
...C h a p t e r 6...
...Sisi Lain Keluarga Wardana (2)...
Belinda sibuk menjilati es krim stroberi dengan cone di tangan kanan, dan di tangan kirinya terdapat handphone yang ia mainkan.
"Wih! Es krim siapa tuh? Nyolong, ya?" tuduh kakaknya.
Belinda melirik kakaknya sekilas, lalu lanjut memainkan ponselnya.
"Heh! Kalau orang nanya tuh jawab! Apalagi orang yang lebih tua," ceramah kakaknya.
"Iya-iya, yang udah tua," jawab Belinda santai.
"Apa?! Coba ulang lagi!" titah kakaknya sambil menarik telinga kiri adiknya.
"Ah! Iya iya, Kak, maaf," rintih Belinda sambil mengusap telinganya yang telah dilepaskan kakaknya.
"La."
"Apa?" tanya kakaknya.
"Jangan digituin Belinda-nya, kasian tau," kata orang itu mengusap telinga Belinda.
"Tau tuh, Kak Axel! Kak Axella nih!" adu Belinda.
"Heh! Belinda yang duluan, ya!" kata Axella tak terima.
Geona Axella Sharaziva Wardana. Gadis yang bulan depan akan berumur 19 tahun itu adalah kakak perempuan satu-satunya Belinda. Gadis yang biasa dipanggil Axella jika rumahnya itu memang sering sekali bertengkar dengan Belinda, adiknya.
Axel hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia sudah biasa melihat adik kembarnya dan adik ketiganya bertengkar.
Pemuda bernama lengkap Geo Axel Simon Wardana itu memisahkan Axella, adik kembarnya dan Belinda, adiknya.
"Udah udah, tuh, es krim udah mulai cair, Belinda," tegur Axel pada Belinda.
Belinda merenggut dan kembali menjilati es krimnya yang mulai mencair.
"Axella juga," tegur Axel pada Axella.
"Aku???" tanya Axella menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau mau es krimnya tuh, ambil ke kulkas masih ada," kata Axel kalem.
"Oke!"
Axella berlari ke arah dapur.
"JANGAN LARI-LARI!" tegur Axel sambil berteriak.
"APA?! HARUS LARI-LARI?!" gurau Axella dari dalam rumah.
"La." peringat Axel.
"Iye, kagak lari nih," kata Axella memelankan langkahnya.
Axel menghela nafas, kelakuan adik kembar beda 4 menitnya itu memang sering aneh!
"Belinda," panggil Axel.
"Hm? Kenapa, Kak Axel?" tanya Belinda mematikan ponselnya dan menatap Axel yang sudah duduk di sebelahnya.
"Gimana tadi?" tanya Axel peduli.
"Tadi kenapa?" tanya Belinda balik dengan bingung.
Axel menepuk keningnya pelan, jika kelakuan adik kembarnya sering aneh, maka kelakuan adiknya yang satu ini sering nge-blank tiba-tiba.
"Tadi gimana ngajarnya jadi guru?" tanya Axel sabar.
"Ohh!" Belinda menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba gatal. "Biasa aja sih, Kak," lanjutnya santai.
"Eh tapi Kak!" kata Belinda teringat.
"Hm?"
"Gimana apanya? Mereka ada yang jahat sama Belinda?" tanya Axel cepat.
"Ih bukan! Mana mungkin mereka berani sama aku?" kata Belinda bangga.
"Iya iya, jadi mereka kenapa?" tanya Axel kembali sembari mengacak rambut Belinda yang digerai.
Belinda memain-mainkan bibirnya.
"Ya gimana ya, Kak, mereka tuh diem," lapor Belinda.
"Bagus dong kalau mereka diem," kata Axel bingung.
"Ya ... kalau mereka diemnya saat ngajar sih gapapa, tapi kalau ditanya pun mereka diem, aku harus gimana?" tanya Belinda putus asa.
"Belum lagi tadi udah ada beberapa guru yang minta aku buat bilangin ke kelas itu, buat mulai ngerespon omongan guru, aku kan bingung. Sama aku aja mereka juga diem, lah ini? Buat mereka aktif ke guru lain juga," cerocos Belinda.
Axel tertawa kecil membuat Belinda menatapnya bingung.
"Kok ketawa sih?" tanya Belinda.
"Justru itu, Belinda harus buat mereka tuh bukan cuma aktif sama Belinda, tapi aktif ke guru-guru lain juga," kata Axel menoel puncak hidung Belinda dengan telunjuknya.
"Susah Kak!" kata Belinda protes.
"Kan itu tantangannya Belinda, kalau Belinda kerja gak ada tantangannya gak seru dong!" jelas Axel.
"Ya ... aku tahu kalau kerja pasti ada aja tantangannya, tapi kalau ini ... Aku ampun, deh, Kak!" kata Belinda mengangkat kedua tangannya.
"Jangan nyerah dong! Ini baru hari pertama loh ... masih banyak masalah-masalah lain yang harus Belinda hadapin. Kalau gini aja udah nyerah ... gak kayak Belinda yang Kak Axel kenal." kata Axel menyemangati.
"Belinda yang Kak Axel kenal tuh gak gampang nyerah, dia juga punya solusi buat masalahnya, iya, kan?" kata Axel.
"Oiya dong!" kata Belinda mengangkat dagunya angkuh.
"Gitu dong! Belinda pasti bisa, Belinda, kan hebat!" puji Axel mengusap rambut pirang Belinda.
"Oke! Aku gak bakal nyerah!" kata Belinda semangat.
"Bagus!" kata Axel mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Es krimnya udah abis, kan?" tanya Axel kembali.
"Udah," kata Belinda polos.
"Cuci tangan sana, nanti malah lengket tangannya," kata Axel menurunkan tangannya yang tadi ia gunakan untuk mengusap rambut Belinda.
"Oke!"
Belinda berjalan menuju dapur rumahnya untuk mencuci tangannya di wastafel.
Axel memerhatikan adiknya dengan senyum kalem.
Author Note:
Hai-hai semuaaa!!!
Aku update cerita ini lagi nih
Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya
Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik
Okeeyyy???
Makasiii semuaa
Love you, all🥰
Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?
Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x