
...C h a p t e r 14...
...Cerita...
"Tapi, Kak ...." kata Ervin setelah beberapa saat hening.
"Apa?" tanya Belinda santai.
"Papa tau?" tanya Ervin pelan.
"Tau apa?" tanya Belinda heran.
"Papa tau gak kalau Quirin alias orang yang dijodohin ke Kak Belinda itu, murid Kak Belinda sendiri?" jelas Ervin.
Beberapa saat Belinda terdiam. Ia belum mengatakannya kepada Papanya tentang hal itu.
"Belum," jawab Belinda.
"Terus ... gimana?" tanya Ervin.
"Ya ... gak gimana-gimana." balas Belinda tenang.
Ervin menghembuskan nafas berat.
"Tadi Quirin cerita ke aku," kata Ervin tiba-tiba.
"Cerita apa?" tanya Belinda.
"Dia bilang ...
Di pojok belakang kelas, saat istirahat ...
"Noa." panggil Quirin pada Ervin yang sedang memainkan game di ponselnya.
Memang kalau di sekolah Ervin lebih dikenal sebagai Noa.
"Hm. Napa?" tanya Ervin masih tetap bermain di ponselnya.
"Gua mau cerita," kata Quirin.
"Hm, cerita aja." kata Ervin masih menatap ponselnya.
"Liat gua dulu anjir!" suruh Quirin tak sabar.
"Emang penting? Bentar dulu, gua bentar lagi nyawa gua tinggal dikit nih!" kata Ervin menggerakkan jarinya pada layar handphone dengan fokus.
"Dengar dulu anjir!" pinta Quirin makin tak sabar.
"Yah kan mati, anjing!" seru Ervin hampir membanting ponselnya.
Ervin memasukkan ponselnya ke dalam laci meja dan menghadap ke Quirin.
"Ngapa?" tanya Ervin tak santai.
Jarak beberapa meja dari pojok belakang itu sekumpulan murid lainnya sedang menyalin PR dan mengobrol.
"Napa tuh mereka?" tanya salah satu dari mereka.
"Biarin aja dah biasa juga," jawab yang lainnya mengibaskan tangan tak peduli sambil lanjut menyalin PR salah satu temannya.
Kembali lagi dengan dua orang yang sedang duduk di pojok belakang kelas ...
"Lo percaya gak, kalau gua bilang gua dijodohin?" tanya Quirin.
"Hm? Dijodohin?" tanya Ervin memastikan.
"Hm. Percaya, gak?" kata Quirin mengangguk.
"Lo aja ragu," kata Quirin.
"Emang sama siapa?" tanya Ervin pura-pura penasaran.
Quirin terdiam sebentar, ia ragu untuk memberitahu siapa orang yang dijodohkan dengannya, apalagi Noa kenal dengan orang itu juga.
"Ada, lah," jawab Quirin sok misterius.
Ervin mencebikkan bibir. 'Sebenarnya sih gua udah tau, cuma gua pura-pura gak tau aja.' batinnya.
"Siapa sih emangnya? Sok rahasia segala!" kata Ervin mendorong lengan Quirin.
"Eh gak usah ngedorong juga kali!" kata Quirin kesal.
"Iye iye, terus siapa orangnya?" tanya Ervin.
"Emmm ... guru di sekolah ini?" kata Quirin.
"Hmmm... siapa, ya? Bu Inggit?" kata Ervin pura-pura berpikir.
"Heh gak gitu! Yang ada gua diamuk suaminya!" marah Quirin.
"Hahahaha siapa tau gitu, kan?" balas Ervin tertawa.
"Ck! Bukan, pokoknya guru di sekolah ini." kata Quirin.
"Oh gua tau!" kata Ervin semangat.
"Apa apa? Lo tau apa?" tantang Quirin.
"Tapi sebelum itu lo jawab dulu," kata Ervin.
"Jawab ... apa?" tanya Quirin bingung.
"Lo ... suka sama orang yang dijodohin sama lo itu?" tanya Ervin.
Quirin mengatupkan bibirnya. Ia tak percaya pertanyaan itu yang akan ditanyakan oleh Noa, teman kelas yang lumayan dekat dengannya.
Jika ia menjawab jujur apa yang akan dikatakan Noa? Tapi ... kalau dia menjawab bohong ... apa reaksi Noa?
"Eung ... Gua ..."
Author Note:
Hai-hai semuaaa!!!
Aku update cerita ini lagi nih
Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya
Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik
Okeeyyy???
Makasiii semuaa
Love you, all🥰
Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?
Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x