Engagement

Engagement
Chapter 21



...C h a p t e r 21...


...Ekonomi dan Gaya Lorentz...


Belinda melangkah ke kelas XII IPS 5. Sebenarnya kelas ini tidak termasuk dalam kelas yang harusnya ia ajar, tapi karena ada salah satu guru yang sedang memiliki urusan penting, maka ia diminta guru itu untuk mengawasi dan memberi tugas kepada murid di kelas itu.


Ia mengetuk pelan pintu kelas yang terbuka.


Mendengar ketukan pintu kelas, murid-murid yang berada di dalamnya segera menoleh ke arah guru yang terlihat asing di kawasan XII IPS itu.


"Belinda?"


Mata Belinda melebar saat satu murid laki-laki berkulit agak gelap menatapnya bingung.


Owh ****!


Ia benar-benar tak tahu bahwa cowok itu bersekolah di sini.


***


Belinda mempunyai 3 alasan mengapa ia memilih sekolah ini sebagai tempat ia mengajar.


Pertama, karena sekolah ini adalah sekolah adiknya.


Kedua, ia bisa mengawasi adiknya (masih berhubungan sama yang pertama sih).


Dan yang ketiga, yang paling utama adalah karena sekolah ini memiliki peluang yang lebih sedikit untuk bertemu dengan temannya.


Kali ini ... ia rasa perhitungannya salah ...


***


Belinda memeriksa tugas kelas XII IPA 2 sambil sesekali memerhatikan murid-murid XII IPS 5 yang sedang mengerjakan tugas ekonomi.


Setelah insiden salah satu murid yang menyebutkan namanya, teman sebangku dari murid itu segera menyenggol lengannya cowok yang ia kenal itu. Temannya menyenggol lengan cowok itu sambil berbisik, "ssst ... itu guru."


Hal itu tentu saja membuat semua murid tersadar bahwa orang yang dipanggil temannya itu adalah seorang guru.


Kembali lagi dengan tugas ekonomi.


Murid-murid itu menulis materi di buku cetak ke catatan mereka. Sesekali mereka menggaruk kepala karena ada pertanyaan yang mengulang materi kelas XI dulu.


Salah satu murid laki-laki maju ke meja Belinda sambil membawa bukunya. Di tempatnya, Belinda sedang memeriksa hitungan soal latihan gaya Lorentz dari salah satu muridnya di XII IPA 2.


"Eumm ... Miss?"


"Ya?"


Belinda mengalihkan tatapannya dari buku ke murid itu. Ia menegakkan badannya saat ia melihat siapa murid itu.


"Eung ... saya mau bertanya ...." kata murid itu ragu.


"Nanya apa?" tanya Belinda dengan kening berkerut.


"Eum ... boleh buka handphone, gak? Soalnya ada materi yang gak ada di buku."


Belinda menimang-nimang pertanyaan itu. Hingga lima detik kemudian, ia mengangguk.


"Silahkan, tapi jangan ribut."


Murid itu tersenyum kecil memperlihatkan lesung pipinya.


"Makasih, Miss."


Setelah itu, murid tersebut langsung kembali ke kursinya. Belinda yang sedang duduk di meja guru menggigit kecil bibir bawahnya.


MANIS BANGET SUMPAH!


Ia menggeleng pelan.


Fokus, Bel, lanjutin tuh hitungan.


"Okey ... tadi sampe mana, ya, hitungannya?" gumamnya pelan.


Author Note:


Hai-hai semuaaa!!!


Aku update cerita ini lagi nih


Seperti biasa jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah ya


Kalian juga boleh kasih kritik dan saran kalian agar ceritanya lebih baik


Okeeyyy???


Makasiii semuaa


Love you, all🥰


Ceritanya mau lanjut apa enggak nih?


Kalau mau lanjut ayo komen 'S E M A N G A T!'


x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x