ELEVEN

ELEVEN
Nineteen



Rega sibuk mengamati pemandangan di pinggir jalan melalui kaca mobil


sampai akhirnya mobil memasuki area parkir gedung bertingkat yang menjulang


tinggi. Mobil mereka berhenti tepat di depan pintu utama gedung yang di hiasi


dengan pita merah dan karpet merah yang di gelar dari dalam gedung hingga ke


luar.


Mereka keluar dari mobil. Rahardi


menyerahkan kunci mobil kepada security yang sudah berdiri siap di dekat mobil


mereka. Security akan memarkirkan mobil mereka. Dalam histilah perhotelan, hal


ini disebut Vallet.


 Ketika mereka memasuki lobi gedung yang telah


di hias sedemian rupa hingga terlihat mewah dan meriah, mereka segera di sambut


oleh tepuk tangan meriah dari beberapa tamu yang sudah datang. Tidak lama


setelah kedatangan mereka, acarapun di mulai.


“Sekarang adalah waktu yang ditunggu-tunggu!”


Seru seorang MC dengan bersemangat. “Yaitu pengesahan dan opening cabang


Singapura Sadewa Corp. Mari kita


sambut dengan meriah bapak Rahardian Mahaputra Sadewa.”


Dari tempatnya duduk Rega melihat


ayahnya menaiki panggung kecil. Wajah ayanya terlihat senang, senyum lebar


menghiasi bibirnya. Rega mencibir, rasanya ia tidak pernah melihat wajah


ayahnya sesenang itu semenjak ia pertama kali menjadi juara umum di SMP dulu.


“Lihat, ayahmu tampak senang sejaki. Dia


seperti anak kecil diberi permen.” Bisik Resya pada Rega. “Dia sudah lama


mengiginkan berdirinya cabang ini.”


Rega hanya mengangguk. Ia jadi


bertanya-tanya, apakah bagi Rahardian, perusahaan ini lebih penting dari


anaknya sendiri.


Para hadirin memberikan tepuk tangan


yang meriah.  Suara tepuk tangan segera


berhenti ketika Rahardi buka suara untuk menyampaikan sambutan. Sepuluh menit


kemudian tepuk tangan kembali terdengar heboh ketika Rahardi menggunting tali


merah yang sedari tadi berada di bagian depan panggung.


“Dengan ini, Sadewa Corp cabang Singapura resmi dibuka.”


Ucap MC dengan suara yang lebih bersemangat.


Setelah pemotongan pita, acara di


lanjutkan dengan bagian hiburan yang diisi oleh salah satu band terkenal asal


Singapura. Seketika ruangan dipenuhi akunan musing jazz yang memanjakan


telinga. Hadirin yang hadir juga dibebaskan untuk mencicipi berbagai makanan


yang tersaji.


Beberapa kali Rega dikenalkan oleh


kolega-kolega ayahnya, beberapa diantaranya ada yang sudah Rega kenal, yang


lainnya baru pertama kali Rega lihat. Beberapa menit kemudian, Ayahnya tidak


lagi memperkenalkan siapapun kepadanya dan terlihat sibuk dengan perbincangan


seputar dunia bisnis dengan rekan-rekan seprofesinya. Rega juga melihat ibunya


sedang mengobrol asik di salah satu meja sambil menyantap hidangan penutup


bersama wanita-wanita lain, yang beberapa diantaranya Rega kenali sebagai istri


rekan bisnis ayahnya.


Rega memilih keluar menuju bagian


samping gedung dimana terdapat taman. Suasana di taman ini jauh lebih tenang,


meski dentuman musik masih terdengar sayup-sayup. Ia duduk di salah satu


bangku, melihat ponselnya. Sekarang pukul sembilan malam waktu Singapura. Satu


jam lebih cepat dari waktu di ibu kota. Pasti  pertandingan tim Renjana sudah selesai. Rega penasaran bagaimana


akhirnya, tapi ia yakin kalau timnya menang.


“Tentu saja mereka menang, mengingat


mereka semua pemain yang hebat, terlebih lagi ada Latte.” Gumamnya pelan pada


diri sendiri sambil tersenyum. Menyebut nama Latte membuatnya merindukan gadis


mungil itu.


Rega membuka kontak Latte di


ponselnya, ia hanya berniat membuka foto profil gadis itu tapi tanpa sengaja


jarinya menekan tombol hijau.  Rega panik


menyadari dia sedang melakukan panggilan kepada Latte. Baru Rega akan menekan


tombol merah untuk mematikan sambungan ketika suara Latte terdengar.


“Halo, Rega?”


Suara Latte terdengar sedikit berbeda di telpon dengan suara aslinya, membuat Rega


terdengar lebih serak. “Halo.”  Jawab


Rega, tidak jadi memutuskan sambungan.


“Kamu pasti menelpon ingin tahu hasil


pertandingan hari ini ya?” tanya gadis itu.


“Iya, bagaimana hasilnya?” juga karena aku merindukanmu, tambah


Rega dalam hati.


“Begini,” nada suara Latte tiba-tiba


terdengar lebih rendah, terdengar sedih. “Lawan hari ini dari SMA XXX, tim yang


sangat kuat dan hebat, jadi kami...” Latte diam, mengambil jeda.


Rega menahan nafas, mempersiapkan


dirinya untuk mendengar kabar buruk. Latte diam cukup lama, membuat Rega


bertambah gelisah. Mungkin gadis itu kesulitan mengatakannya, pikir Rega. Dia


dapat mengerti itu, kabar buruk selalu sulit untuk dikatakan.


“Tentu saja menang!” Nama suara Latte


seketika berubah ceria. Rega menggeram kesal, bila gadis itu sekarang ada di


hadapannya, Rega pasti sudah menarik pipinya, mencubit dengan gemas.


Setelah mendengar hasil pertandingan


dan total skornya, mereka tidak langsung memutuskan sambungan. Mereka berbicara


tentang banyak hal. Latte bertanya bagaimana Singapura, apakah makanan di sana


enak. Hotel tempat Rega menginap dan orang-orang yang ia temui. Rega biasanya


tidak banyak bicara, tapi ia dengan sukarela menceritakan itu semua.


“Oh iya, hari ini Marco dan


teman-teman lain dari sekolah datang mendukung.” Beritahu Latte.


Mendengar nama Marco sontak membuat


Rega menggertakan giginya. Dia diam sebentar, membuat Latte berpikir kalau


sambungan telpon tiba-tiba tertutup.


“Marco datang?” Tanyanya akhirnya.


“Iya. Tapi setelah pertandingan dia


dan yang lain pamit pulang karena harus menemani tim basket putra.”


“Oh begitu.”


“Kapan kamu pulang dari Singapura dan


menyusul kesini?” Tanya Latte.


“Mungkin dua atau tiga hari lagi.” Jawab


Rega. “Keluargaku, terutama ayahku masih ada keperluan di sini.”


“Ah begitu ya. Padahal aku berharap


kamu bisa hadir di pertandingan berikutnya.”


Latte kemudian bercerita tentang Opening Ceremony Basketball Champion


League yang sangat meriah lalu beralih mendekripsikan hotelnya yang terletak


dekat dengan pusat kota. “Kalau aku buka jendela kamar aku bisa lihat patung


landmark kota dengan sangat jelas!” Latte bercerita dengan antusias. Ia


menceritakan semuanya hingga ke detailnya, gadis itu bahkan mempraktikan bunyi


suara mendengkur Adiba.


“Latte sedang apa kamu di balkon? Ini pesananmu” terdengar suara


Adiba pelan dari seberang sambungan.


“Adiba sudah kembali ke kamar, dia membawa jajanan pesananku.


Sudah dulu ya Rega, aku ingin makan kerak telur dulu hehe.”


“Iya selamat menikmati.”


“Iya. Kamu juga. Selamat menikmati pestanya.” Latte memutuskan


sambungan duluan. Namun Rega sempat mendengar suara Adiba yang menggoda Latte.


Rega memutuskan kembali ke dalam gedung sebelum ayahnya menyadari tidakhadirannya


dan menyuruh orang lain mencarinya. Saat ia kembali suasana di dalam gedung


masih ramai. Band penghibur sudah berganti. Ia bisa melihat ayahnya masih


berbincang-bincang, kali ini dengan orang yang berbeda. Ibunya ikut dalam


perbincangan seru ayahnya dan rekan-rekan bisnisnya.


Rega tersenyum getir. Tentu saja, ia seharusnya sudah tahu itu.


Kedua orang tuanya tidak akan menyadi ketidakhadirannya dan mengirim orang


untuk mencarinya. Orang tuanya bahkan mungkin tidak ingat kalau dia ada di sini


bersama mereka. Apa yang ia harapkan?


Sepertinya ia terlalu lama bergaul dengan tim Renjana,


sehingga terbiasa dengan kehangatan mereka. Ia sampai mengharapkan sedikit


kehangatan serupa pada keluarganya. Rega mengutuk dirinya telah mengharapkan


sesuatu yang tidak mungkin dilakukan kedua orang tuanya.