
Sepulang dari Gedung Olahraga SMA Saktiwara, Tim Renjana meluncur
menuju restoran italia terdekat. Galuh berjanji akan mentraktir mereka semua
untuk merayakan kemenangan mereka.
Tidak seperti saat berangkat, kali ini mobil Rega diisi tidak
hanya oleh dirinya dan Latte. Keysha, gadis berambut merah itu membuka pintu
bagian depan mobilnya, tanpa izin duduk di kursi penumpang. Rega melihat ke luar
melalui jendela, mencari keberadaan Latte. Sejujurnya ia mengharapkan Latte lah
yang duduk di kursi sebalahnya.
“Waktu berangkat aku harus bersempit-sempitan di mobil Eva karena
kamu terlambat, Latte. Kita jadi kekurangan sumber daya angkutan tadi pagi.”
Beritahu Adiba.
Latte nyengir, duduk di kursi belakang. “Maaf, ada halangan yang
sangat mendesak tiba-tiba di jalan. Iyakan Rega?” Latte menatap Rega. Gadis itu mengedipkan sebelah matanya,
memberi kode.
Adiba menatap curiga pada Latte lalu Rega. “lalu apa arti dari winkmu itu, Latte?”
Latte tertawa, sementara Rega hanya tersenyum. Keduanya saling
tatap kemudian mengedikan bahu.
Keysha dan Adiba menatap keduanya bergantian.
“Bisa kita berangkat sekarang? Mobil kak Eva dan Coach sudah berangkat tuh.” Beritahu
Keysha. Jarinya menunjuk kedua mobil di depan mereka sudah melaju meninggalkan
gedung olahraga.
Rega mengangguk dan menginjak pedal gas. Mobil mulai melaju.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai di kedai pizza. Rombongan
tersebut berlarian masuk, mecari tempat duduk terbaik kemudian dengan heboh
memilih-milih pizza, tanpa ampun memesan apa saja yang mereka inginkan. Galuh
menatap isi dompetnya naas.
Keysha, yang paling cuek diantara mereka menjadi yang pertama
mengambil potongan pizza yang paling besar. Anak-anak lain ikut mengambil
bagian pizza yang lain serta makanan lainnya yang tersaji di atas meja.
Mereka
semua sibuk menikmati makanan sambil bercengkrama riang. Adiba dan Annisa
membenturkan gelas berisi soda mereka sambil berakting seolah-olah keduanya
mabuk. Keysha sibuk merekam mereka. Naomi sedang bercerita tentang gebetan
barunya pada Hana, sedangkan yang lain asik menonton Adiba dan Annisa sambil
tertawa.
Latte merasakan getaran di saku celananya. Latte mengeluarkan
ponselnya, ada panggilan masuk. Gadis itu bergegas keluar ruangan, mencari
tempat yang cukup sepi untuk menjawab telpon.
“Siapa menurumy yang menelepon Latte sampai wajahnya senang
begitu?” Tanya Keysha memulai gosip.
“Mungkin Marco.” Jawab Nissa acuh tak acuh.
“Eiy mana mungkin.” Keysha menepis jawaban Nisa. “Kita semua tahu,
Marco itu bertepuk sebelah tangan sama Latte, tidak mungkin pangilan dari Marco
membuat dia jadi sesenan itu.”
Adiba mengangguk menyetujui. “Mungkin Egar.” Ucapnya.
“Oh kalau itu masuk akal.” Keysha setuju, “Tapi bukankah Latte
dan Egar sudah lama tidak saling kontak?”
“Who knows.” Jawab Adiba sambil mengangkat bahunya.
“Egar?”
Rega yang mendengar nama asing itu tidak tahan untuk bertanya.
Pasalnya ia belum pernah mendengar apapun tentang Egar dan Latte walaupun sudah
hampir sebulan ia menjadi manager tim basket tersebut dan entah mengapa, segala
sesuatu yang berhubungan dengan Latte membuatnya penasaran.
Gadis-gadis yang duduk di hadapannya itu seketika menoleh pada Rega.
Mereka tampak ragu-ragu apakah boleh menceritakan tentang Egar kepada Rega
meskipun itu sudah merupakan rahasia umum di tim basket mereka.
“Lebih baik kamu tanyakan langsung pada Latte ya.” Jawab Adiba
akhirnya. Setelah itu topik pembicaraan berganti.
Rega memperhatikan Latte dari balik pintu kaca restoran. Ia mengamati gadis itu yang
sedang menelpon dari kaca jendela kedai pizza yang besar.
Kaki kurus Latte bergerak menendang-nendang udara. Nama Egar
berputar-putar di kepala Rega. Pemuda itu sibuk menerka-nerka dan membuat
spekulasi tentang sosok Egar bagi Latte, membuatnya gusar.
Sesekali Rega melihat Latte tertawa,
gadis itu tampak riang sekali berbicara dengan
seseorang di seberang teleponnya.
Rega bangkit berdiri, memutuskan untuk
mencuci mukanya di toilet. Lelaki itu pikir, kelelahan yang membuat suasana
hatinya buruk dan mencuci muka dapat memperbaiki perasaannya yang kalut. Saat
itu, dia belum tahu alasan sesungguhnya mengapa di dalam dadanya terasa tidak
nyaman.
***
Pukul sembilan lewat tiga puluh menit, Latte mengirim pesan pada
Bundanya kalau sebentar lagi ia akan pulang. Semua makanan sudah habis, dan
mereka semua terlihat sudah kelelahan.
Galuh bangkit berdiri dan berjalan menuju kasir, membayar bill.
Keysha sedang menelpon di luar, ketika masuk dia terlihat kesal.
“Abangku tidak bisa datang menjemputku!” beritahunya dengan nada jengkel, ia lalu
menunjuk Rega. “Rega Sadewa, sebagai manager kamu harus mengantarku pulang
“Aku juga. Aku anak kos, tidak ada yang menjemputku. Bayar ojek
online mahal juga, hehe.” Sambut Adiba. “Lagipula kita kan searah.”
Rega menghela nafas kesal, badannya terasa lelah tetapi sedetik kemudian pemuda itu
mengangguk. “Baiklah.” Ia menoleh pada Latte, “Kamu juga mau aku antar sampai
rumah?”
Latte menggeleng. “Aku naik
bis saja. Arah rumahku kan berlawanan dengan rumah kalian.”
“Tidak apa-apa. Biar aku antar saja. Bahaya malam-malam naik bis.”
Ucap Rega. Tetapi gadis itu tetap menolak.
“Rumahku dekat kok dari sini.”
“Nah karena dekat, bagaimana kalau saya mengantar kamu dulu. Baru
mengantar mereka berdua.” Rega menoleh pada Adiba dan Kesyha.
“Aku sih tidak keberatan.” Ucap Keysha.
“Aku juga.” Sahut Adiba.
Latte menggeleng. “Jangan ah. Aku tidak enak.” Ia tersenyum,
menolak dengan halus.
“Tidak apa-apa. Aku sudah sering kok pulang naik bis jam segini. Jujur saja, aku lebih
senang naik bis daripada mobil. Sensasinya berbeda.”
Rega menatap Latte tidak mengerti. Gadis itu memang sangat
membingungkan. Tapi bukankah disitu letak pesona gadis itu? Gadis itu jadi
terlihat begitu unik di mata Rega.
Galuh kembali, ia menatap kertas bill dengan tatapan nanar, “Sejak
kapan pizza jadi semahal ini?” ucapnya lemas. “Sudah pasti istri mengomel
di rumah kalau tahu ini.”
Keysha menepuk-nepuk bahu Galuh. “Inilah yang disebut pengorbanan.
Coach itu sudah bagai pahlawan tanpa
tanda jasa bagi kami. Kami ini sayang sekali loh sama Coach, ya kan?”
Yang lain serempak mengangguk. Latte dan Adiba memuji-muji Galuh
dengan berlebihan.
Galuh tertawa, “Gombal kalian semua. Sudah ditraktir aja
bicaranya manis sekali, coba pas latihan, mengeluh terus.”
Gadis-gadis itu tertawa. Rega ikut tersenyum geli.
Ia menatap sekitarnya.
Rasanya menyenangkan menghabiskan waktu bersama mereka.
Harusnya dari dulu dia melakukan ini,
pikirnya.
Pukul sembilan malam lewat empat puluh menit tim Renjana baru
keluar dari kedai pizza. Beberapa pulang dengan dijemput, yang lainnya menebeng mobil Eva bila searah,
searah menuju arah sekolah, beberapa dari mereka tinggal di sekitar sekolah
atau meminta Coach atau Rega
mengantar mereka pulang ke rumah yang arahnya berlainan dengan rumah Eva.
“Kamu yakin tidak apa-apa naik bis sendirian?” Tanya Adiba pada
Latte.
Latte mengangguk, “Tentu saja. Aku sudah biasa.”
Rega menatap Latte cemas, gadis itu tersenyum meyakinkan.
Gadis itu kemudian berpamitan dan melangkah menuju halte bis yang
terletak di sebelah kanan restoran.
Adiba dan Keysha masuk duluan ke mobil Rega. Rega sekali lagi
menatap Latte. Ia masih merasa cemas meninggalkan gadis itu sendirian. Pemuda
itu masih berdiri di luar mobil, menimbang-nimbang. Adiba dan Keysha menatapnya
bingung.
Keysha menurunkan kaca jendela. “Rega, kapan kita berangkat?”
tanyanya.
Rega berbalik. Menatap Keysha dan Adiba bergantian melalui
jendela.
“Apa ada diantara kalian
yang bisa nyetir mobil?” Tanyanya.
Kedua gadis itu terlihat bingung, tapi Keysha tetap mengangkat
satu tangannya. “Aku bisa.”
“Bagus.“ Rega melempar sesuatu pada Keysha.
Gadis berambut merah itu merimanya.
Gadis itu menatap kunci mobil ditangannya kemudian
manatap Rega tidak mengerti.
“Apa maksudnya ini?”
“Keysha kamu yang bawa mobil saya ya, simpan di rumahmu dulu saja.
Besok kamu bawa lagi ke sekolah atau saya yang nanti ambil ke rumah kamu.”
“Kamu mau kemana?” Tanya Adiba.
“Saya akan pulang menggunakan bis.” Jawabnya. Laki-laki itu
berlari menuju halte bis.
Adiba dan Keysha saling tatap. “Masa iya Rega sama Latte...”
Keysha tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Adiba mengerti maksud Gadis itu.
“Tapi, bagaimana dengan Egar? Bukankah
Latte belum bisa melupakan cinta pertamanya itu, bahkan Marco pun tidak dapat
membuat Latte melupakannya.” Ucap Adiba. Sebagai teman dekat Latte, ia tahu
pasti bagaimana gadis itu masih memendam perasaan
terhadap cinta pertamanya, Egar meski sekarang
entah ada dimana laki-laki itu.
Kedua gadis itu menatap punggung Rega yang menjauh, berlari mengejar bis yang baru saja tiba.