
Sabtu berikutnya, pukul 7:50 pagi tim Renjana bersama Galuh dan
Rega sudah siap di depan gym, tempat meeting point yang diepakati.
Mereka akan berangkat bersama-sama menggunakan mobil Galuh,
Eva dan Rega menuju SMA Saktiwara tepat pukul 8, tetapi
keberadaan Latte masih belum terlihat.
Galuh gelisah. Bebarapa kali pelatih muda itu melihat jam tangannya, “Ga, Latte beneran bakal datang kan?”
tanyanya pada Rega.
Rega mengangguk pasti, ia yakin gadis itu pasti datang. “Kita tunggu sepuluh menit lagi, kalau Latte
benar-benar tidak datang, saya yang akan jemput dia. Kalian berangkat lebih
dulu saja.” Ucapnya.
Galuh mengangguk. Ia menepuk sekali bahu Rega.
Sepuluh menit kemudian, Latte belum juga datang. Sesuai perjanjian
anggota tim yang lain berangkat lebih dulu menggunakan mobil Eva dan Galuh.
Sedangkan mobil Rega melaju menuju rumah Latte.
Selama mengemudi, Rega sesekali melirik jam tangannya. Ia khawatir
akan telat, apalagi jalanan di kotanya selalu macet, terutama di akhir pekan.
Tapi, ketika Rega baru sampai di jalan dekat SMA Antariksa dimana banyak toko
dan pedagang asongan menjajakan dagangannya setiap akhir pekan, Rega melihat
sosok Latte mengenakan jaket olahraga tim mereka yang berwarna mencolok, Kuning Mustard.
Gadis itu sedang membantu seorang nenek-nenek membawakan
dagangannya. Rega melajukan pelan mobilnya mengekori mereka. Latte dan Nenek
itu terlihat berbincang-bincang. Gadis itu terlihat ceria sekali, menceritakan
sesuatu pada Nenek itu yang disusul tawa sang Nenek.
Rega tersenyum, gadis itu memang selalu mudah akrab pada siapapun.
Berbanding terbalik dengan dirinya.
Latte meletakkan belanjaan itudi sebuah toko kecil. Rega tahu
toko di pinggir jalan itu. Toko itu menjual berbagai macam kebutuhan
sehari-hari seperti pasta gigi, sabun mandi dan beras.
Nenek itu mengucapkan terimakasih pada Latte juga
menawarkan membuatkan Latte minum, tetapi Gadis itu menolak dan bilang kalau
dia sudah terlambat.
Latte berbalik, berniat berjalan kembali menuju sekolahnya. Dia
harus bergegas. Namun, kemudian gadis itu terkejut melihat mobil yang sangat dia kenal persis berada di hadapannya. Latte dapat melihat Rega duduk di kursi
kemudi, menatapnya sambil tersenyum.
Pemuda itu membunyikan klakson, memberi isyarat pada Latte untuk
masuk ke mobilnya. Gadis itu menurut.
Rega mengetuk-ngetuk jam tangannya dengan jari telunjuk ketika
gadis itu telah duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Pemuda itu memasang
wajah kesal.
“Maaf,” Ucap Latte menyadari kesalahannya. “Tadi aku sudah hampir
sampai gerbang samping sekolah, tapi kemudian aku liat Nenek-nenek itu
kesulitan membawa barang-barangnya. Aku merasa ga tega jadi aku bantu deh.”
Rega tersenyum, “Gapapa.” Ucapnya. Mungkin, dulu sebelum ia
mengenal Latte, ia akan berpikir gadis itu sangat naif dan sok pahlawan. Tapi,
setelah menghabiskan banyak waktu bersama Latte, Rega menyadari bahwa gadis itu
hanya memiliki hati yang baik dan hangat.
“Yang lain sudah berangkat?” tanya Latte.
“Tentu saja, mereka harus berangkat kalau tidak mau telat sampai
di sana.” Rega segera melajukan mobilnya. Bergabung dengan jalanan kota yang
mulai ramai. “Saya tadinya akan menjeput kamu, berpikir kamu tidak menepati
janjimu.”
“Eiy, walau begini aku ini orangnya pantang ingkar janji loh.”
Rega menoleh, tersenyum hangat pada gadis itu. “Iya, Saya
percaya.” Ucapnya dengan suara rendah.
Latte yang melihat senyum Rega dan
mendengar nada suaranya itu segera mengalihkan pandangan keluar jendela.
Mencoba menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Mungkin, kalau gadis itu
bercermin, Ia akan tahu kalau pipinya kini memerah.
***
Pertandingan persahabatan antara tim basket putri SMA Antaraksa dan
SMA Saktiwara dimulai tepat pukul 8:30 pagi.
Rega dan Latte tiba 10 menit lebih lambat. Ketika mereka memasuki
gedung olahraga SMA Saktiwara, wajah Galuh seketika menjadi lega.
“Latte kamu masuk di kuarter berikutnya ya.” Beritahu Galuh.
Latte mengangguk. Ia melepas jaket olahraga tim Renjana kemudian
melakukan peregangan.
Rega mencari papan skor. Saat ini masih kuarter pertama, papan
skor menunjukan angka 4-2.
“Siapa yang unggul?” Tanya Rega.
“Tim kita.” Jawab Galuh. “Tapi Ace tim mereka, Nina belum masuk
lapangan. Kamu lihat yang berbadan tinggi menggunakan bandana oranye itu.” Galuh menunjuk salah satu pemain yang duduk
dipinggir lapangan dan bekulit kecoklatan.
“Aku baru lihat dia.” Beritahu Latte.
Galuh mengangguk. “Dia murid pindahan tahun ini, posisinya shooting guard, sama seperti Latte.
Tinggi badannya jelas memberikan keuntungan buat dia.” Beritahu Galuh.
“Sepertinya Herman, pelatih tim mereka, tidak memasukannya di kuarter pertama
karena Latte juga tidak main di kuarter ini. Dia ingin menghadapkan Nina dengan
Latte.”
Galuh beralih pada Latte, “Kamu harus berhati-hati padanya Latte,
kudengar di kotanya dulu dia menjadi MPV tahun lalu.”
Latte mengangguk.
“Oiya Rega, amati dan analisis selalu pertandingan ini.” Perintah
Galuh.
Rega mengangguk, kemudian kembali fokus memperhatikan jalannya
pertandingan, menganalisis permainan lawan dan permainan timnya untuk di
evaluasi.
Tim basket SMA Saktiwara memang tangguh, Rega tahu itu. Tahun
lalu, mereka berhasil masuk semifinal BCL, Basketball Champion League tingkat
nasional. Mengadakan pertandingan persahabatan dengan tim mereka jelas
kesempatan bagus untuk membuat tim Renjana berkembang. Namun, membujuk tim itu
untuk setuju bukan perkara mudah. Tapi bukan Rega Sadewa, si Jenius SMA Antaraksa
namanya kalau tidak bisa melakukannya.
sebentar sebelum peluit berbunyi, tanda kuarter kedua dimulai.
Latte menoleh pada Rega sebelum memasuki lapangan. Pemuda itu
mengangguk, bergumam tanpa suara, menyemangati gadis itu.
Benar seperti dugaan Galuh. Di kuarter ini, tim basket lawan juga
memasukan Ace mereka, Nina. Gadis jangkung itu mendekati Latte.
“Akhirnya kita bertemu, aku sudah banyak mendengar tentangmu.
Katanya kau hebat sekali. Mari kita lihat, apakah itu hanya rumor yang
dibesar-besarkan atau tidak.”
Latte balas menatap gadis itu, mendongkak ke atas karena tinggi
gadis itu lebih dari sejengkal di atasnya. “Tentu saja, aku akan menunjukannya
dengan senang hati.”
Nina menyeringai. “Bagus aku suka itu.”
Lalu Shooting guard SMA Saktiwara itu berbalik, bersiap di posisinya.
Peluit dibunyikan sekali lagi. Kuarter kedua dimulai.
Keysha yang berada di posisi point guard segera mengoper
bola pada Adiba yang berada tepat di belakangnya. Adiba mendrive memasuki
area lawan dengan lincah. Tubuh kecil dan cekatan Adiba sangat cocok untuk
posisinya sebagai Small Forward.
Mereka tidak menyadari sejak peluit di bunyikan Latte telah
berlari masuk ke sisi kanan area lawan. Nina tampak mencari-cari keberadaan
Latte, tubuh mungilnya sulit ditemukan ketika semua orang berlarian mengejar
bola. Nina terlambat, bola telah dioper Adiba pada Latte.
Latte melompat, posisi shootingnya sempurna. Nina berlari,
merentangkan tangannya tinggi-tinggi. Berharap menyentuh bola, walau hanya
seujung jari.
Latte menunggu dirinya jatuh lebih ke belakang sebelum melempar
bola, agar bola bisa melambung lebih tinggi untuk menghindari jemari Nina. Bola
meluncur dari tangannya. Terlalu tinggi, Jemari Nina tidak bisa menyentuhnya.
Peluit ditiup tepat ketika bola memasuki ring. Three point.
Galuh berseru senang di pinggir lapangan, Rega tersenyum bangga,
sementara kelima pemain SMA Saktiwara terkesiap.
Pertandingan baru berlangsung kurang dari dua menit, dan bola
telah memasuki ring mereka bahkan sebelum mereka sadari. Nina menatap Latte, menyeringai.
Rupanya kabar itu bukan hanya rumor yang dibuat-buat belaka.
“Adiba dan Latte itu pasangan yang sempurna.”
Komentar Galuh. “Mereka berdua berbadan mungil dan
lincah, mungkin kau dapat melihatnya dengan jelas dari pinggir lapangan, tetapi
saat kau berada di lapangan, kedua gadis itu sulit sekali diikuti.”
Rega mengangguk-angguk. Ia juga menyadari hal itu, meski semua
pemain bermain bagus, tapi Adiba selalu terlihat lebih bagus, dan Latte
selalu bermain Luar biasa.
Sisa kuarter dua didominasi oleh permainan kolaborasi Adiba dan
Latte. Mereka berdua berhasil membuat selisih poin yang cukup jauh dari tim
Saktiwara, yaitu 18-10. Tapi masalah baru datang ketika memasuki kuarter
ketiga.
Tim Saktiwara bermain lebih agresif dari sebelumnya di kuarter
ketiga. Nina dan satu orang pemain lagi nomor punggung 9 menjaga Latte dengan
ketat, sedangkan Adiba dibawah bayang-bayang pemain nomer 3 dan 12.
Keysha yang tidak bisa mengoper bola pada Adiba mencoba mendrive
sendiri masuk ke area lawan. Ia kemudian mengoper bola pada Eva yang siap di
bawah ring lawan. Eva mengangkat tangannya, bersiap memasukan bola ke ring
tetapi bola segera di tepis oleh Jenni, Center tim Saktiwara yang lebih tinggi
dari Eva.
Nina lari, mengejar bola. Latte mengikuti di belakangnya. Sulit
untuk lepas dari penjagaan pemain nomor 9 tetapi Latte yang lincah berhasil
meloloskan diri. Tapi percuma, Ia terlambat.
Nina berhasil meraih bola terlebih dulu. Ace Saktiwara itu mendribble bola memasuki area tim Renjana.
Tangannya yang panjang menghalangi pemain lawan yang ingin mendekat. Latte berlari
mengejarnya.
Latte berhasil mengejar Nina. Ia berdiri di hadapan Nina, tangannya
direntangkan menjaga agar Nina tidak melakukan shoot. Tapi semua orang tahu,
tubuh pendek Latte membuatnya lemah dalam pertahanan. Apalagi Nina cukup jauh
lebih tinggi dibanding dirinya.
Nina memanfaatkan tubuh pendek Latte. Ia melompat dan merentangkan
tangannya tinggi-tinggi. Latte melompat, tapi tetap tidak bisa menyamai tinggi Nina. Bola dilemparkan dan memasuki ring dengan mulus. Three
Point.
Sepuluh menit berikutnya Nina terus memanfaatkan tinggi badannya
untuk mencetak angka dan mencegah Latte menambah skor. Gadis itu bahkan
melompat dengan tinggi, melakukan slam dunk. Tim Saktiwara unggul. 21-23.
Latte terengah-engah. Dia sering menghadapi lawan yang lebih
tinggi darinya dan itu bukan masalah. Tapi Nina berbeda, dia bukan hanya
tinggi. Dia juga cepat dan tahu betul bagaimana memanfaatkan tinggi badannya
itu.
Latte menatap Nina, tersenyum senang. Jantungnya berpacu, ia
sangat menyukai pertandingan seperti ini. Ia sangat menyukai lawan yang bisa
membuatnya berdebar, membuat dia merasa was-was apakah ia akan kalah atau menang.
Nina balik menatap Latte, Gadis jangkung itu balas tersenyum.
Mereka berdua tahu arti senyum satu sama lain tanpa perlu mengucapkan sepatah
kata pun.
Kuarter tiga berakhir dengan tim Saktiwara unngul 21-23. Tim Renjana berkumpul
di pinggir lapangan, mendengarkan arahan Galuh dan hasil analisa Rega.
“Nina memang baik dalam memanfaatkan tinggi badannya, kita yakin
itu.” Beritahu Rega, semua pemain mengangguk setuju. “Tapi dia lemah dalam
menggunakan tangan kirinya untuk defense maupun offense.”
Para pemain menatap Rega serius. Pemuda itu menatap Latte yang
terengah-engah. “Gunakan kelemahannya itu, menukik tajam di sisi kirinya atau
melakukan putaran cepat melalui sisi kirinya untuk menerobos pertahanannya,
kamu bisa?”
Latte mengangguk. Rega tersenyum.
Peluit dibunyikan sekali, tanda kuarter terakhir dimulai.