ELEVEN

ELEVEN
Twenty Five



Ellena mendribble bola sendirian menuju ring tim Renjana. Dia tidak mengindahkan teman-temannya yang memintanya mengoper bola. Ia menerjang pertahanan lawan sendiri, tidak ragu untuk bertubrukan bahu atau menggunakan satu tangannya yang tidak mendribble bola dengan kasar. Dengan tangannya yang panjang, tubuh tinggi dan permainan yang tidak takut aturan  Ellena seorang diri pun terasa sangat sakit untuk dihentikan.


Keysha dan Eva berhasil mengejar Ellena. Kedua tangan mereka terbuka lebar, menghalangi jalan Ellena untuk terus maju menuju ring.  Bahkan Eva center sekaligus kapten tim Renjana harus meninggalkan tempat berjaganya di bawah ring. Gadis paling jangkung di tim SMA Antaraksa itu harus ikut turun tangan menjaga Ellena yang berbadan lebih besar dari sebagian besar anggota tim Renjana. Berdasarkan postur tubuh, hanya Eva yang bisa mengimbangi gadis itu. Pemain yang berbadan lebih kecil dari Ellena untuk menjaga gadis itu akan sulit.


Pertahanan ganda Keysha dan Eva sangat ketat. Tidak ada celah untuk Ellena maju, kecuali dia menerobos paksa dengan menabrakan dirinya, tetapi itu akan menjadi pelanggaran yang terlihat jelas, wasit akan tahu itu.


“Kamu tidak akan bisa lewat, Ellena.”


Ucap Keysha dengan nada meremehkan. Dia sudah melatih kombinasi double defence ini dengan Eva


sebelumnya. Teknik khusus di buat untuk menahan lawan yang dengan postur tubuh besar.


Ellena menatapnya, menyeringai. “Tidak juga.” Gadis itu mengambil satu langkah mundur dengan tiba-tiba.


Ellena melompat dengan gerakan membuang tubuhnya ke arah belakang. Posisi shooting. Eva dan Keysha segera ikut melombat, tapi mereka terlambat berberapa detik. Bola telah terlepas dari tangan Ellena. Meluncur mulus memasuki ring. Tiga poin ditambahkan untuk Univeristas Tanjung Nusa.


Keysha menatap bola yang berguling di bawah ring. Dia tidak percaya apa yang baru saja disaksikannya. “Aku tidak


tahu, Ellena bisa melakukan shoot dari jarak sejauh ini. Kemampuannya hampir mengimbangi Latte.” Ujarnya.


“Seingatku tahun lalu dia juga tidak bisa melakukan ini.” Balas Eva. “Gadis itu pasti sudah jauh berkembang dari


waktu itu.”


Peluit dibunyikan. Bola memasuki lapangan dan permainan kembali dimulai.


***


Selama kuarter kedua skor anatara SMA Antaraksa dan SMA Tanjung Nusa kejar-kejaran. Di akhir kuarter kedua SMA Antariksa masih unggul, namun dengan selisih poin yang sangat tipis 15-14.


Keysha membasahi wajahnya dengan air mineral botol yang diberikan oleh Rega. Wajahnya memerah. Bercampur antara lelah dan amarah. Dia benar-benar kesal dengan cara bermain Ellena dan anggota timnya. Belum lagi tangannya terasa kebas terkena tamparan point guard tim lawan beberapa saat lalu.


Rega memberikan handuk pada Latte, dia menatap gadis itu cemas. Dia telah melihat bagaimana Ellena bermain dengan kasar melawan Latte. Beberapa kali dia melihat Ellena memukul tangan Latte atau sekedar mencengkram seragam basketnya saat ingin menghalangi pergerakan gadis mungil itu. Ellena lihai sekali melakukan pelanggaran hingga sering kali luput dari penglihatan wasit. “Kamu tidak apa-apa?”


Latte menerima handuk dari Rega dan menggunakannya untuk mengusap peluh yang di wajah dan lehernya. Gadis itu nyengir lebar. Kekhawatiran dan rasa takut sudah hilang dari kedua matanya.


“Ya.” Dia mengangguk mantap.


Melihat sifat positif Latte, Rega mau tidak mau terseyum. Rasanya dia ingin mencubit pipi Latte yang memerah.


Galuh memberikan kata-kata membangkit semangat sebelum peluit tanda kuarter ketiga kembali terdengar.


***


Di kuarter ketiga stamina para pemain sudah mulai turun, terutama para pemain SMA Tanjung Nusa. Akibatnya selisih skor antara kedua SMA tersebut semakin jauh. SMA Antaraksa semakin menambah jarak dengan SMA Tanjung Nusa.


Di menit ke 11 kuarter ke 3, Skor antara SMA Antariksa dan SMA Tanjung Nusa 27-18. Ellena melirik papan skor


kemudian papan timer. Dia mulai terlihat cemas, terlebih lagi timnya mulai kelelahan karena mereka mengoptimalkan stamina di kuarter-kuarter awal.


Keysha mengoper bola pada Adiba. Gadis berkulit hitam manis itu dengan sigap mengambil bola. Ellena yang sedang menjaga Latte melakukan pertukaran posisi dengan small fowardnya. Dia meminta gadis bernomor punggung 55 itu menjaga Latte sementara dia dengan cekatan mengejar Abida.


Adiba menyadari Ellena berada di belakangnya.


Gadis itu menatap sekitar. Teman-temannya berada di posisi yang tidak strategis untuk menerima operan darinya.


Ellena berhasil mengejar Adiba dan berdiri rapat, tepat di sisi kanannya, menjaga ketat Adiba agar tidak dapat


melakukan operan.


Ellena tahu kalau Adiba memengang posisi small forward di timnya. Dia sangat gesit menerobos wilayah lawan, tetapi kemampuan shootingnya tidak begitu hebat. Jarak mereka saat ini tidak terlalu jauh dari ring tetapi mereka berada terlalu di pinggir lapangan sebelah kiri. Tepat di belakang Adiba garis pembatas lapangan terlihat. Ellena juga sadar dari posisi mereka saat ini, untuk melakukan shoot dan mencetak poin akan sangat sulit. Sudut yang terbentuk juga tidak baik.


Adiba dapat melihat Latte dan Keysha berlari  mendekat tapi kemudian kedua temanya dijaga ketat. Begitupula dengan Eva dan Tiara, terlebih lagi posisi kedua orang itu terlalu jauh. Adiba tahu, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini adalah melakukan shooting sendiri. Tapi gadis itu tidak yakin. Posisinya berdiri saat ini sangat tidak menguntungkan.


Mungkin jika Latte yang melakukannya, bola bisa masuk. Tapi aku tidak punya bakat dan kemampuan seperti Latte, Batin Adiba dalam hati.


“Menyerah saja, dan berikan bolanya padaku. Kau tidak akan bisa memasukannya ke ring dari sini.” Ucap Ellena,


memprovokasi. Gadis jangkung itu bisa melihat keraguan di mata Adiba.


Adiba melototi gadis itu. Gadis itu kembali melirik ke posisi Latte. Tubuh tinggi besar Ellena menghalangi


pandangan Adiba, dia hampir tidak bisa melihat posisi teman-temannya yang lain.


“Kau tidak akan bisa mengoper bolanya pada siapapun. Tapi kau juga tidak bisa melakukan shoot sendiri. Kamu tahu sendiri bolanya tidak akan masuk.” Ellena kembali berbicara dengan nada meremehkan yang membuat Adiba sangat kesal mendengarnya. “Kau bukan Charletta. Kamu tidak hebat seperti dia.”


Adiba menatap Elena kesal. Ellena dapat melihat emosi Adiba telah terpancing oleh ucapannya.


“Oh ya? Coba kita lihat.”


Gadis jangkung itu tersenyum ketika Adiba melompat dan melakukan shooting. Sejak awal ia memang sengaja mendorong gadis itu untuk melakukan shooting dengan begitu ia bisa ikut melompat tanpa dicurigai wasit.


Ketika ia merasa gaya gravitasi menarik tubuhnya kembali ke daratan. Ellena sengaja memiringkan tubuhnya. Ia jatuh menabrak bahu Adiba yang berada di sisi kirinya.


Adiba dan Ellena jatuh bersamaan dengan posisi Ellena menimpa sisi kanan Adiba. Adiba merintih kesakitan. Wasit


membunyikan peluit. Foul. Ellena segera bangkit berdiri, mengulurkan tangannya membantu Adiba berdiri. Gadis berkulit hitam manis itu meraih uluran tangan Ellena. Ketika Ellena menarik tangannya, Adiba merasakan nyeri luar biasa di pegelangan tangannya.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya wasit.


Adiba mengangguk. Wasit membimbingnya menuju lingkaran di depang ring untuk melakukan free throw—lemparan bebas menuju ring tanpa dihalangi lawan. Dalam free throw, pemain diberi kesempatan dua kali lemparan. Setiap bola yang masuk bernilai satu poin.


Adiba mengambil posisi. Latte yang berdiri di sisi kanannya menepukan tangannya pada telapak tangan Adiba.


Gadis itu tersenyum pada sahabatnya, meyakinkan Adiba.


Adiba mengangguk. Mengerti arti senyuman Latte, kemudian gadis itu mengambil bola. Memantulkannya sekali ke


lantai lalu dia bersiap melakukan shoot.


Lemparan pertama, bola memasuki ring dengan mulus. Adiba bersiap melakukan lemparan kedua tetapi tiba-tiba ia


merasakan pergelangan tangannya nyeri dengan sensasi berdenyut-denyut yang semakin kuat. Dia memutar pegelangan tangannya hal tesebut malah memperparah rasa sakitnya. Dia bahkan bisa merasakan tangannya bergetar ketika memegang bola.


Adiba tidak bisa fokus ketika melakukan shoot sehingga bola menabrak papan di atas tiang. Rasa sakit


ditangannya sampai pada tahap dimana dia tidak bisa mengabaikannya.


Teman-temannya mengangguk-angguk dan bergumam tidak apa apa sambil menepuk pundaknya namun tidak ada yang menyadari keanehan pada pergelangan tangan kanan Adiba.


Beberapa detik kemudia permainan dilanjutkan.


Beberapa menit berlalu, Rega menyadari perubahan permainan Adiba. Gadis itu beberapa kali mengoper bola dengan terburu-buru. Lemparan bolanya pun tidak stabil dan beberapa kali gadis itu terlihat memegangi pegelangan tangan kanannya sambil meringis.


“Sepertinya ada yang salah dengan tangan kanan Adiba setelah jatuh tadi.” Komentar Rega pada Galuh. “Mungkin kita harus meminta time out?”


Galuh mengangguk berjalan menuju meja panitia dan meminta time out.


Tidak lama kemudian wasit membunyikan peluit. “Time out!” Serunya. Semua pemain berjalan menuju pinggir lapangan ke standnya masing-masing.


Adiba segera terduduk di lantai lapangan. Tangan kanannya terasa berdenyut-denyut.


“Tanganmu kenapa?” Tanya Galuh yang berjongkok di hadapan Adiba.


“Tidak apa-apa.”


Galuh menatap Adiba seksama, “Jujur. kamu tidak perlu terlalu memaksakan diri.” Beritahu Galuh, “Berikan tangan


kananmu, biar Coach lihat.”


Galuh memeriksa pegelangan tangan Adiba yang terlihat memerah. “Salah urat.” Beritahunya.


“Harwa kamu main menggandikan Adiba.”


Adiba tersentak. “Aku masih bisa bermain, Coach. Aku tidak apa-apa.” Beritahu Adiba. Gadis itu merasa keberatan digantikan. Permainan di lapangan sedang panas-panasnya, terlebih lagi ia merasa ingin menunjukan pada Ellena


bahwa apa yang dia lakukan pada Adiba tidak berpengaruh pada gadis itu. Dia ingin menunjukan kalau dia baik-baik saja. Dan masih dapat bermain. Gadis itu tidak mau melihat Ellena tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil pengeluarkannya dari lapangan.


Coach Galuh menatap Adiba tanpa mengatakan apapun. Keputusannya sudah bulat meskipun gadis berkulit gelap itu memaksakan diri untuk tetap bermain. Membiarkan Adiba terus bermain dengan kondisi tangan yang seperti itu jelas akan memperburuk kondisi pergelangan tanganya. Bisa-bisa menyebabkan dampak yang lebih besar dan mungkin berkepanjangan.


Galuh bangkit berdiri lalu berjalan menuju meja penitia dimana juri dan wasit berada untuk memberitahu bahwa mereka akan melakukan pergantian pemain. Sesunggunynya Galuh juga tidak ingin mengganti Adiba disaat-saat genting seperti sekarang dengan Harwa. Apalagi ini pertandingan final dan SMA Tanjung Nusa mulai menyusul skor mereka. Bukannya Harwa tidak baik dalam bermain, hanya saja ia tidak selincah dan secepat Adiba, sedangkan kecepatan sangat dibutuhkan untuk melawan tim SMA Tanjung Nusa.


“Aw!” Adiba berteriak spontan ketika ia merasakan nyeri di pergelangan tangannya. Dia melotot pada Rega yang barusan menekan pegelangannya. “Jangan ditekan-tekan. Sakit tahu!”


Rega tersenyum. “Kalau begitu saja sakit. Bagaimana kamu bisa bermain dengan tim kasar seperti mereka?” tanya


Rega. Adiba terdiam.


Rega menepuk pundak Adiba lalu tersenyum. “Percayakan saja pada rekan setimmu, ya?”


Peluit dibunyikan. Waktu time out habis. Latte berdongkok di depan Adiba yang masih terduduk di lantai sambil meluruskan kedua kakinya. Gadis itu tersenyum penuh percaya diri.


“Kami akan mencetak banyak angka lalu menang. Kamu percayakan pada kami?”


Adiba diam sejenak kemudian gadis itu balas tersenyum. “Tentu saja. Kamu pikir apalagi yang bisa aku lakukan selain percaya pada kalian. Awas saja kalau sampai kalah, aku tidak akan mau mentraktir kalian lagi!.”


Latte mengangguk sekali lalu bangkit berdiri dan berlari ke dalam lapangan. Teman-temannya mengangguk. Meyakinkan Adiba.


Pertandingan kembali dilanjutkan dengan skor sementara antara SMA Antaraksa dan SMA Tanjung Nusa, yaitu 33-27.