ELEVEN

ELEVEN
Eight



Sabtu berikutnya, pukul 7:50 pagi tim Renjana bersama Galuh dan


Rega sudah siap di depan gym, tempat meeting point yang diepakati.


Mereka akan berangkat bersama-sama menggunakan mobil Galuh,


Eva dan Rega menuju SMA Saktiwara tepat pukul 8, tetapi


keberadaan Latte masih belum terlihat.


Galuh gelisah. Bebarapa kali pelatih muda itu melihat jam tangannya, “Ga, Latte beneran bakal datang kan?”


tanyanya pada Rega.


Rega mengangguk pasti, ia yakin gadis itu pasti datang.  “Kita tunggu sepuluh menit lagi, kalau Latte


benar-benar tidak datang, saya yang akan jemput dia. Kalian berangkat lebih


dulu saja.” Ucapnya.


Galuh mengangguk. Ia menepuk sekali bahu Rega.


Sepuluh menit kemudian, Latte belum juga datang. Sesuai perjanjian


anggota tim yang lain berangkat lebih dulu menggunakan mobil Eva dan Galuh.


Sedangkan mobil Rega melaju menuju rumah Latte.


Selama mengemudi, Rega sesekali melirik jam tangannya. Ia khawatir


akan telat, apalagi jalanan di kotanya selalu macet, terutama di akhir pekan.


Tapi, ketika Rega baru sampai di jalan dekat SMA Antariksa dimana banyak toko


dan pedagang asongan menjajakan dagangannya setiap akhir pekan, Rega melihat


sosok Latte mengenakan jaket olahraga tim mereka yang berwarna mencolok, Kuning Mustard.


Gadis itu sedang membantu seorang nenek-nenek membawakan


dagangannya. Rega melajukan pelan mobilnya mengekori mereka. Latte dan Nenek


itu terlihat berbincang-bincang. Gadis itu terlihat ceria sekali, menceritakan


sesuatu pada Nenek itu yang disusul tawa sang Nenek.


Rega tersenyum, gadis itu memang selalu mudah akrab pada siapapun.


Berbanding terbalik dengan  dirinya.


Latte meletakkan belanjaan itudi sebuah toko kecil. Rega tahu


toko di pinggir jalan itu. Toko itu menjual berbagai macam kebutuhan


sehari-hari seperti pasta gigi, sabun mandi dan beras.


Nenek itu mengucapkan terimakasih pada Latte juga


menawarkan membuatkan Latte minum, tetapi Gadis itu menolak dan bilang kalau


dia sudah terlambat.


Latte berbalik, berniat berjalan kembali menuju sekolahnya. Dia


harus bergegas. Namun, kemudian gadis itu terkejut melihat mobil yang sangat dia kenal persis berada di hadapannya. Latte dapat melihat Rega duduk di kursi


kemudi, menatapnya sambil tersenyum.


Pemuda itu membunyikan klakson, memberi isyarat pada Latte untuk


masuk ke mobilnya. Gadis itu menurut.


Rega mengetuk-ngetuk jam tangannya dengan jari telunjuk ketika


gadis itu telah duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Pemuda itu memasang


wajah kesal.


“Maaf,” Ucap Latte menyadari kesalahannya. “Tadi aku sudah hampir


sampai gerbang samping sekolah, tapi kemudian aku liat Nenek-nenek itu


kesulitan membawa barang-barangnya. Aku merasa ga tega jadi aku bantu deh.”


Rega tersenyum, “Gapapa.” Ucapnya. Mungkin, dulu sebelum ia


mengenal Latte, ia akan berpikir gadis itu sangat naif dan sok pahlawan. Tapi,


setelah menghabiskan banyak waktu bersama Latte, Rega menyadari bahwa gadis itu


hanya memiliki hati yang baik dan hangat.


“Yang lain sudah berangkat?” tanya Latte.


“Tentu saja, mereka harus berangkat kalau tidak mau telat sampai


di sana.” Rega segera melajukan mobilnya. Bergabung dengan jalanan kota yang


mulai ramai. “Saya tadinya akan menjeput kamu, berpikir kamu tidak menepati


janjimu.”


“Eiy, walau begini aku ini orangnya pantang ingkar janji loh.”


Rega menoleh, tersenyum hangat pada gadis itu. “Iya, Saya


percaya.” Ucapnya dengan suara rendah.


Latte yang melihat senyum Rega dan


mendengar nada suaranya itu segera mengalihkan pandangan keluar jendela.


Mencoba menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Mungkin, kalau gadis itu


bercermin, Ia akan tahu kalau pipinya kini memerah.


***


Pertandingan persahabatan antara tim basket putri SMA Antaraksa dan


SMA Saktiwara dimulai tepat pukul 8:30 pagi.


Rega dan Latte tiba 10 menit lebih lambat. Ketika mereka memasuki


gedung olahraga SMA Saktiwara, wajah Galuh seketika menjadi lega.


“Latte kamu masuk di kuarter berikutnya  ya.” Beritahu Galuh.


Latte mengangguk. Ia melepas jaket olahraga tim Renjana kemudian


melakukan peregangan.


Rega mencari papan skor. Saat ini masih kuarter pertama, papan


skor menunjukan angka 4-2.


“Siapa yang unggul?” Tanya Rega.


“Tim kita.” Jawab Galuh. “Tapi Ace tim mereka, Nina belum masuk


lapangan. Kamu lihat yang berbadan tinggi  menggunakan bandana oranye itu.” Galuh menunjuk salah satu pemain yang duduk


dipinggir lapangan dan bekulit kecoklatan.


“Aku baru lihat dia.” Beritahu Latte.


Galuh mengangguk. “Dia murid pindahan tahun ini, posisinya shooting guard, sama seperti Latte.


Tinggi badannya jelas memberikan keuntungan buat dia.” Beritahu Galuh.


“Sepertinya Herman, pelatih tim mereka, tidak memasukannya di kuarter pertama


karena Latte juga tidak main di kuarter ini. Dia ingin menghadapkan Nina dengan


Latte.”


Galuh beralih pada Latte, “Kamu harus berhati-hati padanya Latte,


kudengar di kotanya dulu dia menjadi MPV tahun lalu.”


Latte mengangguk.


“Oiya Rega, amati dan analisis selalu pertandingan ini.” Perintah


Galuh.


Rega mengangguk, kemudian kembali fokus memperhatikan jalannya


pertandingan, menganalisis permainan lawan dan permainan timnya untuk di


evaluasi.


Tim basket SMA Saktiwara memang tangguh, Rega tahu itu. Tahun


lalu, mereka berhasil masuk semifinal BCL, Basketball Champion League tingkat


nasional. Mengadakan pertandingan persahabatan dengan tim mereka jelas


kesempatan bagus untuk membuat tim Renjana berkembang. Namun, membujuk tim itu


untuk setuju bukan perkara mudah. Tapi bukan Rega Sadewa, si Jenius SMA Antaraksa


namanya kalau tidak bisa melakukannya.


sebentar sebelum peluit berbunyi, tanda kuarter kedua dimulai.


Latte menoleh pada Rega sebelum memasuki lapangan. Pemuda itu


mengangguk, bergumam tanpa suara, menyemangati gadis itu.


Benar seperti dugaan Galuh. Di kuarter ini, tim basket lawan juga


memasukan Ace mereka, Nina. Gadis jangkung itu mendekati Latte.


“Akhirnya kita bertemu, aku sudah banyak mendengar tentangmu.


Katanya kau hebat sekali. Mari kita lihat, apakah itu hanya rumor yang


dibesar-besarkan atau tidak.”


Latte balas menatap gadis itu, mendongkak ke atas karena tinggi


gadis itu lebih dari sejengkal di atasnya. “Tentu saja, aku akan menunjukannya


dengan senang hati.”


Nina menyeringai. “Bagus aku suka itu.”


Lalu Shooting guard SMA Saktiwara itu berbalik, bersiap di posisinya.


Peluit dibunyikan sekali lagi. Kuarter kedua dimulai.


Keysha yang berada di posisi point guard segera mengoper


bola pada Adiba yang berada tepat di belakangnya. Adiba mendrive memasuki


area lawan dengan lincah. Tubuh kecil dan cekatan Adiba sangat cocok untuk


posisinya sebagai Small Forward.


Mereka tidak menyadari sejak peluit di bunyikan Latte telah


berlari masuk ke sisi kanan area lawan. Nina tampak mencari-cari keberadaan


Latte, tubuh mungilnya sulit ditemukan ketika semua orang berlarian mengejar


bola. Nina terlambat, bola telah dioper Adiba pada Latte.


Latte melompat, posisi shootingnya sempurna. Nina berlari,


merentangkan tangannya tinggi-tinggi. Berharap menyentuh bola, walau hanya


seujung jari.


Latte menunggu dirinya jatuh lebih ke belakang sebelum melempar


bola, agar bola bisa melambung lebih tinggi untuk menghindari jemari Nina. Bola


meluncur dari tangannya. Terlalu tinggi, Jemari Nina tidak bisa menyentuhnya.


Peluit ditiup tepat ketika bola memasuki ring. Three point.


Galuh berseru senang di pinggir lapangan, Rega tersenyum bangga,


sementara kelima pemain SMA Saktiwara terkesiap.


Pertandingan baru berlangsung kurang dari dua menit, dan bola


telah memasuki ring mereka bahkan sebelum mereka sadari. Nina menatap Latte, menyeringai.


Rupanya kabar itu bukan hanya rumor yang dibuat-buat belaka.


“Adiba dan Latte itu pasangan yang sempurna.”


Komentar Galuh. “Mereka berdua berbadan mungil dan


lincah, mungkin kau dapat melihatnya dengan jelas dari pinggir lapangan, tetapi


saat kau berada di lapangan, kedua gadis itu sulit sekali diikuti.”


Rega mengangguk-angguk. Ia juga menyadari hal itu, meski semua


pemain bermain bagus, tapi Adiba selalu terlihat lebih bagus, dan Latte


selalu bermain Luar biasa.


Sisa kuarter dua didominasi oleh permainan kolaborasi Adiba dan


Latte. Mereka berdua berhasil membuat selisih poin yang cukup jauh dari tim


Saktiwara, yaitu 18-10. Tapi masalah baru datang ketika memasuki kuarter


ketiga.


Tim Saktiwara bermain lebih agresif dari sebelumnya di kuarter


ketiga. Nina dan satu orang pemain lagi nomor punggung 9 menjaga Latte dengan


ketat, sedangkan Adiba dibawah bayang-bayang pemain nomer 3 dan 12.


Keysha yang tidak bisa mengoper bola pada Adiba mencoba mendrive


sendiri masuk ke area lawan. Ia kemudian mengoper bola pada Eva yang siap di


bawah ring lawan. Eva mengangkat tangannya, bersiap memasukan bola ke ring


tetapi bola segera di tepis oleh Jenni, Center tim Saktiwara yang lebih tinggi


dari Eva.


Nina lari, mengejar bola. Latte mengikuti di belakangnya. Sulit


untuk lepas dari penjagaan pemain nomor 9 tetapi Latte yang lincah berhasil


meloloskan diri. Tapi percuma, Ia terlambat.


Nina berhasil meraih bola terlebih dulu. Ace Saktiwara itu mendribble bola memasuki area tim Renjana.


Tangannya yang panjang menghalangi pemain lawan yang ingin mendekat. Latte berlari


mengejarnya.


Latte berhasil mengejar Nina. Ia berdiri di hadapan Nina, tangannya


direntangkan menjaga agar Nina tidak melakukan shoot. Tapi semua orang tahu,


tubuh pendek Latte membuatnya lemah dalam pertahanan. Apalagi Nina cukup jauh


lebih tinggi dibanding dirinya.


Nina memanfaatkan tubuh pendek Latte. Ia melompat dan merentangkan


tangannya tinggi-tinggi. Latte melompat, tapi tetap tidak bisa menyamai tinggi Nina. Bola dilemparkan dan memasuki ring dengan mulus. Three


Point.


Sepuluh menit berikutnya Nina terus memanfaatkan tinggi badannya


untuk mencetak angka dan mencegah Latte menambah skor. Gadis itu bahkan


melompat dengan tinggi, melakukan slam dunk. Tim Saktiwara unggul. 21-23.


Latte terengah-engah. Dia sering menghadapi lawan yang lebih


tinggi darinya dan itu bukan masalah. Tapi Nina berbeda, dia bukan hanya


tinggi. Dia juga cepat dan tahu betul bagaimana memanfaatkan tinggi badannya


itu.


Latte menatap Nina, tersenyum senang. Jantungnya berpacu, ia


sangat menyukai pertandingan seperti ini. Ia sangat menyukai lawan yang bisa


membuatnya berdebar, membuat dia merasa was-was apakah ia akan kalah atau menang.


Nina balik menatap Latte, Gadis jangkung itu balas tersenyum.


Mereka berdua tahu arti senyum satu sama lain tanpa perlu mengucapkan sepatah


kata pun.


Kuarter tiga berakhir dengan tim Saktiwara unngul 21-23. Tim Renjana berkumpul


di pinggir lapangan, mendengarkan arahan Galuh dan hasil analisa Rega.


“Nina memang baik dalam memanfaatkan tinggi badannya, kita yakin


itu.” Beritahu Rega, semua pemain mengangguk setuju. “Tapi dia lemah dalam


menggunakan tangan kirinya untuk defense maupun offense.”


Para pemain menatap Rega serius. Pemuda itu menatap Latte yang


terengah-engah. “Gunakan kelemahannya itu, menukik tajam di sisi kirinya atau


melakukan putaran cepat melalui sisi kirinya untuk menerobos pertahanannya,


kamu bisa?”


Latte mengangguk. Rega tersenyum.


Peluit dibunyikan sekali, tanda kuarter terakhir dimulai.