Engagement

Engagement
Chapter 25



...C h a p t e r 25...


...Lupa...


Belinda duduk menyandar di headboard kasurnya. Ia menekuk kaki kanannya ke atas dan kaki kirinya bersila.


"Chat?"


Belinda membuka chat dari Vana, ketua kelas XII IPA 1.


Vana


Siang Miss, maaf menganggu.


Saya mau bertanya soal utusan kelas buat lomba Hensa Champ besok.


Apa Miss sudah memilih orangnya?


Belinda menggumam kecil, berpikir. Ia memang tahu bahwa setiap tahunnya, sekolah mengadakan acara dengan berbagai macam lomba. Tapi ... memang besok acaranya?


^^^Miss Belinda^^^


^^^Siang Vana.^^^


^^^Untuk utusan kelas kita bicarakan besok langsung di kelasnya, ya.^^^


Vana


Tapi bukannya besok acaranya, Miss?


^^^Miss Belinda^^^


^^^Acaranya masih 2 hari lagi, Vana.^^^


^^^Besok kita diskusikan bersama teman-teman yang lain, yaa...^^^


Vana


Baik, terima kasih, Miss.


^^^Miss Belinda^^^


^^^Sama-sama, Vana.^^^


Belinda memutar-mutar ponselnya.


Siapa, ya yang dipilih buat acara itu?


"Ah, besok aja lah!"


***


Pagi datang begitu cepat. Murid-murid XII IPA 1 sudah berkumpul di dalam kelas mereka.


"Woi, tadi gua liat anak kelas lain bawa-bawa tas kayak mau sekolah biasa."


"Kan emang ini di sekolah!"


"MAKSUDNYA KAYAK BELAJAR BIASA, BUKAN KARENA ADA ACARA!"


"Iya sih tadi gak rame bicarain hal ini."


"Bener, gak, sih hari ini acaranya?"


"Tuh tanya si Lika coba!"


"Gimana, Lik?"


"Iyaaa ... hari ini acaranya ...."


"Terus Vana gak ada ngasih kabar buat utusan lomba kemarin ...."


"Jadi, siapa yang bakal jadi utusannya?"


"Iya anjir! Udah begadang gua nungguin chat-nya malah gak ada!"


"Ngapain begadang coba? Pagi, kan bisa dilihat."


"Eh eh itu Vana!"


"Van!"


Vana yang baru datang dengan tas ransel mini berwarna putihnya mengernyit bingung karena melihat teman kelasnya itu sudah berkumpul di kelas.


"Ngapain kalian ngumpul di sini?" tanyanya masuk ke dalam kelas.


"Emang harusnya di mana?"


"Di lapangan, lah! Kan kita acara!"


"Lo belum ngasih tau utusannya!"


Keningnya berkerut. "Bentar deh."


Ia membuka tasnya dan mengambil ponsel di sana.


"Ngapain kalian rame-rame di sini?"


Ervin datang, ia menatap bingung teman sekelasnya yang berkerumun di depan kelas.


"Kan acara!"


"A ... cara?"


Ervin menatap bingung mereka. Bukankah acaranya besok? Itu yang dikatakan Belinda kepadanya tadi malam.


"Pagi semuanya." Belinda menyapa murid-muridnya yang berkerumun di depan pintu kelas.


Melihat Belinda datang, mereka semua langsung berhamburan duduk di kursi mereka.


Belinda meletakkan tasnya di atas kursi guru.


"Miss!" panggil salah seorang murid yang mengangkat tangan.


"Ya? Ada apa?"


"Kita ... belajar Miss?" tanya anak itu ragu-ragu.


"Tidak," jawab Belinda dengan senyum simpul.


Beberapa dari mereka bersorak kecil.


"Jadi hari ini acara, Miss?" tanya yang lainnya.


"Acaranya masih besok. Jadi hari ini wali kelas akan berdiskusi dengan murid untuk utusan kelas."


Mereka tertegun, kemudian tanpa aba-aba mereka semua kompak menatap Lika yang tercengang.


"Ternyata ini yang gua lupain dari kemarin," gumamnya merutuki dirinya sendiri.


"Sudah-sudah," Belinda menghentikan mereka yang menatap kesal Lika.


Belinda mengambil spidol dan menulis lomba apa saja yang akan diikuti oleh muridnya di papan tulis.


Ada 5 lomba yang akan diikuti oleh kelas XII IPA dan IPS.


"Pertama, lomba sains untuk kelas 12 IPA. Untuk lomba sains dipilih 3 orang murid. Mata pelajaran yang akan dilombakan adalah fisika, biologi, kimia, matematika wajib, dan matematika peminatan. Siapa yang mau ikut?" tanya Belinda setelah menjelaskan tentang lomba pertama yang akan mereka ikuti.


Zia mengangkat tangannya.


"Ya, Zia? Kamu mau ikut?" tanya Belinda.


"Bukan, Miss, itu tiap kelas wajib ikut lombanya, Miss?" tanya Zia.


"Em ... ya kalau tidak ikut harus membayar dendanya," kata Belinda teringat saat briefing pagi tadi pembina OSIS, Buk Sari mengatakan tiap kelas wajib ikut lomba itu, jika tidak akan ada denda yang diberikan kepada kelas itu.


"Berapa dendanya, Miss?" tanya Jeni.


"Seratus ribu rupiah per satu perlombaan," jawab Belinda.


"Ooooo ...."


"Jadi siapa yang mau ikut?" tanya Belinda lagi.


"Itu berkelompok, Miss?" tanya Niel.


"Iya, jadi satu kelas itu mengutus 1 grup yang terdiri dari tiga orang." jelas Belinda.


"Brien, lo aja!" ucap Sheilda.


"Ha? Gua?"


"Iya iya, Brien lo aja!" dukung Dimas.


"Ehm. Jadi? Brien, kamu mau ikut?" tanya Belinda menengahi.


Brien merapatkan bibir sejenak. Kemudian, ia mengangguk.


"Iya, Miss."


"Baik," Belinda menulis nama Brien di papan tulis pada bagian lomba sains.


"Siapa lagi?" tanyanya setelah menulis nama Brien.


"NOA!" ucap mereka serentak.


"Hm?"


"Bagaimana, Noa?" tanya Belinda menatap adiknya dengan senyum jahil yang samar.


Ervin yang mengerti kakaknya tengah tersenyum jahil, merengut kesal dan menyipitkan matanya.


"Hm," Ervin mengangguk, sebenarnya ia malas untuk ikut lomba-lomba seperti ini, hanya saja jika sudah begini ... mau bagaimana lagi?


"Baik," Belinda menulis nama Noa di bawah nama Brien.


"Satu lagi siapa?" tanya Belinda.


"Brenda aja, Miss!" sahut Fino lantang.


Brenda yang disebutkan namanya mendelik bingung ke arah Fino.


"Jangan gua lah!" elaknya.


"Iya, Miss, Brenda aja. Dia dulu sering ikut olimpiade matematika Miss!" tambah Aldari.


"Iya, dia sering ikut olimpiade, kok, Miss!" kata Fino.


"Wah ... tapi kok lo tau, Al?" tanya Angelia.


Aldari terdiam. Huh! Kenapa dia tak sadar bahwa tadi secara tidak langsung ia kenal dengan Brenda?


"Iya, ya..." ucap yang lain.


"Hayoloh, Al!" goda beberapa murid.


Brenda hanya melirik sekilas. Sampai kapan sikap tidak teliti Aldari itu akan hilang? Dari dulu sikap itu belum berubah juga.


"Sudah-sudah," Belinda menengahi mereka yang mulai heboh.


Ternyata mereka bukannya pendiam, mereka hanya malas bersuara!


"Brenda, kamu mau ikut lombanya?" tanya Belinda menatap Brenda.


"Eum..." Brenda menggumam.


"Ikut aja, Bren!"


"Iya, daripada lo cuma nontonin lombanya doang!"


"Iya, Bren! Lo, kan jarang mau ikut lomba! Ayo, lah!"


"Ya ... oke-oke!" Brenda berucap pasrah.


"Jadi kamu ikut lomba sains, ya." kata Belinda.


"Iya, Miss." Brenda mengangguk pelan.


"Baik untuk lomba sains sudah semua ... selanjutnya, lomba scrabble. Dua orang per kelas. Siapa yang mau mewakilinya?"


Author Note:


Hai-hai semuaaa!!!


Aku update cerita ini lagi nih


Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya


Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik


Okeeyyy???


Makasiii semuaa


Love you, all🥰


Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?


Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'


x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x