
...C h a p t e r 23...
...Seorang Teman...
"Gimana tadi, Belinda?"
Pertanyaan itu jelas gak akan keluar dari mulut seorang murid kepada gurunya sendiri.
Tapi masalahnya ... Belinda bukan hanya sebagai gurunya di sana, tapi juga sebagai seorang teman.
Belinda terkesiap. Ia tak berpikir bahwa muridnya itu akan bertanya seperti itu. Lagi pula, BISA GAK SIH DIA GAK SENYUM?! MANIS BENER WOY!
Oke, back to topic!
"Gak usah nanya bisa, kan?" ketus Belinda.
Orang itu tertawa kecil. Senyumnya belum juga pudar, dan Belinda tak bisa menampik bahwa dari awal ia kenal dengan cowok itu, yang paling menarik perhatiannya adalah senyum cowok itu yang menurutnya sangat manis.
Belum lagi, cowok itu juga memiliki lesung pipi yang membuatnya kelihatan semakin manis.
"Ya gimana, kita gak ada ketemu lagi eh tiba-tiba lo udah jadi guru gua aja."
Cowok bernama Alfredo Juliar Sinaga atau biasa disapa Edo itu merupakan salah satu teman di les Noa pada saat kelas 3 SMP.
Pemuda dengan lesung pipi itu masih tersenyum, sama seperti setiap kali mereka bertemu. Senyum yang membuat Belinda merasa ingin ikut tersenyum.
"Jadi? Gimana bisa lo jadi guru di sini?" tanya pemuda itu lagi.
"Ya bisa, lah, lagian lo ngapain gak ikut temen lo aja?!" tanya Belinda dengan nada tertahan.
"Oh? Gua belum bilang, ya? Tapi Belinda, berarti gua bisa minta tolong untuk soal ujian, kan?" tanya Edo berharap.
"Ya nggak lah! Gua gak mungkin ngasih tau soal ujian kali!" tolak Belinda langsung.
"Gak semua juga, Belindaaa ... beberapa aja mungkin?" tawarnya.
"Tetep aja, sama, Edo." kata Belinda masih menolak.
Edo menghela nafas. "Iya deh," katanya mengalah. "Tapi lo jadi guru apa? Gua gak pernah liat."
"Guru fisika."
Mata Edo membulat dengan bibir ber-oh pelan.
"Kenapa?" tanya Belinda merasa aneh.
"Gak ada sih. Tapi, pantes aja ..."
"Pantes apa?"
"Lo kan dari dulu emang suka ngitung-ngitung, dan juga kalau fisika, kan, gak ada di IPS, makanya gua gak pernah liat lo."
"Hm, iya sih."
Hening beberapa saat hingga-
"Bel!"
"Tadi ada si Quirin ngeliat lo," bisik Anggi pelan.
Mata Belinda melebar.
"Mana ada," bisik Belinda pelan.
Anggi berdecak kecil. "Arah jam dua," katanya.
Belinda mengernyit, kemudian perlahan ia melirik ke arah yang ditunjukkan Anggi.
Di sana Quirin hanya berdiri, menatap datar ke arahnya.
Ketika mata mereka saling bertemu Quirin langsung mengalihkan wajah dan pergi melangkah dari sana.
"Emm ... Miss?"
Panggilan itu membuat Belinda tersentak. Mata yang awalnya menatap kepergian Quirin sekarang jadi menatap temannya itu atau mungkin muridnya?
"Ah? Oh ya! Mungkin ... lo–" Belinda menggeleng pelan. "kamu bisa kembali ke kelas, jam istirahatnya udah hampir habis."
"Eum ... baik, Miss. Saya permisi," Ia mengangguk sopan kepada Belinda dan Anggi, lalu pergi dari dari sana.
"Lo?" tanya Anggi bingung.
"Ya? Maksudnya?" tanya Belinda balik.
"Lo manggil dia dengan 'lo'," kata Anggi mengutip kata 'lo' itu.
"Kita harus membuat murid menganggap kita temannya," elak Belinda yang kemudian pergi setelah menepuk pelan bahu Anggi.
Anggi mengernyit namun detik kemudian ia ber-oh panjang, mengerti.
"Apa gua juga harus make gua-lo juga, ya buat murid?" gumamnya percaya begitu saja.
Author Note:
Hai-hai semuaaa!!!
Aku update cerita ini lagi nih
Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya
Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik
Okeeyyy???
Makasiii semuaa
Love you, all🥰
Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?
Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x