
Rega mengetuk ruang bimbingan konserling yang berwarna putih
beberapa kali. Sebelumnya, dia mendapat pesan dari ketua kelas bahwa Dimas,
guru BK di sekolahnya memintanya datang ke ruang BK tepat setelah bel pulang
sekolah berdering.
“Masuk.”
Terdengar suara berat yang dikenal Rega dari dalam ruangan. Rega
membuka pintu kayu bercat putih itu tanpa ragu-ragu.
Ruangan bimbingan konserling ini tidak luas, mungkin hanya 3 kali
4 meter persegi. Dindingnya di cat putih gading, serasi dengan satu set sofa
berwarna coklat susu dan meja kayu yang terletak di tengah ruangan. Di
belakangnya, Dimas sedang sibuk berkutat dengan berkas-berkas di salah satu dari dua
meja kerja di ruangan itu.
“Rega!” Guru BK itu tersenyum ramah saat melihat Rega, “Silahkan duduk
dulu, kamu tidak keberatan menunggu sebentar kan?” tanyanya.
Rega mengangguk kemudian memilih duduk di sofa panjang, ukurannya
mungkin bisa menampung tiga orang.
Selama beberapa menit Dimas masih disibukan dengan kertas-kertas
di atas mejanya. Kadang Lelaki paruh baya yang selalu terlihat bersahaja itu
mengambil lebih banyak kertas-kertas di lemari kayu tua di pojok ruangan.
Ketika Rega sudah mulai merasa bosan, akhirnya guru BK itu
menyelesaikan urusannya dan duduk di sofa arm
chair coklat muda di hadapan Rega.
“Maaf membuatmu menunggu.” Ucapnya dengan wajah penuh penyesalan. “Kamu
tahu, sekarang sudah hampir pergantian semester, banyak yang harus diurus untuk
pembagian raport nanti.”
Rega mengangguk memaklumi. Tiga hari lagi memang akan di
laksanakan ujian akhir semester ganjil.
Senyum Dimas seketika menghilang ketika wajahnya berubah serius.
Matanya menatap Rega lekat-lekat, seakan mengamati setiap luka dan memar
membiru wajah Rega.
“Apa yang terjadi?” Tanya Dimas beberapa detik kemudian.
“Kecelakaan, jatuh.” Jawab Rega, pemuda itu mengalihkan pandangan
dari tataoan menyelidik Dimas, memilih untuk memperhatikan jemarinya yang
saling bertautan.
“Kamu pikir bapak percaya itu?”
Rega diam, masih menatap jemarinya.
“Lihat Bapak, Rega.” Perintah Dimas. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Rega mengangkat kepalanya, namun kedua bibirnya tetap mungkam.
Dimas menghela nafas. “Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau cerita
pada bapak.” Nada suara Dimas melembut. “Apa ini ada kaitannya dengan kamu
bergabung dengan tim basket? Apa ada anak nakal yang mengajakmu berkelahi?“
Rega melotot, “Saya jatuh.“ Pemuda itu dengan cepat memotong
ucapan Dimas.
“Bapak juga pernah muda Rega, terlebih bapak termasuk anak yang
nakal dulu. Ini jangan kamu contoh ya.” Dimas terkekeh. “Bapak juga sudah menjadi
guru BK hampir 10 tahun lamanya, bapak sudah banyak melihat anak-anak nakal
dengan bekas luka sepertimu. Dan mereka tidak terjatuh.”
Rega diam, sekali lagi menundukan kepalanya.
“Dengan siapapun kamu berkelahi, bapak yakin pasti bukan kamu yang
memulainya. Bapak tahu sangat kenal kamu anak yang suka mencari masalah.”
Dimas mengambil jeda sejenak. Mengamati lamat-lamat luka-luka di
wajah Rega. Hatinya sedih melihat anak baik seperti Rega mendapatkan luka
seperti itu. Lelaki paruh baya itu mulai menyesali keputusannya menjadikan Rega
manager tim basket, bila hanya membawa masalah untuk pemuda itu.
“Tapi Bapak harap kamu tidak memperpanjang masalah ini.”
Rega kembali menaikan kepalanya, menatap Dimas tidak setuju.
“Bapak tahu ini berat buatmu. Pasti kamu merasa tidak adil, marah
dan ingin membalas perbuatan orang yang melakukan ini terhadapmu tapi itu bukan
hal yang benar.”
“Memperpanjang masalah hanya akan memperburuk keadaan. Terlebih
itu juga dapat berimbas pada reputasimu dan berujung pada beasiswa kuliah di
cambridge yang kamu inginkan.”
Rega masih tidak terima. “Tapi—“
“Atau kamu mau Bapak bilang pada Galuh untuk memberhentikanmu dari
posisi manager tim basket putri? Sepertinya kamu jadi mendapat masalah karena
bergabung dengan tim basket.”
Pemuda itu menatap Dimas
tidak setuju. “Bapak tidak bisa melakukan itu!” Protesnya
“Bukan itu yang ingin saya dengar darimu, Rega.”
Rega akhirnya menghela nafas. Ia pun
mengangguk. Menyetujui untuk tidak memperpanjang masalah. Namun, sedari tadi
kedua tanganya terkepal, menahan amarah.
Rega melihat Marco dan teman-temannya duduk di atas motor spot
mereka ketika Rega samapai di tempat parkir sekolah mereka. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu dan sesekali
tertawa terbahak-bahak.
“Whoa! You look good today, dude.” Ucap Marco ketika Rega lewat di
hadapannya saat berjalan menuju mobilnya. Ucapan Marco mengundang tawa
teman-temannya.
Rega diam, tidak menggumbris Marco dan teman-temannya tersebut,
namun tangannya terkepal, menahan emosi yang dirasakannya.
“Love can hurt, Budy.” Ucap Marco sekali lagi. Kali ini dengan
suara yang pelan, namun cukup untuk dapat di dengar Rega.
Kalimat tersebut membuat Rega menghentikan langkahnya. Dia yakin
Ingin rasanya Rega berbalik dan
menghantamkan tinjunya bapa wajah angkuh Marco. Namun, ancaraman Dimas untuk
menghentikannya dari manager tim basket putri menghentikan aksinya tersebut.
Rega menghele nafas, kemudian melanjutkan kembali langkah menuju mobilnya.
“Tada, Selesai!” Gumamnya. Puas melihat parsel kue buatannya yang
terlihat cantik. Parsel itu akan diantarakannya menuju rumah Rega dengan
sepucuk kartu ucapan semoga lekas sembuh yang diikat dengan pita berwarna emas
pada bagian gagang parsel.
Latte melihat jam tangannya. Menunjukan pukul 5 sore. Gadis itu
segera menuju dapur toko kue, bundanya sedang membuat roti di sana bersama dua
pegawai lainnya,
“Bunda, Latte berangkat ya!” Seru Late dari ambang pintu masuk
dapur toko. Bundanya menoleh kemudian mengangguk.
“Jangan pulang malam-malam.” Pesannya.
Latte tersenyum dan mengecungkan satu ibu jarinya lantas keluar dari
toko dan menuju halte bis.
Rumah Rega berjarak sekitar 10 KM dari rumah Latte. Butuh waktu
sekitar setengah jam menggunakan bis bila jalanan lancar. Berunjungnya Latte,
sore hari itu, jalanan kota Bandung tidak begitu padat, gadis itu tiba di halte
perumahan Rega dalam waktu kurang dari 45 menit.
Latte kemudian menaiki ojek untuk sampai di depan rumah megah
bercat putih. Setelah memberikan sejumlah uang sebagai bayaran pada tukang
ojek, Latte mengecek alamat yang diberikan Galuh sekali lagi. Benar ini rumah
Rega.
Gadis itu menatap takjub rumah dua lantai yang besar dan megah
itu. Desain rumahnya jelas sekali mencerminkan gaya eropa klasik dengan banyak
pilah-pilah, mewah sakali.
“Rasanya rumahku jadi sebesar kandang ayam bila dibandingkan
dengan rumah ini.” Gumam Latte.
Gadis itu menekan bel yang terdapat di sisi pagar sekali. Tidak
ada jawaban. Gadis itu menekannya lagi, tetap tidak ada jawaban.
“Bel ini berfungsi gak sih?” Gumam Latte sambil menekan
berkali-kali bel, sampai pintu depan rumah dibuka dengan keras, memperlihatkan
sang empunya rumah yang tampak jengkel.
“Tidak sabaran banget!” Decak Rega kesal yang dapat di dengar oleh
Latte. Sepertinya pemuda itu sengaja mengencangkan volume suaranya agar
suapapun yang menekan bel rumahnya dapat mendengarnya.
Latte segera menjauhkan tangannya dari tombol bel dan memasang
wajah sepolos yang ia bisa.
“Latte?” Nada suara Rega sudah tidak terdengar jengkel lagi ketika
menyebutkan nama Latte, malah Latte mendengar sedikit nada senang di sana,
namun gadis itu tidak mau terlalu percaya diri.
Latte mengangkat parsel kuenya sambil tersenyum lebar. Rega balas
tersenyum dan segera membukakan gerbang untuk gadis itu.
“Maaf membuatmu menunggu. Bibi sedang keluar jadi hanya aku di
rumah, dan aku sedang di kamar mandi ketika kamu menekan bel pintu dengan tidak
sabaran.” Nada suara Rega terdengar ringan, namun Latte tahu ada sindiran di
dalam kalimatnya.
“Maaf, aku kira belnya tidak berfungsi.” Latte mengikuti Rega
masuk ke dalam rumah.
Rega mempersilahkan Latte duduk di sofa di ruang tamu sementara
dirinya mengambilkan air minum. Latte mengamati sekitar. Ruang tamu itu besar
dan mewah, dindingnya di cat putih bersih dan lantainya pualam. Di dinding
banyak foto-foto keluarga dan juga lukisan. Foto-foto itu selalu terlihat
formal, tidak ada kesan hangat yang dipancarkan. Di pojok kiri ruangan terdapat
lemari kaca yang memajang banyak piala dan penghargaan.
Rega kembali membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk dan cemilan
dalam toples yang terlihat seperti permen gula bagi Latte. Setelah meletakan
nampan pemuda itu duduk di arm chair di
sisi kiri Latte.
“Aku pikir kamu suka cemilan manis, jadi aku bawakan itu.” Ucap
Rega merujuk pada setoples permen gula yang baru dibawanya.
Latte tersenyum. “You know me so well, oiya kuenya dimakan dong.”
Mereka berbincang selama beberapa lama, membahas topik-topik
ringan. Latte menyadari Rega menahan sakit setiap kali berbicara akibat luka
sobek di sudut bibirnya.
“Kamu baik-baik saja?” Tanya Latte, nada suaranya sangat lembut
hingga membuat Rega terdiam selama beberapa saat.
Pemuda itu kemudian bangkit berdiri dan menempatkan dirinya duduk
di sebelah Latte di sofa panjang.
Rega menatap Latte dalam tanpa mengatakan sepatah katapun, membuat
gaadis itu menatapnya bingung. Kemudia dengan perlahan pemuda itu menundukan
kepalanya pada bahu Rega, menyembunyikan wajahnya diantara helaian rambut
Latte.
Gadis itu terkesiap. Ia dapat merasakan hembusan nafas rega di
kulit lehernya. “Apa yang kamu lakukan.”
“Sebentar saja, izinkan aku sebentar saja seperti ini maka aku
akan baik-baik saja.” Pinta Rega dengan suara parau.
Latte diam, menuruti perkataan pemuda itu. Tubuhnya kaku seperti
patung namun jantungnya berdetak cepat dan kencang sekali, sampai Latte takut
Rega dapat mendengarnya.