ELEVEN

ELEVEN
Nine



Pertandingan berlangsung sengit, masing-masing tim bermain lebih


agresif. Pertahanan masing-masing tim sangat kuat, tidak membiarkan lawan


mencetak angka. Selama 5 menit pertandingan berlangsung belum ada penambahan


skor untuk kedua tim.


Di menit ke tujuh Abida berhasil mengoper bola pada Latte. Latte


bersiap menangkap bola, namun tanpa disadari, Nina berlari menghadang. Tangan


panjang Nina terulur, mencoba menyentuh bola, berhasil.


Bola berbelok, menggelinding melewati batas lapangan.


Adiba menggeram kesal.


Detik berikutnya, Keysha bersiap melempar bola dari pinggir lapangan. Matanya


menatap sekeliling lapangan dengan cermat, semua kawannya dijaga ketat. Ia


melihat Eva yang berdiri tidak jauh darinya, namun Eva dijaga oleh center tim


saktiwara yang lebih tinggi dari Eva.


“Oper padaku, aku bisa!” Keysha membaca gerakan bibir Eva. Gadis


berambut merah bimbang, tidak yakin apakah Eva benar-benar bisa menangkap bola.


"Percaya padaku!" Sekali lagi Kesyha membaca gerakan bibir Eva.


Gadis itu menelan ludah dan memutuskan untukmelemparkan bola pada center tim Antaraksa tersebut.


Bertaruh.


Eva tahu pasti, center tim Saktiwara menjaganya ketat tepat di belakangnya. Dia juga tahu,


ketika center tim Saktiwara mengikutinya melompat, ia mampu melompat lebih tinggi


dari Eva. Namun ia yakin, dia bisa mendapatkan bolanya.


Eva tidak melompat ke atas, gadis itu medorong tubuhnya ke depan.


Ia tahu pasti bila ia menunggu bola sampai di atasnya, selisih tinggi antara dia


dan Jenni, center tim Saktiwara akan menyulitkannya mendapatkan bola, jadi ia


memutuskan untuk melompat menghampiri bola sebelum bola itu sampai di titik ia berdiri.


Berhasil. Eva menangkap bolanya. Dia mendarat dengan bertumpuan


pada lutut kanannya. Gadis itu merasa nyeri di lutut kanannya, namun dia tidak


peduli.


“Eva, oper padakku!” Teriak Adiba yang berlari mendekat.


Eva segera mengoper bola, mengacuhkan lututnya yang terasa sakit.


Adiba menangkap bola dengan sempurna, gadis itu berlari ke sisi


lapangan yang lenggang dengan cepat. Lalu secepat kilat, tangannya mengoper


bola pada Latte. Nina segera berlari menghadang Latte. Tangan panjangnya


terentang, memberikan pertahanan terbaiknya.


Latte menekuk lututnya, bersiap melompat. Nina yang melihat gerak


tubuh lawannya itu dengan cekatan merentangkan tangan ke atas, mencoba


menghalangi Latte. Tapi bukannya melompat, Latte malah menyerunduk, menerobos


sisi kirinya. Gadis itu lepas dari jeratan Nina.


Latte berlari ke sisi pinggir lapangan, nyaris menyentuh garis


batas. Di area itu kosong dari penjagaan, tapi jaraknya dari ring terlalu jauh dan


sudutnya tidak baik untuk melakukan shoot. Nina dan beberapa pemain Saktiwara


berlari mengejar Latte.


Adiba dan kawan-kawan mencoba menghalangi mereka mendekat pada


Latte. Latte menelan ludah, berdoa semoga dari sudut ini, walau sulit bola bisa


memasuki ring.


Latte melompat, siap pada posisi shooting. Bola dilempar. Benda bulat itu


menabrak papan di atas ring. Lalu berputar beberapa kali di lingakaran ring.


Rega, Galuh dan beberapa pemain lain menahan nafas.


“Masuk, masuk. Aku


mohon masuk.” Adiba bergumam pelan.


Setelah berputar ketiga kalinya, bola memasuki ring. Three Point.


Latte menoleh pada Rega yang tersenyum bangga. Gadis itu nyengir


lebar.


Pertandingan dilanjutkan. Tidak mau kalah, Nina menerobos masuk


pertahanan tim Renjana. Nina melempar bola, berniat mencetak three point tetapi


gagal, bola menabrak lingkaran ring dan memantul. Center Saktiwara yang


berbadan tinggi melakukan rebound dan langsung memasukan bola ke ring. Skor


bertambah dua untuk tim Saktiwara.


Selama sisa pertandingan skor terus kejar-kejaran. Di menit


terakhir skor menunujukan 31-33. SMA Saktiwara unggul.


 Latte kembali berhadapan


dengan Nina. Latte mendribble bola.  Ia tidak bisa banyak bergerak.


Pertahanan Nina lebih kuat kali ini.


Charlatte. Kali ini tidak akan aku biarkan.” Ucap Nina.


Latte menggigit bibir, ia tidak bisa melakukan shoot dari jarak


segini terlalu jauh, lagipula Nina pasti akan dengan mudah mem-blocknya.


Latte melihat dari ekor matanya Keysha berhasil lolos dari


penjagaan dan berlari mendekat. Latte balas menatap Nina, menyeringai.


“Aku juga tidak berniat lolos kali ini.” Beritahu Latte yang


membuat Nina mengernyit bingung.


Latte dengan cepat melempar bola ke samping kirinya. Lemparannya


kuat dan cepat, memantul sekali sebelum berhasil di tangkap Keysha.


Nina melotot. Ia segera mengejar Keysha yang berlari menuju ring


Saktiwara yang hanya di jaga center mereka. Nina menegok ke belakang, menyadari


kalau Latte tidak mengikutinya, gadis itu berlari ke sisi kanan lapangan.


Sedetik kemudian Nina baru menyadari apa yang akan terjadi, gadis itu berbalik,


berlari mengejar Latte.


Jenni, Center Saktiwara menghadang Keysha.


Adiba melirik jam di atas papan skor yang menunjukan sisa waktu


pertandingan, 51 detik tersisa. Gadis itu menatap Keysha cemas.


“Tidak ada banyak waktu lagi Keysha, shoot!” Teriak Adiba.


Jenni merantangkan tangannya, menjaga Keysha cepat. “Aku tidak


akan membiarkanmu melakukan shoot.”


Keysha menatap gadis jangkung di hadapannya.  Gadis berambut merah itu menyeringai, “Kamu


tahu kenapa aku ditaruh di posisi point guard?”


Jenni mengernyit, menatap Keysha bingung.


“Itu karena aku tidak pandai melakukan shoot.” Beritahu Keysha


yang membuat Jenni tersenyum senang.


“Kalau begitu kau dalam masalah saat ini.”


Seringai belum hilang dari dari bibir Keysha, “tidak juga.”


Ia mendribble bola sekali dengan kuat, kemudian memukul bola dari


sisi kiri, membuat bola itu melesat cepat ke sisi kanan lapangan. Operan Keysha


terlalu kuat dan cepat untuk dapat ditangkap tim Saktiwara. Tapi Latte dapat


menangkapnya, Ia sudah berlatih selama dua minggu penuh untuk bisa menangkap


operan super Keysha.


Jenni terbelalak, menatap Keysha tidak percaya.


“Aku ditaru di posisi point guard, karena aku jago dalam mengoper


bola.” Beritahu Keysha dengan seringai yang bertambah lebar di bibirnya.


Nina berlari lebih cepat, tangannya direntangkan, mencoba


mem-block bola dari belakang. Tapi Ia tetap saja terlambat. Latte telah siap


dalam posisinya. Bola terlepas dari tangannya, melayang  mulus memasuki ring. Three point.


Wasib kemudian meniup peluit dua kali. Tanda pertandingan selesai.


SMA Antariksa unggul 34-33.


Nina menatap Latte yang terengah-engah. Ia tersenyum dan menjabat


tangan gadis itu.


“Good game.“ Ucapnya. “Kabar itu benar, kamu memang hebat.“


Latte balas tersenyum, “Kamu juga.”


“Sampai bertemu di kejuaraan BCL nanti, aku harap kita bisa


berhadapan lagi. Saat itu aku tidak akan kalah.”


Latte mengangguk, “Aku juga.”


Nina mengangguk sekali sebelum meninggalkan Latte. Latte berjalan


ke pinggir lapangan, dia terduduk bersama anggota timnya yang lain. Kelelahan.


Tapi wajah mereka semua terlihat bahagia. Rega dengan sigap memberikan handuk


dan minum untuk para pemain.


Galuh bertepuk tangan, memuji permainan mereka. “Tapi, jangan


berpuas diri. Ini baru latihan, bukan pertandingan sesungguhnya. Kita tidak pernah


tahu akan sekuat apa lawan kita nanti.” Ucap Galuh. “Kalian harus latihan lebih


keras lagi dan meningkatkan kemampuan lagi dan lagi.”


Tim Renjana mengangguk serempak. Merasa bersemangat.


Rega menatap Latte yang tertawa bersama Adiba. Merasa ada yang


menatapnya, Latte menoleh, membuat Rega seketika salah tingkah.


Gadis itu tersenyum, bergumam tanpa suara. “Terima kasih.”


Rega mengangguk, balas tersenyum. Hari


ini hari yang luar biasa.