ELEVEN

ELEVEN
Twelve



“Latte bangun, sudah sampai.” Rega mengguncang pelan tubuh Latte


ketika bis merapat di halte yang mereka tuju. Halte ini berada beberapa meter


dari rumah Latte.


Gadis itu menggeliat sekali. Mengangkat kepalanya dari bahu Rega


dan mengucek matanya.


Matanya membelalak ketika melihat Rega, terkejut. “Apa aku tidur


bersandar padamu?” Tanyanya malu-malu.


Rega tersenyum tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.


Wajah Latte bersemu merah, entah karena rasa malu atau senyuman


pemuda itu. Ia buru-buru mengalihkan wajah keluar jendela. Latte mengenali


pemandangan di luar bis. Itu halte dekat rumahnya. “sudah sampai ya?” tanyanya.


Rega mengangguk. “Aku akan mengantarmu sampai rumah.”


“Eh? Tidak usah. Kamu harus pulang, sudah malam.” Ucap Latte.


Rega menggeleng. Pemuda itu lebih dulu turun dari bis. Keduanya


jalan beriringan menuju rumah Latte. Sepanjang perjalanan mereka membicarakan


pertandingan tadi siang hingga mereka tiba di depan toko kue Latte yang sudah


tutup.


“Terimakasih sudah mengantarku sampai rumah.” Ucap Latte. Gadis


itu tersenyum.


Rega balas tersenyum dan mengangguk. Kemudian mereka berdua diam.


Entah kenapa suasana menjadi canggung.


“Kamu ga pulang? Udah larut loh.” Ucap Latte menyadarkan Rega.


Rega mengangguk.


“Aku pulang ya.” Pamitnya. Pemuda itu berbalik kembali menuju


halte bis. Dia tidak berencana pulang dengan menaiki bis lagi. Dia akan memesan


taksi dan menunggu di halte. Rega menengok ke belakang sekali. Pemuda itu masih


dapat melihat Latte berdiri di depan rumahnya. Melambai-lambaikan tangan


kepadanya.


Gadis itu baru memasuki rumahnya ketika Rega sudah tidak lagi


terlihat. Latte langsung berpapasan dengan Wina yang masih terjaga.


Adiknya itu berdiri di dekat tangga sambil memegang botol berisi


air mineral. Berniat membawanya ke kamar.


“Teteh kok mukanya merah gitu? Sakit?” Tanya Wina


“Entahlah.” Jawab Latte. “Tapi jantung Teteh aneh.”


 Gadis itu menyentuh dadanya. Jantungnya sedang berdetak tidak karuan.


***


Minggu pagi Latte tidak datang latihan, Gadis itu sedang menjadi


koki di toko kuenya menggantikan jadwalnya Sabtu kemarin yang dipakai untuk


latihan gabungan dengan SMA Saktiwara.


“Teteh, ada temannya. Namanya Marco.” Beritahu Wina, kepala gadis


itu menyembul dari balik pintu dapur.


Latte mengangguk, membersihkan tepung dari celemeknya dan


melangkah keluar dapur.


Marco sedang duduk di salah satu meja di pinggir jendela toko. Di


atas meja terdapat sebuket bunga. Latte berjalan menghampiri dan duduk di depan


Marco.


 “Hallo, Marco.” Sapa Latte.


Tersenyum.


Marco menyerahkan sebuket bunga di atas meja kepada Latte. Gadis


itu menatapnya bingung.


“kenapa tiba-tiba?”


“Sebagai ucapan selamat telah memenangkan pertandingan


persahabatan dengan SMA Saktiwara.” Jawab pemuda itu.


Latte tertawa dan menerima buket bunga tersebut. “Ya ampun,


padahal cuma pertandingan persahabatan.”


“Kamu ada acara sore nanti?” tanya Marco.


Latte mengangguk. Rencananya sore nanti ia akan menemui Mawar dan


anak-anak lainnya untuk melatih mereka bermain basket karena Sabtu kemarin ia


tidak datang akibat ada pertnadingan persahabatan dengan SMA Saktiwara.


“Sayang sekali, padahal aku ingin jalan-jalan bersamamu.” Nada


suara dan wajah Marco dibuat sedih.


Latte tersenyum geli. “Kalau gitu, kamu mau ikut denganku nanti


sore?”


“Kemana?”


Gadis itu tersenyum. “Ada deh,


pokoknya seru .”


***


Marco menatap sekumpulan anak berpakaian rusuh yang mengerumuni


Latte. Mereka semua berbicara bersamaan membuat gaduh.


Berisik sekali, batin pemuda itu. Ia merasa risih.


Marco menarik pelan lengan latte, “Siapa mereka?” tanyanya


“Mereka anak-anak jalanan. Setiap akhir pekan aku mengajari mereka


bermain basket dan terkadang membawakan sedikit cemilan untuk mereka juga.”


Jawab Latte.


Marco menatap anak-anak kumuh di hadapannya. Pikirannya berkecamuk.


Sedari dulu Marco tidak suka anak kecil, terlebih lagi yang terlihat kotor dan


kusam seperti mereka.


Bagaimana kalau mereka membawa semacam penyakit tertentu, pikirnya.


Pemuda itu menatap Latte yang dengan riang gembira membagikan roti


kepada anak-anak jalanan tersebut.


“Kamu mau?” Gadis itu menawarkan satu bungkus roti pada Marco, pemuda


itu menggeleng.


“Yakin?” Gadis itu menaikkan sebelah alisnya. “Ini enak loh.”


Akhirmya pemuda itu mengambil roti tersebut namun tidak lekas


memakannya. Ia merasa tidak berselera makan bersama segerombolan anak-anak berbadan


kotor itu.


“Kami mau main basket sekarang, kamu mau ikut?” tanya Latte


beberapa menit kemudian. Anak-anak jalanan tersebut sudah menghabiskan setiap


roti yang di bawa Latte dan berlarian menuju lapangan


Marco menggeleng. Duduk berdekatan dengan anak-anak itu saja sudah membuatnya tidak nyaman, Ia


anak-anak tersebut.


“Yakin? Seru loh!” Latte bertanya sekali lagi.


Kali ini Marco tidak mengubah keputusannya. “Aku duduk menunggu


saja di sini.”


Latte menatapnya kecewa, tapi kemudian mengangguk. “Bilang saja


kalau kamu berubah pikiran. Kamu bisa sangat membantu.”


Setelah mengatakan itu, Latte segera berlari ke tegah lapangan.


Bergabung dengan sembilan anak jalanan


yang sudah siap bermain basket.


***


Minggu siang Rega masih berada di dalam gymnasium, menemani tim


Renjana melakukan latihan seperti biasa. Hari ini Latte tidak datang latihan,


dan Rega tahu alasannya. Dia sudah memberitahu Galuh alasan Latte tidak bisa


latihan hari ini, atau setiap hari sabtu.


“Kamu sudah dapat jadwal technical


meeting?” tanya Galuh.


Rega mengangguk, membuka tabletnya untuk memastikan tangal technical meeting untuk Basketball


Champion League tahun ini. “Tanggal 17, hari minggu .”


“Minggu depan ya?” Galuh menatap tim Renjana di lapangan.


Eva sedang latihan rebound , gadis itu


merasa skill reboundnya masih jauh tertinggal dibandingkan Jenni, Center SMA Saktiwara.


“Waktu berjalan cepat ya. Tidak terasa dua minggu lagi grand opening BCL.” Lanjut pelatih muda


itu.


Rega mengangguk. Tidak terasa sudah sebulan lebih dia menjadi


manager tim basket putri untuk mengikuti ajang kompetisi basket Nasional, Basketball


Champion League.


Pukul dua siang Rega pamit izin pulang duluan pada Galuh.


“Alasannya?” Tanya pelatih muda itu..


Rega terlihat berpikir sebentar, “Ada acara keluarga. Kakekku mau


datang sore ini.” Jawabnya.


Galuh mengangguk, mengizinkan Rega pulang lebih dulu. Pemuda itu


bergegas keluar gym dan menuju parkiran, tadi pagi Keysha membawa mobilnya ke


gymansium.


 Rega melajukan mobilnya


meninggalkan gymnasium dan SMA Antaraksa. Bergabung dengan ramainya jalan raya,


tapi rumah bukanlah tujuannya. Sejak awal dia berbohong. Kakeknya tidak datang ke


rumah. Kakeknya bahkan telah tiada sejak Rega sekolah menengah pertama.


Pemuda itu memacu mobilnya menuju lapangan basket yang tidak


terurus di pinggir kota. Tempat yang ia yakini, Latte berada bersama anak-anak


kecil, sedang bermain basket.


Rega baru tiba di sana pukul tiga lewat lima. Jalanan hari ini macet,


mungkin karena akhir pekan, kendaraan di jalan raya jadi lebih banyak dari


biasanya, terlebih lagi jarak yang harus ditempuhnya tidak dekat.


Rega keluar dari mobil. Mobilnya terparkir tepat di depan lapangan


basket, di belakang mobil sedan berwarna merah.


Dari tempatnya berdiri Rega dapat melihat Latte yang sedang


mengajari anak-anak jalanan itu cara melakukan shooting yang benar.


Rega berjalan beberapa langkah sebelum menyadari


kehadiran Marco yang sedang duduk di pinggir lapangan.Tersenyum mengamati


Latte.


Rega berbalik, berniat pulang. Namun Mawar, salah satu anak


jalanan di sana melihatnya dan menanggil namanya kencang. “Kak Rega!”


Rega kembali berbalik. Semua orang kini sedang menatapnya. Mawar


dan beberapa anak lain melambai-lambaikan tangannya. Latte memberi isyarat agar


dia mendekat.


Mau tidak mau Rega menghampiri mereka juga.


“Aku um, tadi lewat daerah sini terus melihat kalian sedang main


basket jadi sekalian saja mampir. “ Ucap Rega.


Latte menatap Rega bingung. “Bukannya seharusnya tim masih latihan


jam segini?”


“Um, ya. Aku izin duluan tadi ada urusan.”


Latte tersenyum. “Mau ikut main atau menonton?” Tanya gadis itu.


Rega melirik Marco yang duduk di pinggir lapangan, mengamati mereka. Tatapan mata Marco jelas menunjukan lelak itu tidak menyukai keberadaan Rega di sini.


Rega tidak mau duduk bersama lelaki itu. Melihat


kehadiraan Marco saja sudah membuat Rega kesal.


“Main saja.” Jawabnya.


Latte mengangguk memberikan bola pada Rega. “Kita sedang latihan shooting bergiliran.” Beritahu Latte.


“Sekarang giliranmu.”


Rega menerima bola, ia berlari beberapa langkah mendekati ring dan


melompat. Bola memasuki Ring.


“Wah hebat.” Beberapa anak-anak berdecak kagum. Mawar bertepuk


tangan riuh.


”Aku tidak tahu Kak Rega bisa main basket juga. Habis kemaren


kalah telak lawan kak Latte.” Seorang anak laki-laki berkomentar, anak-anak


yang lain mengangguk menyetujui.


Rega melotot, “siapapun pasti kalah kalau lawan kak Latte.


Dia itu kayak monster kalo lagi main basket.”


Anak-anak jalanan itu tertawa sambil meledek Latte dengan sebutan Monster


basket. Latte melototi Rega, tapi kemudian ikut tertawa juga.


“Kak Rega ini manager tim basket di sekolah kakak.Tentu dia bisa


bermain basket. Kak Rega juga jago banget bikin strategi loh. Tapi yah


dibanding Kakak sih, dia ga ada apa-apanya.”


“iyalah kak Latte mah jago banget.” Seru Mawar, yang lain


mengangguk-angguk setuju. Begitupun Rega.


“boleh aku ikut main?” tanya Marco. Seketika mereka semua menengok.


Lelaki muda itu menoleh pada Rega. Menyeringai, “Boleh kan?”


Rega balik menatap Marco sengit, “Tentu saja.”


Latte menatap kedua lelaki itu.Gadis itu tidak melihat yang aneh dari keduanya, tapi


entah kenapa suasana seketika terasa tegang.