ELEVEN

ELEVEN
Thirty



Ketika suara sorak-sorak penonton seketika berhenti Latte menatap Marco cemas.


“Apa pertandingan sudah berakhir?” Tanyanya.


Marco melihat jam tanganya. Seharusnya pertandingan memang berakhir sebentar lagi.


“Apa yang terjadi?” Tanya Latte lagi. Gadis itu terlihat sangat gusar. Seharusnya ketika pertandingan berakhir penonton akan lebih keras bersorak-sorak membuat kegaduhan bukan suasana sunyi seperti sekarang. Latte khawatir ada kecelakaan lagi yang terjadi dan melukai rekan setimnya.


Namun beberapa detik kemudian sorak-sorak penonton kembali terdengar.


“Pertandingan pasti baru saja selesai” Beritahu Marco.


Latte menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Gadis itu mencoba mendengar dengan seksama nama tim apa yang diteriakan penonton tetapi dia tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Suaranya terlalu gaduh dan tidak jelas akibat penonton yang saling bersahutan.


“Aku rasa kita harus menunggu sedikit lebih lama untuk kabar baiknya.” Ucap Marco.


Latte mengangguk


***


Ellena masih menjaga ketat Eva, beberapa kali mencoba memprovokasi kapten basket SMA Antaraksa itu. Dia juga sedang mencoba mengulur waktu. Sedikit lagi saja, peluit akan berbunyi, pertandingan selesai dan tim Tanjung Nusa akan menang.


“Kalian sudah kehabisan waktu! Mustahil untuk mencetak angka. Menyerah saja.” Ucap Ellena.


Eva tidak mengatakan apapun. Dia memaksa dirinya untuk fokus. Dia mencoba mengecoh Ellena seperti arahan dari Rega agar bisa lolos tetapi tangan panjang gadis itu menjadi masalah, membuat gadis itu memiliki jangkaun penjagaan yang lebih lebar.


Waktu tinggal kurang dari sepuluh detik. Sekali lagi Eva melihat sekitar. Tidak ada celah, semua rekannya masih dijaga ketat. Dia tidak punya pilihan selain mencetak angka sendiri.


Galuh berteriak dari pinggir lapangan, memberi arahan tapi Eva tidak dapat mendengar itu semua, yang terdengar oleh Eva hanya suara jantungnya yang berdetak begitu kencang dan cepat.


Waktu tinggal lima detik.


“Berakhir sudah. Kami menang”   Ucap Ellena. Tapi Eva tidak menyerah. Peluit belum berbunyi. Pertandingan belum berakhir. Gadis itu berbalik arah berlari menuju tempat ring SMA Antaraksaberada. Galuh berteriak protes, begitupun pemain lain yang tidak mengerti apa yang akan dilakukan Eva.


Ellena melotot. Dia baru menyadarinya. “Hentikan Eva! Dia berniat melakukan tembakan tiga point!” Serunya sambil berlari mengejar Eva. Beberapa pemain lawan ikut mengejar tetapi tim Renjana mencoba menjaga mereka.


Ellena berlari sekuat tenaga. Mengabaikan kakinya yang terasa kebas. Teman-temannya berseru-seru menyemangati Eva.


Sedikit lagi. Batin Ellena. Sedikit Lagi dia bisa mengejar Eva.


“Aku bukan Latte.” Beritahu Eva berteriak ketika Ellena hampir mencapainya. “Tembakan tiga point dari jarak sejauh ini tidak mungkin bagiku.”


Kapten tim SMA Antarksa itu berlari dengan tiba-tiba melewati Ellena. Ellena tersentak. Dia yang sebelumnya berlari cepat mengejar Eva tidak dapat segera berhenti, berbalik arah dan mengejar gadis itu kembali.


Eva berlari seorang diri menuju ring. Waktu tinggal dua detik. Jarak gadis itu dengan tiang masih cukup jauh, Tapi jika dia tidak melompat sekarang. Dia akan kehabisan waktu. Pertandingan akan berakhir sebelum bola memasuki ring dan mereka akan kalah. Jadi Eva melompat.


Galuh menahan nafas. Begitupun dengan para pemain lain. Tim Renjana berdoa dalam hati, semoga Kapten mereka berhasil mencetak angka. Adiba mulai terisak. Ia begitu cemas. Jantungnya berdetak cepat.


Penonton sedari tadi sudah berhenti bersorak-sorak membuat suasana menjadi sunyi sepertinya mereka semua menahan nafas menyaksikan aksi terakhir Eva.


Eva menyadari dia tidak pernah melompat dalam jarak yang sejauh ini. Tapi dia juga menyadari lompatannya tidak pernah terasa setinggi ini. Rasanya dia bisa menyentuh ring. Eva menjulurkan satu tangannya yang tidak menggengam bola. Tangannya berhasil meraih lingkaran ring.


“Dia akan melakukan slum dunk!” Teriak Keysha. Selama hampir dua tahun dia bermain bersama Eva. Gadis itu tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Eva memang tinggi tapi tidak cukup tinggi untuk dapat melakukan slum dunk. Tapi malam ini. Di pertandingan menit terakhir pertandingan final Liga Basket Nasional. Eva melakukannya.


Bola jatuh ke lapangan tepat ketika wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir.


Keysha dan yang lain dengan cemas melihat papan skor. Sedetik kemudian skor berubah. 45-44. SMA Antaraksa memenangkan pertandingan. Tim Renjana bersorak-sorak dan mulai terisak.


Adiba merasakan kakinya begitu lemas, tidak kuat menompang berat badannya. Gadis berkulit gelap itu jatuh terduduk dan menangis sejadi-jadinya. Dia tidak peduli lagi dimana dia berada sekarang. Sementara itu Keysha melompat-lompat kegirangan sambil mengangkat kepalan tanganya tinggi-tinggi. “Menang! Kita menang!” Teriak gadis berambut merah itu.


Harwa, Annisa berpelukan di tengah lapangan.


Eva jatuh dengan keras. Dia terduduk di lapangan. Tangannya terasa kebas dan kakinya lemas. Dia mendongkak ke atas. Menatap para penonton di tibun lapangan bersorak-sorak menyelamati tim mereka. Masih dengan


keadaan terduduk Eva menatap papan skor dan air mata langsung mengalir dari pelupuk matanya tanpa aba-aba. Dia tidak pernah berusaha sekeras ini dalam pertandingan sebelumnya. Dia tidak pernah begitu putus asa untuk menang. Dia juga tidak pernah merasakan kememangan semanis ini


Rekan-rekan setimnya berlari menghamiri Eva dan memeluknya. Menangis bersama.


“Kita menang! Kita menang!” Ucap Adiba yang memeluknya sambil terisak hebat. Eva balas memeluk erat Adiba.Gadis itu tersenyum lebar. Dadanya rasanya seperti mau meledak, sesak dipenuhi kebahagiaan.


“Kamu telah melakukan hal luar biasa. Kerja bagus kapten.” Ucap Galuh yang berlinangan air mata dan senyum lebar di wajahnya.


Tim Renjana berpelukan dan terisak bersama selama beberapa saat sebelum memberikan salam penghormatan kepada penonton dan berbaris berfoto dengan piala juara. Mereka telah menang.


Rega merasa begitu emosional hingga dapat dia rasakan matanya memanas dan pipinya terasa nyeri akibat senyumannya yang terlalu lebar. Saat ini, Rega bukanlah tokoh utama yang memenangkan pertandingan ini, dia hanya sebagai tokoh pembantu. Tidak seperti lomba-lomba yang sering ia menangkan seorang diri. Tapi entah kenapa, kemenangan ini terasa begitu mengharukan dan berkesan baginya. Seketika Rega teringat masa-masa ketika dia memenangkan pertandingan basket dengan timnya dulu.


Mungkin sedari dulu, dia tidak pernah berhenti menyukai basket.


***


Tim Renjana berlarian menuju ruang kesehatan di gedung olahraga tempat diselenggarakan pertandingan Basketball Champion League. Adiba menjunjung tinggi piala berwarna emas di tangannya. Dia  tidak sabar ingin menujukannya pada Latte.


“Latte, lihat kita berhasil! Kita menang!” Teriak Adiba sekitaka ketika ia membuka pintu ruang kesehatan.


Latte yang selama bertandingan berdoa dan menunggu dengan sabar, berteriak kegirangan. Semua anggota tim Renjana lari memeluknya. Kembali menangis bersama.


Di ruang kesehatan itu, tim Renjana, Galuh, Rega dan Marco berfoto bersama. Mereka membiarkan Latte yang memegang piala kemenangan mereka.


Kamera membidik wajah-wajah  dengan senyum lebar dan mata sembab. Siapapun yang kelak melihat foto ini, pasti dapat melihat dengan jelas kebahagiaan yang meliputi mereka.