
Kamis sore, seperti biasanya tim basket Renjana melakukan latihan
di gymnasium SMA Antaraksa.
Rega sibuk dengan laptopnya, menonton pertandingan SMA Saktiwara tahun lalu. Ia tengah melakukan analisis pemain, taktik, dan alur pertandingan SMAyang akan
jadi lawan mereka sabtu depan saat latihan gabungan.
“Gimana, bisa tidak latihan gabungannya di pindah hari selain
sabtu?” tanya Galuh yang duduk di sebelah
Rega, ikut menonton.
Rega menggeleng, “belum ada kabar.” Jawabnya. “Misalkan, mereka tidak setuju dan tidak bisa diganti
harinya bagaimana?”
Galuh menoleh, ia menepuk bahu Rega. Rega kini telah menyadari
kebiasan pelatihan muda itu. Setiap kali ia akan mengatakan sesuatu atau menyuruh sesuatu yang tidak akan disukai Rega, Galuh
akan menepuk bahunya
terlebih dulu. Entah maksudnya untuk memberi semangat, atau merasa prihatin.
“Kalau begitu, kamu harus bisa memastikan Latte datang hari itu”
“Bagaimana caranya?”
Galuh mengangkat bahunya, “entahlah. Kamu yang pikirkan caranya.
Pokoknya Latte harus datang hari itu, kalau kita ingin menyingkirkan peluang
tim kita kalah.”
Rega menatap Galuh tajam, “kenapa harus saya?”
“Tentu saja harus kamu, kamu kan manager timnya.” Galuh tertawa
kemudian itu bangkit berdiri. Ia
menepuk bahu Rega sekali lagi sebelum berjalan menuju tengah lapangan,
memberikanarahan
pada para pemain.
Rega menatap Latte yang sedang memperhatikan apa yang dikatakan
Galuh. Rambut gadis itu diikat ekor kuda. Badannya dipenuhi peluh, nafasnya
terengah-engah, tetapi wajahnya terlihat cerah. Sepertinya gadis itu sangat
menikmati ketika sedang bermain basket.
Rega bertanya-tanya dalam hati, kemana perginya Latte setiap hari
sabtu? Otak cerdasnya sibuk memutar berbagai cara, taktik untuk memastikan
Latte hadir latihan gabungan hari sabtu depan.
***
Rega baru menerima pesan balasan dari tim
basket SMA Saktiwara pada jumat malam.
Pesan itu menjelaskan bahwa tim basket putri SMA Saktiwara tidak
bisa mengadakan latihan gabungan selain hari sabtu, minggu depan dikarenakan
kesibukan para pemain yang mengikuti kepanitian di sekolah.
Rega menghela nafas, ternyata dia memang harus membujuk Latte untuk datang hari sabtu, minggu depan.
Esoknya, hari sabtu
tim basket Renjana sudah memulai latihan sejak pukul 9 pagi. Seperti hari sabtu
sebelum-sebelumnya, Latte pun tidak hadir latihan sabtu ini.
Rega menghampiri Adiba yang tengah beristirahat. Gadis berkulit gelap itu sedang minum ketika Rega ikut
begabung duduk di sebelahnya.
Adiba mengangkat sebelas alisnya, “tumben.” Ucapnya mengingat bahwa lelaki itu tidak pernah mencoba
mendekat dan mengakrabkan diri dengan para pemain.
“Saya mau tanya beberapa hal.” Jelas Rega. “Soal Latte.Saya dengar kamu paling dekat dengan dia.”
Adiba mengangguk, “mungkin karena satu kelas . Mau tanya apa
memangnya?”
“Kamu sadar kan kalau setiap sabtu Latte tidak pernah ikut latihan?”
Adiba mengangguk.
“Kamu tahu alasannya?”
“Dia bilang, dia harus membantu ibunya di toko kue setiap hari sabtu.”
Rega mengangguk. Ia ingat kalau di bagian bawah rumah Latte memang
dijadikan toko kue. Pemuda itu berdiri dan
tersenyum pada Adiba. “Terima kasih ya, Adiba.”
Adiba menatap Rega terkesiap, ia mengangguk setengah sadar.
Matanya mengikuti Rega yang berjalan menghampiri Galuh.
“Wei kenapa lo, bengong gitu?” Seru Annisa sambil menepuk bahu Adiba keras, membuat gadis berkulit gelap itu melotot kaget.
“Nih ya Nis, dari awal aku sadar kalau Rega itu memang ganteng.
Tapi ternyata kalau senyum dia bisa cakep
banget gitu ya? Apa efek karena dia jarang senyum ya?”
Annisa tersenyum geli, “awas
naksir, yang ngantri banyak loh.”
***
Rega memarkirkan mobilnya di dekat rumah Latte, ia berjalan menuju
toko kue yang sedang buka itu. Setelah mendapatkan izin dari Galuh untuk
menemui Latte dan tidak ikut mendampingi latihan
hari ini, Rega segera tancap gas menuju rumah Latte yang letaknya cukup jauh
dari sekolah.
Suara lonceng di atas pintu terdengar pelan ketika Rega memasuki
toko kue.
“Selamat datang.” Ucap seseorang dari meja kasir.
Rega mengamati sebentar keadaan di dalam toko, ada berbagai macam
kue dan roti yang terpajang di lemari-lemari etalase berwarna coklat susu.
Beberapa pengunjung duduk menyantap kue di meja-meja yang di tata di bagian
pinggir ruangan atau sedang berkeliling diantara etalase-etalase, memilih kue
yang akan dibeli. Tapi tidak ada tanda-tanda Latte di sana.
Rega berjalan menghampiri kasir. “Charlettanya ada?” Tanyanya pada
seorang gadis berhijab yang berdiri di balik meja kasir. Papan nama di dada
kirinya bertuliskan namanya, Charwina. Melihat nama gadis itu yang mirip dengan Latte, Rega menyimpulkan bahwa mungkin gadis berhijau itu adik Latte.
Gadis itu tersenyum, “ada, tunggu sebentar ya.”
Lalu Wina masuk ke ruangan di balik kasir, yang
menurut Rega adalah dapur untuk membuat kue.
Beberapa saat kemudian Wina
keluar bersama Latte. Rega memperhatikan penampilan gadis itu. Latte mengenakan
celemek polkadot berwarna pink putih dan topi koki berwarna pink muda. Rega juga menyadari ada goresan
tepung terigu di pelipis kanannya. Gadis itu terlihat berbeda 180 derajat dari yang
biasa Rega lihat di lapangan.
Latte menghampiri Rega yang
masih memperhatikannya. “Kenapa ngeliatinnya gitu? Aneh ya?”
Rega segera tersadar. Ia menggeleng. “Gakaneh, hanya keliatan... berbeda dari biasanya.”
Dan agak manis, tambahnya dalam hati.
Latte tertawa, “tentu saja,
biasanya kamu melihatku dengan seragam basket.
Ah iya kamu ke sini pasti ada hubungannya dengan urusan tim kan? Ayo kita ngobrol
dekat jendela yang kosong.
Rega mengikuti Latte. Ia duduk di hadapan
gadis itu. “Um, itu di sini ada tepung.” Rega menunjuk pelipis kanannya. Memberi instruksi pada Latte.
“Ah,” Latte segera membersihkan tepung dari pelipisnya, lalu
tersenyum. “Terima kasih.”
“Jadi kamu beralih profesi sebagai koki setiap hari sabtu makanya tidak pernah datang latihan?”
Tanya Rega bersamaan
dengan datangnya seorang gadis yang sepertinya seorang pramusaji membawa dua cangkir coklat hangat.
“Terima kasih,
Via.” Ucap Latte pada gadis itu. Via mengangguk dan langsung meninggalkan
mereka berdua. Latte menatap Rega, mengangguk. “Maaf, tapi setiap sabtu aku sudah janji untuk membantu Bunda di
toko. Setiap akhir pekan toko jadi sangat ramai lalu sorenya aku juga ada kerjaan
lain.”
Rega mengangguk. “Saya langsung saja. Sabtu minggu depan kita ada
latihan gabungan sekaligus pertandingan persahabatan dengan SMA Saktiwara. Kamu
harus datang.”
Latte tersenyum. Lelaki ini, tidak pernah berbasa-basi atau
berbicara manis untuk membujuk seseorang.
Ia selalu berterus terang, pikir Latte.
“Kalau aku tidak mau?”
“Kamu harus mau. Saya sudah janji pada Galuh untuk memastikan kamu
datang.”
“Aku akan datang,” Rega tersenyum puas mendengar ucapan Latte,
tetapi senyumnya segera pudar ketika Latte melanjutkan kalimatnya. “Tapi kamu
harus melakukan sesuatu untukku hari ini.”
Rega menaikan sebelah alisnya, “Apa?”
Latte menyeringai. Rega menatap Latte curiga, perasaannya jadi
tidak enak.
***
lima belas menit kemudian Rega sudah mengenakan celemek pink
polkadot dan topi koki
berwarna senada di dalam dapur toko kue tersebut. Dia menatap celemek pinknya
“Apa Saya benar-benar harus menggunakan ini juga?” tanyanya gusar.
Latte berusaha kuat menahan tawanya, siapa sangka sang Siswa
teladan dan juara umum dua tahun berturut-turut yang fotonya dipanjang hampir
diseluruh sudut sekolah dan terkenal super dingin, mengenakan celemek dan topi koki pink serta terlihat
sangat menggemaskan seperti ini.
“Tentu saja, di toko kue ini setiap yang bekerja harus mengenakan
seragam.”
Rega mendesah frustasi, “kalau bukan demi sertifikat organisasi, Saya tidak akan melakukan ini.”
“Iya, iya tentu
saja.” Latte masih berusaha menahan tawanya. “Ayo mulai kerja. Eh tunggu
sebentar.”
Gadis itu meronggoh ke dalam saku celananya yang berada di balik
celemek, dia mengeluarkan ponselnya. “Rega!” Panggilnya. Latte segera mengambil
foto Rega dengan ponselnya ketika pemuda itu menoleh. Menyadari apa yang Latte
lakukan, Rega melotot.
“Hapus!” Perintah Rega, dia mencoba meraih ponsel Latte. Latte
mengelak. Rega terus mencoba meraih ponsel gadis itu. Dia baru berhenti ketika
bunda Latte yang baru memasuki dapur berdeham. Mereka berdua diam, menunduk dan
mencoba fokus pada bahan-bahan di atas meja.
Rega membantu Latte membuat sebuah kue. Di dapur itu selain
mereka, ada dua orang lainnya, Bunda Latte dan seorang gadis yang usianya lebih
tua dari Latte, mungkir awal dua puluhan. Rega menyadari gadis itu dan Bunda
Latte sesekali melirik ke arah Latte dan dirinya, berusaha menahan senyum.
“Ayo cepat selesaikan ini!”
Perintah Rega pelan pada Latte yang berdiri di sebelahnya. Dia merasa tidak
nyaman mengenakan celemek merah muda ini, terlebih lagi Bunda Latte dan gadis
berusia dua puluhan itu terus melihat ke arahnya.
Latte mengangguk. Mereka
berdua kembali sibuk membuat kue. Sekitar tiga puluh menit kemudian adonan kue
siap. Rega memasukan adonan tersebut ke dalam oven. Ia menghela nafas dan
mengusap peluh di pelipisnya
menggunakan punggung tangan, ia tidak tahu membuat kue bisa semelelahkan ini, padahal
ini baru membuat adonan, belum lagi menghias kuenya nanti.
“Sekarang kini hanya perlu menunggu selama satu jam.” Ujar Latte.“Ayo kita tunggu di bagian depan toko, aku
akan membuatkan espresso untukmu.”
Gadis itu berjalan beberapa langkah, kemudian berbalik.“Ah ya, kamu boleh melepas celemek dan
topinya sementara ini sekarang, sampai kuenya matang.”
Rega menghela nafas lega, buru-buru ia melepas celemek dan topi pink itu lalumeletakannya di rak lemari dekat pintu masuk dapur kemudian ia
mengikuti Latte menuju bagian depan toko.
Mereka duduk di tempat sebelumnya.
Rega duduk terlebih dulu kemudian Latte menyusul sambil membawakan dua minuman, espresso untuk Rega dan Latte untuk dirinya sendiri.
“Apa?” Tanya Rega ketika dia mendapati Latte tengah memperhatikan
wajahnya.
“Ada tepung di pelipis kirimu, di sebelah
sini.” Latte menunjuk pelipis kirinya.
Rega mengusap pelipis kirinya. Gadis itu benar, ada tepung
menempel di sana.
“Namamu Clarletta, tapi dipanggil Latte. Apa karena kamu suka kopi
Latte?” Tanya Rega penasaran.
Latte mengangguk dan tersenyum. “Juga biar orang-orang yang
mengenalku, ketika melihat secangkir kopi latte, mereka akan mengingatku. Aku berharap kamu juga akan begitu,
Rega.”
Latte beralih menatap secangkir kopi espresso di
hadapan Rega, lalu ia kembali berkata. “Seperti aku selalu teringat
kamu setiap kali melihat secangkir espresso.”
Rega menatap gadis itu. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba di
dalam dadanya terasa hangat. Entah karena secangkir espresso di hadapannya membumbungkan asap hangat, atau karena ucapan gadis itu.
Tapi
yang kini Rega tahu pasti adalah bahwa sejak saat ini, setiap kali ia melihat
secangkir kopi latte, ia akan teringat gadis yang kini duduk di
hadapannya sambil tersenyum manis itu