Engagement

Engagement
Chapter 20



...C h a p t e r 20...


...Kakak Aja Deh...


Pagi itu Quirin duduk di kelasnya. Kemarin itu ... aish! Noa sialan! Ternyata dia adeknya Miss Belinda?!


Kenapa dia gak bilang aja kalau dia itu adik dari orang yang dijodohin sama gua? Padahal waktu gua cerita dia kayak penasaran sama orang yang dijodohin sama gua.


"Napa lo?" Ervin bertanya ketika ia sampai di kelas dan ternyata Quirin sedang melamun sambil sesekali bergerak kesal.


Quirin hanya melirik sinis Ervin. Ia masih kesal pada temannya itu.


"Dih? Ngapa lo sinis-sinis gitu?" tanya Ervin menghadap Quirin setelah meletakkan tasnya.


Quirin tidak merespon, ia hanya diam berpura-pura melihat buku latihan ekonominya.


Ervin yang merasa temannya itu masih kesal karena merasa dibohongi waktu itu langsung membuka buku latihan Fisikanya.


"Dah ngerjain PR lo?"


Pertanyaan itu sukses membuat Quirin menatap Ervin dengan tatapan bingung.


"Emang ada PR?" tanyanya.


"Lah? Adaaa ... makanya jangan mikirin buat kemarin mulu lo! PR tuh diinget!" kata Ervin dengan gaya mengajari.


Quirin memutar bola matanya malas.


"Emang lo udah selesai?"


"Udah lah!" ucap Ervin sombong.


Quirin menggerak-gerakkan bibirnya mengejek Ervin. Ia membuka tasnya dan mengambil buku latihan Fisikanya.


"Lo udah selesai, No?"


Aslan yang duduk di depan mereka memutar tubuhnya dan menghadap ke meja Ervin.


"Dah, napa? Mau minjam?" tanya Ervin santai.


"Hehe biasa," cengir Aslan.


"Tuh," Ervin menunjuk buku latihannya yang terletak di atas meja.


"Hehe, thanks, No!"


Aslan memutar kembali tubuhnya sambil membawa buku latihan Ervin.


"Lah? Gua gimana?" tanya Quirin bingung mengangkat buku latihannya.


"Loh? Lo mau minjem?" tanya Ervin polos.


"Ya iyalah anjir! GUA KIRA TADI LO ITU NAWARIN KE GUA!?!?!?!" teriak Quirin sebal.


"Tuh, di sebelah Aslan kan ada kursi, ngapain dah, teriak-teriak ke gua." Ervin mengendikkan dagunya.


Quirin membawa buku latihannya untuk berpindah ke kursi depannya sambil mengomel kecil. Sedangkan, Ervin hanya menggelengkan kepalanya.


Napa dah dia ngomel-ngomel gitu? Udah kayak kakak gua aja!


***


Belinda masuk ke kantor guru, berdampingan dengan Anggi.


"Menurut lo, kalian bakal lanjut atau nggak?" tanya Anggi memulai percakapan.


"Entahlah," balas Belinda mengangkat kedua bahunya.


"Lah? Gimana lo bisa gak tau?" tanya Anggi bingung.


"Ya gimana ya ... kami sepakatnya, ya dijalanin aja dulu," jawab Belinda santai.


"Bisa-bisanya," Anggi menggelengkan kepalanya pelan.


"Bisalah!" sahut Belinda mengibaskan rambutnya pelan.


Anggi terkekeh geli.


"Eh Bel, si Noa itu adek lo, kan?" tanya Anggi memastikan. Pasalnya kemarin saat acara pertunangan itu Ervin alias Noa terpaksa menjelaskannya kepada Quirin bahwa ia adalah adik dari Belinda, orang yang dijodohkan dengan Quirin.


"Iya," jawab Belinda duduk di kursinya.


"Beda gimana?" tanya Belinda dengan kening berkerut.


"Ya ... kalau soal wajah sih ... agak-agak mirip lah, ya, sifat kalian tuh beda gitu loh. Kalau Noa itu kayak ...." Anggi menggumam pelan, mencari kata yang tepat. "kalem gitu ...."


Belinda sontak mendelik tak setuju.


"Dia??? Kalem???"


"Iya. Dia tuh kayak ... most wanted di jurusan angkatan mereka. Paling diidam-idamkan. Kalau gua gak inget gua itu guru, udah gua sikat tuh!"


"Lo gak tau aja kalau dia di rumah," kata Belinda menggelengkan kepalanya.


"Emang beda?"


"Iya!"


"Iyain dah. By the way ... ngomong tentang sikat nih gua jadi pengen martabak, deh," kata Anggi mengalihkan pembicaraan.


"Apa hubungannya???" Belinda menatap bingung sekaligus kesal orang yang ada di hadapannya itu.


"Ya gak nyambung, sih, tapi gua pengen makan martabak aja." kata Anggi mulai membayangkan.


"Jadi? Mau dibeliin?" tanya Belinda peka.


Anggi tersenyum lebar. "Boleh sih, yang coklat kacang, ya." katanya me-request pesanannya kepada Belinda.


Belinda mengambil ponselnya dan mulai memesan martabak sesuai keinginan Anggi itu.


"Oh ya, lo dipanggil sama Quirin apa? Masih manggil Miss juga? Panggil nama? Atau udah panggil sayang?" tanya Anggi menggoda Belinda.


"Apa sih?" kata Belinda malu. "Lagian dia tuh udah gua suruh panggil nama aja, tapi tetep sering manggil Miss juga."


"Hmm ... mending panggil kakak aja deh, Bel."


"Hm?"


"Ya ... dia pasti gak enak kalau manggil nama aja soalnya kan lo itu gurunya, kalau manggil Miss itu lebih gimanaaa gitu, kan? Tapi kalau manggil kakak, kan itu masih ngehargain tapi tetep keliatan deket gitu."


Belinda mulai menggumam kecil. Apa yang dibilang Anggi ada benarnya juga.


"Boleh sih, kapan-kapan deh gua kasih tau," putus Belinda.


"Kok kapan-kapan?"


"Terus?"


"Sekarang dong!"


"Kan dia lagi belajar."


"Istirahat nanti kan bisa. Atau lo gak tau ada aplikasi buat chat?"


"Ya tapi lo gak tau apa itu peraturan sekolah?"


"Ya ampun, kan, dia bisa ngeliatnya nanti, waktu istirahat."


"Ah, bodo lah!"


Author Note:


Hai-hai semuaaa!!!


Aku update cerita ini lagi nih


Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya


Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik


Okeeyyy???


Makasiii semuaa


Love you, all🥰


Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?


Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'


x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x