
Rega sibuk mengamati pemandangan di pinggir jalan melalui kaca mobil
sampai akhirnya mobil memasuki area parkir gedung bertingkat yang menjulang
tinggi. Mobil mereka berhenti tepat di depan pintu utama gedung yang di hiasi
dengan pita merah dan karpet merah yang di gelar dari dalam gedung hingga ke
luar.
Mereka keluar dari mobil. Rahardi
menyerahkan kunci mobil kepada security yang sudah berdiri siap di dekat mobil
mereka. Security akan memarkirkan mobil mereka. Dalam histilah perhotelan, hal
ini disebut Vallet.
Ketika mereka memasuki lobi gedung yang telah
di hias sedemian rupa hingga terlihat mewah dan meriah, mereka segera di sambut
oleh tepuk tangan meriah dari beberapa tamu yang sudah datang. Tidak lama
setelah kedatangan mereka, acarapun di mulai.
“Sekarang adalah waktu yang ditunggu-tunggu!”
Seru seorang MC dengan bersemangat. “Yaitu pengesahan dan opening cabang
Singapura Sadewa Corp. Mari kita
sambut dengan meriah bapak Rahardian Mahaputra Sadewa.”
Dari tempatnya duduk Rega melihat
ayahnya menaiki panggung kecil. Wajah ayanya terlihat senang, senyum lebar
menghiasi bibirnya. Rega mencibir, rasanya ia tidak pernah melihat wajah
ayahnya sesenang itu semenjak ia pertama kali menjadi juara umum di SMP dulu.
“Lihat, ayahmu tampak senang sejaki. Dia
seperti anak kecil diberi permen.” Bisik Resya pada Rega. “Dia sudah lama
mengiginkan berdirinya cabang ini.”
Rega hanya mengangguk. Ia jadi
bertanya-tanya, apakah bagi Rahardian, perusahaan ini lebih penting dari
anaknya sendiri.
Para hadirin memberikan tepuk tangan
yang meriah. Suara tepuk tangan segera
berhenti ketika Rahardi buka suara untuk menyampaikan sambutan. Sepuluh menit
kemudian tepuk tangan kembali terdengar heboh ketika Rahardi menggunting tali
merah yang sedari tadi berada di bagian depan panggung.
“Dengan ini, Sadewa Corp cabang Singapura resmi dibuka.”
Ucap MC dengan suara yang lebih bersemangat.
Setelah pemotongan pita, acara di
lanjutkan dengan bagian hiburan yang diisi oleh salah satu band terkenal asal
Singapura. Seketika ruangan dipenuhi akunan musing jazz yang memanjakan
telinga. Hadirin yang hadir juga dibebaskan untuk mencicipi berbagai makanan
yang tersaji.
Beberapa kali Rega dikenalkan oleh
kolega-kolega ayahnya, beberapa diantaranya ada yang sudah Rega kenal, yang
lainnya baru pertama kali Rega lihat. Beberapa menit kemudian, Ayahnya tidak
lagi memperkenalkan siapapun kepadanya dan terlihat sibuk dengan perbincangan
seputar dunia bisnis dengan rekan-rekan seprofesinya. Rega juga melihat ibunya
sedang mengobrol asik di salah satu meja sambil menyantap hidangan penutup
bersama wanita-wanita lain, yang beberapa diantaranya Rega kenali sebagai istri
rekan bisnis ayahnya.
Rega memilih keluar menuju bagian
samping gedung dimana terdapat taman. Suasana di taman ini jauh lebih tenang,
meski dentuman musik masih terdengar sayup-sayup. Ia duduk di salah satu
bangku, melihat ponselnya. Sekarang pukul sembilan malam waktu Singapura. Satu
jam lebih cepat dari waktu di ibu kota. Pasti pertandingan tim Renjana sudah selesai. Rega penasaran bagaimana
akhirnya, tapi ia yakin kalau timnya menang.
“Tentu saja mereka menang, mengingat
mereka semua pemain yang hebat, terlebih lagi ada Latte.” Gumamnya pelan pada
diri sendiri sambil tersenyum. Menyebut nama Latte membuatnya merindukan gadis
mungil itu.
Rega membuka kontak Latte di
ponselnya, ia hanya berniat membuka foto profil gadis itu tapi tanpa sengaja
jarinya menekan tombol hijau. Rega panik
menyadari dia sedang melakukan panggilan kepada Latte. Baru Rega akan menekan
tombol merah untuk mematikan sambungan ketika suara Latte terdengar.
“Halo, Rega?”
Suara Latte terdengar sedikit berbeda di telpon dengan suara aslinya, membuat Rega
terdengar lebih serak. “Halo.” Jawab
Rega, tidak jadi memutuskan sambungan.
“Kamu pasti menelpon ingin tahu hasil
pertandingan hari ini ya?” tanya gadis itu.
“Iya, bagaimana hasilnya?” juga karena aku merindukanmu, tambah
Rega dalam hati.
“Begini,” nada suara Latte tiba-tiba
terdengar lebih rendah, terdengar sedih. “Lawan hari ini dari SMA XXX, tim yang
sangat kuat dan hebat, jadi kami...” Latte diam, mengambil jeda.
Rega menahan nafas, mempersiapkan
dirinya untuk mendengar kabar buruk. Latte diam cukup lama, membuat Rega
bertambah gelisah. Mungkin gadis itu kesulitan mengatakannya, pikir Rega. Dia
dapat mengerti itu, kabar buruk selalu sulit untuk dikatakan.
“Tentu saja menang!” Nama suara Latte
seketika berubah ceria. Rega menggeram kesal, bila gadis itu sekarang ada di
hadapannya, Rega pasti sudah menarik pipinya, mencubit dengan gemas.
Setelah mendengar hasil pertandingan
dan total skornya, mereka tidak langsung memutuskan sambungan. Mereka berbicara
tentang banyak hal. Latte bertanya bagaimana Singapura, apakah makanan di sana
enak. Hotel tempat Rega menginap dan orang-orang yang ia temui. Rega biasanya
tidak banyak bicara, tapi ia dengan sukarela menceritakan itu semua.
“Oh iya, hari ini Marco dan
teman-teman lain dari sekolah datang mendukung.” Beritahu Latte.
Mendengar nama Marco sontak membuat
Rega menggertakan giginya. Dia diam sebentar, membuat Latte berpikir kalau
sambungan telpon tiba-tiba tertutup.
“Marco datang?” Tanyanya akhirnya.
“Iya. Tapi setelah pertandingan dia
dan yang lain pamit pulang karena harus menemani tim basket putra.”
“Oh begitu.”
“Kapan kamu pulang dari Singapura dan
menyusul kesini?” Tanya Latte.
“Mungkin dua atau tiga hari lagi.” Jawab
Rega. “Keluargaku, terutama ayahku masih ada keperluan di sini.”
“Ah begitu ya. Padahal aku berharap
kamu bisa hadir di pertandingan berikutnya.”
Latte kemudian bercerita tentang Opening Ceremony Basketball Champion
League yang sangat meriah lalu beralih mendekripsikan hotelnya yang terletak
dekat dengan pusat kota. “Kalau aku buka jendela kamar aku bisa lihat patung
landmark kota dengan sangat jelas!” Latte bercerita dengan antusias. Ia
menceritakan semuanya hingga ke detailnya, gadis itu bahkan mempraktikan bunyi
suara mendengkur Adiba.
“Latte sedang apa kamu di balkon? Ini pesananmu” terdengar suara
Adiba pelan dari seberang sambungan.
“Adiba sudah kembali ke kamar, dia membawa jajanan pesananku.
Sudah dulu ya Rega, aku ingin makan kerak telur dulu hehe.”
“Iya selamat menikmati.”
“Iya. Kamu juga. Selamat menikmati pestanya.” Latte memutuskan
sambungan duluan. Namun Rega sempat mendengar suara Adiba yang menggoda Latte.
Rega memutuskan kembali ke dalam gedung sebelum ayahnya menyadari tidakhadirannya
dan menyuruh orang lain mencarinya. Saat ia kembali suasana di dalam gedung
masih ramai. Band penghibur sudah berganti. Ia bisa melihat ayahnya masih
berbincang-bincang, kali ini dengan orang yang berbeda. Ibunya ikut dalam
perbincangan seru ayahnya dan rekan-rekan bisnisnya.
Rega tersenyum getir. Tentu saja, ia seharusnya sudah tahu itu.
Kedua orang tuanya tidak akan menyadi ketidakhadirannya dan mengirim orang
untuk mencarinya. Orang tuanya bahkan mungkin tidak ingat kalau dia ada di sini
bersama mereka. Apa yang ia harapkan?
Sepertinya ia terlalu lama bergaul dengan tim Renjana,
sehingga terbiasa dengan kehangatan mereka. Ia sampai mengharapkan sedikit
kehangatan serupa pada keluarganya. Rega mengutuk dirinya telah mengharapkan
sesuatu yang tidak mungkin dilakukan kedua orang tuanya.