
...C h a p t e r 27...
...Hensa Champ (2)...
Semua soal telah dilontarkan. Murid-murid itu berebut untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diberikan.
Bahkan kelompok 12 IPS, 11 IPA, 11 IPS, 10 IPA, dan 10 IPS telah mendapatkan pemenangnya. Hanya tinggal menunggu kelompok 12 IPA selesai lomba karena soal untuk mereka diberikan lebih banyak.
"Baiklah! Semua soal sudah dibacakan, mari kita lihat poin perolehan dari para peserta. Windi bagaimana?"
"Baik, Pak. Untuk perolehan poin... Dari Hensa High School memperoleh 650 poin. SMA Negeri 1 memperoleh 200 poin. SMA Negeri 2 memperoleh 100 poin. SMA Kencana Bhakti memperoleh 150 poin. Haxa High School memperoleh 50 poin. InternationalĀ High School memperoleh 650 poin. SMA Bunga Bangsa memperoleh 50 poin. Dan SMA Nusantara memperoleh 300 poin."
"Wah... sepertinya poin dari Hensa High School dan International High School seri, ya ... bagaimana bapak ibu guru? Apakah diperlukan soal tambahan?"
Bu Sari selaku pembina OSIS yang mengatur jalannya lomba langsung maju, berdampingan dengan pembaca soal.
"Ehm. Baiklah, karena poin dari kedua sekolah itu seri, maka saya akan memberikan satu pertanyaan tambahan. Pertanyaannya mudah, kalian hanya perlu kecepatan menghitung. Pertanyaannya adalah ... Jika sebuah kolam berenang ingin diisi setengah dari ukurannya, maka berapa volume air yang dapat diisi, jika panjang keseluruhan kolam 105 meter, lebar 105 meter, dan tinggi 20 meter. Kalian tidak perlu menuliskan jalannya. Kalian hanya perlu mencari jawabannya saja. Satu menit dari sekarang."
Kedua tim dari dua sekolah yang berbeda itu langsung mencari hasil perkalian.
"Satu menit ini gak bakal cukup," kata Noa menengahi.
"Kita harus cukupin," balas Brien.
Noa menghela nafas. "Seratus lima dikali seratus lima..."
"Satu satu kosong dua lima," kata Brenda menopang dagu.
Mereka berdua refleks menoleh ke arah Brenda yang menatap malas kertas buram di depannya.
"Apa?" tanyanya bingung.
Brien mengerjapkan matanya. "Berapa tadi?" Ia mengambil kertas buram dan pena.
"Sebelas ribu dua lima."
"Sebelas ribu... dua lima," gumam Brien sambil menulis angka dari hasil perkalian. "Oke, ini aja?"
"Tingginya belum," kata Noa mengingatkan.
"Oh ya."
"Susah amat tinggal tambah nol doang di belakangnya," kata Brenda.
"Tingginya dua puluh, Bren," kata Brien.
"Yang mau diisi setengah, Bri," balas Brenda.
"Iya, ya."
"30 detik lagi."
Noa memencet tombol di depannya.
"Ya! Silahkan tim 01!"
"Seratus sebelas ribu dua ratus lima puluh," jawab Noa.
Bu Sari melihat kembali handphone-nya yang telah digunakan untuk mencari perkalian.
"Ya benar! Selamat kepada tim 01 dari Hensa High School yang telah memenangkan lomba ini," ucapnya.
Di tempatnya, tim International High School berbisik-bisik, merasa ada hitungan yang salah dari lawan mereka.
"Ya? Ada apa, Nak?"
"Apa hitungannya tidak salah, Bu? Seharusnya dua ratus dua puluh ribu lima ratus, karena tinggi kolam berenangnya adalah 20 meter," katanya.
"Mungkin kamu kurang teliti mendengar soalnya. Saya bertanya berapa volume air jika yang terisi adalah setengah dari kolamnya. Maka tinggi yang digunakan adalah 10 meter. Bagaimana? Apa sudah mengerti, Nak?"
Tim dari International High School itu saling pandang, kemudian mengangguk bersamaan.
"Sudah, Bu, terima kasih," kata mereka bersamaan.
"Baiklah untuk lomba selanjutnya ..."
Belinda terdiam.
Tunggu dulu ...
Kelasnya menang?
Kelasnya? XII IPA 1? Mewakili Hensa High School menang?
Keajaiban apa ini???
Pertama, ia pikir mewakili sekolah saja murid-muridnya itu belum tentu karena banyak dari murid kelas lain yang lebih pintar.
Kedua, setelah mewakilinya sekolah, meskipun mereka gak menang, Belinda tetap bangga kok. Tapi ... mereka menang?
Ketiga, dari 45 soal yang diberikan murid-muridnya itu dapat menjawab 13 soal jumlah yang sama dengan sekolah internasional itu. Belum lagi 1 soal tambahan meskipun terbilang mudah namun hitungan dari perkalian itu seharusnya lebih lama dicari ... bukan hanya dalam 30 detik.
Di kelas saja mereka tidak mau menjawab pertanyaan, tapi kenapa untuk lomba ini mereka seakan tak ingin kalah dalam kecepatan menjawab ...
Satu lagi yang terakhir, ITU KENAPA WAJAH MURID-MURIDNYA DATAR SEMUA?!?!!
Seakan hal itu adalah hal yang wajar bagi mereka.
Apa mereka sungguh telah belajar dengan lebih keras?
Sepertinya untuk yang jadi peserta harus diberi bonus lebih dari ditraktir, deh ...
Author Note:
Hai-hai semuaaa!!!
Aku update cerita ini lagi nih
Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya
Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik
Okeeyyy???
Makasiii semuaa
Love you, allš„°
Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?
Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x