
...C h a p t e r 5...
...Sisi Lain Keluarga Wardana...
Apa yang orang-orang pikirkan tentang keluarga Wardana?
Sebagian orang yang menjawab pasti akan bilang bahwa keluarga Wardana adalah keluarga yang tertutup. Setidaknya itu yang mereka pikirkan.
Maklum saja keluarga itu jarang sekali muncul di depan publik. Dan jika muncul itu hanya kepala keluarga mereka, Volker Wardana.
Banyak orang yang bertanya-tanya siapa saja orang beruntung yang menjadi anggota keluarga Wardana yang kaya itu?
Sebagai pemimpin di banyak perusahaan, Volker sering menjadi bahan perbincangan.
Mungkin banyak orang yang sudah mengetahui nama-nama anggota keluarga Wardana itu jika memang mereka sendiri memperkenalkan diri dengan nama belakang mereka.
Namun, seringnya mereka tidak memperkenalkan diri sebagai anggota keluarga Wardana.
Tak ada yang benar-benar tahu wajah dari anggota keluarga Wardana yang terkenal kaya dan tertutup itu.
Belinda berjalan menuju kamarnya dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Hari yang melelahkan!
Ternyata menjadi guru gak semudah yang gua pikirkan.
Belinda berbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit kamar berwarna biru muda itu.
Matanya terpejam, perlahan nafasnya mulai beraturan menandakan bahwa ia sudah memasuki alam mimpi. Namun–
"Kak Belinda!"
"KAK BELINDA!!!"
Matanya yang semula terpejam mulai terbuka kembali. Ia menatap malas pintu kamarnya yang tertutup.
"Siapa sih?" gumamnya pelan.
"KAK BELINDA BUKA PINTUNYA!!!" teriak orang itu dari balik pintu.
"NGAPAIN SIH?!" teriak Belinda kesal.
"BUKA DULU PINTUNYA!!!" kata orang itu masih berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar Belinda.
Belinda berjalan malas ke arah pintu kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dan–
"Daritadi kek!" gerutu orang itu nyelonong masuk ke dalam kamar.
"Ngapain?" tanya Belinda menatap adiknya yang sudah tiduran di atas kasurnya.
"Bajak sawah! Tidurlah! Gak liat apa?!" jawab adiknya itu sedikit ngegas.
"Gak bisa tidur di kamar sendiri apa?" tanya Belinda.
"Males," jawab adiknya.
Belinda menghela nafas berat. Ia mengambil satu bantal di kasurnya dan–
"Pergi sana!" usir Belinda sambil memukul adiknya dengan bantal.
"Iya iya," pasrah adiknya beranjak dari tempat tidur.
"Padahal tadi mau ngasih es krim," kata adiknya.
"Mana?" tanya Belinda.
"Gak," tolak adiknya.
"Katanya tadi mau ngasih, mana?!" kata Belinda.
"Kan, Kak Belinda yang nyuruh aku buat pergi, jadi yaudah gak usah," kata adiknya cuek.
"Haish! Bercanda, Ervin ganteng," kata Belinda manis dengan senyum yang juga dibuat manis.
"Gini aja baru muji! Di kulkas!" kata adiknya cemberut.
"Gitu dong, sayang!" goda Belinda menyenggol lengan adiknya dengan sengaja.
Belinda langsung keluar kamarnya menuju ke kulkas dalam dapur rumahnya.
"Giliran ada maunya aja dipuji," kata adik Belinda menggerutu.
"JANGAN YANG VANILLA, YA!" teriak adiknya dari dalam kamar Belinda.
"APA?! YANG VANILLA?!" jawab Belinda sambil teriak.
"JANGAN YANG VANILLA!" ingat adiknya.
"OKE! MAKAN YANG VANILLA!" canda Belinda.
"KAK?!" rengeknya.
Ah! Ervin Chenoa Aldrich Wardana...
Anak keempat dari keluarga Wardana yang 5 hari lalu tepat berumur 16 tahun itu sedang menempuh pendidikan di salah satu SMA swasta di kotanya tepatnya di kelas XII.
Berbeda dengan kakaknya Belinda yang sering loncat kelas, ia justru tidak loncat kelas.
Tapi ... kalau soal dia bisa berada di kelas XII pada usianya yang sekarang? Itu karena ia daftar masuk sekolah lebih cepat.
Jika di luar rumah ia dikenal sebagai sosok yang cuek, kalem, dan berkarisma namun jika di dalam rumah ... hanya keluarga mereka yang tahu.
Author Note:
Hai-hai semuaaa!!!
Aku update cerita ini lagi nih
Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya
Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik
Okeeyyy???
Makasiii semuaa
Love you, all🥰
Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?
Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x