
September
2019.
Jalanan kota Cambride sore itu terlihat lebih padat dari biasanya, maklum hari ini akhir pekan. Banyak diantara orang-orang tersebut yang baru pulang setelah menghabiskan waktu diberbagai tempat, piknik dengan keluarga, atau sekedar nonton bioskop dengan kekasih hati. Namun, berbeda dengan pemuda tampan yang duduk manis menyesap secangkir Choco Latte yang membumbungkan asam panas.
“Pasti perasaanmu sakit sekali mendengarnya.” Ujar gadis manis yang duduk di hadapan Rega, Adelaine.
Rega hanya tersenyum, tidak berniat menjawab pertanyaan gadis itu.
“Lalu apa yang dilakukan Rega selanjutnya setelah mengetahui Latte masih belum melupakan Egar?” Adelaine kembali bertanya.
Rega meletakan cangkir Choco Lattenya. “Minum dulu jusmu, apa kamu tidak haus.”
Adelaine segera meraih gelasnya dan menyeruput jus manganya hingga hampir habis. “Sudah, jadi ayo ceritakan kelanjutannya.” Gadis itu memaksa.
Rega tersenyum geli. “Baiklah-baiklah. Namun, bagian yang akan aku ceritakan mungkin akan sedikit membuatmu kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan.”
***
Jakarta, 2015
Setelah malam itu, Rega dan Latte hampir tidak pernah pergi berdua lagi. Mereka disibukkan dengan pertandingan.
Selama lebih dari seminggu kemudian tim SMA Antaraksa bertanding sebanyak 4 kali dan menang di setiap pertandingannya. Secara total tim SMA Antaraksa sudah bertanding sebanyak 6 kali. 6 menang dan tidak pernah kalah.
Sabtu malam tim Renjana baru menyelesaikan pertandingan. Seperti biasanya Galuh menyuruh tim untuk evaluasi
sebelum pulang di bagian belakang gedung olahraga. Latte yang sedari di lapangan menahan ingin buang air kecil, sembari di temani Adiba meminta izin ke toilet dulu.
Selesai dari kamar mandi, Latte dan Adiba bergegas menyusul ke bagian belakang gedung olahraga. Adiba melihat jam tangannya, pukul delapan lewat empat puluh menit. Belum terlalu larut, pantas gedung olahraga masih seramai ini, pikir gadis berkulit gelap itu.
“Aduh.”
Seseorang menabrakkan bahunya pada bahu Latte dengan keras. Seorang gadis bertubuh jangkung membungkuk menyeimbangkan tingginya dengan tubuh Latte yang mungil. Gadis itu berbisik tepat di telinga Latte. Terlalu dekat hingga Latte bisa merasakan hembusan hangat nafas gadis itu di kulitnya. Adiba yang baru menyadari keadaan melotot pada gadis itu dan menyuruhnya meminta maaf tapi gadis jangkung itu mengabaikannya.
“Sampai bertemu di Final besok. Aku harap kamu bersiap-siap karena aku tidak akan memberi belas kasihan. Aku rasa kejadian tiga tahun lalu akan terulang kembali.” Gadis jangkung itu melangkah menjauh.
“Hei bukankah kau harus meminta maaf?” panggil Adiba. Gadis jangkung itu tetap berjalan, mengabaikan ucapan Adiba. Adiba menggerutu. Mengatakan betapa gadis itu tidak sopan.
Latte membeku di tempat. Suara itu, dia kenal sekali.
“Latte ada apa?” Tanya Adiba.
Menyadari temannya tidak berkutik dari tempatnya berdiri. Wajah Latte terlihat pucat. Di mata Adiba, Gadis itu terlihat seperti seseorang yang baru melihat hantu.
“Ellena.” Gumam Latte pelan.
“Apa katamu? Aku tidak bisa dengar.”
Latte menatap Adiba. Mata Latte memerah. “Gadis barusan adalah Ellena. Ellena Saviola dari SMA Tanjung Nusa.”
Mata Adiba membesar mendengar ucapan Latte. dia kenal betul siapa gadis itu. Rival Latte. Satu-satunya orang yang pernah mengalahkan Latte, dengan cara yang amat mengerikan hingga membuat gadis di sampingnya itu gemetaran hanya kerena mendengar suaranya.
Adiba mengelus-elus lembut lengan atas Latte.
Mencoba menenangkan gadis itu. “Kamu tidak apa-apa?” Tanyanya.
Latte mengangguk. “Ayo kita segera ikut evaluasi.” Latte kembali berjalan. Adiba meraih jemari Latte, mengangamnya.
Latte tersenyum pada gadis berkulit gelap itu. “Terimakasih.” Ucapnya pelan.
***
Selama evaluasi Latte tidak mengatakan apapun tentang Ellena, tapi wajah gadis itu masih pucat pasi. Adiba yang gemas melihatnya akhirnya memutuskan buka suara sebelum Galuh membubarkan mereka.
“Tadi aku dan Latte bertemu Ellena dari SMA Tanjung Nusa.” Beritahu Adiba.
“Dia membisikan sesuatu pada Latte. Aku rasa sesuatu yang tidak baik karena Latte langsung terlihat pucat.” Lanjut Abida.
Semua pasang mata seketika menatap Latte. Gadis itu menunduk. Memainkan jemarinya. Rega dapat melihat kekhawatiran di wajah Latte.
“Latte, apa yang Ellena katakan padamu?” Tanya Galuh. Pelatih muda itu mengelus pelan bahu Latte. “Apa dia
mengancammu?”
Latte mengangkat bahu. “Entahlah. Dia bilang agar aku bersiap-siap karena dia rasa kejadian tiga tahun lalu akan
terulang kembali.”
Galuh menghela nafas. Semua yang ada di sana terlihat khawatir pada Latte. Semuanya terlihat seperti mengerti arah pembicaraan ini kecuali Rega. Rega tahu siapa itu Ellena. Dia salah satu pemain handal dari SMA Tanjung Nusa . Gadis itu seangkatan dengan Latte. Rega sudah melihat profilnya dan menonton beberapa kali pertandingannya saat ia menganalisis pemain-pemain handal yang diperintahkan Galuh. Tapi Rega tidak tahu kalau Ellena dan Latte punya sesuatu di masa lalu.
“Ada sesuatu antara Latte dan Ellena?”
Tanya Rega pada Eva yang duduk di sebelahnya.
“Kamu tidak tahu? Itu berita besar di dunia basket tiga tahun lalu.”
Rega menggeleng. Sejak keluar dari klub basket empat tahun lalu, dia benar-benar putus hubungan dengan semua hal tentang basket dan tidak pernah mencari informasi apapun tentang basket. Hal itu dilakukannya untuk menguatkan diri, karena pemuda itu takut bisa dia tidak sepenuhnya menarik diri dari dunia basket, dia tidak bisa menahan rasa ingin kembali berdiri di lapangan.
Eva menghela nafas, “Tentu saja kutu buku sepertimu mana mungkin tahu.”
Rega melotot mendengarnya.
“Tiga tahun lalu Latte dan Ellena bertemu di pertandingan Final Liga Basket SMP Tingkat Nasional. Mereka menjadi ace tim SMPnya masing-masing.” Eva mulai bercerita. Ia bercerita dengan suara pelan. Nyaris berbisik. Mungkin Eva khawatir jika Latte mendengarnya akan membuat gadis itu tambah khawatir.
“Dari awal tim hingga kuarter kedua tim Latte unggul. Kemudian tiba-tiba tim Ellena bermain dengan kasar. Mereka tidak masalah melakukan foul beberapa kali. Yang paling parah ketika di akhir kuarter, ketika Ellena akan melakukan shoot dan Latte berusaha menghalanginya. Ketika turun setelah meloncat, seperti disengaja Ellena menabrakan sikunya pada pelipis Latte yang ada di bawahnya.Dia menghantam pelipis Latte sangat keras sampai Latte langsung jatuh terduduk dan sempoyongan.”
Rega menatap Latte. Gadis itu masih pucat. Adiba dan beberapa teman lain mencoba menghiburnya sementara Galuh memberikan nasihat-nasihat dan kalimat pembangkit semangat.
“Aku ingat sekali waktu itu, karena aku menonton pertandingannya dengan mata kepalaku sendiri. Wasit memberikan foul pada Ellena tapi dia tidak di keluarkan dari lapangan. Jumlah foulnya belum mencapai lima saat itu. Mungkin karena itu dia jadi berani melakukannya.”
Eva ikut menatap Latte. Kejadian dua tahun lalu itu masih tergambar jelas di dalam kepalanya. Latte yang bertubuh
sangat mungil sempoyongan di lapangan sehabis terkena hantaman sikut Ellena yang berbadan jauh lebih besar dari dia.
“Latte bisa bertahan selama beberapa menit di lapangan. Tapi ketika dia mencoba melakukan shoot dia jatuh pingsan dengan hidung mimisan. Tanpa Latte timnya tidak bisa menang, akhirnya mereka gugur di babak final. Setelah itu selama beberapa waktu Latte tidak terlihat di pertandingan manapun. Aku dengar cideranya itu hampir menyebabkan Latte kehilangan pendengarannya. Ya wajar saja sih, pelipisnya terkena hantaman keras sikut Ellena waktu itu”
Rega menatap Latte. Gadis itu duduk memeluk lututnya. Dia sedang tertawa mendengar guyonan Keysha tetapi Rega masih dapat melihat kecemasan di wajah gadis itu. Nyaris seperti malam itu ketika Latte berdiri di depan kamar hotelnya dengan mata sembab. Gadis itu pasti sedang ketakutan saat ini, tapi dia mencoba menyembunyikannya.
“Kejadiaan itu pasti meninggalkan trauma untuk Latte. Jika aku jadi dia, aku juga pasti akan trauma. Malahan
mungkin aku tidak akan mau bermain basket lagi.” Ucap Eva dengan nada simpatik.
“Apalagi akhir-akhir ini Ellena semakin terkenal dengan permainannya yang kasar.”
Rega menyadari dirinya merasa marah mengetahui ada seseorang yang menyakiti Latte. Tubuh gadis itu terlihat begitu mungil di hadapannya membuat Rega ingin merengkuh gadis itu dan memastikan gadis itu selalu aman bersamanya.
Rega tidak pernah merasakan hal seperti ini terhadap orang lain sebelumnya. Dia selalu tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Pemuda itu jadi bertanya-tanya, apakah Marco juga akan merasakan hal yang sama jika mendengar berita itu? Karena menurut Marco, Rega memiliki perasaan yang sama dengannya. Apakah perasaan marah dan ingin melindungi ini ada, karena ia menyukai gadis itu?