
Hallo teman-teman. terimakasih sudah mampir dan membaca kisah ini. semoga kalian bisa menikmatinya. jangan lupa like, comment dan vote ya. aku sangat menghargainya:)
***
10 September 2019
Hujan yang beberapa saat lalu mengguyur kota Cambridge, Britania
Raya mulai mereda. Matahari yang semula tersembuyi di balik awan kelabu mulai
kembali menampakkan wujudnya, membuat langit seolah dipenuhi tirai-tirai cahaya
keemasan.
Perlahan, orang-orang yang bersembunyi di berbagai sudut bangunan
mulai melangkahkan kaki ke trotoar jalan kota Cambridge, Britania Raya kembali.
Melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.
Di dalam kedai kopi di sisi Magdalene Street, Rega menyeruput
habis sisa caffe latte di cangkirnya. Pemuda itu kemudian menatap keluar
jendela. Hujan sudah berhenti sepenuhnya.
Rega meletakan cangkir yang telah kosong di atas meja, lalu ia
melihat jam tangannya yang menujukan pukul setengah delapan malam. Ia beralih
menatap gadis remaja di hadapannya.
“Aku rasa aku harus mengakhiri ceritanya sampai di sini dulu.” Beritahu
Rega pada Adelaine.
Adelaine melenguh tidak setuju, “tapi kan ceritanya belum selesai.”
Rega tersenyum, “Ada yang harus aku kerjakan malam ini.”
Beritahunya. “Tapi bagaimana kalau kita sambung besok, pukul 10 di kedai kopi ini.”
Adelaine mengangguk setuju. Besok adalah akhir pekan, selain latihan
basket di sore hari, Adelaine tidak ada agenda lain. Terlebih lagi mendengarkan
kisah tentang pemain basket bertubuh mungil yang diceritakan Rega menumbuhkan
semangat baru untuknya bermain basket.
Rega tersenyum sebelum bangkit berdiri dan berjalan menuju kasir
untuk membayar tagihan minuman mereka. Setelah ini pemuda itu mengajak Adelaine
keluar dari kedai kopi.
“Aku jalan kaki saja dari sini. Rumahku dekat.” Beritahu Adelaine
ketika Rega menanyakan bagaimana gadis itu pulang. Ia berniat mengantar gadis
muda itu sampai rumah dengan menggunakan bis umum.
Rega mengangguk. Mereka kemudian saling memberikan salam
perpisahan sebelum melangkah menuju tujuan masing-masing. Rega berjalan
beberapa meter menuju halte bis yang letaknya tidak jauh dari gedung olahraga
di seberang kedai kopi. Ia kemudian duduk menunggu bis bersama beberapa orang
lainnya.
Bis bertingkat berwarna merah khas negara Britania Raya merapat pada
halte tempat Rega menunggu. Ia segera bangkit berdiri dan memasuki bis. Pemuda
itu memilih kursi di sebelah jendela. Ia menyukai menatap pemandangan kota
Cambridge di sepanjang perjalanan.
Di belahan dunia lainnya ini, Rega lebih suka berpergian menggunakan bis
dari pada taksi. Padahal, bila mengingat dirinya yang dulu, menaiki angkutan
umum dengan banyak penumpang seperti bis kota tidak akan terlintas di kepalanya.
Mengingat Dia tidak suka berada di tempat dengan banyak orang di dalamnya.
Bis mulai melaju. Rega menatap keluar jendela. Pemuda itu
tersenyum masam. Perjalanan menggunakan bis kerap kali membangkitkan kenangan
kejadian di tahun 2015.
***
Bandung, September 2015
Rega dapat melihat bis yang merapat menuju halte dan Latte yang
memasuki bis tersebut. Pemuda itu mempercepat larinya.
Dia tiba tepat ketika pintu bis telah ditutup. Pemuda itu mengetuk
pintu bis sekali. Supir bis yang melihat Rega segera membukakan pintu.
Rega menaiki bis. Matanya menatap sekitar. Mencari-cari keberadaan
Latte. Mungkin karena sudah cukup malam, tidak banyak penumpang dalam bis.
Ketemu. Rega tersenyum senang.
Latte duduk di kursi untuk dua orang. Berada di barisan depan di
sisi kiri bis. Dia terkejut ketika melihat Rega yang berjalan menghampirinya.
“Kenapa kamu di sini?” tanyanya. Tepat ketika Rega telah berdiri di
hadapannya.
Pemuda itu duduk di kursi di sebelah Latte. “Aku juga ingin
merasakan sensasi naik bus.” Jawabnya.
“Apa?” Latte menatap Rega tidak mengerti. Tapi pemuda itu hanya
diam saja, tidak berniat memberikan penjelasan lebih lanjut.
Bis mulai melaju. Sepanjang perjalanan Rega diam. Menatap Latte
tanpa sepatah kata pun, membuat Gadis itu merasa salah tingkah. Latte dapat
merasakan jantungnya berdetak tidak biasa, rasanya seperti pertama kali ia
minum kopi atau pertama kali menaiki wahana flying fox. Memacu adrenalinnya.
Gadis itu memberanikan diri balik menatap Rega. Dia tersenyum.
“Ada apa?”
Pemuda di sampingnya tampak salah tingkah. Lelaki itu terbata-bata
sebelum bertanya, “Um aku hanya penasaran. Kenapa memilih nomor punggung
sebelas?”
Latte menatap Rega bingung. Pemuda itu menggigit bagian dalam
bibirnya. Menyadari pertanyaannya yang benar-benar random dan tiba-tiba.
“Ceritanya akan panjang, kamu mau mendengarkan?” Jawab Latte.
Rega mengangguk.
“Aku mulai bermain basket sejak masuk SMP.” Jawab Latte. “Tapi dulu aku tidak bermain dengan
baik. bahkan bisa dibilang aku sangat payah. Pelatih dan rekan-rekanku tidak
mempercayakan aku untuk turun ke lapangan ketika ada pertandingan, sebagian
besar alasan karena tinggi badanku yang kurang.
Beberapakali mengalami kejadian seperti itu Hingga aku pikir lebih baik aku keluar dari klub basket saja.
“Dia?”
“Aku memanggilnya Egar.
Egar, ketika nama itu disebut,
Rega merasakan jantungnya berhenti sepersekian detik.
Pemuda itu terkesiap. Tidak menduga bahwa dia akan mendengar tentang Egar dari Latte
tepat setelah ia mengetahui desas desus mengenai Latte dan pemuda itu.
"Dia kapten basket di SMP yang berbeda denganku, tapi aku sering bertemu dengannya
kalau ada pertandingan atau sedang latihan di gedung olahraga bersama di kota.”
Latte melanjutkan ceritanya. Tidak menyadari raut wajah Rega yang tidak terbaca.
“Aku ingat hari itu, tanggal 11 September. Sore itu langit
mendung, seperti akan turun hujan. Tim basketku baru selesai melakukan
pertandingan. Dan seperti biasanya, aku tidak diizinkan turun ke lapangan. Hari
itu aku sangat sedih dan marah karena hanya aku satu-satunya cadangan yang
tidak main di lapangan sekalipun selama pertandingan. Hari itu aku memutuskan
untuk berhenti dari klub.”
Latte tersenyum sebelum melanjutkan. Pandangannya mengawang.
Ia sedang mengenang.
“Hari itu aku memutuskan untuk pulang belakangan, tidak bersama
timku. Aku bermain basket di salah satu lapangan di Gor. Berpikir kalau pulang
dari sini aku akan berhenti, jadi aku ingin main basket untuk terakhir kalinya.
Disitulah aku bertemu Egar.”
“Egar menyadari kegelisahanku waktu itu.
Dia bertanya, jadi aku menceritakan masalahku padanya.
Kata-katanya yang merubah keputusanku saat itu.”
Latte menatap Rega, “Dia bilang begini, “Di permainan basket badan
yang tinggi memang menguntungkan, tapi ada yang lebih penting dari itu, yaitu usaha
dan teknik. Dia juga bilang, Kalau aku mau berusaha dan menemukan teknikku
sendiri, aku pasti jadi pemain yang hebat.”
Senyuman Latte semakin lebar. “Esoknya. Aku mulai berlatih lebih
keras dan mencoba menemukan teknik bermain basketku sendiri. Dan juga,
mengganti nomor punggungku menjadi sebelas. Karena tanggal aku bertemu dengan
Egar adalah tanggal sebelas, bulan sebelas dan nomor punggung Egar juga
sebelas.”
Rega merasa cerita Latte tidak asing, apa dia pernah mendengarnya
di suatu tempat sebelumnya? Atau jangan-jangan, Egar adalah sesorang yang dia
kenal?
Rega menggeleng pelan. Tidak, seingatnya dia tidak punya teman
bernama Egar, lagipula dia memang tidak punya banyak teman.
“Ya singkatnya, angka sebelas memiliki arti tersendiri untukku.”
Rega mengangguk. Lelaki itu menyadari, bukan angka sebelas yang
memiliki arti tersendiri bagi Latte, tetapi anak laki-laki bernama Egar. Dia
yang membuat angka sebelas menjadi memiliki arti.
Latte mennunduk. Senyuman di wajahnya seketika hilang. “Setelah
hari itu aku tidak pernah bertemu atau hanya sekedar melihat Egar lagi. Di
pertandingan besar sekalipun. Dia seperti menghilang dari dunia basket begitu
saja.”
***
Beberapa menit kemudian, Latte dan Rega tidak lagi saling bicara.
Rasa lelah mulai merasaki tubuh mereka.
Latte pasti sangat kelelahan,
dia bermain begitu bersemangat siang tadi. Pikir Rega.
Beberapa detik memudian Rega mendengar suara dengkuran halus. Ia
menoleh pada Latte.
Gadis itu tertidur dengan kepala menunduk. Sesekali kepalanya
menunduk lebih rendah membuat gadis itu mengangkat kepala secara tidak sadar.
Lehernya akan sakit jika dia tidur dengan posisi seperti itu, pikir Rega.
Rega menggeser dirinya lebih rapat pada Latte. Dia melihat supir
taksi lewat kaca spion di bagian atas. Bapak-bapak paruh baya itu sedang fokus
menyetir, tidak memperhatiakan apapun yang terjadi di kursi belakang.
Rega dapat merasakan jantungnya berdetak lebih keras, sampai
rasanya ia dapat mendengarnya. Tangannya terulur dengan ragu-ragu mendekat pada
kepala Latte. Perlahan hingga akhirnya menyentuh kepala gadis itu.
Rega takut gerakannya membangunkan Latte, tapi gadis itu masih
terlelap dan mendengkur halus. Rega menarik kepala Latte perlahan,
menyadarkannya pada bahunya. Rega dapat merasakan rambut halus gadis itu
menyentuh telinganya.
“Dia pasti lelah sekali.” Bisik Rega, lebih pada dirinya sendiri.
Rega mematung ketika merasakan gadis itu bergerak merapat. Latte
tanpa sadar menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Rega. Jantung rega berpacu hebat, ia dapat
merasakan darahnya berdesir ketika ia merasakan nafas hangat Latte di lehernya.
Mereka diam di posisi itu selama beberapa saat.
“Berkat analisis Rega kita bisa menang, kita harus berterimakasih
padanya.” Gumam Latte dengan suara parau.
Rega menoleh, gadis itu sedang mengigau. Lucu sekali, pikir Rega.
Senyum terukir di bibirnya. Pemuda itu menyandarkan kepalanya
di atas kepala Latte, membuat pipinya bisa merasakan lembutnya rambut gadis itu.
“Sama-sama.” Balas Rega lembut.
Pemuda itu tidak sadar, kalau supir
taksi itu sedang tersenyum melihat mereka dari kaca spion mobil.
“Romasa anak muda ya, jadi iri.” Komentar bapak supir sambil tertawa geli.