ELEVEN

ELEVEN
"ELEVEN"



Hallo teman-teman. terimakasih sudah mampir dan membaca kisah ini. semoga kalian bisa menikmatinya. jangan lupa like, comment dan vote ya. aku sangat menghargainya:)


***


10 September 2019


Hujan yang beberapa saat lalu mengguyur kota Cambridge, Britania


Raya mulai mereda. Matahari yang semula tersembuyi di balik awan kelabu mulai


kembali menampakkan wujudnya, membuat langit seolah dipenuhi tirai-tirai cahaya


keemasan.


Perlahan, orang-orang yang bersembunyi di berbagai sudut bangunan


mulai melangkahkan kaki ke trotoar jalan kota Cambridge, Britania Raya kembali.


Melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.


Di dalam kedai kopi di sisi Magdalene Street, Rega menyeruput


habis sisa caffe latte di cangkirnya. Pemuda itu kemudian menatap keluar


jendela. Hujan sudah berhenti sepenuhnya.


Rega meletakan cangkir yang telah kosong di atas meja, lalu ia


melihat jam tangannya yang menujukan pukul setengah delapan malam. Ia beralih


menatap gadis remaja di hadapannya.


“Aku rasa aku harus mengakhiri ceritanya sampai di sini dulu.” Beritahu


Rega pada Adelaine.


Adelaine melenguh tidak setuju, “tapi kan ceritanya belum selesai.”


Rega tersenyum, “Ada yang harus aku kerjakan malam ini.”


Beritahunya. “Tapi bagaimana kalau kita sambung besok, pukul 10 di kedai kopi ini.”


Adelaine mengangguk setuju. Besok adalah akhir pekan, selain latihan


basket di sore hari, Adelaine tidak ada agenda lain. Terlebih lagi mendengarkan


kisah tentang pemain basket bertubuh mungil yang diceritakan Rega menumbuhkan


semangat baru untuknya bermain basket.


Rega tersenyum sebelum bangkit berdiri dan berjalan menuju kasir


untuk membayar tagihan minuman mereka. Setelah ini pemuda itu mengajak Adelaine


keluar dari kedai kopi.


“Aku jalan kaki saja dari sini. Rumahku dekat.” Beritahu Adelaine


ketika Rega menanyakan bagaimana gadis itu pulang. Ia berniat mengantar gadis


muda itu sampai rumah dengan menggunakan bis umum.


Rega mengangguk. Mereka kemudian saling memberikan salam


perpisahan sebelum melangkah menuju tujuan masing-masing. Rega berjalan


beberapa meter menuju halte bis yang letaknya tidak jauh dari gedung olahraga


di seberang kedai kopi. Ia kemudian duduk menunggu bis bersama beberapa orang


lainnya.


Bis bertingkat berwarna merah khas negara Britania Raya merapat pada


halte tempat Rega menunggu. Ia segera bangkit berdiri dan memasuki bis. Pemuda


itu memilih kursi di sebelah jendela. Ia menyukai menatap pemandangan kota


Cambridge di sepanjang perjalanan.


Di belahan dunia lainnya ini, Rega lebih suka berpergian menggunakan bis


dari pada taksi. Padahal, bila mengingat dirinya yang dulu, menaiki angkutan


umum dengan banyak penumpang seperti bis kota tidak akan terlintas di kepalanya.


Mengingat Dia tidak suka berada di tempat dengan banyak orang di dalamnya.


Bis mulai melaju. Rega menatap keluar jendela. Pemuda itu


tersenyum masam. Perjalanan menggunakan bis kerap kali membangkitkan kenangan


kejadian di tahun 2015.


***


Bandung, September 2015


Rega dapat melihat bis yang merapat menuju halte dan Latte yang


memasuki bis tersebut. Pemuda itu mempercepat larinya.


Dia tiba tepat ketika pintu bis telah ditutup. Pemuda itu mengetuk


pintu bis sekali. Supir bis yang melihat Rega segera membukakan pintu.


Rega menaiki bis. Matanya menatap sekitar. Mencari-cari keberadaan


Latte. Mungkin karena sudah cukup malam, tidak banyak penumpang dalam bis.


Ketemu. Rega tersenyum senang.


Latte duduk di kursi untuk dua orang. Berada di barisan depan di


sisi kiri bis. Dia terkejut ketika melihat Rega yang berjalan menghampirinya.


“Kenapa kamu di sini?” tanyanya. Tepat ketika Rega telah berdiri di


hadapannya.


Pemuda itu duduk di kursi di sebelah Latte. “Aku juga ingin


merasakan sensasi naik bus.” Jawabnya.


“Apa?” Latte menatap Rega tidak mengerti. Tapi pemuda itu hanya


diam saja, tidak berniat memberikan penjelasan lebih lanjut.


Bis mulai melaju. Sepanjang perjalanan Rega diam. Menatap Latte


tanpa sepatah kata pun, membuat Gadis itu merasa salah tingkah. Latte dapat


merasakan jantungnya berdetak tidak biasa, rasanya seperti pertama kali ia


minum kopi atau pertama kali menaiki wahana flying fox. Memacu adrenalinnya.


Gadis itu memberanikan diri balik menatap Rega. Dia tersenyum.


“Ada apa?”


Pemuda di sampingnya tampak salah tingkah. Lelaki itu terbata-bata


sebelum bertanya, “Um aku hanya penasaran. Kenapa memilih nomor punggung


sebelas?”


Latte menatap Rega bingung. Pemuda itu menggigit bagian dalam


bibirnya. Menyadari pertanyaannya yang benar-benar random dan tiba-tiba.


“Ceritanya akan panjang, kamu mau mendengarkan?” Jawab Latte.


Rega mengangguk.


“Aku mulai bermain basket sejak masuk SMP.” Jawab Latte. “Tapi dulu aku tidak bermain dengan


baik. bahkan bisa dibilang aku sangat payah. Pelatih dan rekan-rekanku tidak


mempercayakan aku untuk turun ke lapangan ketika ada pertandingan, sebagian


besar alasan karena tinggi badanku yang kurang.


Beberapakali mengalami kejadian seperti itu Hingga aku pikir lebih baik aku keluar dari klub basket saja.


“Dia?”


 “Aku memanggilnya Egar.


Egar, ketika nama itu disebut,


Rega merasakan jantungnya berhenti sepersekian detik.


Pemuda itu terkesiap. Tidak menduga bahwa dia akan mendengar tentang Egar dari Latte


tepat setelah ia mengetahui desas desus mengenai Latte dan pemuda itu.


"Dia kapten basket di SMP yang berbeda denganku, tapi aku sering bertemu dengannya


kalau ada pertandingan atau sedang latihan di gedung olahraga bersama di kota.”


Latte melanjutkan ceritanya. Tidak menyadari raut wajah Rega yang tidak terbaca.


“Aku ingat hari itu, tanggal 11 September. Sore itu langit


mendung, seperti akan turun hujan. Tim basketku baru selesai melakukan


pertandingan. Dan seperti biasanya, aku tidak diizinkan turun ke lapangan. Hari


itu aku sangat sedih dan marah karena hanya aku satu-satunya cadangan yang


tidak main di lapangan sekalipun selama pertandingan. Hari itu aku memutuskan


untuk berhenti dari klub.”


Latte tersenyum sebelum melanjutkan. Pandangannya mengawang.


Ia sedang mengenang.


“Hari itu aku memutuskan untuk pulang belakangan, tidak bersama


timku. Aku bermain basket di salah satu lapangan di Gor. Berpikir kalau pulang


dari sini aku akan berhenti, jadi aku ingin main basket untuk terakhir kalinya.


Disitulah aku bertemu Egar.”


  “Egar menyadari kegelisahanku waktu itu.


Dia bertanya, jadi aku menceritakan masalahku padanya.


Kata-katanya yang merubah keputusanku saat itu.”


Latte menatap Rega, “Dia bilang begini, “Di permainan basket badan


yang tinggi memang menguntungkan, tapi ada yang lebih penting dari itu, yaitu usaha


dan teknik. Dia juga bilang, Kalau aku mau berusaha dan menemukan teknikku


sendiri, aku pasti jadi pemain yang hebat.”


Senyuman Latte semakin lebar. “Esoknya. Aku mulai berlatih lebih


keras dan mencoba menemukan teknik bermain basketku sendiri. Dan juga,


mengganti nomor punggungku menjadi sebelas. Karena tanggal aku bertemu dengan


Egar adalah tanggal sebelas, bulan sebelas dan nomor punggung Egar juga


sebelas.”


Rega merasa cerita Latte tidak asing, apa dia pernah mendengarnya


di suatu tempat sebelumnya? Atau jangan-jangan, Egar adalah sesorang yang dia


kenal?


Rega menggeleng pelan. Tidak, seingatnya dia tidak punya teman


bernama Egar, lagipula dia memang tidak punya banyak teman.


“Ya singkatnya, angka sebelas memiliki arti tersendiri untukku.”


Rega mengangguk. Lelaki itu menyadari, bukan angka sebelas yang


memiliki arti tersendiri bagi Latte, tetapi anak laki-laki bernama Egar. Dia


yang membuat angka sebelas menjadi memiliki arti.


Latte mennunduk. Senyuman di wajahnya seketika hilang. “Setelah


hari itu aku tidak pernah bertemu atau hanya sekedar melihat Egar lagi. Di


pertandingan besar sekalipun. Dia seperti menghilang dari dunia basket begitu


saja.”


***


Beberapa menit kemudian, Latte dan Rega tidak lagi saling bicara.


Rasa lelah mulai merasaki tubuh mereka.


Latte pasti sangat kelelahan,


dia bermain begitu bersemangat siang tadi. Pikir Rega.


Beberapa detik memudian Rega mendengar suara dengkuran halus. Ia


menoleh pada Latte.


Gadis itu tertidur dengan kepala menunduk. Sesekali kepalanya


menunduk lebih rendah membuat gadis itu mengangkat kepala secara tidak sadar.


Lehernya akan sakit jika dia tidur dengan posisi seperti itu, pikir Rega.


Rega menggeser dirinya lebih rapat pada Latte. Dia melihat supir


taksi lewat kaca spion di bagian atas. Bapak-bapak paruh baya itu sedang fokus


menyetir, tidak memperhatiakan apapun yang terjadi di kursi belakang.


Rega dapat merasakan jantungnya berdetak lebih keras, sampai


rasanya ia dapat mendengarnya. Tangannya terulur dengan ragu-ragu mendekat pada


kepala Latte. Perlahan hingga akhirnya menyentuh kepala gadis itu.


Rega takut gerakannya membangunkan Latte, tapi gadis itu masih


terlelap dan mendengkur halus. Rega menarik kepala Latte perlahan,


menyadarkannya pada bahunya. Rega dapat merasakan rambut halus gadis itu


menyentuh telinganya.


“Dia pasti lelah sekali.” Bisik Rega, lebih pada dirinya sendiri.


Rega mematung ketika merasakan gadis itu bergerak merapat. Latte


tanpa sadar menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Rega.  Jantung rega berpacu hebat, ia dapat


merasakan darahnya berdesir ketika ia merasakan nafas hangat Latte di lehernya.


Mereka diam di posisi itu selama beberapa saat.


“Berkat analisis Rega kita bisa menang, kita harus berterimakasih


padanya.” Gumam Latte dengan suara parau.


Rega menoleh, gadis itu sedang mengigau. Lucu sekali, pikir Rega.


Senyum terukir di bibirnya. Pemuda itu menyandarkan kepalanya


di atas kepala Latte, membuat pipinya bisa merasakan lembutnya rambut gadis itu.


“Sama-sama.” Balas Rega lembut.


Pemuda itu tidak sadar, kalau supir


taksi itu sedang tersenyum melihat mereka dari kaca spion mobil.


“Romasa anak muda ya, jadi iri.” Komentar bapak supir sambil tertawa geli.