
...C h a p t e r 15...
...Cerita (2)...
Jika ia menjawab jujur apa yang akan dikatakan Noa? Tapi ... kalau dia menjawab bohong ... apa reaksi Noa?
"Eung ... Gua ..."
"Lo apa?" tanya Ervin penasaran.
"Gua ... ya ... gitu deh!" kata Quirin asal.
"Ck! Serius, Rin!" decak Ervin kesal.
"Ya ... gua sendiri juga masih bingung woi! Tapi ...." kata Quirin menggantung ragu.
"Tapi apa?!?!" kesal Ervin karena Quirin selalu tak menyelesaikan kalimatnya.
"Tapi kayaknya iya ...." kata Quirin malu.
Ia merasakan pipinya mulai memanas. Selama ini ia belum pernah benar-benar jatuh cinta, hanya sebatas kagum, atau ya ... idolain seseorang.
Ervin mendelik, melihat reaksi Quirin saat mengatakannya itu ... menggelikan baginya. Pipi Quirin yang memerah dan gerakannya yang malu-malu itu .... Ia menggelengkan kepalanya. Ervin memegang belakang lehernya. Merinding.
"Gak usah kayak gitu bisa, gak? Merinding gua liatnya!" kata Ervin tak tahan.
Mendengar itu Quirin terdiam. Ia memegangi pipinya. Ah ia baru sadar kalau pipinya memanas, kemungkinan pipinya merah. Tapi ... kenapa?
"Biasa aja kali," kata Quirin tak senang.
Ervin menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Lo naksir, ya, sama kakak gua?" ceplos Ervin.
"Hm? Kakak lo siapa?" tanya Quirin bingung.
Oh, ya! Ervin lupa bahwa Quirin tak tahu bahwa Belinda adalah kakaknya.
"Maksud gua, lo naksir ya sama guru itu?" ralat Ervin menekankan kata guru.
"Ya ... hmm ... bisa dibilang iya kayaknya," kata Quirin sejenak mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Kenapa lo bisa suka?" tanya Ervin kepo.
"Eumm ... dia ... baik, sabar, terus dia tuh kayak ... apa, ya? Auranya anak kalem gitu," jawab Quirin.
Quirin menggigit bibir bawahnya. Ia mulai membayangkan sosok Belinda. Meskipun Belinda baru pertama kali mengajar kelas ini, tapi ia ... ah entahlah. Ia sendiri bingung untuk mengatakannya.
Ervin mengernyit bingung. Baik? Ah Quirin tak tau saja kata baik saat Belinda di rumahnya. Sabar? Oh ayolah, Belinda itu orang yang paling sering marah di rumah. Terus ... apa tadi? Kalem? Siapapun tolong beritahu Quirin bahwa Belinda tak sekalem itu.
Tapi sebenarnya Ervin maklum mendengar deskripsi tentang kakaknya itu dari Quirin. Jika ditanya dengan teman kelas yang lain, mungkin mereka akan menjawab hal yang sama.
Memang sih kalau di sekolah Belinda berubah menjadi guru kalem yang selalu berusaha menahan amarahnya. Tapi kalau di rumah ... ya begitulah.
"Emang gurunya siapa?" tanya Ervin sambil melihat sekilas jam di tangannya.
"Emm ... Tapi jangan mikir yang aneh-aneh! Apalagi sampe ngasih tau yang lain!" ancam Quirin.
"Iya, serahasia itu, kah?" tanya Ervin heran.
"Ya ... nanti yang lain jadi mikir aneh-aneh lagi, dah lah mau tau, gak?" kata Quirin memberi alasan.
"Hm. Siapa?" tanya Ervin.
Mata Quirin bergerak tak tenang. Ia ragu kalau Noa nantinya akan berpikir seperti apa tentang guru itu. Mengingat guru itu adalah guru baru ... tentu saja itu akan sangat sulit jika yang lain tau.
Tapi ini Noa ... temannya yang bisa ia percayai untuk menjaga rahasia.
"Eungg ... Miss Belinda." jawab Quirin menutup matanya.
Ervin mengangkat sebelah alisnya. Ya ... sebenarnya sih dia udah tau kalau itu Belinda ... jadi ia tak merasa terkejut.
"Oh." sahut Ervin singkat.
Quirin membuka matanya. "Itu doang respon lo?!" tanya Quirin kesal.
"Ya iya, lagian gua udah tau kaliii," balas Ervin tak merasa salah.
Quirin menghembuskan nafas kasar. Ia sudah gugup bukan main saat mengatakannya, tapi respon temannya hanya seperti itu?
"Bodo lah." sahut Quirin tak peduli.
Ervin tersenyum miring. Kira-kira, Quirin perlu dikasih tau sekarang atau nanti aja biar dia tau sendiri, ya?
Tak berselang lama, Quirin tersadar.
"Eh? Lo tau–" ucapannya terpotong karena guru mata pelajaran selanjutnya sudah datang.
"Pagi anak-anak," sapa guru yang baru masuk.
Hening kembali ...
Guru itupun mulai menjelaskan pelajarannya dan murid-murid itu memerhatikannya sambil sesekali mencatat hal-hal yang perlu dicatat.
"Gitu, deh," kata Ervin selesai bercerita pada Belinda yang menopang dagu di atas bantal.
"Dia sampe cerita gitu?" tanya Belinda kaget.
"Hmm ...." Ervin berdehem sebagai jawabannya.
"Berarti kalian deket dong!" ceplos Belinda.
Ervin yang mendengar itu menautkan kedua alisnya bingung.
"Oh, ya santai kali, Kak. Aku gak bakal suka sama dia juga. Kami kan cuma temen," jelas Ervin dengan gaya menenangkan.
"Yang nanya siapa???" geram Belinda.
"Kak Belinda tadi kayak jealous gitu, jadi ya aku jelasin, lah, biar gak salah paham," Ervin berucap dengan polosnya.
"MATAMU!" teriak Belinda geram.
Author Note:
Hai-hai semuaaa!!!
Aku update cerita ini lagi nih
Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya
Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik
Okeeyyy???
Makasiii semuaa
Love you, all🥰
Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?
Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x