
September 2019
Jalanan di kota Cambridge, Britania Raya basah diguyur hujan deras,
langit di atasnya berwarna kelabu, membuat suasana kota cantik itu
terlihat dingin dan tidak bersahabat berbanding terbalik dengan suasana hangan
di dalam kedai kopi di sisi jalan Maddalene Street.
Kedai kopi itu dipenuhi pengunjung yang bercengkrama, sesekali terdngar gelak tawa.
Lampu-lampu di langit-langi mengeluarkan cahaya kekuningan yang hangat.
Aroma kopi terasa kental di udara, membuat suasana menjadi lebih nyaman.
Seorang pemuda berumur awal dua puluhan menatap secangkir Latte
hangat yang tersaji di atas meja, seraya tersenyum.
Gadis remaja di hadapannya ikut tersenyum. Tanpa bertanya pun ia tahu,
pemuda dihadapannya teringat dengan gadis mungkil di dalam kisah manis yang
sedang pemuda itu ceritakan. Pandangan Rega mengawang, seakan-akan sedang
mengenang sesuatu. Bibirnya melukis senyum masam.
Beberapa detik berlalu tanpa ada satu patah katapun keluar.
“Ah, sampai mana tadi kita?” Tersadar dari lamunan, Rega menatap
gadis muda yang duduk di hadapannya.
“Meminum secangkir Latte dan espresso sehabis membuat kue?” Jawab
Adelaine
“Ah ya.” Rega kembali mengingat penggalan kisah yang barusan ia
ceritakan. “Kamu masih mau mendengar kelanjutannya?”
Adelaine mengangguk semangat.
Kesedihan nampaknya mulai meninggalkan dirinya.
***
Bandung
September 2015
Pukul tiga sore Latte dan Rega telah menyelesaikan kue buatan mereka. Latte menghias bagian atas kue
dengan gambar bola basket dan mengemas kue itu dalam kardus dengan rapi.
“Ayo, kita harus mengantar kue ini ke suatu tempat.” Beritahu
Latte, gadis itu keluar toko lebih dulu disusul oleh Rega.
“Mau kemana?” tanya Rega ketika mereka sudah berada di dalam
mobil, dia kira tugasnya telah selesai ketika
kue yang mereka buat sudah jadi.
Latte tersenyum misterius.
“Jalan saja, nanti aku yang tunjukan arahnya.”
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah lapangan basket
di pinggiran kota. Lapangan basket itu terlihat tidak terurus, tiang ring sudah
karatan dan lingkaran ringnya botak tanpa ada tali. Lantai lapangan yang
terbuat dari semen itu juga sudah retak-retak di beberapa bagian, rumput
terlihat menyembul dari retakan-retakan itu.
Latte duduk di tribun yang berbentuk seperti tiga anak tangga yang
terbuat dari semen di sisi lapangan.
Ia memperhatikan jam tangannya. “ Tunggu sebentar lagi mereka akan datang.”
“Mereka?”
Bersamaan dengan pertanyaan Rega, segerombolan anak kecil usia
sekolah dasar berlarian menuju langangan, menghampiri Latte. Anak-anak itu
terlihat lusuh, baju mereka dekil seperti tidak pernah dicuci bersih, kulit
mereka hitam dan rambut mereka memerah terbakar matahari.
“Mereka anak-anak jalanan, yang biasa kamu temui sedang ngamen di
angkutan umum atau di pinggir jalan.“ Beritahu Latte.
“Hari biasanya mereka harus berkerja untuk kemudian
uang hasilnya diberikan ke bos mereka yang galak, tapi setiap Sabtu, dari
selepas dzuhur hingga selepas magrib, mereka punya waktu libur.”
“Terus kita di sini mau ngapain?” Tanya Rega. Anak-anak itu kini
sudah mengerumuni mereka.
“Main basket.” Jawab Latte yang segera bangkit berdiri, ia menghampiri gerombolan anak-anak
jalanan itu.
Jumlah anak-anak itu ada sepuluh, ditambah Rega dan Latte menjadi
dua belas orang. Latte membagi mereka semua menjadi dua tim yang akan saling
melawan berdasarkan hompimpah. Latte berada di tim putih bersama kelima anak
lainnya sementara Rega dan sisanya di tim hitam.
Latte maju sebagai pemain inti di timnya, sementara Rega memilih
menjadi pemain cadangan dan menunggu di tribun pinggir lapangan.
Pemuda itu memperhatikan Latte yang berlari kesana-kemari bersama
yang lainnya. Gadis itu sesekali tertawa melihat tingkah para bocah itu yang
terkadang memeluk bolanya agar tidak direbut lawan sehingga terjadi perebutan
bola yang ricuh. Rega menyadari gadis itu tidak serius bermain, ia hanya
berlaku sebagai pemain pendukung untuk anak-anak lain saat ini. Gadis itu
bahkan hampir tidak pernah memegang bola lebih dari tiga detik, ia selalu
segara mengopernya ke pada anak yang lain.
Di tengah pertandingan salah satu anak perempuan dari tim hitam jatuh tertabrak temannya.
Latte segera menghampiri gadis kecil itu.
“Mawar kamu tidak apa-apa? Sakit?”
tanya Latte, ia membantu membersihkan lutut Mawar yang dipenuhi krikil-krikil
kecil.
Gadis itu mengangguk, “sakit, tapi tidak apa-apa”.
Lutut gadis itu lecet dan mengeluarkan sedikit darah. Latte
meniup-niup lukanya lalu mengeluarkan sebuah plaster dari saku celannya. Ia
dengan telaten memakaikan plaster luka
itu pada lutut Mawar.
Latte menyuruh Mawar beristirahat di pinggir lapangan dan
memanggil Rega untuk bergabung ke dalam lapangan.
Rega menghela nafas kesal, tetapi tetap saja pemuda itu melangkah
memasuki lapangan.
"Aku tidak bisa main basket." Beritahu Rega.
"Eiy, kau kan manager tim basket, pasti tahu dasar-dasarnya kan." Ucap Latte. "Atau jangan-jangan kamu tahut kalah ya? yaampun masa dengan anak-anak bocah ini kamu takut kalah."
Gadis itu tersenyum mengejek. Ia mencoba memancing Rega.
"Terserah kalau kamu mau berpikir demikian, saya tidak peduli." Rega membalikan badannya. Acuh tak acuh dengan Latte yang cemberut menatapnya. Baru saja ia akan melangkahkan kakinya keluar lapangan, tangan mungil menarik kelingkingnya pelan.
"Paman mau ya menggantikan ku?" Mawar menatap Rega memelas. "Kalau paman tidak main, permainan tidak bisa dilanjutkan. kasihan teman-teman yang lain. Padahal mereka sudah menantikan hari ini selama seminggu kemarin."
Rega menelan ludah. Melihat tatapan memelas gadis itu rasanya akan membuat
Rega menjadi orang paling kejam di dunia. Terpaksa ia menganggukan kepalanya.
Pertandingan dilanjutkan dengan tim putih ungul 12-8. Rega menerima bola, tetapi Latte segera
menghadangnya. Gadis itu dengan cekatan memukul bola sehingga bola terlepas
dari tangan Rega. Rega menatap Latte terkesiap, gadis itu sangat cepat.
Beberapa saat kemudian Rega kembali mendapatkan bola, tetapi Latte
berhasil menghadangnya, lagi dan lagi.
hingga terlepas dari tangan Rega lagi. Latte balas menatapnya, “apa?” Gadis itu tertawa, membuat Rega semakin
kesal. Sepertinya gadis itu sangat menikmati kekesalan Rega.
“Oper bolanya padaku!” Perintah Rega yang kesal pada Danur, bocah
12 tahun yang sedang men-dribble bola. Danur terlihat ragu sejenak
tapi tetap mengoper bolanya pada Rega.
Latte kembali menghadang Rega.
Pemuda itu sudah menduganya.
Rega berputar, bermaksud menghindari Latte sekaligus menembus pertahanan gadis itu.
Tapi Rega tidak menyadari bahwa semua gerakan Latte benar-benar cepat.
Rega tersenyum bangga ketika ia berhasil melewati Latte dengan
putarannya, tapi sedetik kemudian dia sadar, bola sudah tidak lagi di
tangannya. Rega segera berbalik.
Rega menyaksikan Latte yang tengah melompat, bersiap melakukan
shoot. Bola terlepas dari tangan gadis itu dan meluncur mulus.
“Wah..” terdengar seruan kagum anak-anak yang ikut menyaksikan
aksi Latte.
Bola masuk, tanpa menyentuh cincin Ring sama sekali. Three point.
Latte berbalik, menatap Rega, menyeringai angkuh.
“Apa liat-liat?” Ucap Rega ketus yang berhasil membuat Latte
tertawa seketika.
Latte tahu betul, sang siswa berprestasi itu, tentu akan
merasa jengkel saat ini. Orang seperti Rega, yang selalu menang di setiap lomba dan olimpiade yang diikuti, pasti sangat tidak terbiasa dengan kekalahan.
Tapi siapa sangka, pemuda itu
bisa sangat kekanakan seperti itu. Lucu sekali.
“Tim yang menang, berhak untuk meniup kue dan memotong kuenya!”
Seru Latte antusias. Mereka semua berkumpul di pinggir lapangan setelah selesai
bermain basket. Latte mengeluarkan kue
yang sebelumnya dibuat bersama Rega dan dua botol es teh manis kemasan.
Anggota tim putih yang memenangkan pertandingan meniup lilinnya
bersama-sama. Ketika lilin padam,
semua bertepuk tangan. Latte memotong-motong
kue dan membaginya pada anak-anak.
Mawar yang melihat Rega diam saja memberikan kuenya pada pemuda
itu. “Jangan sedih om, walau kita kalah,” ucapnya.
Rega mengernyit, “om? Apa
kakak terlihat seperti om-om di mata
kamu?”
Latte yang mendengar percakapan itu tertawa. Ia menepuk pelan
kepala Mawar. “Kakak Rega, bukan om,
sayang.” Beritahunya pada gadis kecil itu.
Mawar tertawa, “iya
maksudnya Kakak Rega.
Ini buat Kakak Rega.” Gadis itu meyodorkan sepiring kue pada
Rega.
Rega tersenyum, menerima kue tersebut. “Makasih Mawar. Gimana lukamu, masih sakit?”
Mawar menggeleng, lalu ia kembali duduk bersama anak-anak lain,
mengambil potongan kue yang lain dan memakan kue bersama anak-anak lainnya.
“Seru kan?” Tanya Latte
pada Rega, Gadis itu memposisikan dirinya duduk di sebelah Rega,
menatap anak-anak yang sedang menikmati kue mereka.
Rega mengangguk, “kamu selalu
melakukan ini setiap Sabtu?
Latte mengangguk, “setiap selesai membantu di toko, aku selalu
menyempatkan diri ke sini. Aku sudah berjanji pada mereka.”
“Kenapa kamu mau melakukan hal ini? Apa untungnya buatmu?”
Latte menoleh, menatap Rega dan tersenyum, “untungnya? Hm bukan materi sih, tapi ini.”
Gadis itu meletakan tangannya di dada. “Bukankah saat ini kamu juga merasakan
hatimu jadi terasa ringan dan hangat melihat keceriaan anak-anak itu?”
Rega diam, mencoba merasakan apa yang gadis itu katakan. Ya, dia
merasakannya. Rasanya menyenangkan.
“Aku bertemu mereka waktu sedang latihan di lapangan terbuka
bersama anggota tim yang lain,” Latte memulai. “Saat itu, hanya ada Dandi, Mawar dan Bobi. Mereka
memperhatikan kami yang sedang latihan, di tangan
membawa gitarkecil, dan botol berisi
pasir serta uang tabungan hasil mereka mengamen yang diam-diam mereka simpan.
“Saat pulang latihan, aku menghampiri mereka. Aku bertanya apakah
mereka ingin bermain basket bareng denganku. Mereka menggeleng. Mereka tidak
tahu cara bermain basket.” Latte tertawa.
“anak laki-laki itu?” Tanya Rega, Menunjuk anak laki-laki yang sedang makan kue.
Tidak percaya kalau Bobi yang lihai sekali di lapangan tidak bisa main basket sebelumnya.
"Ya, Bobi memang sangat berbakat."
Latte tersenyum. “Ya
pokoknya, sejak saat itu aku memutuskan untuk mengajari mereka bermain basket.”
Gadis itu mentap anak-anak dikejauhan. “Rasanya bangga bercampur bahagia
melihat mereka riang gembira bermain basket di lapangan seperti sekarang.”
Rega menatap Latte dengan
pandangan yang Latte tidak mengerti artinya.
“Apa?” tanya gadis itu.
Penyadari Rega terus memandangnya.
Rega buru-buru mengalihkan pandangan. Pemuda itu hanya
menggeleng, tetapi Latte bisa melihat telinga Rega yang memerah. Mereka diam
selama beberapa saat.
“Kamu hebat.” Ucap Rega `
kemudian yang membuat Latte menatapnya. Pemuda itu balik memandang Latte,
tersenyum.
Mereka saling pandang
selama beberapa detik, Rega merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan
sebelumnya, tapi ia menyukai perasaan itu. Ia menyukai menatap mata coklat
gadis itu.
Latte mengalihkan pandangan lebih dulu, Ia merasa kikuk. Gadis itu
berdiri. Berlari menghampiri anak-anak, “anak-anak sudah makannya?”
Rega memperhatikan Latte
yang sibuk mengurusi bocah-bocah itu, membantu membersihkan sisa-sisa kue.
Di mata Rega, sejak awal dia melihat Latte, dia selalu terlihat
mungil. Tapi sejak saat ini, gadis itu juga terlihat cantik.