
Eva melakukan rebound. Dia menangkap bola dengan kedua tangannya erat. Gadis itu berteriak, menyuruh teman-temannya maju. Menempatkan diri di posisi yang telah direncanakan.
Dia mengoper bola pada Keysha. Gadis berambut merah itu dengan lincah mengiring bola masuk ke daerah lawan. Kejadian sebelumnya yang menimpa Adiba membuat gadis itu kesal dan memicu semangatnya. Gadis itu berniat membalas perbuatan Ellena dengan kemenangan. Dia dengan gesit menghindari penjagaan lawan dan menerobos masuk hingga ke dalam lingkaran di bawah ring.
Ellena yang melihat Keysha menembus pertahanan timnya segera berganti posisi. Dia meninggalkan Latte yang sedari tadi dijaganya ketat dan berlari mengejar Keysha.
Ellena segera berdiri di antara Keysha dan tiang ring di belakangnya. Dia tidak akan membiarkan point guard tim
SMA Antaraksa itu mencetak angka. Keysha menatap Ellena. Gadis berambut merah itu tersenyum, “Kau tahu, aku ini tidak jago mencetak angka.”
Ellena menatap gadis di hadapannya yang bertubuh lebih kecil itu dengan bingung. Sebelah alisnya terangkat.
“Kenapa kamu mengatakan hal itu?” tanyanya tidak mengerti.
“Karena aku akan melakukan ini.” Dengan cepat gadis itu melempar bola ke belakang dari atas bahunya. Ellena melotot. Segera dia melihat ke belakang gadis itu. Bola memantul sekali kemudian segera ditangkap oleh Latte yang bebas dari penjagaan.
Ellena mencoba segera menghalangi Latte melakukan shoot, tetapi dengan sigap Keysha menghalanginya dan membatasi ruang geraknya. Ellena tidak berdaya, gadis itu menggeram kesal.
Latte melompat, siap dengan posisi shootingnya yang sempurna. Bola meluncur dari tangannya menuju ring dengan gerakan yang pasti dan berputar halus. Bola memasuki ring tanpa menyentuh lingarannya. dua poin ditambahkan.
Keysha menyeringai kepada Ellena sebelum meninggalkan gadis itu dan kembali ke posisinya untuk bertahan. Ellena menerima bola dan dengan mantap mendribble memasuki daerah lawan. Dia mengoper dengan cepat bola tersebut ketika Harwa menghadangnya. Gadis itu melakukan gerakan mengecoh beberapa kali kemudian
melakukan gerakan berputar dengan tiba-tiba sehingga dia dapat lolos dari penjagaan Harwa.
Suasana pertandingan sengit sekali.
Penonton berhenti bersorak-sorak. Mereka hanyut dalam pertandingan sehingga hanya terdengar suara dencitan alas sepatu para pemain yang bergesekan dengan lantai.
Bola segera dioper kembali pada Ellena ketika dia telah bebas dari penjagaan. Gadis itu berlari dengan cepat,
menghalangi Latte dengan satu tangannya yang panjang untuk mencuri bola. Suara dencitan sepatu mereka berdua terdengar nyaring. Menambah tegang pertandingan.
Kedua gadis itu sama-sama tidak mau mengalah. Ellena dengan lincah mencoba mencari celah untuk dapat lolos dari penjagaan sementara Latte dengan gesitnya mengikuti semua gerak gerik Ellena.
Gadis itu merentangkan tangannya, membatasi pergerakan Ellena.
Ketika ada celah, Ellena mengoper bola pada rekan setimnya yang bebas. Mata gadis itu terbelalak ketika tiba-tiba
Keysha muncul, memotong jalur bola menuju rekan setim Ellena. Keysha merebut bola dan mengiringnya dengan cepat ke sisi lapangan satunya. Latte berbalik, segera berlari meninggalkan Ellena yang segera melakukan hal yang sama dan mengejarnya.
Keysha mengoper bola pada Latte di tengah lapangan. Gadis mungil itu menerima bola dengan mantap dan mengiringnya cepat memasuki daerah lawan. Penjagaan di bawah ring sangat ketat.
“Jarak segini sepertinya bisa.” Gumam Latte pada diri sendiri. Dia segera melompat bersiap melakukan tembakan tiga poin. Tiba-tiba bola terlepas dari tanganya dengan cepat. Seseorang menampar bola di tangannya dari belakang. Latte menengok ke belakang. Matanya terbelalak.
Tubuh Ellena tepat berada di belakangnya. Gadis jangkung itu barusan melompat dari belakangnya untuk
menghentikannya melakukan shooting. Mereka berdua jatuh bersamaan. Tubuh Ellena mendorong Latte jatuh ke arah depan dan menimpanya.
Mereka jatuh dengan keras hingga terdengar suara dentuman ketika tubuh mereka menghempas lantai lapangan. Wasit membunyikan peluit.
Selama sepersekian detik suasana berubah menjadi hening. Keheningan yang janggal. Para penonton tampak terkesiap sementara para pemain di lapangan menahan nafas melihat apa yang baru saja terjadi.
Para pemain segera mendekat ke arah Latte dan Ellena yang masih terbaring di Lantai. Mengerumuni mereka. Marco meloncati pagar pembatas tribun dan lapangan. Dia berlari menghampiri Latte sementara penonton lainnya masih berbisik-bisik penasaran di bangku mereka.
Galuh dan Rega segera berlari ke dalam lapangan. Rega dengan panik meminta para pemain yang menghalanginya menyingkir hingga dia bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi. Ellena mencoba bangun
dengan bantuan rekan setimnya. Gadis jangkung itu duduk linglung sambil memegangi kepalanya. Sementara Latte masih terkapar tidak bergerak. Rega segera berjongkok di sisi tubuh Latte sementara Galuh dan wasit segera memanggil tim medis.
Dia membalik tubuh Latte dan menyangga kepala gadis itu dengan tangannya. Wajah Rega seketika berubah gelap dan terdengar suara nafas tertahan dari kerumuman ketika melihat kondisi Latte. Mata Latte terpejam. Pelipisnya dan dagunya tergores dan berdarah. Rega menggoyangkan pelan tubuh gadis itu sambil memanggil-manggil namanya. Tapi Latte tidak juga sadarkan diri.
Rega menatap tajam Ellena yang masih terduduk linglung namun ketika dia melihat kondisi Latte wajahnya seketika
menampakan ekpresis horor. Dia menatap Latte kemudian Rega ketakutan.
Marco menarik tangan Ellena kasar. Memaksanya berdiri. Pemuda itu menatapnya marah “Kau—“
“Darah! Hidungnya berdarah!” Kata-kata Marco terpotong ketika Keysha dengan panik menunjuk hidung Latte. Cairan berwarna merah kental itu keluar dari hidung Latte. Rega semakin panik. Dia menutupi lubang hidung Latte dengan tangannya. Mencoba menghentikan cairan merah itu semakin banyak keluar. Adiba yang berhasil menghampiri mereka mulai terisak. Dia duduk di sebelah Latte sambil mengenggam jemari Latte.
Tim medis yang datang segera memindahkan tubuh Latte ke atas tandu dan membawanya pergi ke ruang kesehatan. Rega dan Marco mengikuti.
“Apakah Latte akan baik-baik saja?”
tanya Adiba pada Galuh.
“Dia pasti akan baik-baik saja.” Jawab
perlatih itu tapi wajah Galuh yang terlihat keruh tidak terlihat meyakinkan.
Pertandingan dihentikan sebentar. Para wasit dan juri sedang berdiskusi untuk jenis pelanggaran yang dilakukan Ellena terhadap Latte. Apakah gadis itu akan dikenai foul keras dan dikeluarkan dari game atau hanya foul biasa.
Lima menit kemudian wasit mengumumkan hasil diskusi mereka. “Kejadian sebelumnya dinilai sebagai foul biasa dan pemain nomor punggung 15, Ellena tetap boleh ikut bermain di lapangan karena jumlah foul yang dia lakukan belum sampai lima.”
Keysha dan Adiba melotot. “apaan itu?
jelas dia seharusnya sudah dikeluarkan dari lapangan sejak awal!” protes Keysha. Gadis berambut merah itu hendak mengajukan protesnya pada wasit namun segera ditahan Eva.
“Jangan! Kamu tahu sendiri melawan keputusan wasit hanya akan merugikan kita.” Eva mengingatkan. Dia mencoba menenangkan emosi Keysha. Dia menatap satu persatu rekan setimnya. Wajah mereka semua terlihat gelap. Sebagian menunduk sebagian lagi mengertakan gigi menahan emosi. Adiba bahkan belum bisa menghentikan tangisnya. Gadis berkulit hitam manis itu mendekap mulutnya agar suara tangisnya tidak keluar, berusaha keras agar tangisnya berhenti namun tubuhnya tetap bergetar.
“Aku tahu ini terasa tidak adil. Tapi kalau dipikirkan lompatan yang dilakukan Ellena memang terlihat tidak disengaja
kan? Dia hanya berusaha menghentikan Latte jadi wajar saja wasit menilainya sebagai foul biasa.“ Beritahu Galuh.
Eva mengangguk setuju. Dia juga berpikir demikian. Ellena memang pemain yang bermain dengan kasar. Namun, Apa yang dilakukan Ellena sebelumnya murni untuk menghentikan Latte melakukan tembakan.
“Keputusan wasit... kita tidak bisa melakukan apapun terhadap itu. Nah, yang bisa kita lakukan sekarang hanya bermain sebaik mungkin. Mengerahkan seluruh kemampuan. Agar saat Latte sadar nanti, hal yang pertama dia lihat adalah piala juara.”
Teman-temannya yang lain bersorak-sorak setuju. Mereka saling menyemangati satu sama lain.
Adiba menyeka air mata yang masih tergenang di matanya. Dia ikut melakukan tos bersama dan berdoa semoga Latte baik-baik saja.