
“Rega, kamu sudah dapat jadwal latihan gabungan dengan SMA Saktiwara?” Tanya Galuh setelah latihan hari selasa selesai.
Rega mengangguk, ia mengeluarkan ponselnya. “Hari sabtu minggu depan, jam 8 pagi di lapangan basket Gedung Olahraga Saktiwara.”
“Kamu yakin hari sabtu?”
Rega mengangguk.
Galuh menggaruk rambutnya gusar, “Apa tidak bisa minta ganti hari lain? Hari apapun asal jangan hari sabtu.”
Rega menatap Galuh bingung, “Nanti coba saya negosiasikan lagi.
Memang kenapa kalau hari sabtu?”
Galuh menatap Latte yang sedang membereskan barangnya, bersiap pulang. “Kalau hari sabtu, Ace kita tidak akan datang.”
Rega mengikuti arah pandang Galuh, ia seketika teringat fakta bahwa Latte tidak pernah datang latihan di hari sabtu, kemungkinan ia pun tidak akan datang ke latihan gabungan bila hari sabtu.
“Ya sudah kamu urus saja itu ya, sebisa mungkin jangan hari sabtu.” Galuh menepuk bahu Rega, “Kerja bagus hari ini.” Ucapnya lalu pamit pulang.
Rega memasukan bola-bola basket ke dalam keranjang.
Dia akan mengembalikannya ke ruang sekret. Di luar gym, Rega mendapati sebuah motor kawasaki ninja hitam terparkir tidak jauh dari pintu masuk gym. Pemuda yang duduk di atas motor itu membuka helm hitam yang digunakannya dan memanggil Rega dengan sapaan yang akrab.
Rega tahu pemuda itu. Namanya Marco Rachmallo. Siswa kelas 12 yang kelasnya bersebelahan dengan kelas Rega, yaitu 12 IPA 4. Dia mantan ketua tim basket putra tahun lalu. Rega juga tahu, keberadaan pemuda itu di depan gym jelas bukan semata-mata untuk menemuinya. Mereka tidak sedekat itu.
“Itu Marco, kan?” tanya seseorang di belakang Rega. Rega menoleh.
Keysha dan Adiba yang telah berganti baju menatap ke arah Marco. Rupanya tadi Adiba yang bertanya pada Keysha. Kedua gadis itu menyapa Rega yang menatap mereka. Rega mengangguk sekali lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang sekret. Dia masih dapat mendengar percakapan kedua gadis yang berjalan di belakangnya.
Keysha menatap Adiba bingung. “Ngapain Marco kesini, bukannya tim putra ga latihan ya hari ini?”
“Ah,” Adiba bergumam, seolah baru teringat sesuatu. “Pasti buat ketemu, Latte.” Jawab gadis berkulit gelap itu.
“Latte?”
“Iya, udah dari bulan lalu, Marco mengejar-ngejar Latte.”
Rega menghentikan langkahnya tepat ketika Adiba menyelesaikan kalimatnya, membuat gadis berkulit gelap itu hampir menabrak punggung Rega. Rega berbalik. Adiba dan Kesyha menatapnya heran. Ia melihat Latte keluar dari gym dan segera menghampiri lelaki itu. Mereka berdua tersenyum satu sama lain dan berbincang sebentar sebelum Latte menaiki motor.
Rega masih berdiri di tempatnya, memperhatikan motor kawasaki ninja hitam itu melaju melewatinya dan kemudian meninggalkan area gymnasium.
“Mr. Manager kenapa bengong?” Tanya Kesyha.
“Ada yang ketinggalan?” Adiba ikut bertanya.
Rega menatap keduanya, ia menggeleng kemudian kembali balik badan dan melanjutkan langkahnya. Kedua gadis itu saling pandang, keheranan.
“Masa sih kak Rega?” Tanya Keysha ragu-ragu.
“Ah, mana mungkin.” Jawab Adiba cepat.
Keysha mengangguk setuju. Mana mungkin seorang Rega cemburu melihat Latte dengan Marco.
***
“Kita mau kemana, Marco?” tanya Latte agak berteriak, melawan suara angin yang menghempas tubuh mereka ketika motor ninja Virgo melaju kencang.
“Rahasia.” Jawab Marco. Dia dapat melihat wajah cemberut Latte dari kaca spion kanan motornya. Lelaki itu tersenyum geli. Gadis di belakangnya kemudian mendongkakkan kepala, menatap langit malam. Terhitung saat ini, sudah tiga kali Marco membonceng Latte di motornya, gadis itu akan selalu melakukan hal tersebut. Menatap ke atas, menatap bintang. Marco menyadari kalau Latte menyukai benda kecil yang berkilauan di langit malam itu.
“Dia bilang, dia ingin jadi astronot, apa itu berarti dia juga suka melihat bintang?”
“Kamu bicara sesuatu, Latte?” Tanya Marco yang tidak yakin ia mendengar Latte berbicara atau tidak. Latte menggeleng, gadis itu masih asik menatap langit. Marco tidak lagi mengajak bicara gadis itu, ia membiarkan Latte menikmati pemandangan langit malam ini.
“Pesan apapun yang kamu suka. Makanan di sini enak-enak.
Tenang, Aku yang traktir.” Beritahu Marco sambil mengacungkan ibu jarinya kemudian ia membolak-balik buku menu.
Latte nyengir, “Wah sepertinya aku mencium bau uang segar dari seseorang.”
Marco tertawa, “Lagipula hari ini kan aku yang berulang tahun.”
Latte menatap Marco, “Maaf karena aku tidak sempat memberikan hadiah atau pun kue.”
Marco mengangguk, tersenyum. Pemuda itu menatap tepat di mata Latte, “Tidak apa-apa. Kamu sudah menemani aku makan malam di hari ulang tahunku saja, aku sudah sangat senang, Charletta.” Anak laki-laki itu merendahkan nada suaranya, membuat suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
Ketika pesanan mereka datang, Latte segera menyantapnya. Marco benar, makanan Jepang di sini
sangat lezat. Tentu saja, harga tidak pernah bohong, pikir Latte.
Melihat Latte makan dengan lahap, tanpa merasa malu atau canggung di depannya membuat Marco tersenyum, perasaan hangat memenuhi hatinya.
Latte menyuap sushi terakhir. Ia ********** perlahan, menikmati cita rasanya. “Ah, aku kenyang sekali. Makanannya sangat lezat, terima kasih banyak tuan muda sudah berbaik hati memberi hamba kemewahan ini” Gadis itu menunduk hikmat.
Marco tertawa pelan, “Saya ini memang orang yang dermawan.”
Latte tersenyum, dia mengangguk setuju.
Marco balas tersenyum. Ia meraih tas jinjingnya, membukanya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Marco menyodorkan sebuah paper bag kecil berwarna marun kepada Latte. Latte yang tengah meminum ocha memberhentikan aktivitasnya itu. Ia memandang paper bag tersebut, “Ini apa?” tanyanya.
“Oleh-oleh. Orang tuaku baru pulang dari Prancis.”
Latte meraih paper bag itu dan membukanya, di dalamnya terdapat kotak berisi jam tangan dengan merek
ternama dunia. Latte buru-buru menyerahkan kembali hadiah tersebut kepada Marco.
“Aku tidak bisa menerima benda mewah seperti ini. Ini terlalu berlebihan buat aku.”
Marco menggeleng. Dia meraih jemari Latte, menggengamnya. “Tidak ada hadiah yang terlalu berlebihan untuk perempuan yang spesial bagiku.”
Latte menarik tangannya perlahan. Melepaskan genggaman tangan Marco.
Dia tersenyum, menolak dengan harus agar pemuda itu tidak tersinggung. “Aku tetap tidak bisa menerimanya, maaf. Lagi pula hari ini kan ulang tahunmu. Harusnya aku yang memberikanmu hadiah. Besok aku akan memberimu hadiah, suer.”
“Tidak usah.” Jawab Marco singkat. Lelaki itu menunduk. Diam sejenak lalu tersenyum masam.
“Apa ini karena cowok bernama Egar itu?”
Latte menatap Marco terkejut, “Bagaimana kamu bisa tahu tentang Egar?”
“Tentu saja aku tahu.” Marco menatap Latte, nada suaranya terdengar ringan. “Bukankah alasan kamu menolak semua cowok yang pernah menyukaimu karena cowok bernama Egar ini? Aku dengar dia cinta pertamamu waktu
SMP?”
Latte mengangguk.
“Itu sudah lama sekali, Latte. Tidak bisakah kamu melupakannya saja dan mulai membuka hatimu?”
Latte menatap keluar jendela. Pandangannya mengawang, seolah-olah pikiran gadis itu sedang tidak ada disini. “Egar itu,” gadis itu diam sejenak. “Dia adalah orang yang membuatku menjadi pemain basket seperti sekarang.
Dia membuatku jatuh cinta pada permainan basket. Karena itulah, setiap kali aku bermain basket aku akan teringat padanya. Dan kamu tahu sendiri, seberapa sering aku berdiri di lapangan. Bermain basket.”
Latte mengalihkan pandangannya pada Marco.
Dia menatap pemuda itu tepat di kedua matanya. Gadis itu tersenyum. “Apa menurutmu, aku bisa melupakannya?”