
Resya dan Rahardian, ayahnya sudah duduk di meja makan. Berbagai
makanan sudah tersaji di atas meja pajang dengan delapan kursi itu. Rega
mengambil duduk di sebelah ibunya, bersilangan dengan ayahnya.
“Apa yang mau ayah sampaikan?” Tanya Rega langsung pada intinya.
“Ayo makan dulu. Baru kita bicara.” Jawab ayahnya datar. Resya
dengan cekatan menyendokan nasi dan berbagai lauk pada piring Rahardi, kemudian
pada piring Rega dan baru pada piringnya sendiri.
Rega lama diam, tidak menyentuh makanannya.
“Kenapa ga dimakan, sayang?” tanya Resya. Rahardi melirik Rega.
“Rega makan.” Perintah ayahnya singkat. Rega mengambil sendoknya
dan mulai menyuapkan makanan dari piring ke dalam mulutnya.
Suasana dimeja makan hening. Bahkan suara alat makan pun hampir
tidak terdengar. Ayahnya benci seseorang yang makan dengan berisik. Makan malam
dengan keluarganya memang selalu seperti ini suasananya, hening dan jauh dari
kesan hangat. Tiba-tiba Rega jadi rindu suasana makan bersama tim Renjana.
“Bagaimana sekolahmu?” tanya Rahardi tepat setelah Rega metakan
sendok dan garpu di atas piring yang sudah kosong.
“Baik.”
“Bagaimana dengan rencana kuliah di Cambridge?”
Rega meletakan galas yang barusan diminumnya,. “Aku sedang
menyiapkan berkas-berkas dan persyaratannya.”
Rahardi mengangguk. “Ayah dukung keputusanmu. Kalau ada yang kamu
butuhkan beritahu ayah atau ibumu.”
Rega mengangguk. “Ya, terimakasih.”
“Oiya sayang, ibu juga dengar kamu sibuk sekali akhir-akhir ini,
sampai setiap akhir pekan kamu selalu pergi?”
Rega menoleh menatap ibunya yang tersenyum. “Aku sedang ikut
organisasi.”
“Oh ya?” Tanya Ibunya. Resya melirik sekilas suaminya. Rahardi
sedang menyesap teh di cangkirnya kemudian setelah meletakan gelasnya, ia fokus
pada Rega.
“Organisasi apa?” Lanjut Resya.
“Basket.”
“Basket?” Rahardi terdengar tidak suka. “Bukan kah ayah sudah
menyurumu untuk tidak ikut klub basket lagi dan fokus studimu?”
Rega menatap ayahnya. “Aku harus ikut, kalau ingin mendaftar ke
Cambridege.”
Ayahnya baru akan buka mulut ketika Rega cepat-cepat menambahkan.
“Aku butuh pengalaman Organisasi di resumeku yang dibuktikan dengan sertifikat keanggotaan.
Berhubung saat ini sudah pertengahan tahun ajaran tidak ada extrakulikuler lain
yang open requitment selain Basket. Lagipula aku bukannya jadi pemain,
melainkan menjadi managernya.”
Setelah Rega menyelesaikan kalimatnya. Ayahnya tidak mengucapkan
sepatah katapun membuat suasana menjadi hening selama beberapa saat.
“Oke, ayah mengerti keputusanmu itu.” Rahardi mengangguk sekali. “Ayah juga ingin
memberitahumu, besok kita sekeluarga berangkat ke Singapura.”
Rega tersentak, ia metekan cangkir di meja secara tiba-tba dan
dengan hentakan tanpa ia sadari, membuat suara nyaring ketika permukaan kaca
meja makan bertubrukan dengan bagian alas cangkir. “Maaf.” Ucap Rega ketika
menyadari perbuatannya. Rega menatap ayahnya bingung, “Kenapa tiba-tiba?”
“Tiba-tiba? Seingat ayah, ayah sudah menyuru ibumu memberitahu
kamu, kalau Sabtu tanggal 11 kita akan berangkat ke Singapura untuk menghadiri Grand Opening cabang perusahaan ayah tepat
di hari Minggunya.” Rahardi berbalik menatap Resya. “Sudah kamu beritahu kan?”
Resya mengangguk. “Ibu sudah beritahu kamu loh, minggu lalu lewat
telfon.”
Rega baru ingat, ibunya memang menelponnya minggu lalu, dua hari
sebelum Techinal Meeting dilaksanakan. Rega mengiyakannya dan ketika menerima jadwal pertandingan, Dia
benar-benar lupa Grand Opening cabang
perusahaan ayahnya itu. “Iya, aku baru
ingat.”
Rega menatap ayahnya ragu. Ia hendak meminta izin untuk tidak ikut
pergi ke Singapura, besok adalah hari tim Renjana berangkat ke ibu kota dan
besoknya juga pertandingan perdana timnya. Tapi ketika melihat wajah ayahnya
yang selalu terlihat keras dan dingin, Rega mengurungkan niatnya. Tanpa ia
pertanyakanpun, Rega sudah tahu jawabannya.
***
Esoknya, pukul tiga lewat
lima puluh menit, tim Renjana sudah berkumpul di dalam gym, kecuali Rega dan
Galuh yang masih belum datang.
“Coach dan Rega belum
datang?” Tanya Latte. Tidak biasanya Galuh datang paling terakhir.
“Belum,”Jawab Eva. “Katanya di dekat rumahnya ada mobil truk mogok
jadi sempat kejebak macet. Tapi barusan Coach mengirim pesan, katanya sebentar lagi sampai kok. Kalau Rega aku ga tahu kenapa
belum datang juga jam seginii”
cekatan membagi-bagi tim di dalam tiga mobil, yaitu mobilnya sendiri, mobil Eva
dan mobil Naomi. Selesai menyebutkan nama-nama penumpang setiap mobil, Galuh
menyuru mereka semua memasuki mobil karena mereka akan segera berangkat untuk
menghindari kemacetan. Tapi Rega belum juga terlihat.
Latte mengangkat tangannya, tepat ketika Galuh selesai berbicara.
“Coach, Rega belum datang.”
Beritahunya.
Galuh menatapnya sebentar lalu menghela nafas sebelum menjawab.
“Rega tidak datang.”
Serempak mereka semua menatap Galuh terkejut.
“Rega ada urusan keluarga yang mendesak. Dia bilang nanti dia akan
menyusul. Ayo- ayo sekarang semua masuk mobil!”
Latte berjalan ke luar gymnasium
mengikuti yang lain dan masuk ke dalam mobil Eva bersama sang pemilik mobil,
Keysha, Annisa dan Adiba.
Latte mengetik pesan singkat pada Rega
ketika mobil mulai melaju meninggalkan parkiran gymnasium.
Kami
berangkat sekarang. Doakan kami selamat sampai tujuan. Segera menyusul ya agar
kita bisa menonton opening ceremony bersama. Opening BCL selalu meriah loh. Kami
menunggumu.
Sent.
Saat itu Latte belum tahu, kalau Rega
tidak akan bisa menonton Opening Ceremony bersamanya dan yang lain. Gadis itu
belum tahu kalau Rega tidak akan segera datang menyusul, setidaknya hingga tiga
atau empat hari kemudian.
Rega
merapikan dasi merah marunnya lalu metap pantulan dirinya di depan cermin. Dia
sedang berada di dalam kamar salah satu hotel mewah di Singapura, mengenakan setelan
tuxedo navy dengan kemeja hitam yang ia padukan dengan dasi merah marun. Pemuda
itu memiringkan badannya, memastikan bagian belakang tuxedonya rapih.
Terdengar ketukan di pintu kamarnya
disusul suara Resya menyuruhnya bersegara dan memberitahu kalau orangtuanya
akan menunggu di lobi hotel.
Setelah memastikan pakaiannya rapi dan
merapikan rambutnya sekali lagi, Rega mengambil ponselnya di atas kasur dan
memasukannya ke dalam saku celana bahannya. Ia segera ke luar kamar dan
memasuki lift menuju lantai dasar, tempat dimana lobi hotel berada.
Rega segera keluar ketika pintu lift
terbuka, ia tahu benar wajak ayahnya yang tidak suka menunggu. Rahardi dan
Resya sedang duduk di sofa lobi, mereka segera berdiri ketika melihat Rega
berjalan mendekat. Resya menggandeng tangan Rega saat berjalan keluar Hotel.
“Mungkin ibu terlalu sibuk oleh
pekerjaan sampai tidak sadar anak Ibu sudah sebesar ini. Kamu tumbuh menjadi
pemuda yang sangat tampan, Sayang.” Ucap
Ibunya lembut.
Rega tersenyum. Mobil mereka sudah
terparkir tepat di depan hotel, petugas hotel berseragam yang berdiri di
sebelah pintu mobil segera memberikan kunci mobil pada Rahardi. Mereka semua
masuk ke dalam mobil.
“Berapa umurmu tahun ini?” tanya
Rahardi ketika mobil sudah meninggalkan parkiran hotel.
“Tujuh belas.” Rega menatap ke luar
jendela. Ia tidak marah atau merasa kecewa orang tuanya tidak mengingat berapa
umurnya, Rega hanya sudah menduganya. Jangankan untuk mengingat umurnya, mereka
bahkan sering lupa hari ulang tahunnya. Sering kali Rega merayakan ulang
tahunya hanya dengan mbok Ijah.
Bisa dikatakan selama ini Rega tumbuh
dewasa sendirian.
“Kau sudah tumbuh dengan baik. Ayah
bangga” Ucap ayahnya.
Rega mengangguk. Rega kenal baik dengan
watak ayahnya, oleh karena itu kalimat singkat seperti itu merupakan suatu
pujian baginya. Ia memang sering menang lomba akademik, berkali-kali meraih
medali emas olimpiade sains. Dua kali berturut-turut menjadi Siswa Berprestasi,
tapi ayahnya hampir tidak pernah memujinya.
Nilai akademik yang baik merupakan suatu keharusan baginya. Rega
ingat dulu waktu dia kelas dua, nilai rapot pertengahan semesternya turun.
Ayahnya marah besar dan menyuruhnya berhenti ikut klub basket dan fokus pada
studinya. Kemarahan ayahnya, serta rasa haus akan kasih sayang membulatkan
keputusan Rega untuk membuang dunia basket, walaupun itu merupakan hal yang
sangat disukainya.