ELEVEN

ELEVEN
One



September. 2019.


Jalanan di kota Cambridge, Britania Raya terlihat ramai. Para pejalan kaki hilir mudik di trotoar jalan. Mereka semua terlihat tergesa-gesa. Wajar saja. Langit di kota tua yang terletak 8 mil dari London itu terlihat gelap. Menunjukan kalau sebentar lagi turun hujan.


Semua orang mempercepat langkah kakinya agar sampai tempat tujuan sebelum air dari langit jatuh dan membasahi tubuh mereka. Namun, hal tersebut tidak dilakukan seorang gadis mungil berseragam basket dengan nomor punggung sebelas. Gadis itu berdiam diri di depan gedung olahraga, tempat beberapa saat yang lalu tim basketnya melangsungkan pertandingan.


Teman-teman setimnya yang lain tidak terlihat. Gadis itu sendirian.


Seorang pemuda berumur awal dua puluhan—yang sebelumnya menonton pertandingan tim gadis tersebut—berjalan mendekati gadis itu. Dia dapat mendengar hela nafas panjang gadis SMA tersebut.


“Andai tubuhku lebih tinggi, mungkin aku bisa bermain dengan lebih baik.” Gadis itu bergumam.


“Di permainan basket badan yang tinggi memang menguntungkan, tapi ada yang lebih penting dari itu, yaitu usaha dan teknik.” Ucap pemuda itu yang seketika membuat gadis itu berbalik menatapnya.


Rega dapat melihat air mengenang di pelupuk mata gadis itu. Gadis mungil itu buru-buru mengusap matanya.


“Paman seorang pemain basket?” Tanyanya tepat ketika air hujan turun dan membasahi kota Cambridge. Orang-orang seketika berlarian, mencari tempat berteduh.


Pemuda itu menggeleng, “Tapi aku kenal pemain basket yang sangat hebat. Tubuhnya juga mungil sepertimu.” Pemuda itu tersenyum, “Kamu mau secangkir coklat panas di kedai di seberang jalan sana dan mendengar kisah tentangnya?”


Gadis itu mengangguk.


***


Suara bel di atas pintu berdering lembut ketika seorang pemuda dan gadis muda memasuki kedai kopi di Magdalene Street, Cambridge.


Mereka mengambil tempat duduk di dekat jendela yang berhadapan langsung dengan Magdalene Street yang terguyur hujan. Seorang pramusaji mencatat pesanan mereka, secangkir coklat panas dan secangkir coffe Latte.


“Paman suka kopi manis ya?” Tanya gadis itu. Pemuda itu hanya tersenyum.


“Siapa namamu?”


“Adelaine, kalau paman, siapa nama paman?”


“Rega.”


Gadis itu segera meraih cangkir coklat panasnya ketika pramusaji menaruhnya di atas meja. Rega tersenyum.


“Kenapa kamu terlihat sangat sedih tadi? Bukankah timmu memenangkan pertandingan?”


Gadis itu menggangguk lalu menunduk. “Aku sama sekali tidak berbakat bermain basket. Aku yang paling payah di timku karena tubuhku yang pendek, sehingga mereka selalu meledekku, tidak percaya padaku dan menyuruhku keluar saja dari tim.”


Kepala gadis itu kemudian terangkat. Kedua mata Adelaine yang berwarna hijau itu menatap Rega penasaran. “Paman bilang, paman kenal pemain basket hebat dengan tubuh kecil sepertiku, kan?”


Rega mengangguk, “Ya. Namanya Charletta.” Pandangan pemuda itu mengawang, lalu bibirnya seketika membentuk sebuah senyuman. Pemuda itu mendengus geli. “Tapi dia lebih suka dipanggil Latte.”


“Begini kisahnya..”


***


Bandung.


9 September 2015 .


Rega memasuki ruang bimbingan konseling setelah mengetuk sebanyak tiga kali. Pak Dimas, guru BK yang berusia pertengahan empat puluhan itu tersenyum ramah menyambut Rega. Dia kenal Rega dengan baik. Anak laki-laki itu merupakan siswa terbaik sekolah, peringkat satu umum satu sekolah. Rega juga sering datang


menyunjunginya akhir-akhir ini, sebagai murid kelas 12, Rega sudah mulai sibuk mempersiapkan jenjang pendidikannya kemudian selepas lulus sekolah menengah atas. Pemuda itu berniat kuliah di Luar Negeri. Universitas Cambridge, lebih tepatnya.


“Saya ingin bapak melihat resume yang sudah aku buat dan memberi saran atau koreksi bila ada yang kurang baik.”  Beritahu Rega, setelah pemuda itu duduk di hadapan Dimas.


“Tentu.” Guru BK itu tersenyum. Rega menyerahkan map biru berisi resume yang dia buat untuk pendaftaran ke Universitas Cambridge. Dimas meraih map tersebut dan memeriksa berkas-berkas di dalamnya dengan teliti.


“Kamu ingin mendaftar ke jurusan teknik mesin Universitas Cambridge, kan?” tanya Dimas. Rega mengangguk.


“Nilai akademismu memang sangat bagus, prestasimu juga bagus. Kamu banyak memenangkan olimpiade fisika. Itu sangat menguntungkan. Tapi,”


“Tapi?” Rega menatap Dimas. Dia tidak menduga akan ada kata ‘tapi’ ketika guru BK tersebut melihat resumenya. Rega sudah sangat percaya diri resumenya memuaskan.


“Kamu tidak punya pengalaman organisasi.”


Rega mengangguk, menyadari hal tersebut. Selama dia bersekolah di SMA Antaraksa ini, Rega memang tidak pernah ikut organisasi atau kegiatan kepanitiaan apapun. Dia selalu fokus pada akademisnya dan mengikuti lomba-lomba akademis individual.


“Hal ini dapat menyebabkan asumsi bahwa kamu adalah orang yang individualis dan tidak bisa bekerja dalam tim. Hal tersebut jelas merupakan kekurangan. Universitas Cambridge adalah salah satu dari universitas terbaik dunia. Mereka jelas menetapkan standar yang sangat tinggi untuk calon-calon mahasiswanya.“


Rega mengangguk. Dia jelas tahu itu. “Lalu saya harus bagaimana, Pak? Saya sudah tingkat akhir, sudah terlambat untuk ikut kegiatan ekstrakulikuler.”


“Hmm” Dimas memejamkan matanya sebentar. Berpikir. Beberapa menit terlewati.


“Tim basket?” Dimas bergumam lalu mengangguk. “Iya, tim besket putri. Mereka butuh manager tim untuk ajang Liga Basket SMA Nasional. Hanya sementara, setelah liga itu selesai, kamu akan dapat sertifikat, mau?”


Rega menatap guru BK di hadapannya. Dia bimbang. “Boleh saya pikir-pikir dulu, pak?”


Dimas tersenyum. Mengangguk.


***


Esoknya, sepulang sekolah Rega berdiri di luar gymnasium SMAnya. Ia tengah menunggu seseorang, staff Tata usaha yang menjadi pelatih tim basket SMA Antaraksa.


"Rega ya?” tanya seorang lelaki berumur awal tiga puluhan, Rega menoleh dan mengangguk. Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Saya Galuh, Pelatih tim basket sekaligus staff tata usaha jurusan teknik Kimia”


Rega mengangguk-angguk, “Rega Sadewa”


Galuh tersenyum lebar, “Saya tahu, Pak Dimas sering cerita tentang kamu. kamu itu siswa kesayangannya loh”


Rega hanya tertawa, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apalagi. “Um, jadi kemarin pak dimas belum memberitahu saya, saya kesini untuk apa tapi yang pasti saya ingin daftar suatu organisasi” beritahu Rega.


Galuh sekali lagi tersenyum sambil manggut-manggut. “Iya saya tahu itu, pak Dimas sudah bilang kamu butuh pengalaman organisasi untuk mendaftar ke Univesitas Cambridge di Inggris itu, kan?”


Rega mengangguk.


“Nah tim basket putri yang dipersiapkan untuk BCL tingkat Nasional ini sedang butuh manager, kamu berminat?” tanya Galuh, buru-buru ia tambahkan, “Tidak lama kok. Cuma selama dua bulan setengah. Satu bulan setengah


untuk persiapan dan satu bulan lagi selama pertandingannya diselenggarakan.”


Rega baru akan membuka mulutnya, ketika galuh memotong dengan bersemangat, “tentu saja kamu akan dapat sertifikat keanggotaan tim baket, siapa tahu kamu juga dapat jodoh. Anak basket sekolah kita ini cantik-cantik loh”


Rega tertawa, “Saya sedang tidak cari jodoh, pak”


Galuh tertawa, “Ya kan siapa tahu, masalah jodoh mah bukan kita yang tentuin. Jadi gimana, kamu mau jadi manager tim kami? Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali loh.”


dan mengulurkan tangan yang segera  disambut Rega.


***


Sabtu pagi Rega telah siap dengan setelah kaos oblong navy dan celana training dengan warna senada. Ia mengetuk-ngetuk sepatu running abunya ke jalanan aspal di depan gymnasium. Ia telah berdiri di sini hampir setengah jam, menunggu Galuh yang tidak kunjung datang.


Rega telah mencoba masuk gym tapi di sana sudah ramai anak-anak tim basket putra dan putri yang sedang bermain basket  atau sekedar duduk-duduk mengobrol di pinggir lapangan. Rega merasa canggung bila tiba-tiba


bergabung dengan mereka dimana tidak ada satu orang pun yang ia kenal. Jadi ia memutuskan untuk menunggu Galuh dan masuk bersamanya.


Rega sadar beberapa orang menatap ke arahnya dulu sambil berbisik-bisik sebelum memasuki gym, seperti sekarang ini. Dari ujung matanya, Rega dapat melihat dua orang gadis dengan celana basket marun dan lavender selutut menatapnya sambil berbisik-bisik.


“Itu si kak Rega itu bukan sih? Yang senin kemarin berdiri di depan saat upacara untuk menyerahkan piala?”


“Iya ya, gila ganteng ya” kedua gadis itu tidak bisa dibilang berbisik-bisik karena suara mereka terlalu lantang hingga dapat didengar Rega. Ia menatap kedua gadis itu yang seketika diam mematung dan sedetik kemudian


terburu-buru masuk gymasium.


“Rega, kok disini?”, Rega menoleh, mendapati Galuh dengan kaos olahraga hijau menatapnya bingung, “kenapa ga masuk?”


“Saya nunggu bapak, ga enak masuk gitu aja” beritahunya.


Galuh tersenyum. “Oh yaudah, ayo masuk. Sekalian langsung saya kenalkan kamu dengan anggota tim”


Rega mengangguk dan berjalan mengikuti Galuh memasuki gymnasium.


Di dalam sudah lebih ramai dari sebelumnya. Di lapangan sebelah kanan, Rega melihat tim basket putra sedang diberi arahan oleh pelatihnya. Di sebelah pelatih berdiri seorang perempuan berbadan mungil dengan rambut diikat dua dan membawa papan jalan. Rega menebak kalau perempuan itu manager tim basket putra.


Rega berdiri dihadapan belasan gadis remaja yang mengenakan seragam basket. Mereka duduk mendongkak menatapnya penasaran.


“Akhirnya tim kita punya manager juga”, Galuh berseru senang sambil menepuk bahu Rega yang berdiri dengan wajah datarnya. “Rega, ayo perkenalkan dirimu”.


“Rega, kelas 12 IPA 3” beritahunya singkat. Sebagian besar gadis disana berbisik-bisik. Sebagian besar karena keheranan siswa berprestasi, juara umum satu sekolah dua tahun berturut-turut yang fotonya selalu dipajang di


benner depan sekolah menjadi manager tim mereka, sebagain lainnya karena wajahnya. Rega dapat melihat dua gadis yang tadi di depan gym juga ikut berbisik-bisik.


“Eum.. boleh bertanya?” seorang gadis dengan rambut merah dicat Mengangkat tangan, Rega mengangguk.


“Udah taken? Kalo belum, aku juga masih jomblo loh” pertanyaan gadis itu mengundang tawa yang lainnya.


Gadis berambut pendek di sebelahnya menyikut pelan perutnya.“Ganteng loh,lumayan” ucap gadis berambut merah itu pelan membela diri.


Rega menatap gadis itu beberapa saat, membuat suara riuh tawa menjadi reda. Suasana seketika terasa canggung. Gadis berambut merah itu mengusap tengkuknya. Salah tingkah.


Rega masih diam hingga beberapa saat kemudian, membuat suasana semakin tidak nyaman. Galuh bertepuk tangan sekali, tertawa hambar.


“Well well,” dia menepuk-nepuk punggung Rega yang dibalas tatapan tajam pemuda itu. “Rega masih jomblo karena dia terlalu sibuk belajar. Hahaha”


Tidak ada yang tertawa selain Galuh. Pelatih tim basket itu batuk sekali, “Ehem, ya lagi pula dia di sini untuk jadi manager kalian, bukannya ikut ajang Take me out. Ada pertanyaan lain?” sebelum ada tanggapan, Galuh segera menambahkan. “Baiklah kalau tidak ada, kita mulai latihannya. Ayo bangun! Semua banguun!!”


Kerumunan itu berdiri, beberapa melakukan peregangan kaki, pegal sehabis duduk cukup lama.


Galuh menatap sekitar, “tunggu, aku tidak lihat  Latte, kamu tahu kemana dia, Adiba?” tanyanya pada gadis berambut pendek dan berkulit gelap yang sebelumnya menyikut perut temannya yang berambut merah.


Rega yang masih berdiri di sisinya menaikan sebelah alis.


Latte? Salah satu jenis minuman kopi?


Gadis bernama Adiba menggeleng. “tadi sudah ditelepon beberapa kali sama Naomi dan Eva, tapi ga diangkat”


Galuh menganggguk, dia menyuruh Adiba segera bergabung dengan yang lain melakukan pemanasan.


Selama latihan berlangsung, Galuh memperkenalkan satu persatu anggota timnya.


“Yang tinggi dibawah ring itu, namanya Eva. Center sekaligus kapten. Dia kelas 12, sama sepertimu. Aku memintanya ikut Liga ini untuk terakhir kalinya karena dia sangat dibutuhkan dalam tim. Anaknya pendiam,tenang tapi juga tegas.” beritahu Galuh, Rega mengangguk-angguk sambil mengingat-ingat wajah gadis-gadis yang berlarian ke sana kemari di lapangan. Maya, Harwa, Eva, Annisa, Bonny, Adiba, Tiara dan Naomi.


Galuh menunjuk seorang gadis yang tengah menjaga gadis bernama Adiba di bagian tengah lapangan. Gadis terakhir. “Yang rambut merah diikat, yang barusan bertanya pertanyaan aneh padamu, namanya Keysha. Point guard. Kelas 11 IPS 5. Anaknya jahil, ga bisa diam, bener-bener deh, harap dimaklumi ya” galuh terkekeh


dibalas senyuman simpul Rega.


“Harusnya ada satu lagi, tapi sepertinya dia tidak bisa datang hari ini” Galuh tersenyum masam, “Padahal dia Ace tim ini, aku sangat ingin pemperkenalkannya padamu. Dia hebat sekali, apalagi saat melakukan Shooting. Luar biasa. Dia juga kelas 12 sepertimu.” Suara Galuh terdengar bersemangat.


“Namanya Charletta, nama yang cantik, tapi dasar anaknya unik. Dia ngotot pengen dipanggil Latte. Sudah seperti nama kopi saja. Kekekeh..” Galuh kembali terkekeh sendiri. Sekali lagi Rega hanya tersenyum simpul.


Tim mereka latihan empat kali dalam seminggu. Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Galuh memberitahu Rega setiap latihan dia harus datang 20 menit lebih awal. Membantunya menyiapkan segala kebutuhan latihan. Bola basket, air minum, snack hingga kotak P3K.


***


Esoknya hari minggu pagi, sesuai perintah Rega datang lebih awal. Ia mengenakan kaos polos abu-abu dan joker pants hitam. Ketika memasuki gym, Rega sadar dia bukan orang yang pertama datang. Di lapangan sebelah kiri, seorang gadis berdiri menghadap ring. Dia melompat, siap dalam posisi shooting. Rega menyaksikan bola meluncur dari tangannya dengan mulus dan memasuki ring tanpa mengenai pinggiran ring sama sekali. Three point.


Rega melangkah mendekat, ia meletakan tasnya di lantai pinggir lapangan. Gadis itu menyadari keberadaannya lalu berjalan menghampirinya. Gadis itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.


“Kamu pasti manejer baru itu?” Tangannya terulur, “Aku Latte, Shooting Guard tim putri”


Rega mengamati gadis di hadapannya. Untuk ukuran pemain basket, gadis itu termasuk pendek. Tingginya mungkin tidak lebih dari 155 sentimeter. Lihat saja, ujung kepalanya bahkan hanya sampai dada Rega. Kulitnya putih kekuningan, khas kulit asia. Matanya juga agak sipit, mungkin keturunan Tionghoa.


Rega menjabat tangan itu singkat, “Rega”.


“Eh, kamu mau kemana?” tanya Latte ketika Rega segera berbalik melangkah menuju pintu keluar.


“Sekret” jawabnya singkat.


“Boleh aku ikut?” Tanyanya, tapi sebelum mendapatkan izin dari Rega, Latte sudah berjalan mengekori pemuda itu.


Mereka tiba di gedung sekret, tempat semua properti ektrakulikuler SMA Antaraksa disimpan.


“Hai Latte, mau latihan basket?” seorang siswa laki-laki menyapa Latte di depan pintu masuk sekret.


“Yoi, biar tubuh selalu sehat, kita harus rajin olahraga” jawab Latte dengan suara lantang, terlalu lantang bagi Rega. Lelaki itu menyerengitkan kedua alisnya. Terganggu.


Mereka memasuki ruangan di ujung lorong sebelah kanan, bersebelahan dengan tangga dan berhadapan dengan toilet. Ruang ini milik klub basket.


Rega mengambil kotak P3K berukuran 20 x 20 cm2 dan dimasukan ke dalam tas selempangnya. Kemudian dia mengambil satu bola basket dan ia selahkan kepada Latte tanpa bicara. Ia mengambil dua bola lagi lalu


melangkah keluar.Latte mengikuti di belakangnya. Memeluk bola basket. Gadis itu menatap punggung lebar pemuda di depannya. Ia terseyum simpul. Latte menyimpulkan bahwa Rega tipe yang tidak banyak bicara.