kan? Tapi masih cakepan Papa pasti," kata Volker dengan percaya dirinya.


"Ya ... ya lumayan lah." kata Belinda mengangkat kedua bahunya.


"Lumayan gimana? Dilanjutkan, kan perjodohannya?" tanya Volker cepat.


"Liat nanti aja, deh, kami mau jalanin aja dulu," kata Belinda tak peduli.


Volker mengangguk puas. "Cakep, kan yang Papa pilihin?" tanya Volker belum habis juga.


"Kan udah aku bilang, Pa, lumayan." kata Belinda lelah.


"Ya lumayan gimana, Belinda???" gemas Volker.


"Hmm ... dia ... baik, untuk wajah sih... boleh lah, lumayan ganteng, terus ... apalagi, ya?" pikir Belinda.


"Udah pas, kan?" tanya Volker belum berhenti.


"Iya, Pa," kata Belinda.


"Bagus!" puji Volker mengacungkan jempolnya. "Minggu depan nikah?" tanya Volker lagi.


"Pa???" rengek Belinda.


"Ya gapapa kan, lebih cepat lebih baik." kata Volker bersungguh-sungguh.


"Tapi gak minggu depan juga, Pa!" tentang Belinda.


"Ya kalau bisa kenapa nggak???" tanya Volker lumayan sewot.


"Ya tapi jangan minggu depan juga!" kata Belinda masih tak setuju.


"Oke deh, 8 hari lagi!" putus Volker.


"Sama aja, atuh!" kata Belinda.


"Ya beda, atuh!" elak Volker.


"Sama aja, Pa! Beda satu hari doang!" kata Belinda menggembungkan pipinya.


"Yang penting kan bukan seminggu!" kata Volker ngotot.


"Au ah!" kata Belinda ngambek.


"Oke ya, tunangan dulu deh!" putus Volker.


"Emang gak perlu dibicarain dulu sama keluarganya?" tanya Belinda.


Belinda mendengus kesal. "Udahlah aku mau tidur aja dulu," pamit Belinda pergi ke kamarnya.


***


Belinda merebahkan dirinya ke atas kasur. Ia menghembuskan nafas berat. Kalau dipikir-pikir semenjak ia memutuskan untuk mengajar ... makin aneh aja harinya.


Belinda mengambil ponselnya yang menyala itu.


Huh masih ada 5 menit lagi!


Ia sedang menunggu untuk game yang ia mainkan. Sehari ia setidaknya harus online selama 2 jam untuk mendapat hadiah di game itu.


Tiba-tiba kasurnya berguncang menandakan ada pergerakan. Seseorang naik ke atas kasurnya dan menatapnya.


"Ngapain?" tanya Belinda malas.


"Gimana tadi tatap-tatapannya?" ejek orang itu.


"Diem deh!" kesal Belinda melemparkan bantal ke orang itu.


Orang itu hanya tertawa menanggapi sikap Belinda. Ia melemparkan kembali bantal itu ke Belinda membuat Belinda mengerucutkan bibirnya.


"Ya lagian ... Kak Belinda, sih! Masa lagi di kelas tatap-tatapan gitu!" kata orang itu.


"Diem, Ervin." kata Belinda memperingati.


"Iya iya," kata Ervin menurut.


"Tapi, Kak ...." kata Ervin setelah beberapa saat hening.


"Apa?" tanya Belinda santai.


Author Note:


Hai-hai semuaaa!!!


Aku update cerita ini lagi nih


Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya


Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik


Okeeyyy???


Makasiii semuaa


Love you, all🥰


Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?


Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'


x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x