Engagement

Engagement
Chapter 7



...C h a p t e r 7...


...Sisi Lain Keluarga Wardana (3)...


Malam itu keluarga Wardana berkumpul di meja makan. Makan malam dengan berbagai hidangan yang menggugah selera.


Hidangan-hidangan itu dimasak oleh istri dari pemimpin di keluarga Wardana, Rosalind Nefertari. Juga dibantu oleh anak-anak mereka.


Meskipun sudah dikenal sebagai orang terkaya, mereka tetap melakukan pekerjaan rumah sendiri. Hanya ada satpam yang berjaga di pos depan rumah mereka.


Hanya ada dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


"Ehm. Belinda?" panggil Papanya memecah keheningan meja makan itu.


"Iya, Pa?" tanya Belinda setelah menelan makanan di mulutnya.


"Belinda udah punya pacar sekarang?" tanya Papanya.


Belinda terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Papanya itu. Ia segera meminum air yang di depannya.


Setelah merasa lebih baik ia menatap Papanya bingung.


"Belum, Pa, kenapa?" jawab Belinda dengan bingung.


"Hm. Bagus!" kata Papanya.


Belinda mengernyit heran.


"Berarti Belinda mau, kan dijodohin?" tanya Papanya.


"HA?!" teriak Belinda tanpa sadar.


"Belinda," tegur Mamanya.


"Ddum tara ddum tara ddum," kata Axella heboh menyanyikan lagu salah satu film India sebagai backsound-nya sambil memukul meja.


"Axella," tegur Mamanya.


Volker, sang Papa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Coba dong kalian tuh kaleemmm," kata Volker geram.


Ucapan itu membuat anak-anaknya mendelik.


Kalem? Yang benar saja? Justru Papa mereka lah yang menjadi sumber ketidak-kaleman mereka.


"Emm ... Pa? Perlu aku ingetin kejadian dengan Keli?" tanya Ervin.


Papanya mengatupkan bibir rapat.


Yah ... Keli atau anjing peliharaan mereka itu, dibuat tertekan oleh Papa mereka.


Begini kejadiannya ...


"Sini, sini, Keli!" panggil Volker pada anjing peliharaannya itu.


Peliharaannya yang bernama Keli itu berlari ke arah Volker dengan ekor putihnya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri.


"Ouh, anjing pintar! Mau ini?" puji Volker sambil menyodorkan sebuah sosis.


Keli menggonggong dan goyangan ekornya semakin cepat. Anjing itu menatap sosis itu dengan penuh minat.


"Kalau gitu kiss dulu, dong! Muach!" kata Volker menunjuk punggung tangannya.


"Eh eh, jangan lupa salam dulu! Terus jawab ini, ya berapa 5 tambah 5 dikali 7 dibagi 5 dikurang 15?" kata Volker semangat.


Keli menurunkan ekornya yang bergoyang. Ia menatap melas ke arah Volker sembari menggonggong kecil yang lebih tepat disebut gonggongan putus asa.


"Uluh uluh ... kacian banget, sih ... laper, ya?" tanya Volker gemas.


Keli masih menggonggong kecil.


"Beli sendiri dong! Nih duit!" kata Volker memberikan uang sepuluh ribu di hadapan anjing itu.


Volker berlalu meninggalkan Keli yang menatap sosis di tangan Volker dan uang di hadapannya bergantian.


"Ehm. Masa lalu gak boleh diinget," kata Volker malu.


"Tapi yang dibilang Papa kalian itu bener, kalem, okey?" bela Rosalind.


"Tuh dengerin!" kata Volker merasa mendapat pendukung.


"Eumm ... tapi, Ma! Gimana soal air mancur di halaman depan?" potong Axella.


Rosalind terdiam.


Ya ... gimana ya?


"Axella," panggil Rosalind pada Axella yang sedang menyiram bunga mawar putih di halaman rumahnya.


Axella meletakkan gembor ke atas tanah dan menghampiri Mamanya.


"Menurut kamu gimana kalau kita tambah air mancur di halaman rumah?" tanya Rosalind.


Axella mengernyit.


"Ya ... boleh aja, sih, Ma ..." jawab Axella bingung.


"Hemmm ... terus nanti kita tambahin ikan gitu, mungkin?" lanjut Rosalind.


"Iya ...?" kata Axella bingung.


"Oke! Nanti Mama bilang ke Papa buat bikinin air mancur di halaman ini. Terus nanti kita tambahin ikan lele!" kata Rosalind berlalu masuk ke dalam rumah.


Mata Axella melotot. "MA?!" teriaknya.


Rosalind berdehem.


"Gak usah diinget-inget!" kata Rosalind galak.


Axel menggelengkan kepalanya.


"Kalem dong, kayak aku!" seru Axel.


Mereka semua menoleh dengan tatapan tak setuju ke arah Axel.


"Kak Axel, kalau Kak Axel kalem, terus yang ngehancurin istana pasir aku di pantai itu, siapa?" tantang Cashel Eliseo Xavier Wardana atau yang biasa dipanggil Cashel jika di rumah.


"Ehm. Kalau itu ... ya ... cuma iseng, sih," kata Axel meringis.


"Udah udah, balik lagi. Belinda mau, kan?" kata Volker mendiamkan mereka.


Belinda yang baru saja selesai makan, mengangkat wajahnya dan mengerjap bingung.


"Mau apa?" tanyanya.


Semua orang yang ada meja makan itu melengos pelan kecuali si kembar bungsu yang baru berumur 5 tahun itu, menepuk tangannya riang.


"Betul, betul, betul!" kata si bungsu, Ayudia Grazinia Divsha Wardana dan Alastair Garett Daiva Wardana.


"Itu loh! Masalah dijodohin, Belinda mau, kan?" tanya Volker sekali lagi.


"A? Ahaha aku udah selesai makan! Aku cuci piring dulu!" kata Belinda bergegas pergi ke dapur.


"Yeay! Ipin botak!" seru Zinia riang.


"Hust! Gak boleh gitu!" tegur Brady Fransisco Rainer Wardana, sang kakak yang terpaut usia 2 tahun darinya.


"Yeay! botak!" seru Garett riang.


"Garett ... jangan sesat!" kata Deon memperingati.


Dilan Deon Ragnala Wardana. Anak kelima dari pasangan keluarga Wardana ini berusia 12 tahun.


"Yeah, sesat sesat kite dah sesat!" sahut si kembar Zinia dan Garett kompak.


"Lanjutkan, Dek!" kata Axel mengompori.


"Sesat sesat, kite dah sesat!" seru si kembar juga Axella semangat.


Rosalind dan Volker menggelengkan kepala mereka melihat tingkah anak-anaknya yang sudah heboh di meja makan itu.


"Sesat sesat, kite dah sesat!" seru mereka kompak.


Author Note:


Hai-hai semuaaa!!!


Aku update cerita ini lagi nih


Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya


Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik


Okeeyyy???


Makasiii semuaa


Love you, all🥰


Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?


Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'


x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x