
Esok sorenya, Rega mendapati Latte berdiri di depan kelasnya pada jam pulang sekolah. Gadis itu disapa dan menyapa beberapa anak kelas 12 yang bahkan tidak dikenal Rega dengan akrab, sepertinya gadis itu cukup terkenal di kalangan anak-anak tingkat akhir.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya langsung. Rega tahu sebagai manager tim basket Renjana,
Latte, pemain bernomor punggung sebelas itu merupakan siswa kelas 12 IPA 7 yang letak kelasnya berjauhan dengan Rega.
“Umm,menunggumu.” Jawab gadis itu.
Rega manatap gadis itu lamat-lamat. Merasa terintimidasi, Latte menghela nafas dan tersenyum kikuk. “Selesai kelas ini, kamu ikut aku ya.” Beritahunya.
“Apa ini ada kaitannya dengan tim Renjana?”
Latte menggeleng.
“Berarti jawabannya tidak.” Setelah mengatakan itu, Rega kembali menatap ke depan dan tidak berbalik lagi ingin meninggalkan kelas.
“Tunggu!” Latte meraih lengan Rega tepat ketika pemuda itu melangkah keluar kelas. Beberapa siswa yang hendak meninggalkan kelas melihat ke arah meraka.
“Kamu harus ikut aku, ada cafe enak yang baru buka dekat sini. Mereka menawarkan paket promo tapi untuk pasangan berhubung sebentar lagi valentine.”
Rega melepaskan genggaman tangan Latte dari lengannya, ia menaikan sebelah alisnya. “Lalu?”
“Aku akan mentraktirmu promo itu. Ya, aku bukan seseorang yang bisa mentraktirmu jajanan mewah tapi anggap saja ini ucapan terima kasihku untuk kemarin. Lumayan loh potongan 50% untuk dua orang!” Gadis itu menjelaskan dengan bersemangat. “Mereka bilang lattenya enak sekali. Aku benar-benar ingin merasakannya sendiri!”
Rega mendengus geli. Ia hendak berkata tidak, tetapi melihat wajah bersemangat gadis di hadapan entah kenapa ia merasa menjadi orang jahat bila menolak ajakannya.
“Cafe itu tidak jauh dari sini kan?”
Gadis itu mengangguk, senyum merekah di bibir mungilnya yang dipoles liptint merah. “Ya, ayo!”
Dengan menggunakan mobil Rega, mereka tiba di Cafe dengan desain minimal itu hanya dalam beberapa menit.
“Paket promo pasangan satu, minumnya latte sama..” Latte menatap Rega.
“Espresso.”
“Dan Espresso.” Beritahu Latte pada pramusaji yang mencatat pesanan mereka.
“Maaf, untuk paket promo pasangannya harus berfoto dulu sambil memegang poster ini lalu update ke media sosial instagram.” Pramusaji muda tersebut menyampaikan.
Latte menatap Rega, pemuda itu seketika menggeleng tetapi Latte tidak menyerah, ia menatap Rega dengan tatapan memelas andalannya. Biasanya Galuh, pelatih mereka, luluh dengan tatapannya.
Tetapi Rega tetap tidak bergeming.
“Posternya mba?” Pramusaji itu memberikan poster opening cafe tersebut.
Latte menerimanya. Ia menarik napas dan menatap Rega.
Rega balas menatap Latte curiga, “Apa yang mau kau lakukan?”
Latte tidak menjawab. Ia menarik tangan Rega kencang sehingga tubuh Rega terdorong mendekat padanya.
“Say cheese.” Gadis itu nyengir, terdengar suara kamera dan foto mereka berdua terpampang di layar smartphone Latte.
Gadis itu tertawa melihat hasil gambar di layar ponselnya. Wajah Rega terlihat terkejut, agak blur karena pemuda itu bergerak ketika kamera membidiknya. Cepat-cepat gadis itu mengunggah gambar tersebut di instagram dan
menunjukannya pada pramusaji yang menatap mereka berdua dengan bingung.
“Sudah ya mba,” ucap Latte. “Pacar saya ini memang susah diajak berfoto. Sepertinya dia fobia di depan kamera.”
Pramusaji itu tersenyum, wajahnya masih bingung, tapi ia mengangguk. “Pesanannya akan segera tiba, mohon menunggu,” ucap pramusaji tersebut lalu pamit undur diri.
“Lihat deh, kamunya lucu.” Latte menunjukan hasil foto barusan pada Rega.
Pemuda itu menatap Latte jengkel. “Hapus.”
Gadis itu tersenyum. Ia mengangguk lalu menghapus foto tersebut dari akun instagramnya tapi tidak dari ponselnya.
“Kenapa kau melakukan itu?” Tanya Rega, masih dengan nada jengkel.
“Karena itu syarat untuk paket promonya.”
“Kita bisa memesan yang lain selain paket promo. Kalau masalah uang, biar aku yang bayar ”
Gadis itu diam menatapnya. Ekspresi wajahnya tidak dapat dimengerti Rega. Ia bertanya-tanya apa barusan ia salah bicara?
“Eiy, mana bisa begitu” tiba-tiba Latte kembali ceria. Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya pelan di depan wajah. “Hari ini kan aku sudah bilang aku yang traktir. Karena tuan manager banyak uang, berarti kamu yang harus mentraktirku lain kali.”
Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Mereka makan dalam diam. Makanannya cukup enak, pikir Rega.
“Wah mereka benar, Lattenya sangat enak” Ucap Latte setelah menghabiskan makanannya dan
menyeruput kopinya. “Aku sangat suka Latte. Kamu suka Espresso ya?”
Rega mengangguk.
“Presentasi tadi bagus sekali, wah kamu memang cocok jadi insinyur.” Puji Latte yang sempat melihat pemuda
itu presentasi di kelas tentang tugas rancangan teknologi medis ketika pelajaran IPA sebelum bel pulang sekolah berbunyi “Itu cita-citamu dari kecil?”
Rega menggeleng.
“Ah, bukan ya?” Latte bingung, ia seperti berbicara dengan tembok.
“Sepertinya aku sedang bermonolog lagi.”
“Astronot.”
“Apa?” Latte menatap Rega, entah kenapa senyum merekah di bibirnya mendengar pemuda itu merespon.
“Cita-citaku dulu ingin menjadi astronot.”
“Kamu kan pintar, pasti bisa menjadi astronot. Kenapa tidak mengejar cita-citamu itu?”
“Kamu itu orangnya memang kepo ya?” hardik Rega, tetapi bukannya tersinggung gadis itu malah mengangguk.
“Dulu? Berarti sekarang sudah tidak ingin jadi astranott lagi?
Kenapa?”
“Aku takut ketinggian.”
Latte secara spontan tertawa. Ia sungguh tidak menyangka, orang seperti Rega takut ketinggian? Ia ingin menjadi astronot tapi takut ketinggian. Lucu sekali.
Rega menatap Latte tajam, sejak awal percakapan ini tidak seharusnya ia tanggapi.
“Dulu cita-citaku ingin menjadi ninja,” beritahu gadis itu. “Supaya aku bisa menikah dengan Naruto. Bodoh sekali ya? Tapi percaya atau tidak, ibuku bilang cinta pertamaku itu Naruto.”
Rega spontan tertawa mendengarnya, ia menatap gadis di hadapannya.
Merasa geli.
“Seriusan,” Latte meyakinkan.
“Ah, kisah cinta pertamaku benar-benar menyedihkan, kami terpisah dimensi dan hanya bisa dipertemukan lewat televisi seminggu sekali.”
“Apa kamu tidak merasa malu menceritakan hal itu padaku? Itu konyol sekali.”
Latte tersenyum, ia menggeleng. “Kenapa malu? Aku malah senang, kamu jadi tertawa.”
Rega terdiam, senyuman menghilang dari bibirnya. Ia menatap Latte yang tengah menyeruput lattenya.
Rega memutuskan mengantar Latte pulang karena hari sudah mulai gelap ketika mereka melangkah keluar Cafe. Seperti sebelumnya Latte meminta izin menyalakan musik, sesekali ia ikut bernyanyi atau bercerita tentang apa saja.
Rega tidak banyak menanggapi, ia terkadang hanya mengangguk, atau menggeleng tetapi dia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Latte, mengingatnya dalam otak. Ia sudah terbiasa merekam apapun yang dia dengar, rupanya otaknya punya kapasitas penyimpanan yang besar.
“Kamu tahu, Adiba itu alergi minuman bersoda,” kali ini Latte membicarakan rekan setim basketnya. “Aku tidak bisa bayangkan menjadi dia, wah dia tidak tahu nikmatnya meminum soda dingin ketika selesai latihan, segar sekali, tapi Coach selalu melarang kita melakukannya. Katanya itu tidak sehat.”
“Kamu punya alergi?” Tanya Latte.
Rega mengangguk, “Bukan alergi tapi makanan yang sangat tidak disukai.”
“Oh iya, apa?” Gadis itu menatapnya penasaran.
“Tomat.”
“Oh, kalau saus tomat?”
“Tidak suka.”
Latte mengangguk-angguk, ”Aku tidak suka toge, buah sawo, buah ceri, kepiting, dan apalagi ya? Oh iya, brokoli.”
Mobil Rega berhenti tepat di depan toko kue. Kali ini toko kuenya masih buka. Ada berbagai macam kue yang dipajang di dalam etalase kaca yang terlihat dari luar kaca toko yang berukuran besar.
“Ah, sudah sampai.” Latte menoleh menatapnya, gadis itu tersenyum ebar. “Terima kasih untuk hari ini, sangat menyenangkan. Semoga lain waktu kita bisa jalan-jalan bareng lagi.”
Rega tidak menanggapi. Latte keluar dari mobilnya dengan wajah masam.
***
Rega memarkir mobilnya di halaman depan rumah bercat putih. Rumah itu berlantai dua, terlihat megah dan indah dengan dekorasi halaman yang hijau dan rindang. Pemuda itu kemudian memasuki rumah tanpa mengucap salam, merasa percuma karena toh tidak akan ada yang menjawab salamnya juga. Rumahnya hampir selalu kosong, kedua orang tuanya jarang sekali ada di rumah. Mereka sibuk sekali bekerja.
Rega langsung memasuki kamarnya, meletakan tasnya di sembarang tempat. Pemuda itu mengambil handuk dan melangkah menuju kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian pemuda itu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Ia berganti baju kemudian duduk di sofa depan televisi. Kamarnya luas, dilengkapi dengan spring bed king size, lemari kayu besar, meja
belajar dan rak buku, televisi, sofa bahkan kulkas berukuran kecil. Semua yang ia perlukan sudah hampir semua tersedia di kamarnya membuat pemuda itu hampir tidak pernah melangkah keluar kamar.
Rega menyalakan televisi. Selama beberapa saat menggonta-ganti channel televisi tanpa ada minat. Tangannya
tiba-tiba berhenti menekan tombol next pada remot.
Dilayar televisi itu menanyangkan film animasi Jepang tentang seorang ninja berambut kuning. Naruto.
Rega mendengus geli, ia teringat ucapan Latte yang menyatakan bahwa cinta pertamanya adalah tokoh kartun itu, betapa menggelikan pikir Rega.
“Apa yang bagus dari si rambut kuning itu sih?” Rega memperhatikan Naruto dengan saksama, senyuman geli terukir di wajahnya tanpa ia sadari.
Rega mengambil ponselnya, kemudian memotret layar televisi yang tengah menayangkan wajah tokoh berambut kuning itu. Ia mengirimkan foto itu pada Latte beserta pesan singkat.
Aku melihat cinta pertamamu di tv. Pesan terkirim.
Rega kembali memperhatikan layar televisi sambil sesekali melirik layar ponselnya, balasan dari Latte datang lebih lama dari yang dia duga. Rega jadi bertanya-tanya apakah gadis itu sedang sibuk. Ia memutuskan untuk tidak
ambil pusing, ia kembali menonton televisi tetapi ketika smartphone-nya berdering sekali sepuluh menit kemudian, menandakan ada pesan masuk, Rega buru-buru mengecek benda persegi panjang tipis itu.
Ya ampun,dia masih terlihat sama seperti 6 tahun yang lalu, tidak menua sedikit pun. Aku yakin dia pasti menggunakan perawatan anti-aging.
Rega tertawa seketika membaca balasan pesan dari Latte. “Anti-aging katanya?” Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia baru hendak mengetik balasan ketika ia mendengar dering telepon.
Rega segera menuju ruang keluarga. Dimana telepon itu berada. Dia segera mengangkat gagang telepon dan meletakannya di telinga.
“Halo?”
Terdengar suara ibunya di sebrang telepon. Mereka berbincang-bincang selama beberapa saat tentang kabar satu sama lain. Ibunya bilang kalau ia dan ayahnya tidak akan pulang hingga akhir bulan nanti.
Setelah memutuskan sambungan telepon, Rega segera kembali ke kamar. Pemuda itu menjatuhkan dirinya di kasur, tanpa mengecek ponselnya terlebih dahulu, ia segera tertidur.
Di tempat lain sekitar 2 kilometer dari rumahnya, di ruang kamar yang lebih sempit dari kamar Rega, Latte masih terjaga di atas kasurnya. Beberapa kali menatap layar ponselnya.
Wina yang sedang belajar untuk perisiapan Ujian Nasional di kamar Latte menatap kakaknya risih. Latte sudah beberapa kali berganti posisi di tempat tidur, berbaring telentang, tengkurap, menyamping ke kiri kemudian ke
kanan lalu sebentar-sebentar mengecek ponselnya.
“Teteh katanya mau ajarin aku, malah main hp terus sih? Menunggu pesan dari siapa sih?”
Latte menoleh, kemudian menggeleng. “Teteh tidak menunggu pesan dari siapapun kok.”
“Terus ngapain ngecek hp terus?”
Latte bangkit, berjalan mendekati Wina “Yang mana sih, yang mau diajarin?” tanyanya.
Sebelum Wina menjawab, Latte menghela nafas dan bergumam pelan,
pandangannya mengawang. “Apa sih yang aku harapkan?”
Latte tidak sadar, kalau Wina menatapnya geli. Kakaknya persis seperti teman sekolahnya yang sedang galau karena pacarnya tidak memberi kabar.