ELEVEN

ELEVEN
Twenty Four



Rega meraih tangan Latte sebelum gadis itu memasuki pintu kamar hotelnya. Gadis itu menoleh, menatap Rega bingung.


“Apa apa?” Tanyanya


Rega diam selama beberapa saat. Pemuda itu terlihat ragu-ragu sebelum menjawab. “Mau minum kopi dulu?” Tanyanya akhirnya.


“Besok ada pertandingan Rega, kopi akan membuat kita terjaga sehingga tidak mendapatkan istirahat yang cukup.” Jawab Latte, tersenyum ramah agar lelaki itu tidak tersinggung. Latte harus mempersiapkan dirinya. Besok itu


pertandingan besar. Final. Pertandingan pertamanya dengan Ellena setelah kejadian itu.


“Kalau begitu bagaimana dengan coklat hangat? Aku rasa kamu butuh itu saat ini, Latte.”


Latte menggeleng. Dia ingin sendirian saat ini. “Maaf Rega, tapi aku lelah. Aku ingin istirahat saja malam ini.”


Rega menatapnya dalam. Pemuda itu kemudian melepaskan gengangam tangannya. Ia mengangguk mengerti. Latte tersenyum simpul sebelum menutup pintu kamar.


“Selamat malam Rega.”


“Selamat malam, Latte”


***


Hari Esok terasa datang terlalu cepat.


Latte menghela nafas, menguatkan diri sebelum masuk lapangan. Adiba yang berdiri di sampingnya meraih tangan Latte. Menggengamnya.


“Kamu pasti bisa, Latte.” Adiba tersenyum, memberi semangat pada teman terdekatnya. Latte tersenyum


“Tenang saja, kan ada aku. Dulu sih ga ada aku, makanya dia bisa begitu sama kamu. Sekarang mah beuh, kalau dia berani macem-macem. Aku timpuk dia pake bola basket.”


Latte tertawa. Meremas jemari Adiba yang menggengamnya. “Makasih ya.”


“Bola basket aja ga cukup. Ntar sama gue di lempar pake tiang ring.” Celetus Keysha yang berdiri di belakang mereka.


Kedua gadis itu menoleh ke belakang.


Tersenyum.


“Makasih Keysha cantik.” Balas Latte yang membuat keysha nyengir lebar. Latte merasakan tepukan di bahu kirinya, ia menoleh, mendapati Eva tersenyum hangat.


“Kamu ga sendiri Latte.” Ucap sang Kapten.


“Iya, kita tunjukan kemampuan sesungguhnya tim Renjana.” Sahut Naomi bersemangat. Annisa, Tiara dan yang lain mengangguk setuju. Mereka semua menatap Latte meyakinkan. Galuh mengacungkan kedua ibu jari. Bangga pada anak-anak asuhannya.


Latte melirik Rega. Pemuda itu tersenyum dan mengangguk. Pemuda itu berbicara tanpa suara, tetapi Latte dapat


mengerti apa yang disampaikan pemuda itu, “Ada aku juga.”


Latte tersenyum dan mengangguk. Gadis itu berseru penuh semangat. Ia tahu, ia tidak seharusnya merasa takut. Toh dia punya tim yang hebat. “Ya, ayo kita menangkan pertandingan ini. Kalau sampai kalah selama sebulan kita semua ditraktir makan siang sama Adiba.”


Adiba menoleh, tidak setuju. “Loh kok jadi aku?”


Tetapi yang lain serempak berteriak kegirangan, tidak memperdulikan protes dari gadis berkulit hitam manis itu.


Mereka menatap satu sama lain sebelum memasuki lapangan dengan kepercayaan diri dan semangat untuk perjuang di lapangan. Ini pertandingan terakhir, yang akan menentukan apakah mereka pulang dengan menggenggam kemenangan. Tim Renjana akan memberikan yang terbaik di pertandingan ini.


Ketika satu persatu nama pemain tim Renjana dipanggil untuk memasuki lapangan, sorak-sorak penonton terdengar begitu meriah.


“Nomor punggung sebelas, Charletta”


Panggil pembawa acara. Latte segera berlari memasuki lapangan diiringi dentuman musik dan tepuk tangan penontong yang riuh.


“LATTE SEMANGAT!!”


Terdengar teriakan dari tribun penonton. Latte mendongkak, menemukan Marco dan teman-teman lainnya dari SMA Antaraksa. Mereka menggunakan dress code merah, senada dengan seragam tim Renjana hari ini.


Tim basket putra SMA Antaraksa juga ada di sana. Sayangnya mereka gugur di babak semi final, dan harus berpuas diri berada di posisi ke tiga.


Tubuh marco bergerak-gerak, berbicara dengan bahasa isyarat. “Kamu. Pasti. Bisa.”


Latte mengangguk, tersenyum lebar.


***


Ellena menghampiri Latte ketika yang lain sedang melakukan pemanasan sebelum pertandingan dimulai. Dari kejauhan Latte bisa melihat Rega menatapnya cemas dari pinggir lapangan dan teman-temannya yang


sesekali menoleh diantara kegiatan pemanasan. Latte merasa bersalah membuat timnya tidak fokus melakukan pemanasan.


Gadis jangkung itu berbicara dengan suara rendah, nyaris berbisik. Sengaja agar hanya Latte yang dapat mendengarnya.


“Ada rumor yang mengatakan kalau permainan basketku itu kasar dan tidak kenal ampun.” Gadis jangkung itu


Latte menatap balik Ellena. Tatapan matanya dingin. “Untuk apa kau mengatakan ini padaku.”


Ellena mengangkat bahu, kemudian gadis itu tersenyum culas. “Karena aku baik, jadi aku memberitahukanmu ini supaya kamu bisa mempersiapkan diri.” Gadis jangkung itu kemudian berbalik dan berniat melangkah tetapi terhenti ketika Latte kembali buka suara.


“Kalau kamu pikir aku takut, kamu salah.” Latte menatap Ellena tepat di kedua mata gadis itu. “Sejak awal kamulah


yang ketakutan. Waktu itu juga kamu begitu takut dikalahkan olehku sampai kamu harus berbuat curang untuk menang. Sekarang kamu pun masih takut. Karena itu kamu mengatakan hal-hal tersebut. Sebegitu tidak percayanya kamu pada dirimu sendiri ya? Ironis sekali.”


Latte berbalik, berjalan menuju timnya yang bersiap berkumpul di sisi lapangan untuk diberi arahan oleh Galuh dan Rega sebelum pertandingan. Gadis itu membiarkan Ellena terkesiap. Dia mematung menatap punggung Latte selama beberapa saat. Gadis itu menggeram kesal dan melangkah menuju sisi lapangan yang lain. Bergabung dengan timnya. Amarah memenuhi gadis jangkung itu. Ellena merasa baru saja dihina.


“Apa yang dikatakan Ellena tadi?”


Tanya Adiba ketika Latte bergabung.


“Bukan apa-apa, kalian tidak perlu cemas.” Jawab Latte sambil tersenyum, meyakinkan timnya.


Setelah merasa yakin, Galuh memulai arahan untuk pertandingan.


Peluit dibunyikan. Bola dilempar tepat ditengah lapangan oleh wasit, diantara Keysha dan point guard tim lawan.


Pertandingan dimulai.


***


Selama kuarter awal pertandingan berjalan dengan normal. Ellena dan beberapa anggota timnya memang bermain


dengan kasar. Mereka kerap kali menghantam bahu tim Renjana dengan bahu mereka ketika berhadapan. Namun, sejauh ini belum ada yang lebih serius dari itu. Hasil sementara SMA Antaraksa unggul 9-7 di akhir kuarter pertama.


“Mereka benar-benar bermain dengan kasar.” Komentar Rega ketika jeda pergantian kuarter. Pemuda itu memberikan minum pada para pemain yang sejenak mengistirahatkan tubuh di waktu jeda ini.


“Iya mereka kasar sekali.” Keluh Naomi. “Bahuku sakit ditabrakan dengan bahu mereka yang lebar-lebar seperti


papan itu.” Gadis itu menaik turunkan baru kirinya.


“Ingat kita harus tetap tenang. Jangan tersulut emosi.” Galuh mengingatkan. “Rega bagimana hasil analisismu, sudah dapat sesuatu?”


Rega mengangguk. “Mereka memang unggul di postur tubuh dan kekuatan fisik, tetapi kecepatan mereka tidak baik. Kita bisa memanfaatkan itu. bergerak lebih gesit dari mereka sehingga mereka tidak bisa mengimbangi dan sebisa mungkin menjauh dan hindari kontak fisik.“ Jelas Rega. “Tubuh kalian yang lebih kecil dari mereka dapat memberikan kemudahan untuk kalian mengelak dan menghindar dari sentuhan fisik. Caranya dengan membuat gerakan yang tajam.”


Eva dan yang lainnya mengangguk.


Mengerti apa yang disampaikan Rega.


“Tapi gerakan seperti itu akan membebani lutut dan tumit kalian. Jadi kalian juga harus berhati-hati saat


melakukannya agar tidak terjadi kecelakaan.”


Kalimat Rega selesai tepat ketika wasit meniupkan peluit. Kuarter kedua dimulai.


Lima menit setelah peluit berbunyi, tidak ada satu tim pun yang berhasil mencetak skor. Bola berganti tangan dengan cepat. Diiringi denyitan suara sepatu yang bergesekan dengan lantai lapangan menemani bola menuju ring yang satu kemudian ke ring yang lain.


“Latte!” Teriak Adiba. Gadis itu  mengoper bola pada Latte segera setelah ia mendapatkannya. Seperti apa yang dikatakan Rega. Gadis berkulit hitam itu menukik tajam dan merunduk ketika ia melempar bola pada Latte. Gadis itu mengelak dari pertahanan pemain lawan yang berbadan jauh lebih tinggi dan besar darinya.


Bola terlepar rendah. Menembus bagian bawah lengan pemain tim Tanjung Nusa yang sedang merentangkan tangan menjaga Adiba. Bola memantul sekali, berubah arah. Latte berlari, berkejaran dengan Ellena. Sesuai dengan perkiraan Rega, gadis bertubuh jangkung itu tidak secepat Latte. Gadis itu tidak bisa mengejar. Bola ditangkap Latte kemudian gadis itu membuat ancang-acang, menahan bobot tubuhnya pada lutut dan melompat.


Ketika Ellana berhasil mengejar dia segera merentangkan kedua tangannya yang panjang tepat di belakang Latte. Gadis itu melakukannya tepat waktu, bola menabrak ujung jari tengahnya dan berputar tidak stabal tetapi masih mengudara menuju ring.


“Tidak akan aku biarkan satu bolapun masuk ke ringku.” Ucap Ellena dengan suara mendesis. Latte menelan ludah. Ia berdoa semoga bolanya bisa memasuki ring meskipun terlihat berputar dengan tidak stabil.


Bola menabrak tiang lingkaran ring. Latte dan beberapa pemain lain menahan nafas ketika bola berputar beberapa kali disepanjang lingkaran tiang.


“Aku mohon masuk” Do’a Latte dalam hati.


Akhirnya bola masuk. Tiga angka ditambahkan untuk SMA Antaraksa.


Latte menghela nafas lega. Adiba dan Keysha yang berdiri di sisi lapangan yang lain, berteriak kegirangan sambil


melakukan high five. Latte berbalik, menyeringai pada Ellena yang menatapnya geram.


Gadis jangkung itu terlihat kesal. “hanya beruntung.” Ucapnya ketus sebelum berbalik pergi.


Permainan segera dilanjutkan. Anggota tim Tanjung Nusa yang bernomor punggung 15 bersiap melempar bola.


“Berikan padaku!” Teriak Ellena.


Anggota tim Tanjung Nusa itu segera memberikan bola pada Ellena. Ellena melompat kecil ketika bola melambung ke arahnya. Gadis itu berhasil mendapatkan bola dengan sempurna.


Keysha yang berada di dekat Ellena mencoba menghadang gadis itu, namun Ellena bergerak lebih cepat. Gadis itu


berhasil berlari ke tengah lapangan sebelum Kesha sempat menghalanginya.