ELEVEN

ELEVEN
Eighteen



Resya dan Rahardian, ayahnya sudah duduk di meja makan. Berbagai


makanan sudah tersaji di atas meja pajang dengan delapan kursi itu. Rega


mengambil duduk di sebelah ibunya, bersilangan dengan ayahnya.


“Apa yang mau ayah sampaikan?” Tanya Rega langsung pada intinya.


“Ayo makan dulu. Baru kita bicara.” Jawab ayahnya datar. Resya


dengan cekatan menyendokan nasi dan berbagai lauk pada piring Rahardi, kemudian


pada piring Rega dan baru pada piringnya sendiri.


Rega lama diam, tidak menyentuh makanannya.


“Kenapa ga dimakan, sayang?” tanya Resya. Rahardi melirik Rega.


“Rega makan.” Perintah ayahnya singkat. Rega mengambil sendoknya


dan mulai menyuapkan makanan dari piring ke dalam mulutnya.


Suasana dimeja makan hening. Bahkan suara alat makan pun hampir


tidak terdengar. Ayahnya benci seseorang yang makan dengan berisik. Makan malam


dengan keluarganya memang selalu seperti ini suasananya, hening dan jauh dari


kesan hangat. Tiba-tiba Rega jadi rindu suasana makan bersama tim Renjana.


“Bagaimana sekolahmu?” tanya Rahardi tepat setelah Rega metakan


sendok dan garpu di atas piring yang sudah kosong.


“Baik.”


“Bagaimana dengan rencana kuliah di Cambridge?”


Rega meletakan galas yang barusan diminumnya,. “Aku sedang


menyiapkan berkas-berkas dan persyaratannya.”


Rahardi mengangguk. “Ayah dukung keputusanmu. Kalau ada yang kamu


butuhkan beritahu ayah atau ibumu.”


Rega mengangguk. “Ya, terimakasih.”


“Oiya sayang, ibu juga dengar kamu sibuk sekali akhir-akhir ini,


sampai setiap akhir pekan kamu selalu pergi?”


Rega menoleh menatap ibunya yang tersenyum. “Aku sedang ikut


organisasi.”


“Oh ya?” Tanya Ibunya. Resya melirik sekilas suaminya. Rahardi


sedang menyesap teh di cangkirnya kemudian setelah meletakan gelasnya, ia fokus


pada Rega.


“Organisasi apa?” Lanjut Resya.


“Basket.”


“Basket?” Rahardi terdengar tidak suka. “Bukan kah ayah sudah


menyurumu untuk tidak ikut klub basket lagi dan fokus studimu?”


Rega menatap ayahnya. “Aku harus ikut, kalau ingin mendaftar ke


Cambridege.”


Ayahnya baru akan buka mulut ketika Rega cepat-cepat menambahkan.


“Aku butuh pengalaman Organisasi di resumeku  yang dibuktikan dengan sertifikat keanggotaan.


Berhubung saat ini sudah pertengahan tahun ajaran tidak ada extrakulikuler lain


yang open requitment selain Basket. Lagipula aku bukannya jadi pemain,


melainkan menjadi managernya.”


Setelah Rega menyelesaikan kalimatnya. Ayahnya tidak mengucapkan


sepatah katapun membuat suasana menjadi hening selama beberapa saat.


“Oke, ayah mengerti keputusanmu itu.”  Rahardi mengangguk sekali. “Ayah juga ingin


memberitahumu, besok kita sekeluarga berangkat ke Singapura.”


Rega tersentak, ia metekan cangkir di meja secara tiba-tba dan


dengan hentakan tanpa ia sadari, membuat suara nyaring ketika permukaan kaca


meja makan bertubrukan dengan bagian alas cangkir. “Maaf.” Ucap Rega ketika


menyadari perbuatannya. Rega menatap ayahnya bingung, “Kenapa tiba-tiba?”


“Tiba-tiba? Seingat ayah, ayah sudah menyuru ibumu memberitahu


kamu, kalau Sabtu tanggal 11 kita akan berangkat ke Singapura untuk menghadiri Grand Opening cabang perusahaan ayah tepat


di hari Minggunya.” Rahardi berbalik menatap Resya. “Sudah kamu beritahu kan?”


Resya mengangguk. “Ibu sudah beritahu kamu loh, minggu lalu lewat


telfon.”


Rega baru ingat, ibunya memang menelponnya minggu lalu, dua hari


sebelum Techinal Meeting dilaksanakan. Rega mengiyakannya dan ketika menerima jadwal pertandingan, Dia


benar-benar lupa Grand Opening cabang


perusahaan ayahnya itu.  “Iya, aku baru


ingat.”


Rega menatap ayahnya ragu. Ia hendak meminta izin untuk tidak ikut


pergi ke Singapura, besok adalah hari tim Renjana berangkat ke ibu kota dan


besoknya juga pertandingan perdana timnya. Tapi ketika melihat wajah ayahnya


yang selalu terlihat keras dan dingin, Rega mengurungkan niatnya. Tanpa ia


pertanyakanpun, Rega sudah tahu jawabannya.


***


 Esoknya, pukul tiga lewat


lima puluh menit, tim Renjana sudah berkumpul di dalam gym, kecuali Rega dan


Galuh yang masih belum datang.


“Coach dan Rega belum


datang?” Tanya Latte. Tidak biasanya Galuh datang paling terakhir.


“Belum,”Jawab Eva. “Katanya di dekat rumahnya ada mobil truk mogok


jadi sempat kejebak macet. Tapi barusan Coach mengirim pesan, katanya sebentar lagi sampai kok. Kalau Rega aku ga tahu kenapa


belum datang juga jam seginii”


cekatan membagi-bagi tim di dalam tiga mobil, yaitu mobilnya sendiri, mobil Eva


dan mobil Naomi. Selesai menyebutkan nama-nama penumpang setiap mobil, Galuh


menyuru mereka semua memasuki mobil karena mereka akan segera berangkat untuk


menghindari kemacetan. Tapi Rega belum juga terlihat.


Latte mengangkat tangannya, tepat ketika Galuh selesai berbicara.


“Coach, Rega belum datang.”


Beritahunya.


Galuh menatapnya sebentar lalu menghela nafas sebelum menjawab.


“Rega tidak datang.”


Serempak mereka semua menatap Galuh terkejut.


“Rega ada urusan keluarga yang mendesak. Dia bilang nanti dia akan


menyusul. Ayo- ayo sekarang semua masuk mobil!”


Latte berjalan ke luar gymnasium


mengikuti yang lain dan masuk ke dalam mobil Eva bersama sang pemilik mobil,


Keysha, Annisa dan Adiba.


Latte mengetik pesan singkat pada Rega


ketika mobil mulai melaju meninggalkan parkiran gymnasium.


Kami


berangkat sekarang. Doakan kami selamat sampai tujuan. Segera menyusul ya agar


kita bisa menonton opening ceremony bersama. Opening BCL selalu meriah loh. Kami


menunggumu.


Sent.


Saat itu Latte belum tahu, kalau Rega


tidak akan bisa menonton Opening Ceremony bersamanya dan yang lain. Gadis itu


belum tahu kalau Rega tidak akan segera datang menyusul, setidaknya hingga tiga


atau empat hari kemudian.


     Rega


merapikan dasi merah marunnya lalu metap pantulan dirinya di depan cermin. Dia


sedang berada di dalam kamar salah satu hotel mewah di Singapura, mengenakan setelan


tuxedo navy dengan kemeja hitam yang ia padukan dengan dasi merah marun. Pemuda


itu memiringkan badannya, memastikan bagian belakang tuxedonya rapih.


Terdengar ketukan di pintu kamarnya


disusul suara Resya menyuruhnya bersegara dan memberitahu kalau orangtuanya


akan menunggu di lobi hotel.


Setelah memastikan pakaiannya rapi dan


merapikan rambutnya sekali lagi, Rega mengambil ponselnya di atas kasur dan


memasukannya ke dalam saku celana bahannya. Ia segera ke luar kamar dan


memasuki lift menuju lantai dasar, tempat dimana lobi hotel berada.


Rega segera keluar ketika pintu lift


terbuka, ia tahu benar wajak ayahnya yang tidak suka menunggu. Rahardi dan


Resya sedang duduk di sofa lobi, mereka segera berdiri ketika melihat Rega


berjalan mendekat. Resya menggandeng tangan Rega saat berjalan keluar Hotel.


“Mungkin ibu terlalu sibuk oleh


pekerjaan sampai tidak sadar anak Ibu sudah sebesar ini. Kamu tumbuh menjadi


pemuda yang sangat tampan, Sayang.”  Ucap


Ibunya lembut.


Rega tersenyum. Mobil mereka sudah


terparkir tepat di depan hotel, petugas hotel berseragam yang berdiri di


sebelah pintu mobil segera memberikan kunci mobil pada Rahardi. Mereka semua


masuk ke dalam mobil.


“Berapa umurmu tahun ini?” tanya


Rahardi ketika mobil sudah meninggalkan parkiran hotel.


“Tujuh belas.” Rega menatap ke luar


jendela. Ia tidak marah atau merasa kecewa orang tuanya tidak mengingat berapa


umurnya, Rega hanya sudah menduganya. Jangankan untuk mengingat umurnya, mereka


bahkan sering lupa hari ulang tahunnya. Sering kali Rega merayakan ulang


tahunya hanya dengan mbok Ijah.


Bisa dikatakan selama ini Rega tumbuh


dewasa sendirian.


“Kau sudah tumbuh dengan baik. Ayah


bangga” Ucap ayahnya.


Rega mengangguk. Rega kenal baik dengan


watak ayahnya, oleh karena itu kalimat singkat seperti itu merupakan suatu


pujian baginya. Ia memang sering menang lomba akademik, berkali-kali meraih


medali emas olimpiade sains. Dua kali berturut-turut menjadi Siswa Berprestasi,


tapi ayahnya hampir tidak pernah memujinya.


Nilai akademik yang baik merupakan suatu keharusan baginya. Rega


ingat dulu waktu dia kelas dua, nilai rapot pertengahan semesternya turun.


Ayahnya marah besar dan menyuruhnya berhenti ikut klub basket dan fokus pada


studinya. Kemarahan ayahnya, serta rasa haus akan kasih sayang membulatkan


keputusan Rega untuk membuang dunia basket, walaupun itu merupakan hal yang


sangat disukainya.