
“Aku minta maaf.” Ucap Ellena yang berdiri di hadapan Latte. Menjaganya. Permainan sudah kembali dimulai.
“Sepertinya aku membuat temanmu cidera hingga tidak bisa ikut bermain lagi.”
Meskipun kata-kata yang diucapkan gadis jangkung itu adalah permintaan maaf namun tidak ada penyesalan di suaranya.
Latte diam tidak mengidahkan perkataan Ellena. Dia mencoba fokus pada permainan yang sedang berlangsung.
“Sayang sekali padahal dia pemain yang hebat. Perannya juga cukup besar di dalam tim. Bukan begitu?”
Latte melirik Ellena sekilas. Ia melotot. “Ternyata selain kasar, kamu juga banyak bicara ya. Kombinasi sifat
yang bagus sekali.” Cibir Latte.
Ellena tertawa kecil. Mereka berdua melihat Harwa membawa bola tetapi gadis bertubuh agak berisi itu tidak terlalu
cekatan dibandingkan Adiba. Pemain lawan segera dapat mengejar.Harwa.
Harwa berniat mengoper bola pada Latte. Beberapa kali gadis bernomor punggung 61 itu dapat meloloskan diri dari
pemain tim lawan yang menghadangnya, tapi kemudian Ellena berlari meninggalkan Latte dan dengan cekatan dapat merebut bola dari Harwa.
Ellena berlari sendiri menuju ring lawan. Harwa berusaha mengejar Ellena namun gadis itu jauh tertinggal
di belakang, tidak dapat mengimbangi kecepatan Ellena.
Latte segera mengejar Ellena, tapi kemudian gadis mungil itu dihalangi oleh dua pemain tim SMA Tanjung Nusa
sehingga ia tidak bisa melanjutkan mengejar Ellena. Gadis jangkung itu berhadapan dengan Eva dan Keysha di bawah ring. Kedua gadis tim Renjana itu merentangkan tangan mereka dan memasang kuda-kuda. Mereka bersiap memberikan pertahanan terbaik mereka agar tidak ada satu bolapun yang memasuki ring.
Ellena mengambil langkah mundur dengan cepat. Membuat kedua gadis di hadapannya menatapnya bingung. Kedua gadis itu mendekat, mengunci jarak dengannya. Tapi kemudian Ellena berlari memutari mereka dengan cepat dan melompat tepat di bawah ring. Bola masuk. Dua poin untuk tim Tanjung Nusa.
Keysha dan Eva saling pandang.Tersentak. Ia tidak tahu kalau Ellena dapat bergerak secepat itu dan dengan
putaran setajam itu. Mereka telah memiliki pemikiran kalau gadis jangkung itu tidak memiliki kecepatan yang baik.
Bukan hanya Keysha dan Eva yang terkejut. Rega yang mengamati pertandingan di pinggir lapangan pun di buat
terkejut oleh Ellena. Gadis itu bergerak lebih cepat dari yang ia perkirakan. Belum lagi anggota tim Renjana sudah nampak kehabisan stamina. Bila terus seperti ini keadaan bisa gawat. Pikirnya.
Ellena menatap kedua lawannya itu yang terlihat terkejut. Dia tersenyum angkuh.
“Tidak seperti sebagin lain timku yang sudah mulai kehabisan tenaga. Staminaku masih penuh.” Beritahunya.
“Bagaimana kau bisa tiba-tiba jadi lebih cepat seperti ini?” Tanya Keysha tidak percaya.
Ellena mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan Keysha.. “Ah, itu...” Dia menyeringai angkuh. “Mungkin
bukan aku yang jadi bertambah cepat, tapi kalian yang jadi lambat. Aku rasa kalian juga sudah mulai kehabisan stamina.”
Keysha dan Eva saling pandang. Mereka berpikir sejenak. Lalu menatap ke rekan setim mereka yang lain. Mereka dapat melihat Annisa dan Tiara yang mulai terengah-engah. Mungkin Ellena benar.
Mereka mulai kelelahan.
Di menit-menit terakhir kuarter ketiga, rasa lelah semakin mulai terasa. Latte dan Keysha jadi semakin sering
terengah-engah sehabis berlari. Gerakan mereka juga tidak segesit sebelumnya.
Namun, anehnya Ellena menjadi satu-satunya pemain yang terlihat tidak kelelahan sedikitpun.
Dia berlari menuju ring Tim SMA Antaraksa. Berhadapan satu lawan satu dengan Eva.
Eva diam tidak menimpali. Dia berkonsetrasi menjaga Ellena. Gadis jangkung itu beberapa kali mencoba lepas
dari dia, namun Eva menjaganya dengan sangat ketat.
Ellena menyeringai sebelum dia berkata, “Ah mengecewakan. Aku pikir sebagai captain kamu bisa lebih baik dari
ini.”
Eva tidak mengerti dengan perkataan Ellena. Bukankah gadis itu sekarang tidak bisa lepas dari penjagaannya. Apakah gadis itu hanya sedang memancing emosinya?
Ellena memperlihatkan kedua tangannya pada Eva. Gadis itu seketika terbelalak tidak percaya. Kemana bolanya? Bukankah barusan masih ada di tangan Ellena?
Ellena tersenyum begitu senang melihat Eva yang kebingungan. Dia menunjuk ke belakang Eva dengan kepalanya sambil masih menyeringai. Menyadari apa maksud Ellena, Eva segera berbalik. Benar saja salah satu rekan setim Ellena yang benomor punggung 34 sedang melompat tepat di bawah ring dari sisi kanan. Eva yang sedang berada di sisi lain segera berlari, namun terlambat. Bola telah memasuki Ring. Dua poin ditambahkan untuk tim SMA Tanjung Nusa.
Eva menggeram kesal. Bagaimana mungkin Ellena bisa dengan mudah mengelabuinya? Bagimana bisa gadis itu melakukan operan tanpa ia sadari? Eva benar-benar dipermainkan.
“Fokus pada bolanya, Capt!” Beritahu Latte yang berlari di sampingnya. “Bukan pada pemainnya.”
Eva menoleh pada Latte lalu tersenyum masam. Ia tersadar dengan kesalahan yang ia buat sebelumnya sehingga Ellena dapat dengan mudah mengoper bola tanpa dia sadari. Dia terlalu fokus pada Ellena. Terlalu fokus menjaga gadis itu agar tidak bisa lolos darinya. Sehingga ia kehilangan fokus pada bolanya. Mungkin sejak awal itu memang rencana Ellena, mengalihkan perhatiannya dari bola.
“Ellena, gadis itu mengerikan.” Komentar Eva. “Dia bukan hanya bermain dengan kasar dan tidak takut aturan. Dia juga sangat cerdik. Seperti rubah.”
Latte mengangguk setuju. “Semangat Capt!” Gadis berperawakan mungil itu tersenyum lebar sambil mengacungkan tinjunya ke udara, membuat Eva tersenyum geli melihatnya. “Ya kamu juga, Latte!.”
Rega menatap papan skor sementara dan waktu yang tersisa, tinggal 30 detik sebelum kuarter ketiga berakhir sementara skor pertandingan 33-31 hanya selisih tipis. Di detik-detik terakhir shooter tim SMA Tanjung Nusa, berhasilnya memasukan bola tepat sebelum peluit tanda kuarter ketiga berakhir. Skor menjadi imbang 33-33.
***
“Kerja bagus.“ Puji Galuh. “Kalian sudah bermain dengan laur biasa.”
Rega segera memberikan handuk dan minuman pada para pemain tim Renjana. Gadis-gadis itu duduk di pinggir lapangan sambil terengah-engah. Wajah mereka merah padam dan dipenuhi peluh.
“Kalian memang harus bermain dengan bersemangat tetapi perhatikan juga stamina kalian. Rega dimana lemon manis untuk mereka?”
Rega segera memberikan dua kotak bekal berisi manisan lemon yang terkenal ampuh menambah semangat dan stamina. Mereka makan bergantian. Mengoper kotak bekal dari satu pemain ke yang lainnya.
“Ellena itu sangat cerdik.” Beritahu Rega. “Dia sangat pintar memainkan emosi kalian dan mengambil keuntungan
darinya.” Rega melirik Adiba dan Eva yang tersenyum malu.
“Kalian tidak boleh terpancing. Dan dengarkan ini baik-baik. Aku punya strategi.” Rega menjelaskan dengan cepat rencananya. Ia menyelesaikan kalimat terakhirnya tepat ketika peluit berbunyi.
Para pemain bangkit lalu berkumpul membentuk lingkaran. Mereka semua saling merangkul. Galuh dan Rega bahkan ikut dalam lingkaran. Adiba yang cedera duduk di dekat mereka mencengram ujung baju basket Latte. Dia masih merasa menyesal. Dia sangat ingin kembali bermain di lapangan saat ini tapi untuk sekarang yang bisa dia lakukan hanya percaya pada timnya. Dan dia benar-benar percaya.
“Aku minta maaf soal sebelumnya karena aku tidak fokus pada bolanya dan terkecoh oleh Ellena.” Ucap Eva. “Tapi di kuarter selanjutnya aku akan tunjukan padanya kalau dia telah memilih lawan yang salah. Kita tunjukan padanya sehebat apa tim Renjana. Kita datang untuk menang! Kita pulang sebagai juara! Sebentar lagi, kita angkat bersama piala besar itu tinggi-tinggi!”
Kalimat sang kapten membangkitkan kembali semangat mereka. Mereka semua berteriak, membakar semangat serta melepas lelah dan rasa frustasi pergi. Beberapa pemain SMA Tanjung Nusa melihat ke arah meraka. Lalu setelah itu mereka melangkah masuk ke lapangan dengan jantung yang berdetak lebih cepat dan semangat yang berkobar dengan warna baru.
Rega meraih lengan Latte sebelum gadis itu kembali ke lapangan. Gadis mungil itu menoleh kepadanya. “Apa apa?”
Wajah Rega terlihat khawatir.
“Hati-hati ya. Aku tidak ingin kamu terluka.”
Latte tersenyum, mengangguk mantap.
Rega ikut tersenyum lalu melepaskan gadis itu kembali ke lapangan. Kuarter terakhir, lima belas menit penentuan siapa yang menang menjadi juara Basketball Champion League 2015 di tentukan mulai detik ini.