
...C h a p t e r 24...
...Cemburu?...
Ervin menoleh ke arah Quirin yang daritadi kelihatan melamun sepanjang pelajaran.
Ini hanya perasaan Ervin saja atau memang sejak kembali dari luar sewaktu istirahat tadi Quirin jadi lebih ... ummm ... pendiam? Dan kelihatan gak fokus gitu.
Diajak main game juga tadi Quirin langsung menolaknya. Ada apa sih sebenarnya?
"Kalian sudah mengerti semuanya?"
Suara guru itu membuat Ervin kembali memerhatikan papan tulis.
Tadi sampai mana, ya pelajarannya?
Ia mengetuk pelan pena di tangannya.
"Ada yang ingin bertanya?" Guru itu kembali bersuara.
Oh ya, udah sampai kewajiban warga negara.
"Ada?" tanya guru itu sekali lagi.
"Tidak, Bu." jawab beberapa murid.
"Baiklah kalau tidak ada, ini udah jam terakhir kan? Kalian boleh siap-siap, sebentar lagi bel bakal berbunyi."
Semua murid mulai memasukkan alat-alat tulis serta buku mereka ke dalam tas, dan menyatukan buku cetak masing-masing menjadi satu tumpukan agar lebih mudah ditaruh ke dalam loker yang tersedia di dalam kelas.
"Eh, Rin," panggil Ervin disela-sela kegiatannya menyatukan buku cetak.
Quirin hanya berdehem singkat sembari terus memasukkan alat tulisnya.
"Napa lo jadi kayak marah gitu sejak tadi istirahat?"
Gerakan Quirin terhenti sejenak, namun kemudian ia kembali memasukkan alat tulisnya.
"Gak ada."
Ervin mengernyitkan alisnya bingung.
"Jangan kayak cewek deh lo. Kalo ditanya kenapa itu jawabnya karena bukan gak ada!!!" gemas Ervin dengan suara tertahan.
Kring kring kring
Bel pulang sekolah berbunyi tepat setelah Ervin berteriak gemas.
"Baik, bel pulang sudah berbunyi, kalian boleh kembali ke rumah masing-masing. Terima kasih, selamat siang." ucap Bu Ayu menutup pembelajaran siang itu dan melangkah keluar kelas.
Murid-murid itu menyampirkan tas mereka ke pundak dan berjalan ke belakang kelas sambil membawa tumpukan buku cetak.
"Besok ada acara, gak, sih?"
"Tanya tuh sama Lika, dia, kan lagi pedekate sama ketos."
"Lah? Bukannya Brien yang ketua OSIS, ya?"
"Maksudnya calon ketos!"
"Gimana, Lik?"
"Setau gua sih, besok itu ada acara lomba-lomba gitu sih, apasih namanya? Yang biasanya undang anak sekolah lain itu loh."
"Ha? Apaan? Gua gak tau."
"Kagak pernah diundang kali lo!"
"Yeee!!! Gua mana tau! Gua kan dari luar kota anjir!"
"Eh iya, ya!"
"Biasanya tiap tahun gitu, kan, ya?"
"Iyaaa, Brennn ... sekolah sebelahan kok dulu, masa gak tau."
"Gua cuma mastiin doang."
"Mana ada dua tahun ini woi!"
"Ya lo pikir aja, emang bisa 2 tahun kemaren?"
"Iya sih ...."
"Woi fokus dulu, apa nama acaranya?"
"Hensa Champ woi!"
"Nah iya! Hensa Champ!"
"Lombanya apa aja sih? Kita mesti ikut, kah?"
"Iya kayaknya, itu ada yang tingkat SMP sama SMA, kan, ya?"
"Iya, kita ikut kayaknya."
"Utusan lombanya kita belum, kan? Gimana jadinya? Tanya Miss Belinda aja, Van?"
"Habis ini langsung gua tanya, deh."
"Setau gua nih, biasanya, ada olim. Tapi sekali lagi, setau gua! Kalo diubah gua mana tau."
"Olim mah gampang, tinggal utus si Brien aja."
"Lah? Kok gua?"
"Kan terakhir lo yang menang."
"Nanti aja gua tanya sama Miss Belinda."
"Dah, dah, bubar kalian semua!"
Murid-murid XII IPA 1 yang berkumpul dan berbincang di depan loker mereka itu langsung membubarkan diri.
Ervin dan Quirin berjalan keluar kelas menyisakan beberapa murid yang ikut piket.
"Woi, Quirin."
"Apa?"
"Lo belum jawab yang tadi."
"Yang mana?"
"Kenapa lo keliatan kesel setelah tadi istirahat?"
Ervin yang memerhatikan perubahan raut wajah Quirin langsung mencari tau alasannya. Ia mencari objek yang dilihat oleh Quirin.
"Oh, lo cemburu?"
"I–HA?!"
"Santai kali, gak usah teriak-teriak segala." katanya mengusap telinganya pelan.
"Apa maksud lo?" sengit Quirin.
"Ya ... lo cemburu, kan? Tuh, kakak gua sama cowok. Makanya lo kesel, kan?"
"Sok tau!"
Mereka terus berdebat hingga tak sadar jarak mereka dengan Belinda sudah terkikis.
"Noa?"
Ervin menghentikan perdebatannya dengan Quirin dan menoleh, ternyata ia sudah berada di depan kakaknya??? Dan oh–
"Oi, Bang!"
"Oi! Gua baru tau lo sekolah di sini," kata orang itu.
"Gua juga baru tau Bang Edo sekolah di sini."
Ya, orang itu adalah Edo. Dan juga ada Anggi yang sebenarnya bersama mereka sejak tadi.
Raut wajah Quirin semakin menurun. Rahangnya mengeras dan kilatan matanya menjadi tajam.
Kesal. Itu yang dirasakannya saat ini.
"Ehm. Kayaknya gua duluan deh, Bel," kata Anggi merasakan hawa-hawa yang tidak mengenakkan.
"Eh, jangan!" Belinda menatap Anggi memelas.
Ia benar-benar tak tahu kenapa ia bisa terjebak di antara cowok-cowok itu. Jika Anggi pulang maka ... habislah dia.
Melihat Belinda yang menatapnya memelas membuat Anggi tak tega meninggalkan temannya itu terjebak di antara cowok-cowok yang sepertinya sedang emosi?
Ralat mungkin hanya adik sepupunya saja.
"Eh, Rin!"
Quirin yang awalnya menatap tajam Edo langsung menatap bingung Anggi yang memanggilnya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Pulang, yuk!"
"Ha?" Quirin tercengang.
Apa-apaan kakak sepupunya ini? Padahal dari awal kakak sepupunya lah yang tak ingin orang sekolah tahu bahwa mereka memiliki hubungan saudara, tapi kenapa sekarang malah ...
"Ayo!"
Anggi langsung menarik Quirin beranjak dari sana dan memberi kode kepada Belinda.
Belinda langsung menghela nafas lega.
"Belinda."
"Hm?" Belinda menoleh ke arah Edo yang memanggilnya.
"Eh-eh gak jadi."
Perkataan itu langsung membuat Belinda menatapnya datar.
"No, temen lo tadi?" tanyanya.
"Yo'i, Bang. Napa emang, Bang?"
"Enggak, temen lo tadi ... kayak musuhan sama gua, marah gitu tadi."
Ervin menaikkan sebelah alisnya. Ia mengulum tawa.
Gak tau aja Bang Edo, kalau si Quirin itu lagi cemburu.
Ervin tahu, sangat tahu bahwa Quirin sedang cemburu melihat kedekatan Belinda dan teman lesnya itu.
"Santai, Bang, gak mungkin dia musuhin orang gitu. Baru pertama kali ketemu, kan? Dia emang kayak gitu, santai, Bang."
"Ohhh..." Edo mengangguk-angguk, percaya pada penjelasan Ervin.
"Oh ya, Belinda, gua duluan, ya." katanya kemudian.
"Hm? Oh iya," ucap Belinda.
"Duluan, No."
"Iya, Bang."
Setelah Edo tidak lagi kelihatan, Belinda menatap Ervin yang menelisik wajahnya.
"Gak pulang?" tanya Belinda.
"Oh ya! Yok!" ajak Ervin berjalan lebih dulu.
Belinda menggeleng pelan. Terkadang adiknya itu memang ... aneh!
Author Note:
Hai-hai semuaaa!!!
Aku update cerita ini lagi nih
Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya
Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik
Okeeyyy???
Makasiii semuaa
Love you, all🥰
Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?
Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x