
...C h a p t e r 31...
...Cemburu, Again?...
Ervin dan Quirin sedang berada di lapangan sekolah.
Sekarang adalah jam pelajaran olahraga. Dan mereka -XII IPA 1- sedang duduk berteduh di bawah salah satu pohon yang cukup besar karena guru olahraga mereka sedang mengambil nilai praktik salah satu dari mereka.
Pada jam pelajaran olahraga kali ini mereka diwajibkan untuk praktik tentang bola basket agar nilai rapor keterampilan mereka terisi.
"No."
"Apa?"
Quirin memainkan bibirnya sejenak, berpikir apakah hal ini harus ia tanyakan atau tidak.
"Napa sih?" tanya Ervin bingung karena Quirin hanya diam.
"Lo tuh emang ...."
"Emang apa?" tanya Ervin cepat.
"Emang deket sama Miss Belinda, ya?" tanya Quirin.
"Ya gimana gak deket? Kan serumah!" balas Ervin dengan bingung.
"Maksud gua itu, lo- eh nggak nggak. Kemaren gua liat lo pelukan sama Miss Belinda," kata Quirin memelankan suaranya.
"Pelukan? OH KEMAREN?!"
"SSSTTT..."
Quirin menempelkan telunjuknya ke depan bibir menandakan agar Ervin diam.
Beberapa murid menoleh ke mereka karena suara Ervin itu.
"Napa sih mereka?"
"Biarin aja paling ngegosip."
"Ohh ...."
"Jangan keras-keras!" kata Quirin memperingati.
"Iya iya. Emang kenapa sih? Gak boleh?" tanya Ervin heran.
"Bukannya gak boleh ... tapi, kan kalian tuh adek kakak, masa iya kayak gitu."
"Ya, biasa aja perasaan."
"Menurut lo! Kalau orang lain liat pasti mikirnya kalian tuh pacaran!"
Ervin hendak membalas kata-kata Quirin, namun ia segera tersadar.
"Lo cemburu?" tanya Ervin tepat.
"Ha? Ahahahah gak, lah! Gak mungkin, lah gua cemburu."
"Tapi nada lo ngomong kayak lo cemburu sama gua ... ngotot banget!"
"Nggak!" elak Quirin.
Ervin berdecak kesal. "Bohong lo!"
"Buat apa gua bohong coba?"
"Ya mana gua tau???"
"Ah. Bodolah!"
Ervin memutar bola matanya malas.
Sikap Quirin ini sama sekali dengan kakaknya yang mempunyai gengsi yang sangat besar.
Pantes aja mereka cocok!
***
Belinda menopang dagunya di atas bantal. Ia teringat tadi saat bertemu dengan Quirin di parkiran sekolah yang sudah sepi.
"Eung ... Kak Belinda."
Belinda menoleh saat Quirin memanggilnya.
"Iya ... ada apa?"
"Saya ... eh aku boleh nanya?" izin Quirin.
Belinda mengernyit bingung.
Kedua, tumben dia manggil dirinya sendiri dengan sebutan aku ...
Dan yang ketiga ... DIA GEMES BANGET WOI!
Maksudnya beneran, Quirin ini gemes banget! Dalam mode malu-malu gini, dia gemes banget!!!
"Ehm. Iya boleh, kok. Mau nanya apa?" tanya Belinda setelah berdehem singkat.
"Emm ... Kak Belinda itu ... emang deket banget sama Noa, ya?" tanya Quirin ragu.
"Ya ... kami, kan adik kakak, serumah juga ... masa gak deket?" jawab Belinda bingung dengan arah pertanyaan Quirin.
"Ya kalau itu sih aku tau, Kak ... tapi, kan ... kayak eung ... pelukan gitu ... emang gak berlebihan, Kak?"
"Enggak deh perasaan ...."
"Mungkin menurut Kak Belinda itu biasa aja, tapi kalau orang lain lihat pasti mikirnya aneh-aneh ...."
"Aneh-aneh gimana?"
"Orang pasti ngira kalian itu ... pacaran? Atau mungkin lebih ...."
"Ya berarti pemikiran mereka aja yang aneh!"
"Tapi aku juga mikir gitu!"
Belinda tertegun. Ia tak menyangka Quirin akan menjawab seperti itu.
Lagipula ... kenapa Quirin berpikir seperti itu?
"Aku tau aku gak berhak buat ngatur hubungan Kak Belinda dengan Noa, kita juga kenalnya belum lama, tapi ... aku cemburu, Kak."
"Gak hanya dengan Noa, tapi dengan teman Kak Belinda yang waktu itu juga ... aku cemburu ... Belinda ..."
"AAA!!! PERGI SANA LO! PERGI!"
Belinda berguling-guling di atas kasurnya. Pipinya memanas.
"Ah sial! Sejak kapan dia jadi gentle gitu?"
"Ganteng banget! AAA!!!"
Belinda menenggelamkan wajahnya di atas bantal untuk meredam teriakannya.
Belinda bergerak-gerak tak jelas di kasurnya.
"Sialan! KALAU GUA BAPER GIMANA?!!?!"
Ia menendang-nendang udara.
Tak lama kemudian, ia langsung duduk tegak dengan bantal di pangkuannya.
"Gak, Bel. Jangan baper! Siapa tau dia cuma iseng, kan?"
"Aku cemburu ... Belinda ..."
"Ah. Suara sialan!"
Belinda melempar bantalnya ke dinding kamar.
"Napa sih lo geraknya waktu hati gua lagi mode gampang baper, HA?!?!???!"
Belinda kembali melempar bantalnya yang satu lagi ke dinding kamar.
"Sial!"
Author Note:
Hai-hai semuaaa!!!
Aku update cerita ini lagi nih
Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya
Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik
Okeeyyy???
Makasiii semuaa
Love you, all🥰
Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?
Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x