ELEVEN

ELEVEN
Twenty Two



Pukul sembilan malam Rega dan yang lainnya baru selesai makan malam dan kembali ke kamar masing-masing. Galuh mengajak Rega minum kopi di kamarnya tetapi Rega menolak. Dia ingin membereskan barang-barang bawaannya. Ia juga belum membagikan oleh-oleh dari Singapura kepada teman-temannya. Dia berniat melakukannya esok pagi.


Sebenarnya orang tua Rega belum pulang dari Singapura, seharusnya dia pun begitu. Namun, entah kenapa Ayahnya mengizinkannya pulang lebih dulu. Ayahnya bilang kalau dia dan ibunya akan berada di Singapura lebih lama dari yang diperkiraan jadi Rega diizinkan untuk pulang lebih awal. Dia langsung menuju ibu kota dari Singapura tanpa pulang lebih dulu ke rumahnya.


Hal pertama yang Rega lakukan ketika sampai di kamarnya ialah mandi. Ia merasa tubuhnya lengket. Selesai mandi pemuda itu membereskan barang-barang bawaannya lalu berbaring di atas kasurnya. Dia menatap layar ponselnya menunjukan tanggal 13 pukul sepuluh lewat sepuluh.


Rega merasa mendengar suara ketukan yang samar-samar di pintu kamarnya, tapi dia tidak yakin. Suara itu tidak terdengar jelas lalu hilang. Mungkin dia salah dengar, pikirnya.


Ting..


Bunyi pesan masuk di ponselnya. Pesan singkat itu dari Latte.


From:


Charletta.


Sudah tidur?


Rega segera mengetik balasan.


To:


Charletta


Belum..


Balasan dari gadis itu datang dengan sangat cepat.


From:


Charletta.


Aku tidak bisa tidur.


Baru Rega berniat membalas pesan tersebut. Satu pesan lagi masuk.


From:


Charletta.


Aku di depan kamarmu.


Rega segera bangun dan melompat dari tempat tidur. Ia bergegas membuka pintu kamar hotel. Di balik pintu itu Latte tengah berdiri menatap layar ponselnya. Mata gadis itu terlihat sembab.


“Aku tidak bisa tidur. Setiap aku mencoba memejamkan mataku, aku melihat wajah laki-laki tadi di festival


makanan. Adiba tidur nyenyak sekali, Aku tidak tega membangunkannya.” Beritahu Latte. Rega menyadari tangan gadis itu kembali gemetaran.


“Mau cari udara segar sambil minum kopi?” Tanya Rega. Gadis di hadapannya mengangguk. Rega tersenyum simpul. Ia meraih jemari Latte dan menggengamnya.


“Tanganmu gemetaran.” Ucapnya seolah memberi alasan dari tindakannya. Latte mengangguk, ia tersenyum menggengam balik jemari Rega.


***


Latte bilang, dia melihat cafe di dekat hotel mereka. Rega tidak membawa mobil karena ia langsung menyusul ke ibu kota begitu sampai dari bandara. Latte juga tidak mau membangunkan Eva atau Galuh untuk meminjam mobil dan gadis itu menolak memesan taksi. Ia ingin berjalan kaki di sepanjang sisi jalan. Menikmati suasana ibu kota di malam hari. Di bawah lampu jalan, berpegangan tangan dengan Rega.


Sebenarnya berjalan di sisi jalan malam-malam begini sekilas mengingatkan Latte tengah kejadian yang alaminya


beberapa saat lalu, namun berjalan bersisian dengan Rega, saling bergandengan tangan, membuat Latte merasa aman. Nyaman.


Mereka berjalan beberapa meter, dan benar saja ada sebuah cafe di sebelah kanan jalan. Dari posisi Latte dan Rega berdiri, mereka harus menyebrang jalan.


Suasana cafe cukup ramai malam itu, terutama di lantai bawah jadi Latte memilih meja di lantai atas, di bagian


beranda sehingga Latte dapat meliat kilauan-kilauan cahaya dari lampu-lampu di kejauhan.


Latte memesan Caramellatte, dia sedang butuh sesuatu yang manis untuk menenangkannya. Rega seperti biasanya memesan Espresso.


Pesanan mereka tiba sepuluh menit kemudian. Latte segera menyesap kopinya merasakan kehangatan yang dipadukan dengan rasa manis dan pahit memanjakan lidahnya. Gadis itu menatap ke kejauhan.


“Ibu kota itu memang kota yang tidak pernah tidur ya.”


Rega mengikuti arah pandang Latte. Dia mengangguk setuju.


“Ibu kota juga, kota yang menyeramkan.” Lanjut Latte. Suara gadis itu berubah parau. Dia pasti kembali


teringat kejadian itu. “Laki-laki itu bilang aku tipenya, dan dia tidak tahan melihatku. Seolah-olah dia memberitahu kalau dia ingin melakukan sesuatu padaku. Aku takut sekali saat itu. aku pikir dia akan memperkosaku.”


Rega baru akan meraih tangan Latte untuk menenangkannya lagi ketika gadis itu beralih menatapnya. Bibirnya


tersenyum walau matanya masih terlihat sembab. “Untung saja tidak ada yang terjadi padaku berkat kamu datang Rega. Aku benar-benar berterima kasih.”


Rega mengangguk. Balas tersenyum.


“Bagaimana aku harus membalasmu?”


Tanya Latte.


“Itu saja?”


“Akan aku beritahukan kalau ada hal lain yang aku inginkan.”


Latte tertawa, “aku kira kau akan berbaik hati dan mengiyakan.”


Rega tersenyum.


“Urusan keluarga sudah selesai lebih cepat di Singapura? Makanya bisa kamu datang lebih awal?”


Rega menggeleng. “Malah selesai lebih lama. Ayah dan ibu masih di Singapura. Ayahku mengizinkan aku pulang lebih dulu.” Beritahu Rega.


Latte tersenyum simpul, menyadari Rega tidak lagi menggunakan kata ‘saya’ melainkan ‘aku’ kepadanya. Hatinya terasa hangat, mengetahui kalau dia dan Rega bisa seakrab ini.


“Urusanmu di Singapura pasti sangat mendesak ya, sampai kamu tiba-tiba harus berangkat ke sana?” Latte seperti


menyadari perkataannya, ia jadi merasa tidak enak. “Maaf, sepertinya aku terlalu ikut campur ya?” Gadis itu menunduk.


“Aku harus menghadiri grand opening cabang perusahaan milik ayahku.” Jawab Rega cepat, Lelaki itu ingin menghilangkan perasaan tidak enak yang dirasakan Latte.


“Sebenarnya juga aku tidak ingin ikut, aku merasa tidak enak pada kalian, hanya saja ayahku...” Rega dia terdiam sebentar. Seolah-olah dia sedang menimbang apakah tidak apa-apa menceritakan hal ini pada Latte. Tapi kalau itu Latte, Rega rasa dia bisa percaya.


Latte tidak berkomentar hanya mendengarkan, dia membiarkan cerita Rega mengalir begitu saja. Cerita yang


mengalir membawa pergi beban di hatinya. Kali ini Latte yang meraih tangan Rega dan mengenggamnya. Rega menoleh, tersenyum. Menggengam balik jemari kecil Latte. Perlakuan kecil gadis itu membuat dia merasa lebih baik.


“Dulu aku juga ikut klub basket sampai SMP awal semester kelas dua , tapi kemudian nilaiku turun dastis. Ayahku marah dan dia menyuruhku berhenti. Awalnya aku menolak tapi kemudian ayah mendatangi pelatihku lalu pelatih pribadi memintaku keluar. Setelah itu aku diawasi ketat oleh asisten rumah tangga yang ayah pekerjakan. Aku mengikuti banyak les tambahan, perlombaan dan begitu seterusnya sampai saat ini.”


Rega menatap cangkir espressonya yang tinggal setengah. “Dulu, aku begitu mengejar prestasi untuk mendapatkan perhatian orang tuaku, namun kemudian prestasi itu tidak lagi menjadi suatu pencapaian, itu menjadi keharusan. Sekali aku tidak berprestasi, hal itu malah merenggut apa yang aku sukai, basket.”


Latte menatap Rega sedih.  Gadis itu bergumam pelan “Jadi itu alasannya?”


“Kamu bicara sesuatu Latte, maaf aku tidak dengar dengan baik?”


Latte menggeleng, “Bukan apa-apa.”


Latte tersenyum. Ia meremas jemari Rega. Mencoba menguatkan lelaki itu. Beberapa detik kemudian gadis itu melepaskan genggamannya. Seketika Rega merasa kekosongan diantara sela-sela jarinya. Pemuda itu sebisa


mungkin tidak terlihat kecewa.


“Latte boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Rega.


Latte mengangguk. “Tanyakan saja.”


“Aku ingin dengar lebih banyak tentang Egar.”


Latte yang sedang menyeruput kopi di cangkirnya segera menghentikan gerakannya. Ia meletakan cangkirnya kemudian menatap Rega. “Egar?”


Rega mengangguk.


“Aku tidak tahu banyak tentang dia.”


Rega menatap Latte. Mencoba mencari arti lain yang tersirat di wajah gadis itu. Rega melihatnya, kilatan mata yang


sama seperti sebelumnya ketika pertama kali gadis itu menceritakan tentang anak laki-laki bernama Egar itu. Rega tahu Marco benar, tapi ia masih ingin memastikannya dari mulut Latte sendiri.  “Tapi dia cinta pertamamu?”


“Bagaimana kamu tahu?” Latte terlihat terkejut.


“Marco.” Jawab Rega. “Saat kita mengajarkan basket pada anak-anak Sabtu itu”


Latte diam sebentar sebelum menjawab. Kemudian balas menatap Rega tapat di kedua mata pemuda itu. Gadis itu mencoba mencari apa yang Rega cari dalam percakapan ini.


Rega merasa tidak enak. Mungkin ia salah menanyakan hal tersebut, Ia bertanya-tanya. “Tidak apa kalau kau tidak


ingin menjaw—“


“Ya.” Jawab Latte pada akhirnya. Memotong ucapan Rega. “Dia cinta pertamaku yang sesungguhnya. Bukan Naruto.Selamat kamu berhasil menebaknya dengan benar yey.” Latte tertawa, mencoba menjadikan percakapan ini ringan tetapi Rega tidak tertawa. Wajah pemuda itu masih terlihat serius.


“Dan kamu belum melupakannya?”


Latte diam selama beberapa saat, sementara Rega sebisa mungkin menahan perasaan aneh di hatinya. Perasaan marah, kesal, cemas dan takut menjadi satu menunggu jawaban gadis itu.


Kemudian Latte mengangguk. Mengiyakan.


Rega menatap Latte tidak mengerti. “Bagaimana bisa kamu tidak lupa padanya padahal kalian hanya kenal sebentar dan itu sudah lama sekali?”


Latte menyeruput sekali lagi kopinya sebelum menjawab. Gadis itu kemudian tersenyum manis, menatap Rega. “Waktu yang kita habiskan dengan seseorang yang berarti, waktu itu akan menjadi momen spesial yang tidak bisa kamu lupakan. Seperti ketika ayahmu mengajarkan sepeda pertama kali atau ketika kamu berkenalan dengan teman pertamamu di sekolah dasar, seperti itulah.”


Rega menatap Latte. Tidak mengatakan apapun.


“Bertemu Egar adalah momen spesial bagiku. Momen paling spesial diantara yang lain.”


Gadis dihadapannya itu memang sedang melihatnya tetapi pandangan Latte tampak mengawang jauh. Bukan di cafe ini, bukan di hadapannya. Gadis itu sedang mengenang anak laki-laki yang ia temui di lapangan basket. Anak laki-laki dengan nomor punggung sebelas. Egar.


“Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya?”