
...C h a p t e r 11...
...Ketemu Jodoh (2)...
Belinda menenangkan dirinya yang terkejut melihat kedatangan orang yang menjadi jodohnya itu.
"Kamu ... ngapain di sini?" tanya Belinda pelan memerhatikan cowok itu dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi.
"Eumm ... sebelum itu saya boleh duduk dulu, gak?" tanya cowok itu sedikit risih diperhatikan oleh Belinda.
"Oh? Oh iya iya, duduk aja," kata Belinda mengizinkan.
Cowok itu duduk di kursi depan Belinda.
"Sebelumnya maaf, saya eung ... gak tau kalau Miss yang dijodohin dengan saya," kata cowok itu canggung.
"Hn? Oh itu bukan salah kamu, kan ... jadi gak perlu minta maaf," kata Belinda.
Cowok itu mengusap sekilas puncak hidungnya.
"Apa kamu udah sering emm ... dijodohin gini?" tanya Belinda hati-hati.
"Ya sebenarnya udah beberapa kali sih, Miss, tapi selalu saya tolak. Untuk kali ini disuruh kenalan dulu aja, ya ... saya nurut aja," kata cowok itu masih sedikit canggung.
"Hmm ...." gumam Belinda mengerti.
Belinda memerhatikan cowok di depannya itu sesekali mengalihkan wajah atau bergerak-gerak gelisah.
"Santai aja, okey? Gak perlu tegang banget, ini udah di luar sekolah, Quirin. Gak usah terlalu kaku," kata Belinda menenangkan.
Cowok itu Michiavelly Quirin Phoenix. Salah satu dari 28 murid yang ia ajar di XII IPA 1. Cowok yang pada hari pertama ia mengajar tidak hadir karena sakit.
Quirin mengangguk pelan.
"Iya, Miss," balas Quirin.
"Oke ... berarti ini baru pertama kalinya kamu ketemu sama orang yang dijodohkan sama kamu?" simpul Belinda.
"Iya, Miss," jawab Quirin pelan.
Belinda menghembuskan nafas pelan.
Apa semua muridnya juga mengalami hal-hal seperti ini juga? Pikirnya.
Hmm ... kalau begitu pantes mereka pendiam seakan gak mau nerima orang baru ... ternyata ini toh. batinnya lagi.
"Hmm ... Quirin?" panggil Belinda.
"Ya, Miss?" jawab Quirin.
"Kalau di luar sekolah gak usah manggil Miss, ya, soalnya agak gimana gitu," kata Belinda tak enak.
"Oh oke, Miss, ah maaf eumm ... Belinda?" ralat Quirin cepat.
"Hm gitu aja," kata Belinda menopang dagunya.
"Jadi ... gimana?" tanya Quirin hati-hati.
"Itu ... kan ... kita dijodohkan ... menurut ka ... mu ... dilanjutkan ... atau gak?" tanya Quirin ragu.
Belinda memainkan bibirnya sejenak.
Dari awal, kan gua mau nolak, tolak aja kali, ya?
Eh, tapi dia pakai baju kasual gini, gua harus akui kalau dia emm ... lumayan ganteng?
Ah, tapi kan dia murid gua!
Tapi lagi ... dia kan udah kelas 12 ... bisa kali, ya?
Belinda meragu. Mau ditolak sayang, kalau gak ditolak gimana ya? Bagaimanapun Quirin itu muridnya, pasti bakal aneh ...
"Eungg ... gini deh, kita ... jalanin aja dulu ...." putus Belinda setelah berperang batin.
"Tapi terserah kamu saja, kamu juga punya kebebasan buat milih kok," sambung Belinda segera.
Quirin menunduk sebentar, lalu ia menatap Belinda.
"Ya ... saya sih gapapa ... menurut saya bener kok dijalanin aja dulu ...." kata Quirin menyetujui.
"Oh? Oke kalau gitu." Belinda mengulurkan tangannya membuat Quirin menatapnya bingung.
"Kenapa ... Belinda?" tanya Quirin masih belum terbiasa memanggil Belinda dengan sebutan nama saja.
"Tanda setujunya salaman," kata Belinda polos menggoyangkan tangannya pelan.
Quirin membuka mulutnya dan mengangguk-ngangguk paham. Ia menjabat tangan Belinda yang terulur tadi, sambil perlahan tersenyum.
Setidaknya itu awal mereka memulai hubungan lain lebih dari sekadar guru dan muridnya.
Author Note:
Hai-hai semuaaa!!!
Aku update cerita ini lagi nih
Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya
Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik
Okeeyyy???
Makasiii semuaa
Love you, all🥰
Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?
Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x