
Pertandingan berlangsung sengit, masing-masing tim bermain lebih
agresif. Pertahanan masing-masing tim sangat kuat, tidak membiarkan lawan
mencetak angka. Selama 5 menit pertandingan berlangsung belum ada penambahan
skor untuk kedua tim.
Di menit ke tujuh Abida berhasil mengoper bola pada Latte. Latte
bersiap menangkap bola, namun tanpa disadari, Nina berlari menghadang. Tangan
panjang Nina terulur, mencoba menyentuh bola, berhasil.
Bola berbelok, menggelinding melewati batas lapangan.
Adiba menggeram kesal.
Detik berikutnya, Keysha bersiap melempar bola dari pinggir lapangan. Matanya
menatap sekeliling lapangan dengan cermat, semua kawannya dijaga ketat. Ia
melihat Eva yang berdiri tidak jauh darinya, namun Eva dijaga oleh center tim
saktiwara yang lebih tinggi dari Eva.
“Oper padaku, aku bisa!” Keysha membaca gerakan bibir Eva. Gadis
berambut merah bimbang, tidak yakin apakah Eva benar-benar bisa menangkap bola.
"Percaya padaku!" Sekali lagi Kesyha membaca gerakan bibir Eva.
Gadis itu menelan ludah dan memutuskan untukmelemparkan bola pada center tim Antaraksa tersebut.
Bertaruh.
Eva tahu pasti, center tim Saktiwara menjaganya ketat tepat di belakangnya. Dia juga tahu,
ketika center tim Saktiwara mengikutinya melompat, ia mampu melompat lebih tinggi
dari Eva. Namun ia yakin, dia bisa mendapatkan bolanya.
Eva tidak melompat ke atas, gadis itu medorong tubuhnya ke depan.
Ia tahu pasti bila ia menunggu bola sampai di atasnya, selisih tinggi antara dia
dan Jenni, center tim Saktiwara akan menyulitkannya mendapatkan bola, jadi ia
memutuskan untuk melompat menghampiri bola sebelum bola itu sampai di titik ia berdiri.
Berhasil. Eva menangkap bolanya. Dia mendarat dengan bertumpuan
pada lutut kanannya. Gadis itu merasa nyeri di lutut kanannya, namun dia tidak
peduli.
“Eva, oper padakku!” Teriak Adiba yang berlari mendekat.
Eva segera mengoper bola, mengacuhkan lututnya yang terasa sakit.
Adiba menangkap bola dengan sempurna, gadis itu berlari ke sisi
lapangan yang lenggang dengan cepat. Lalu secepat kilat, tangannya mengoper
bola pada Latte. Nina segera berlari menghadang Latte. Tangan panjangnya
terentang, memberikan pertahanan terbaiknya.
Latte menekuk lututnya, bersiap melompat. Nina yang melihat gerak
tubuh lawannya itu dengan cekatan merentangkan tangan ke atas, mencoba
menghalangi Latte. Tapi bukannya melompat, Latte malah menyerunduk, menerobos
sisi kirinya. Gadis itu lepas dari jeratan Nina.
Latte berlari ke sisi pinggir lapangan, nyaris menyentuh garis
batas. Di area itu kosong dari penjagaan, tapi jaraknya dari ring terlalu jauh dan
sudutnya tidak baik untuk melakukan shoot. Nina dan beberapa pemain Saktiwara
berlari mengejar Latte.
Adiba dan kawan-kawan mencoba menghalangi mereka mendekat pada
Latte. Latte menelan ludah, berdoa semoga dari sudut ini, walau sulit bola bisa
memasuki ring.
Latte melompat, siap pada posisi shooting. Bola dilempar. Benda bulat itu
menabrak papan di atas ring. Lalu berputar beberapa kali di lingakaran ring.
Rega, Galuh dan beberapa pemain lain menahan nafas.
“Masuk, masuk. Aku
mohon masuk.” Adiba bergumam pelan.
Setelah berputar ketiga kalinya, bola memasuki ring. Three Point.
Latte menoleh pada Rega yang tersenyum bangga. Gadis itu nyengir
lebar.
Pertandingan dilanjutkan. Tidak mau kalah, Nina menerobos masuk
pertahanan tim Renjana. Nina melempar bola, berniat mencetak three point tetapi
gagal, bola menabrak lingkaran ring dan memantul. Center Saktiwara yang
berbadan tinggi melakukan rebound dan langsung memasukan bola ke ring. Skor
bertambah dua untuk tim Saktiwara.
Selama sisa pertandingan skor terus kejar-kejaran. Di menit
terakhir skor menunujukan 31-33. SMA Saktiwara unggul.
Latte kembali berhadapan
dengan Nina. Latte mendribble bola. Ia tidak bisa banyak bergerak.
Pertahanan Nina lebih kuat kali ini.
Charlatte. Kali ini tidak akan aku biarkan.” Ucap Nina.
Latte menggigit bibir, ia tidak bisa melakukan shoot dari jarak
segini terlalu jauh, lagipula Nina pasti akan dengan mudah mem-blocknya.
Latte melihat dari ekor matanya Keysha berhasil lolos dari
penjagaan dan berlari mendekat. Latte balas menatap Nina, menyeringai.
“Aku juga tidak berniat lolos kali ini.” Beritahu Latte yang
membuat Nina mengernyit bingung.
Latte dengan cepat melempar bola ke samping kirinya. Lemparannya
kuat dan cepat, memantul sekali sebelum berhasil di tangkap Keysha.
Nina melotot. Ia segera mengejar Keysha yang berlari menuju ring
Saktiwara yang hanya di jaga center mereka. Nina menegok ke belakang, menyadari
kalau Latte tidak mengikutinya, gadis itu berlari ke sisi kanan lapangan.
Sedetik kemudian Nina baru menyadari apa yang akan terjadi, gadis itu berbalik,
berlari mengejar Latte.
Jenni, Center Saktiwara menghadang Keysha.
Adiba melirik jam di atas papan skor yang menunjukan sisa waktu
pertandingan, 51 detik tersisa. Gadis itu menatap Keysha cemas.
“Tidak ada banyak waktu lagi Keysha, shoot!” Teriak Adiba.
Jenni merantangkan tangannya, menjaga Keysha cepat. “Aku tidak
akan membiarkanmu melakukan shoot.”
Keysha menatap gadis jangkung di hadapannya. Gadis berambut merah itu menyeringai, “Kamu
tahu kenapa aku ditaruh di posisi point guard?”
Jenni mengernyit, menatap Keysha bingung.
“Itu karena aku tidak pandai melakukan shoot.” Beritahu Keysha
yang membuat Jenni tersenyum senang.
“Kalau begitu kau dalam masalah saat ini.”
Seringai belum hilang dari dari bibir Keysha, “tidak juga.”
Ia mendribble bola sekali dengan kuat, kemudian memukul bola dari
sisi kiri, membuat bola itu melesat cepat ke sisi kanan lapangan. Operan Keysha
terlalu kuat dan cepat untuk dapat ditangkap tim Saktiwara. Tapi Latte dapat
menangkapnya, Ia sudah berlatih selama dua minggu penuh untuk bisa menangkap
operan super Keysha.
Jenni terbelalak, menatap Keysha tidak percaya.
“Aku ditaru di posisi point guard, karena aku jago dalam mengoper
bola.” Beritahu Keysha dengan seringai yang bertambah lebar di bibirnya.
Nina berlari lebih cepat, tangannya direntangkan, mencoba
mem-block bola dari belakang. Tapi Ia tetap saja terlambat. Latte telah siap
dalam posisinya. Bola terlepas dari tangannya, melayang mulus memasuki ring. Three point.
Wasib kemudian meniup peluit dua kali. Tanda pertandingan selesai.
SMA Antariksa unggul 34-33.
Nina menatap Latte yang terengah-engah. Ia tersenyum dan menjabat
tangan gadis itu.
“Good game.“ Ucapnya. “Kabar itu benar, kamu memang hebat.“
Latte balas tersenyum, “Kamu juga.”
“Sampai bertemu di kejuaraan BCL nanti, aku harap kita bisa
berhadapan lagi. Saat itu aku tidak akan kalah.”
Latte mengangguk, “Aku juga.”
Nina mengangguk sekali sebelum meninggalkan Latte. Latte berjalan
ke pinggir lapangan, dia terduduk bersama anggota timnya yang lain. Kelelahan.
Tapi wajah mereka semua terlihat bahagia. Rega dengan sigap memberikan handuk
dan minum untuk para pemain.
Galuh bertepuk tangan, memuji permainan mereka. “Tapi, jangan
berpuas diri. Ini baru latihan, bukan pertandingan sesungguhnya. Kita tidak pernah
tahu akan sekuat apa lawan kita nanti.” Ucap Galuh. “Kalian harus latihan lebih
keras lagi dan meningkatkan kemampuan lagi dan lagi.”
Tim Renjana mengangguk serempak. Merasa bersemangat.
Rega menatap Latte yang tertawa bersama Adiba. Merasa ada yang
menatapnya, Latte menoleh, membuat Rega seketika salah tingkah.
Gadis itu tersenyum, bergumam tanpa suara. “Terima kasih.”
Rega mengangguk, balas tersenyum. Hari
ini hari yang luar biasa.