ELEVEN

ELEVEN
Six



September 2019


Jalanan di kota Cambridge, Britania Raya basah diguyur hujan deras,


langit di atasnya berwarna kelabu, membuat suasana kota cantik itu


terlihat dingin dan tidak bersahabat berbanding terbalik dengan suasana hangan


di dalam kedai kopi di sisi jalan Maddalene Street.


Kedai kopi itu dipenuhi pengunjung yang bercengkrama, sesekali terdngar gelak tawa.


Lampu-lampu di langit-langi mengeluarkan cahaya kekuningan yang hangat.


Aroma kopi terasa kental di udara, membuat suasana menjadi lebih nyaman.


Seorang pemuda berumur awal dua puluhan menatap secangkir Latte


hangat yang tersaji di atas meja, seraya tersenyum.


Gadis remaja di hadapannya ikut tersenyum. Tanpa bertanya pun ia tahu,


pemuda dihadapannya teringat dengan gadis mungkil di dalam kisah manis yang


sedang pemuda itu ceritakan. Pandangan Rega mengawang, seakan-akan sedang


mengenang sesuatu. Bibirnya melukis senyum masam.


Beberapa detik berlalu tanpa ada satu patah katapun keluar.


“Ah, sampai mana tadi kita?” Tersadar dari lamunan, Rega menatap


gadis muda yang duduk di hadapannya.


“Meminum secangkir Latte dan espresso sehabis membuat kue?” Jawab


Adelaine


“Ah ya.” Rega kembali mengingat penggalan kisah yang barusan ia


ceritakan. “Kamu masih mau mendengar kelanjutannya?”


Adelaine mengangguk semangat.


Kesedihan nampaknya mulai meninggalkan dirinya.


***


Bandung


September 2015


Pukul tiga sore Latte dan Rega telah menyelesaikan kue buatan mereka. Latte menghias bagian atas kue


dengan gambar bola basket dan mengemas kue itu dalam kardus dengan rapi.


“Ayo, kita harus mengantar kue ini ke suatu tempat.” Beritahu


Latte, gadis itu keluar toko lebih dulu disusul oleh Rega.


“Mau kemana?” tanya Rega ketika mereka sudah berada di dalam


mobil, dia kira tugasnya telah selesai ketika


kue yang mereka buat sudah jadi.


Latte tersenyum misterius.


“Jalan saja, nanti aku yang tunjukan arahnya.”


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah lapangan basket


di pinggiran kota. Lapangan basket itu terlihat tidak terurus, tiang ring sudah


karatan dan lingkaran ringnya botak tanpa ada tali. Lantai lapangan yang


terbuat dari semen itu juga sudah retak-retak di beberapa bagian, rumput


terlihat menyembul dari retakan-retakan itu.


Latte duduk di tribun yang berbentuk seperti tiga anak tangga yang


terbuat dari semen di sisi lapangan.


Ia memperhatikan jam tangannya. “ Tunggu sebentar lagi mereka akan datang.”


“Mereka?”


Bersamaan dengan pertanyaan Rega, segerombolan anak kecil usia


sekolah dasar berlarian menuju langangan, menghampiri Latte. Anak-anak itu


terlihat lusuh, baju mereka dekil seperti tidak pernah dicuci bersih, kulit


mereka hitam  dan rambut mereka memerah terbakar matahari.


“Mereka anak-anak jalanan, yang biasa kamu temui sedang ngamen di


angkutan umum atau di pinggir jalan.“ Beritahu Latte.


“Hari biasanya mereka harus berkerja untuk kemudian


uang hasilnya diberikan ke bos mereka yang galak, tapi setiap Sabtu, dari


selepas dzuhur hingga selepas magrib, mereka punya waktu libur.”


“Terus kita di sini mau ngapain?” Tanya Rega. Anak-anak itu kini


sudah mengerumuni mereka.


“Main basket.” Jawab Latte yang segera bangkit berdiri, ia menghampiri gerombolan anak-anak


jalanan itu.


Jumlah anak-anak itu ada sepuluh, ditambah Rega dan Latte menjadi


dua belas orang. Latte membagi mereka semua menjadi dua tim yang akan saling


melawan berdasarkan hompimpah. Latte berada di tim putih bersama kelima anak


lainnya sementara Rega dan sisanya di tim hitam.


Latte maju sebagai pemain inti di timnya, sementara Rega memilih


menjadi pemain cadangan dan menunggu di tribun pinggir lapangan.


Pemuda itu memperhatikan Latte yang berlari kesana-kemari bersama


yang lainnya. Gadis itu sesekali tertawa melihat tingkah para bocah itu yang


terkadang memeluk bolanya agar tidak direbut lawan sehingga terjadi perebutan


bola yang ricuh. Rega menyadari gadis itu tidak serius bermain, ia hanya


berlaku sebagai pemain pendukung untuk anak-anak lain saat ini. Gadis itu


bahkan hampir tidak pernah memegang bola lebih dari tiga detik, ia selalu


segara mengopernya ke pada anak yang lain.


Di tengah pertandingan salah satu anak perempuan dari tim hitam jatuh tertabrak temannya.


Latte segera menghampiri gadis kecil itu.


“Mawar kamu tidak apa-apa? Sakit?”


tanya Latte, ia membantu membersihkan lutut Mawar yang dipenuhi krikil-krikil


kecil.


Gadis itu mengangguk, “sakit, tapi tidak apa-apa”.


Lutut gadis itu lecet dan mengeluarkan sedikit darah. Latte


meniup-niup lukanya lalu mengeluarkan sebuah plaster dari saku celannya. Ia


dengan telaten memakaikan plaster luka


itu pada lutut Mawar.


Latte menyuruh Mawar beristirahat di pinggir lapangan dan


memanggil Rega untuk bergabung ke dalam lapangan.


Rega menghela nafas kesal, tetapi tetap saja pemuda itu melangkah


memasuki lapangan.


"Aku tidak bisa main basket." Beritahu Rega.


"Eiy, kau kan manager tim basket, pasti tahu dasar-dasarnya kan." Ucap Latte. "Atau jangan-jangan kamu tahut kalah ya? yaampun masa dengan anak-anak bocah ini kamu takut kalah."


Gadis itu tersenyum mengejek. Ia mencoba memancing Rega.


"Terserah kalau kamu mau berpikir demikian, saya tidak peduli." Rega membalikan badannya. Acuh tak acuh dengan Latte yang cemberut menatapnya. Baru saja ia akan melangkahkan kakinya keluar lapangan, tangan mungil menarik kelingkingnya pelan.


"Paman mau ya menggantikan ku?" Mawar menatap Rega memelas. "Kalau paman tidak main, permainan tidak bisa dilanjutkan. kasihan teman-teman yang lain. Padahal mereka sudah menantikan hari ini selama seminggu kemarin."


Rega menelan ludah. Melihat tatapan memelas gadis itu rasanya akan membuat


Rega menjadi orang paling kejam di dunia. Terpaksa ia menganggukan kepalanya.


Pertandingan dilanjutkan dengan tim putih ungul 12-8.  Rega menerima bola, tetapi Latte segera


menghadangnya. Gadis itu dengan cekatan memukul bola sehingga bola terlepas


dari tangan Rega. Rega menatap Latte terkesiap, gadis itu sangat cepat.


Beberapa saat kemudian Rega kembali mendapatkan bola, tetapi Latte


berhasil menghadangnya, lagi dan lagi.


hingga terlepas dari tangan Rega lagi. Latte balas menatapnya, “apa?” Gadis itu tertawa, membuat Rega semakin


kesal. Sepertinya gadis itu sangat menikmati kekesalan Rega.


“Oper bolanya padaku!” Perintah Rega yang kesal pada Danur, bocah


12 tahun yang sedang men-dribble bola. Danur terlihat ragu sejenak


tapi tetap mengoper bolanya pada Rega.


Latte kembali menghadang Rega.


Pemuda itu sudah menduganya.


Rega berputar, bermaksud menghindari Latte sekaligus menembus pertahanan gadis itu.


Tapi Rega tidak menyadari bahwa semua gerakan Latte benar-benar cepat.


Rega tersenyum bangga ketika ia berhasil melewati Latte dengan


putarannya, tapi sedetik kemudian dia sadar, bola sudah tidak lagi di


tangannya. Rega segera berbalik.


Rega menyaksikan Latte yang tengah melompat, bersiap melakukan


shoot. Bola terlepas dari tangan gadis itu dan meluncur mulus.


“Wah..” terdengar seruan kagum anak-anak yang ikut menyaksikan


aksi Latte.


Bola masuk, tanpa menyentuh cincin Ring sama sekali. Three point.


Latte berbalik, menatap Rega, menyeringai angkuh.


“Apa liat-liat?” Ucap Rega ketus yang berhasil membuat Latte


tertawa seketika.


Latte tahu betul, sang siswa berprestasi itu, tentu akan


merasa jengkel saat ini. Orang seperti Rega, yang selalu menang di setiap lomba dan olimpiade yang diikuti, pasti sangat tidak terbiasa dengan kekalahan.


Tapi siapa sangka, pemuda itu


bisa sangat kekanakan seperti itu. Lucu sekali.


“Tim yang menang, berhak untuk meniup kue dan memotong kuenya!”


Seru Latte antusias. Mereka semua berkumpul di pinggir lapangan setelah selesai


bermain basket.  Latte mengeluarkan kue


yang sebelumnya dibuat bersama Rega dan dua botol es teh manis kemasan.


Anggota tim putih yang memenangkan pertandingan meniup lilinnya


bersama-sama. Ketika lilin padam,


semua bertepuk tangan. Latte memotong-motong


kue dan membaginya pada anak-anak.


Mawar yang melihat Rega diam saja memberikan kuenya pada pemuda


itu. “Jangan sedih om, walau kita kalah,” ucapnya.


Rega mengernyit, “om? Apa


kakak terlihat seperti om-om di mata


kamu?”


Latte yang mendengar percakapan itu tertawa. Ia menepuk pelan


kepala Mawar. “Kakak Rega, bukan om,


sayang.” Beritahunya pada gadis kecil itu.


Mawar tertawa, “iya


maksudnya Kakak Rega.


Ini buat Kakak Rega.” Gadis itu meyodorkan sepiring kue pada


Rega.


Rega tersenyum, menerima kue tersebut. “Makasih Mawar. Gimana lukamu, masih sakit?”


Mawar menggeleng, lalu ia kembali duduk bersama anak-anak lain,


mengambil potongan kue yang lain dan memakan kue bersama anak-anak lainnya.


“Seru kan?” Tanya Latte


pada Rega, Gadis itu memposisikan dirinya duduk di sebelah Rega,


menatap anak-anak yang sedang menikmati kue mereka.


Rega mengangguk, “kamu selalu


melakukan ini setiap Sabtu?


Latte mengangguk, “setiap selesai membantu di toko, aku selalu


menyempatkan diri ke sini. Aku sudah berjanji pada mereka.”


“Kenapa kamu mau melakukan hal ini? Apa untungnya buatmu?”


Latte menoleh, menatap Rega dan tersenyum, “untungnya? Hm bukan materi sih, tapi ini.”


Gadis itu meletakan tangannya di dada. “Bukankah saat ini kamu juga merasakan


hatimu jadi terasa ringan dan hangat melihat keceriaan anak-anak itu?”


Rega diam, mencoba merasakan apa yang gadis itu katakan. Ya, dia


merasakannya. Rasanya menyenangkan.


“Aku bertemu mereka waktu sedang latihan di lapangan terbuka


bersama anggota tim yang lain,” Latte memulai. “Saat itu, hanya ada Dandi, Mawar dan Bobi. Mereka


memperhatikan kami yang sedang latihan, di tangan


membawa gitarkecil, dan botol berisi


pasir serta uang tabungan hasil mereka mengamen yang diam-diam mereka simpan.


“Saat pulang latihan, aku menghampiri mereka. Aku bertanya apakah


mereka ingin bermain basket bareng denganku. Mereka menggeleng. Mereka tidak


tahu cara bermain basket.” Latte tertawa.


“anak laki-laki itu?” Tanya Rega, Menunjuk anak laki-laki yang sedang makan kue.


Tidak percaya kalau Bobi yang lihai sekali di lapangan tidak bisa main basket sebelumnya.


"Ya, Bobi memang sangat berbakat."


Latte  tersenyum. “Ya


pokoknya, sejak saat itu aku memutuskan untuk mengajari mereka bermain basket.”


Gadis itu mentap anak-anak dikejauhan. “Rasanya bangga bercampur bahagia


melihat mereka riang gembira bermain basket di lapangan seperti sekarang.”


Rega menatap Latte dengan


pandangan yang Latte tidak mengerti artinya.


“Apa?” tanya gadis itu.


Penyadari Rega terus memandangnya.


Rega buru-buru mengalihkan pandangan. Pemuda itu hanya


menggeleng, tetapi Latte bisa melihat telinga Rega yang memerah. Mereka diam


selama beberapa saat.


“Kamu hebat.” Ucap Rega    `


kemudian yang membuat Latte menatapnya. Pemuda itu balik memandang Latte,


tersenyum.


Mereka saling pandang


selama beberapa detik, Rega merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan


sebelumnya, tapi ia menyukai perasaan itu. Ia menyukai menatap mata coklat


gadis itu.


Latte mengalihkan pandangan lebih dulu, Ia merasa kikuk. Gadis itu


berdiri. Berlari menghampiri anak-anak, “anak-anak sudah makannya?”


Rega memperhatikan Latte


yang sibuk mengurusi bocah-bocah itu, membantu membersihkan sisa-sisa kue.


Di mata Rega, sejak awal dia melihat Latte, dia selalu terlihat


mungil. Tapi sejak saat ini, gadis itu juga terlihat cantik.