Engagement

Engagement
Chapter 2



...C h a p t e r 2...


...Kelas Kuburan...


Belinda kembali menghembuskan nafasnya pelan dan berdehem supaya mengurangi kegugupannya.


"Perkenalkan nama saya Fredella Belinda Shaenette. Biasanya dipanggil Belinda. Kalian boleh memanggil saya Miss Belinda. Saya adalah wali kelas kalian yang baru."


Perkenalan itu ditutup dengan senyumnya yang elegan. Matanya menatap para murid yang senantiasa duduk tenang di kursi mereka.


Hening


Belinda menarik nafas dalam.


Bener kata guru-guru itu, kelas ini ... terasa seperti kuburan. batin Belinda melirik satu-persatu muridnya.


Belinda berdehem singkat untuk menghilangkan rasa malunya karena tidak dipedulikan oleh murid-murid itu.


"Apa ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Belinda.


Murid-murid itu hanya menatap Belinda dengan mulut yang terkatup rapat.


"Apakah ada?" tanyanya sekali lagi dengan volume suara yang sedikit lebih besar.


Ini muridnya pada budek apa gimana? Masa gua gak direspon sih?! Batinnya berontak.


Sudah tiga menit ia menunggu untuk direspon muridnya hingga akhirnya–


"Gak ada, Miss," jawab salah satu dari mereka.


Belinda menatap muridnya yang merespon perkataannya itu.


Boleh gak sih gua nangis? Terharu gua akhirnya disahutin juga. Batinnya terharu.


"Oke, karena tidak ada yang ingin bertanya saya akan mulai mengabsen kalian."


Belinda mulai mengambil buku absen kelas XII IPA 1 yang tadi sempat diberikan oleh Pak Haldis kepadanya sebelum keluar ruangan beliau.


"Abdul Adinata Prawira?"


Sebuah tangan terangkat sesaat setelah nama itu disebutkan.


"Hmm... Nama panggilannya?" tanya Belinda.


"Nata, Miss," jawabnya.


"Oke baik," kata Belinda. "Selanjutnya ... Aldari Lendra Halim?"


"Saya, Miss," kata murid itu sambil mengacungkan tangannya.


"Panggilannya?"


"Aldari Miss," jawabnya.


"Oke, Amara Sheilda Dwi Cahya?"


Tangan seorang gadis terangkat sebagai respon dari panggilan itu.


"Panggilannya Amara?"


"Iya, Miss," jawab gadis itu.


Belinda menganggukkan kepalanya dan melanjutkan absen kelas itu hingga–


"Michiavelly Quirin Phoenix?"


"Michiavelly Quirin Phoenix? Ada orangnya, tidak?" tanya Belinda sekali lagi.


"Quirin sedang izin, Miss," suara itu menginterupsi pertanyaan Belinda.


"Izin kemana?"


"Sakit, Miss," jawab gadis itu.


"Oke," Belinda menganggukkan kepalanya tetapi tak lama kemudian ia terdiam.


Wait ... kok dia bisa tau? batin Belinda bingung.


Melihat raut wajah bingung Belinda, gadis itu menjawab.


"Saya ketua kelas, Miss," katanya.


Mendengar itu Belinda mengerjapkan matanya.


"Ehm. Oke terimakasih ...?"


"Vana, Miss," jawab gadis yang bernama lengkap Yonata Livana Ayu itu.


"Oke Vana terimakasih."


Belinda melanjutkan absen kelas itu hingga nama terakhir.


"Setelah itu ... Zia Andriani?"


"Saya, Miss," jawab gadis itu.


"Panggilannya?"


"Zia, Miss," jawabnya.


"Oke, berarti hanya satu orang yang tidak hadir, ya."


Kelas itu hening.


Diam-diam Belinda menghembuskan nafas pelan. Mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri.


Benar-benar seperti kuburan!


Author Note:


Hai-hai semuaaa!!!


Aku update cerita ini lagi nih


Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya


Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik


Okeeyyy???


Makasiii semuaa


Love you, all🥰


Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?


Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'


x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x