
Setelah beberapa kali melihat latihan tim basket putri SMAnya itu, Rega tahu tim ini hebat. Setiap pemainnya bermain amat baik, berbakat. Tetapi Latte, dia lebih dari hanya sekedar hebat. Gadis itu selalu tampil menonjol di
lapangan meskipun tubuhnya paling kecil. Seperti sore ini.
Kamis sore ini mereka melakukan latihan seperti biasa. Tim dibagi menjadi dua, tim biru melawan tim putih. Tim biru dipimpin oleh Naomi sedangkan Eva menjadi kapten tim putih. 45 menit pertandingan berlangsung sengit.
“Latte!” Adiba berteriak, bola dioper cepat kepada Latte ketika Naomi yang menjaganya lengah. Naomi segera tersadar, ia merentangkan tangan. Ujung jarinya menyentuh bola, membuat bola itu berputar tidak stabil.
Bola itu menyentuh lantai sebelum sampai pada Latte, lalu memantul tinggi. Latte melompat. Menangkap bola yang memantul itu dengan sempurna.
“NISA, HANA! JAGA LATTE, JANGAN BIARKAN IA MELAKUKAN SHOOT!” Naomi, kapten tim biru berteriak. Hana dan Annisa yang berada paling dekat dengan Latte berlari mendekat, tangan terulur mencoba menghambat gadis itu melalukan shoot tetapi mereka terlambat, Latte hanya membutuhkan tidak lebih dari lima detik untuk memasang posisi shooting. Ia melompat, punggungnya ia dorong ke belakang, posisi badannya menyerupai garis diagonal sempurna di udara.
“Perfect” Galuh berkomentar, Rega menoleh, mendapati pelatihnya itu mengepalkan tangannya di depan dada, wajahnya berseri-seri. Rega kembali memperhatikan lapangan.
Bola melesat mulus dari tangan Latte. Annisa dan Hanna menatap bola yang melayang di atas kepala mereka pasrah. Naomi mengumpat. Mereka sudah tahu hasilnya.
Galuh membunyikan peluitnya ketika bola dengan mulus memasuki ring. 3 poin ditambahkan untuk tim putih.
15 menit kemudian Galuh meniup peluitnya dia kali, kuarter empat berakhir. Tim putih ungul 47-36. Latte menyumbangkan 31 point sendiri untuk timnya. 7 kali melakukan tembakan three point.
Semua pemain berjalan mendekat ke pinggir lapangan. Duduk mengitari Galuh, mereka terengah-engah. Keringat membasahi wajah dan seragam basket mereka. Rega dengan tangkas memberikan minum dan handuk.
“Good game. Tepuk tangan untuk kalian semua,” Galuh memulai evaluasi. Senyuman tidak luput dari wajahnya. Rega menyadari bahwa Galuh adalah tipikal pelatih yang lembut tapi tegas.
Mereka semua bertepuk tangan. Galuh melanjutkan evaluasi, beberapa kali memuji permainan beberapa pemain yang menurutnya sudah sangat baik dan mengoreksi yang masih kurang. “Eva reboundmu sudah lebih baik hari ini, pertahankan!, tapi kalau bisa ditingkatkan”
“Naomi, kendalikan emosimu. Ingat di dalam lapangan hanya hati yang boleh panas, kepala harus tetap dingin.” Naomi mengangguk, Galuh melanjutkan. “dan Latte...” Galuh bertepuk tangan, ia tersenyum lebar.
“Kamu bermain dengan luar biasa, pertahankan” Latte tersenyum dan mengangguk sekali. Wajahnya masih merah akibat kelelahan. “Good game hari ini, tapi jangan berpuas diri terlebih dulu, terus tingkatkan kemampuan, kita tidak pernah tahu seberapa hebat lawan yang akan kita hadapi nanti. Jadi persiapkan semuanya dengan baik.” Galuh menutup evaluasi dan mempersilahkan semua pulang.
“Kerja bagus hari ini Rega” Galuh menepuk bahu Rega sebelum melangkah keluar lapangan. Rega mengangguk. Ia memperhatikan seisi gym sekali lagi, memastikan semuanya sudah rapi seperti sedia kala sebelum mereka gunakan untuk latihan. Ia menatap lapangan basket sejenak. Ia baru menyadari, dia mulai merindukan bermain basket lagi.
“Latte tidak datang lagi?” Tanya Galuh saat briefing sebelum latihan. Hari ini sabtu pagi, Renjana, nama tim
mereka yang baru di proklamirkan oleh Galuh barusan melakukan latihan seperti biasa.
“Hari ini hari sabtu.” Sahut Keysha, gadis berambut merah yang seminggu lalu menggoda Rega dengan pertanyaan apakah dia masih jomblo atau tidak.
Galuh mengangguk-angguk, “Hari sabtu, hari tanpa Latte” gumamnya.
“Apa maksudnya, hari sabtu hati tanpa Latte?” tanya Rega pada Galuh ketika seluruh pemain telah memasuki lapangan, melakukan pemanasan.
“Setiap Sabtu Latte tidak pernah datang latihan.”
“Kenapa?” tanya Rega.
“Dia bilang sih, harus membantu ibunya di toko kue.”
Tapi esoknya Latte juga tidak terlihat. Tidak ada yang tahu kemana gadis itu. Setidaknya begitu, sampai telepon genggam Galuh berdering. Wajahnya seketika cerah melihat nama yang tertera di layar tipis smarthphonenya.
Pelatih muda itu menekan tombol dial, dan meletakan smartphonenya di telinga, “Halo Latte, kamu dimana? Kenapa belum datang latihan juga?”
Rega memperhatikan Galuh. Entah kenapa ia penasaran juga dimana Latte saat ini.
“Apa?!” Galuh berseru lantang, membuat beberapa pemain yang berada di dekatnya menoleh. Wajahnya panik.
“Kamu dimana sekarang?”, Galuh menepuk bahu Rega, ia bergumam tanpa suara menyuruhnya mencatat. “Klinik Mawar, jalan Sukma Jaya nomor 37, seberang pom bensin ”.
Rega mencatat alamat tersebut. Keningnya berkerut, ia bertanya-tanya kenapa Latte memberikan alamat sebuah klinik.
“Iya iya, kamu tunggu di situ sebentar lagi Rega kesana”
Rega menatap Galuh seketika, menuntut penjelasan. Tatapannya tajam, tanda ia tidak setuju harus dilibatkan dalam apapun yang tengah terjadi pada Latte. Ia tidak benar-benar peduli pada gadis itu, ia hanya penasaran.
“Latte kecelakaan. Sekarang ia ada di klinik Mawar.” Beritahu Galuh, “Tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi. Latte tidak bilang. Ia hanya menyuruhmu cepat kesana, dia tidak bawa uang untuk bayar biaya pengobatannya”
“Kenapa harus aku?”
“Tentu saja harus kamu, kamu kan manager tim ini.” Galuh tersenyum, menepuk-nepuk lengan Rega pelan. Wajahnya masih terlihat khawatir.
“Kamu bawa mobil kan?”
Rega mengangguk.
“Yasudah, cepat berangkat.” Perintah Galuh setelah menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Rega masih ingin protes, tetapi diurungkannya melihat wajah khawatir Galuh. Ia mengangguk sekali lagi.
“Semoga gadis itu baik-baik saja” gumam pelatih itu.
Klinik itu ada dipinggir kota, cukup jauh dari SMA Antaraksa. Klinik itu berupa rumah berukuran sedang dengan cat berwarna putih. Di bagian atas pintu tertera nama Klinik dan dokter yang jaga.
Rega memasuki klinik yang lenggang. Matanya segera menangkap sosok gadis bertubuh mungil yang duduk di kursi tunggu. Ia segera melangkah menuju meja administrasi.
“Aku wali gadis yang di sana itu, Charletta. Berapa biaya pengobatannya?” Tanya Rega, ia mengeluarkan dompetnya.
Suster yang jaga di meja resepsionis itu tersenyum ramah. “Seluruh biaya penggobatannya sudah dibayar barusan.”
Rega menatap suster itu tidak mengerti.
“Barusan ada seorang ibu dengan anaknya yang membayar biaya pengobatan nona Charletta. Ibu itu bilang ia berhutang budi pada nona Charetta”.
Rega mengagguk, ia masih bingung apa yang terjadi. Tetapi bertanya pada suster itu pun tidak akan memeberinya jawaban.
Rega berjalan menghampiri gadis mungil yang tengah duduk di kursi tunggu, wajahnya mendongkak ke atas. Menonton siaran televisi yang digantung tinggi di dinding klinik.
Latte menatapnya. Gadis itu tersenyum lebar membuat matanya menyipit, tapi seketika gadis itu menyerengit kesakitan.
Rega memperhatikan penampilan gadis itu. Bajunya kotor, lengan baju dan celana bagian lututnya robek. Dagu dan sikunya diperban dan ada plaster luka di keningnya.
“Aku lapar”
Rega memelototi gadis itu. Ia tidak habis pikir. Dengan semua yang terjadi ini, hal pertama yang dikatakan gadis itu adalah bahwa ia lapar?
Rega menghela nafas. Ia menggangguk.
***
Rega diam memperhatikan Latte yang duduk di hadapannya. Rega menunggu gadis itu selesai menyantap makanannya. Ketika akhirnya gadis itu selesai, Rega baru buka suara.
“Apa yang terjadi?”
Latte menyeruput coffe lattenya hingga habis tidak bersisa, ”Ceritanya panjang” jawabnya acuh tak acuh.
Rega menatap gadis itu, ia menunggu.
Latte menoleh, menatap pemuda yang duduk di hadapannya. Gelas berisi espresso pesanan Rega sudah habis setengah isinya.
“Jadi begini,” ia mulai bercerita, “Tadi aku hendak berangkat latihan. Lalu di jalan menuju halte bis, ada seorang anak kecil. Perempuan. Dia menatap ke atas pohon sambil memanggil-manggil nama, ‘meggie, meggie” Latte
menirukan suara anak kecil ketika menyebutkan nama Meggie, mencoba melucu.
Tapi Rega tidak tertawa, merespon pun tidak.
Latte menatap Rega sebal, “Apa kau mendengarkan?” tanyanya menghardik.
“Tentu saja, lanjutkan”
Gadis itu berdeham sekali, lalu kembali melanjutkan bercerita.
“Ternyata kucingnya terjebak di atas pohon, tidak bisa turun. Gadis itu hampir menangis, aku jadi merasa kasihan. Jadi aku mencoba membantunya dengan memanjat pohon dan menolong kucingnya. Aku berhasil memanjat dan mendapatkan Meggie, tetapi ketika aku mau turun, dahan yang menjadi pijakkanku tiba-tiba patah dan aku terjatuh. Untungnya aku berhasil melindungi Meggie jadi dia tidak terluka ketika aku terjatuh. Hebat, kan?” Latte tersenyum bangga, ibu jarinya terangkat.
Tapi Rega tidak tersenyum, ia malah memelototi gadis itu.
“kau memanjat pohon untuk menyelamatkan kucing? Yang benar saja!”
Rega tidak habis pikir. Ia menghela nafas, “apa kamu tahu, kalau apa yang kamu
lakukan itu berbahaya?”
Latte mengangguk.
“Kakimu bisa saja cidera, keseleo atau bahkan lebih parah lagi, patah! Kalau sudah begitu kamu tidak akan bisa latihan, atau ikut pertandingan!”
“Sekarang kamu terdengar seperti bundaku.” Gadis itu tersenyum geli. “Tapi kalau kamu lihat wajah gadis
kecil itu, kamu juga akan melakukan apa yang aku lakukan. Pasti”
“Tidak” jawab Rega cepat.
“Berarti kamu jaha-“
“Aku akan meminjam tangga bukannya malah memanjat pohon. Aku lebih suka menggunakan otak dari pada otot.” Rega bangun, berjalan ke kasir, membayar bil mereka lalu segera melangkah keluar. Tidak memperdulikan Latte yang menatapnya sebal.
“Kenapa wajahmu itu?” Tanya Galuh yang melihat Rega yang mengerutkan kening sambil menatap Latte.
Gadis itu tengah mendribble bola dipinggir lapangan. Latte menolak diantara pulang, ia ngotot ingin ikut latihan tapi melihat siku kirinya yang diperban, Galuh tidak mengizinkan Latte ikut bergabung di lapangan. Akhirnya gadis itu
hanya mendribble bola sendirian di pinggir lapangan sambil sesekali melempar bola ke dalam ring bila ring tengah
lenggang.
Rega menatap Galuh sekilas, lalu menunjuk ke arah Latte dengan kepalanya. “Aku tidak habis pikir, aku kira
dia kecelakaan kenapa, keserempet mobil atau tertabrak motor. Tapi nyatanya,jatuh dari pohon karena ingin menyelamatkan kucing? Dia pikir dia usia berapa? 10 tahun?”
Galuh tertawa, merasa terlibur mendengar Rega mengomel, biasanya pemuda itu sangat diam dan tenang. Bicara
pun hanya seperlunya. Tapi Latte, gadis itu mampu membuat pemuda dingin itu mengomel seperti ini?
“Latte memang seperti itu, semakin lama kau mengenalnya kamu akan semakin dibuat terkejut olehnya. Dia itu spesies langka, terancam punah” Beritahu Galuh.
“Nah selesai latihan nanti, kamu yang antar Latte pulang ya.”
Rega hendak protes, tapi segera dipotong Galuh, “Kasian loh, begitu juga dia itu korban kecelakaan” Pelatih muda itu tertawa lalu berjalan ke pinggir lapangan. Ia menyuruh semua pemain berkumpul untuk evaluasi latihan hari ini.
***
“Dimana alamat rumahmu?” Tanye Rega ketika mobilnya baru keluar parkiran gymnasium.
Latte menoleh, “Jalan Sukma Jaya nomor 47” beritahunya. Dia diam sebentar mematap Rega, menunggu respon dari pemuda itu.
“Apa?” tanya Rega yang merasa risih ditatap gadis itu.
Latte tersenyum, “Biasanya orang akan bilang rumahku jauh”
“Memang jauh”
“Maksudku kamu tidak keberatan?”
Rega mengangguk.
“Ternyata kamu punya sisi baik juga ya.” Candanya yang hanya ditanggapi dengan lirikan sekilas Rega tetapi gadis itu tetap tersenyum.
Mereka berdua diam. Hening.
“Boleh aku nyalakan radionya?” tanyanya. “Aku kurang suka berada di situasi cangung dan sunyi seperti sekarang.”
Rega menatap Latte sekilas, apa gadis ini memang selalu bicara terang-terangan seperti itu? Tapi dia mengangguk juga. Jujur saja Rega tidak keberatan dengan suasana canggung ini. Dia memang lebih suka suasana yang tenang, tapi rupanya tidak dengan gadis itu.
Radio menyala, mengeluarkan lantunan lagu Sugar dari Maroon 5.
Gadis itu bernyayi pelan, mengikuti lagu. “Rega, kamu tahu Maroon 5 kan? Aku suka sekali band ini” beritahu gadis itu.
Rega melirik gadis itu. Latte masih bernyayi. Kepala mengangguk-angguk pelan mengikuti irama musik.
Tanpa menunggu jawaban dari Rega, yang memang tidak ada, gadis itu melanjutkan. “Aku paling suka video clip lagu ini, Sugar. Kamu sudah nonton? Di video clip itu Maroon 5 tiba-tiba datang ke pernikahan orang, mengejutkan semua orang yang hadir bahkan kedua pengantin. Yang lucu itu, ketika maroon 5 datang, suasana pernikahan yang khidmat berubah jadi ramai seperti konser band, bahkan ada mempelai wanita yang langsung meninggalkan pasangannya dan berlari ke depan panggung. Menari heboh disana tidak peduli masih mengenakan gaun pengantin” Latte tertawa.
“Kalau itu pernikahanku, aku rasa aku akan melakukan hal yang sama.” Gadis itu menoleh pada Rega, tersenyum. “Ah, aku tidak bisa bayangkan berapa harga untuk memanggil Maroon 5 sebagai bintang tamu di pernikahan, pasti
mahal sekali”
“Sepertinya aku sedang melakukan monolog sekarang” ucap gadis itu disertai hembusan nafas panjang.
Rega mendengus geli mendengar kalimat terakhir gadis itu yang tiba-tiba.
Latte menatap Rega, wajahnya terlihat senang. “Wah ternyata tuan manager bisa tertawa juga”
Rega mendengus, “Aku tidak tertawa”
“Kalau bukan tertawa, apa itu namanya barusan?” Latte menaikan sebelah alisnya.
“Mendegus geli”
Latte tertawa mendengarnya, “Lihat, Bahkan tuan manager bisa melucu!”
Rega menatap Latte tajam, tetapi gadis itu malah menatapnya balik sambil menaik turunkan alisnya.
“Aku tidak melucu”
“Tapi tadi lucu, aku benar-benar tidak sangka tuan manager bisa melucu”
“Bisa kau hentikan itu?” ucap Rega gusar.
“Apa?”
“Apapun yang kau lakukan” Jawab pemuda itu cepat.
“Aku tidak melakukan apapun”
Rega menghela nafas kesal, “Terserahlah”
Latte tertawa lagi, ia tidak tahu menggoda bahwa Rega Sadewa, seorang siswa berprestasi yang terkenal kutu buku itu bisa semenyenangkan ini.
“Apa kamu selalu sediam ini?” tanya Latte, setelah jeda sunyi selama beberapa saat. Latte menatap keluar jendela, mereka sudah sampai setengah jalan menuju rumahnya.
“Apa kau selalu seberisik ini?” Rega balik bertanya dengan nada jengkel. Rasa kesalnya belum hilang.
“Ya,” gadis itu mengangguk. “Tapi sebenarnya aku tidak suka bermonolog, aku lebih suka lawan bicaraku merespon”
Hening lagi. Lagu di radio berganti. Kali ini lagu coldplay-something just like this. Latte baru akan membuka mulutnya, ikut bernyayi mengikuti lagu ketika Rega bertanya lebih dulu.
“Jadi yang membayar biaya rumah sakitmu itu ibu dari anak itu, yang kucingnya kamu selamatkan?”
Latte menatap Rega terkejut, “Bagaimana kamu tahu?”
“Suster di meja administrasi bilang kalau biaya pengobatanmu sudah dibayar oleh ibu-ibu. Ibu itu bilang dia berhutang budi padamu”
Latte mengangguk, “Anak kecil yang kucingnya aku selamatkan, namanya Kayla. Dia imut sekali. Waktu aku jatuh, malah dia yang menangis dan memaksaku untuk pergi ke klinik. Dia sampai menarik-narik bajuku.” Latte
tersenyum, matanya terlihat mengawang, ia tengah mengingat kembali wajah gadis kecil tadi.
“Waktu aku keluar selesai diobati, Kayla sudah tidak ada di ruang tunggu. Lalu aku ingat kalau aku tidak membawa dompet hari ini, uang di sakuku hanya ada 30 ribu, aku sempat ingin menelpon ibuku tapi pasti ia akan panik
jadi aku menelpon Coach Galuh. Tapi beberapa menit kemudian Kayla datang bersama ibunya dan membayar biaya berobatnya.”
Rega mengangguk.
“Aku sudah cerita panjang lebar, kamu harusnya merespon!” ucap Latte sebal.
“Aku harus merespon apa?”
“Apapun”
“Oke”
Hening kembali.
Latte menatap Rega tajam, seolah-olah ia ingin memakan pemuda itu sekarang juga. Tapi ia lebih memilih kembali
memperhatikan pemandangan di luar jendela dan ikut bernyayi mengikuti lagu yang diputar di radio. Latte mengenali bangunan-bangunan dipinggir jalan, sebentar lagi sampai di rumahnya.
Mobil Rega berhenti di depan sebuah rumah tingkat dua, bagian depannya dirubah menjadi toko kue dengan nama Charletta’s Cake tertulis di papan bagian atas toko.
“Terimakasih sudah mengantarku, juga menjemputku tadi.” Latte tersenyum.
Rega mengangguk.
Selama beberapa detik gadis itu menatapnya, senyuman masih di bibirnya.
Rega menaikan sebelah alisnya, “Ada yang mau disampaikan lagi?”
Seperti tersadar, Latte mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menggeleng. Dia berbalik, membuka pintu lalu keluar mobil tanpa menoleh lagi.
Latte masih berdiri di sisi jalan, memperhatikan mobil Rega yang beranjak pergi.
“Dia bahkan tidak pamit.” Latte mendengus.
Setelah mobil hitam Rega tidak terlihat lagi, Latte baru memasuki rumahnya.
“Assalamualaikum, Bun.” Salam Latte. Ia segera menyalami ibunya yang tengah menonton siaran televisi.
“Waalaikumsallam,” jawab ibunya. “Baru pulang latihan?”
Latte mengangguk.
“Yasudah sana bersih-bersih lalu istirahat”
Latte mengangguk.
Latte membuka kamarnya, di dalam sudah ada Wina yang tiduran di kasurnya sambil membaca buku, ia menoleh menatap Latte. Wina adalah adik perempuannya yang berusia 14 tahun, kelas tiga SMP.
“Tadi teteh diantar siapa, Kak Marco?” tanya Wina.
Latte menatap Wina lekat-lekat, “Bagaimana kamu tahu aku pulang diantar?”
Wina menunjuk jendela kamar mereka yang tirainnya belum ditutup,“Keliatan tuh dari jendela. Mobil hitam kan? Tumben sekali Kak Marco bawa mobil.”
Latte menggeleng. “Bukan Marco.” Jawabnya singkat.
Wina menatap Latte seksama, “Cowok pasti ini mah, hayo ngaku siapa?”
“Apaan sih”
“Tuh kan muka teteh merah, dari baru masuk juga udah bersemu gitu mukanya. Hayo ngaku dianter siapa?” Wina bersikeras.
Latte memegang pipinya yang terasa hangat, apa iya wajahnya memerah?
“Teteh ih siapa?”
Latte menarik tangan Wina, membuat gadis itu bangkit berdiri.
Kemudian Latte mendorong tubuh Wina menuju pintu kamar, “Udah sana balik ke kamar kamu, anak kecil ga boleh, kepo!”
Wina protes, ia mencoba beroktak tetapi gagal. Tenaga Latte lebih besqr dari dia, rupanya. Kepala Wina menyembul dari balik pintu, “Pacarnya ya? Siapa sih? Jujur!” goda gadis SMP itu. Latte melotot.
“Adipati Dolken” Ucapnya dengan suara berbisik sebelum menutup pintu.
“TETEH IH!” Wina berseru kesal dari balik pintu.